Arsip Bulanan: Oktober 2019

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu. Saya (dan kru, tentu saja) pernah berkesempatan meliput dan/atau dipercayakan membikin video dokumenter tentang Paroki Siaga. Sebelumnya proyek itu bernama Desa Siaga, tapi oleh si pemberi proyek kemudian diubah menjadi Paroki Siaga. Untuk kepentingan video tersebut saya harus pergi ke Laja di Kabupaten Ngada untuk bertemu Romo Sil Betu karena beliau lah yang menangani langsung Paroki Siaga ini. Tentang Paroki Siaga, bisa kalian baca pada pos berjudul #PDL Laja dan Toleransi.

Intinya adalah sore itu saat sudah selesai mengumpulkan materi, kami hendak pamit pulang, namun ditahan oleh Romo Sil Betu yang baik hati itu. Apa yang dikatakan Romo kira-kira begini: Kami sudah memasak nasi bambu untuk tamu, bagi kami Orang Ngada, kalau sudah disiapkan nasi bambu, tamu wajib makan terlebih dahulu. Artinya, tamu sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga kami. Perasaan saya langsung haru ... sungguh luar biasa. Akhirnya kami harus makan terlebih dahulu baru kemudia diijinkan pulang. Hehe.

Semua Orang Flores, dari kabupaten manapun, punya budaya dan kebaikan hati yang luar biasa. Hubungan keluarga tidak saja harus dari darah yang mengalir, tetapi juga dari kebiasaan, adat, dan budaya. Nasi bambu adalah suguhan kekeluargaan yang pantang ditolak oleh tamu. Saya jadi ingat dengan kopi. Bagi kami, Orang Ende, apabila kalian sudah disuguhi segelas kopi ... kalian adalah keluarga kami. Nilai-nilai semacam ini harus terus tertanam dan harus dilestarikan ... harus terus ada dalam tubuh masyarakat (masyarakat manapun).

Kalian setuju?

#PDL
#PernahDiLakukan



Cheers.

JODOHKU

Kulihat kalender... hhhmm... "Besok gue ultah, pas 30 tahun. Tapi kenapa gue belum ketemu jodoh yang pas ya?," kata gue dalam hati.

"Bukan ga ada yang mau, tapi setiap wanita yang mendekat, belum ada yang bisa membuat hati gue berdesir dan jantung berdegup kencang...."

"Rud... Rudi... ntar malem nongkrong yuk,!" teriak Tony yang seketika membuyarkan lamunan gue.

"Males aah Ton… loe aja deh sana!."

"Aaahh... besok weekend ini! Ayolah… siapa tahu ketemu jodoh di sana," cibirnya.

Jam tangan menunjukkan pukul 18.00, kami pun bersiap pulang.

"Rud... buruan ya, gue tunggu di bawah!," teriak Tony.

"Seep...," jawab gue singkat.

Pretetetetet... pretetetetet... aaaahhhh, suara knalpot ini yang gue benci sebenarnya, salah satu alasan kenapa gue males pergi dengan Tony.

"Ruuddiiii... buruan ooiiii, lelet bener seeh loe Rud!," teriak Tony.

"Weew... teriakan Tony secempreng knalpot motornya," bisikku dalam hati setengah tertawa. Ga lama, duo cempreng inipun membawa gue entah ke mana... pretetetet... bbllaaarrr!

Ga berapa lama motor Tony parkir di sebuah tempat yang entah apa namanya ini... pretetetet… pretetetet.

"Ton...ini tempat apaan sih, parkirannya luas kek lapangan bola."

"Loe liat aja ntar Rud... ini tempat tongkrongan gue yang baru, parkir di sini juga gratis, yuk masuk."


kopi kafe jodohku
Foto by: Salman Faris 
"Hai Mas Tony!," sapa seorang wanita yang diapit 2 wanita keren lainnya, ketika kami membuka pintu. Weeww… hebat juga Tony, disapa wanita sekeren itu.

"Ton… bisa aje loe dikenal sama mereka?."

"Rud… pemilik café ini adalah Drupadi-nya kopi, ini yang bikin gue betah nongkrong di sini, pemiliknya anggap tamunya sebagai temen… keren, kan?."

Gue manggut-manggut dan berusaha mencari posisi duduk ga jauh dari pintu masuk supaya bisa menyapu setiap sudut bangku. Siapa tahu ada mahkluk manis yang menggetarkan hati gue dan ketemu jodoh.

"Aah siiaaallll! Kemakan omongan Tony gue," senyum kecutku dalam hati.

"Rud… udah gue order ya minumannya," suara cempreng Tony membuyarkan angan gue.

"Thanks, Ton…"

Ga berapa lama, minuman kami datang… hhhmm aroma karamel membuat lidah gue menari-nari berebut dengan ludah.

"Tony… minuman apa ini? Aromanya….beeuugggh…sekksssiiihhh!."

"Hot Crème Brulle," jawab Tony singkat.

Saking penasaran dengan aroma yang begitu menggoda, ssllruuppp... Creme Brulle yang masih hot ini gue seruput.

"Aauuww… panas," pekik gue dalam hati, sambil kipasin tangan di depan lidah… daaamnnn, malu gue. Tanpa gue sadar di ujung sana ada mahkluk manis yang sedang ngeliatin gue, makin tengsin lah gue.

"Hati-hati, Mas… masih panas," ujarnya di antara senyuman manisnya.

Beeuugghhh, baru kali ini gue ngerasa kikuk… jantung gue deg-degan, aaahh apakah ini pertanda? Tapi gue terlanjur malu... daammmnn. Sedangkan Tony, hanya bisa nahan ketawa di depan gue.

Tapi aaah sudahlah… bodo amat deh, godaan hot crème brulle ini lebih besar dibandingkan rasa malu. Karena masih penasaran, sedikit demi sedikit gue suap Hot Crème Brulle menggunakan sendok ke ujung lidah.

Hhhmm, rasa crème-nya yang lembut berpadu dengan karamel di atasnya memang memanjakan lidah. Sendok demi sendok gue nikmati walau tanpa gue sadari wanita itu sesekali mencuri pandang.

"Rud… Rudi, yang di pojok itu Rud… ngeliatin loe terus… kesempatan Rud," kata Tony.

"Hhhmm… apa sih Ton, biarin aja… lha wong dia punya mata kok," bibir gue pun terus-terusan monyong niupin Crème Brulle supaya ga terlalu panas masuk mulut. Gue beneran ga mau lepasin Crème Brulle dari lidah, gue ga rela kalau Crème Brulle ini dingin sebelum menyentuh lidah gue.

"Rud… dia ngajak senyum Rud."

"Aahh… bawel loe Ton, balesin aja senyumnya, gitu aja kok repot."

Aahh tinggal dikit lagi nih, sayang dilewatkan dan gue harus buru-buru habisin sebelum Crème Brulle ini dingin. Slrruuppp… sisa diujung gelas pun gue tenggak… glek…glek… beeuugghhh… drruuaaarr bener rasanya!.

"Ton…. mana cewek yang tadi, yang ngajak senyum gue? Ke mana dia?."

"Pertanyaan loe basi, Rud. Baru aja dia pergi."

"Aaarrrgghhhhhh... Ton! Besok malem ajak gue ke sini lagi ya? 
Gantian gue yang traktir, siapa tau ketemu sama Mba yang tadi lagi..."

____________
Narablog: Tarie
Editor: Rizky Nur Zamzamy

#Just DruIt #DruKopi


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

S0403: Bersuara di Podcast

Bagaimana sih teknik bersuara yang baik buat podcast? Kita akan coba kupas habis di episode kali ini, mulai dari faktor eksternal yang bisa membantu agar suara kita terdengar lebih baik dan yang paling penting bisa dipahami oleh pendengar, hingga ke faktor internal yaitu bagaimana si podcaster sendiri mengolah suaranya. Episode ini khususnya dipersembahkan buat teman-teman yang sering mengajukan berbagai pertanyaan soal mengolah suara dan jawabannya coba dirangkum di sini. Maaf ya tertunda agak lama. Semoga bermanfaat.



Panduan Episode Ini:

Episode ini dibagi menjadi beberapa bagian:

1. Faktor Eksternal | Menit ke 02:41 |
a. Lokasi tempat rekaman yang ideal – Mengulas soal faktor-faktor apa saja dari sisi lokasi yang mempengaruhi kejelasan hasil rekaman suara kita. Ada tiga checklist yang akan kita bahas di sini.
b. Mikrofon dan pengaruhnya buat kualitas suara – Kenali macam-macam mikrofon dan kegunaannya dalam memaksimalkan kualitas suara
c. Tes 1.. 2.. 3.. – Pentingnya melakukan tes sebelum rekaman

2. Faktor Internal | Menit ke 15:32|
a. Kenapa suara kita terdengar aneh saat direkam? – Jawaban singkatnya: memang! 🙂 Tapi kenapa? Ada checklist di bagian ini mungkin bisa membantu
b. Tiga tips buat latihan mengolah suara.

3. Suara Diafragma | Menit ke 26:04 |
Apa itu suara diafragma? Bagaimana mengenali dan melatihnya? – Ingat, di episode ini tujuan mengenali suara diafragma lebih dari sekedar menghasilkan suara yang “keren” tapi yang paling penting adalah jelas dan bisa dipahami!

4. Bagaimana mengurangi banyak “Mmmm..” di rekaman?  | Menit ke 30:40|
Jawaban singkat: Emang kenapa dengan “Mmmm..” 🙂 Jawaban lengkapnya dengarkan di bagian ini. 🙂

 

Suarane Podcast episode ini juga bisa didengarkan di Soundcloud atau bisa dicari di berbagai aplikasi podcast lainnya seperti Spotify, Apple Podcast, Google Podcast, Breaker, Castbox, Aplikasi Dengar Radio dll. dengan kata kunci pencarian: “suarane.”

 

Credits: 

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Loopster” karya Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Minggu sore, 27 Oktober 2019 cuaca di sekitar TBM Rumah Pelangi Bekasi langit tampak cerah untuk aktivitas luar ruang. Kontras dengan hujan deras yang saat itu turun di beberapa wilayah Kota Bekasi. 

Diana, Pipit dan Najiah, ketiganya adalah korlas (koordinator kelas) tampak sedang mempersiapkan adik-adik Rumah Pelangi (Rungi) untuk melakukan sambutan atas kedatangan rombongan tur kota (City Tour) bertajuk "Nyok ke Bekasi".

Menyambut Rombongan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Di depan gapura Rumah Pelangi, dua barisan yang masing-masing terdiri dari 10 orang adik-adik Rungi berdiri saling berhadapan dan bersahutan berbalas pantun lalu kemudian menyanyikan lagu sambutan bersama-sama. Riuh rendah suara tawa dan teriakan ceria adik-adik inilah yang mengundang beberapa warga untuk datang.

Rombongan tur kota datang dan ikut bernyanyi, lalu saling bersalaman dan berkenalan singkat untuk kemudian masuk ke Rumah Pelangi untuk memulai Fun Games yang akan dibawakan oleh kakak-kakak dari NUGE. Bunda Naomi Tobing dari Marketing Division PT Nuge Anugrah Indonesia yang memimpin rombongan tampak antusias menyalami semua adik-adik dan cepat berbaur bersama dalam sesi Fun Games dalam ruangan kelas Rumah Pelangi. Tampak pula dalam rombongan Imam Pesuwaryantoro inisiator nyanyur.id dan Mbak Nia Julpiah sekretaris PT Nuge.
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
"Kalau pantun diadaptasi dari pantun-pantun seni Palang Pintu, tapi tidak pakai atraksi silat. Untuk lagu diadaptasi dari lagu-lagu yang biasa dinyanyikan saat kegiatan Pramuka" ungkap Diana yang sudah menjadi koordinator kelas sejak Rumah Pelangi terbentuk tahun 2016 lalu.

Sebelumnya, Diana dan rekan korlasnya beberapa kali mengubah skenario penyambutan sesuai dengan ide yang berkembang dan masukan-masukan dari adik-adik serta orangtua dan warga yang ingin melihat kegiatan di Rumah Pelangi.

Muhaidin Darma selaku inisiator TBM Rumah Pelangi mengaku tidak ada persiapan khusus buat adik-adik baik dari segi pakaian dan lain-lain, latihan penyambutan pun baru dilakukan pada saat itu.
"Untuk adik-adik kami kondisikan agar mereka berani tampil apa adanya, ini baik untuk rasa percaya diri mereka agar mereka berani tampil dengan mengedepankan kreativitas dan kebersamaan."


Bermain dan Belajar

Tidak butuh waktu lama, adik-adik Rumah Pelangi dengan cepat beradaptasi dan beraktivitas bersama rombongan wisata kota yang diselenggarakan oleh PT Nuge Anugrah Indonesia dan Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi ini. Sesi Fun Games dan tanya jawab berlangsung cepat, 
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Adik-adik Rumah Pelangi sudah terbiasa menerima pihak lain yang ingin belajar dan bermain bersama mereka. Terlebih Rumah Pelangi adalah rumah mereka sendiri, sehingga saat diminta untuk bermain bersama semua mengalir dengan suasana gembira dan alami. Faktor pembeda seperti bahasa, usia dan lain-lain mencair dalam tawa canda ceria.

Baik kegiatan dalam ruang dan luar ruang sarat dengan spontanitas yang menghibur, proses belajar dan bermain lancar hingga acara selesai. belajar dan bermain bersama warga negara asing dalam keceriaan. Tentunya ini menjadi sebuah pengalaman yang berkesan buat adik-adik di Rumah Pelangi. 

Kegiatan tur kota "Nyok ke Bekasi" pada hari Minggu itu adalah rangkaian kegiatan yang mendatangi beberapa lokasi, antaranya Lagoon Avenue Bekasi, Kantor Wali Kota Bekasi, Hutan Bambu, Batik Antique Unique, TBM Rumah Pelangi Bekasi dan Mitra Pegadaian Bekasi. 

Keceraan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Menurut Fahreza Anugrah Putra, Direktur PT Nuge Anugrah Indonesia, TBM Rumah Pelangi Bekasi menjadi destinasi tur kota karena sejalan dengan salah satu misi Community Development PT Nuge Anugrah Indonesia yaitu membangun kesadaran tentang perlunya memberikan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Menurutnya, Taman Baca Masyarakat Rumah Pelangi Bekasi merupakan sebuah tempat yang dapat menjadi bagian dalam pembentukan pendidikan karakteristik kepada anak usia dini, sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan proses belajar anak.

"Oleh karena itu, Nuge ingin menjadi bagian dari proses pendidikan karakter tersebut, sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak dengan menanamkan nilai-nilai intelektual, emosional dan sosial," ungkap finalis Abang Mpok Kabupaten Bekasi tahun 2011 ini.

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Ridwan Maliki, salah seorang relawan TBM Rumah Pelangi sebelum acara berlangsung sudah merasa yakin acara tersebut akan berjalan lancar.

"Rungi sudah sering melakukan kegiatan sosial dan kegiatan lainnya yang dikemas menarik dan kreatif, memilih Rungi sebagai salah satu destinasi tur kota pasti akan membuat pengunjungnya berkesan, interaksi dan suasananya unik, pokoknya masih Bekasi banget" ungkap Ridwan yang kini sedang merintis profesi MC profesional.

Taman Bacaan Masyarakat Rumah Pelangi (Rungi) adalah Perpustakaan Umum, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Wadah Pembelajaran Kreatif Warga terletak di Kp Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar RT 001 / 011 , Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Website:  https://www.pelangibekasi.com
Instagram: https://www.instagram.com/rumahpelangibekasi
Facebook: https://www.facebook.com/rumahpelangibekasi



Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional


Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional. Setiap tahun Hari Blogger Nasional dirayakan pada tanggal 27 Oktober. Tahun 2019 Hari Blogger Nasional jatuh pada Hari Minggu. Kalian tahu kan, Hari Minggu merupakan hari liburnya BlogPacker. Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada hari Minggu kemarin saya malah pergi traveling ke lokasi wisata yang sudah lama bikin saya mupeng: Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Soa (dibaca So'a) yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Tapi itu bukan berarti saya melupakan hari keramat ini. Karena, setiba di rumah, saya justru langsung mengajari seorang adik mengenal dan membikin blog! Hebat kan saya *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Adalah Ny Sargaling, salah seorang lulusan Universitas Flores (Uniflor) yang baru diwisuda kemarin dan meraih IPK tertinggi dari Prodi Pendidikan Fisika. Tidak main-main 3,91 adalah IPKnya. Tetapi atas pertimbangan ini itu, maka Teresia Wali yang juga meraih IPK 3,91 lah yang maju sebagai lulusan terbaik, sedangkan Ny diberi kehormatan memberikan sambutan mewakili wisudawan/i.

Ny - Teresia - JLo, eh, saya.

Tanggal 22 Oktober 2019 kami terlibat obrolan awal melalui inbox Facebook. Itu karena saya rasanya gatal banget waktu melihat foto-foto yang dia pos di Facebook tentang event Tarian Caci di Kabupaten Manggarai sana. Sejak lama saya pengen bisa menghadiri event semacam itu tetapi selalu terkendala dengan waktu. Begitu ambil cuti, malah event-nya sudah lewat. Padahal bagus kan kalau ditulis di blog agar lebih banyak orang bisa membacanya. Kegatalan saya itu berlanjut sampai hari Minggu kemarin saat saya tiba di rumah setelah ratusan kilometer, pergi-pulang, antara Kota Ende dan Soa. Bukannya mandi dan istirahat, saya malah melanjutkan obrolan melalui inbox Facebook tersebut. Ny pun berhasil saya racuni! Haha. Obrolan kami lantas pindah dari inbox Facebook ke WA.

Kenapa harus pindah ke WA? Karena saya lebih familiar dengan WA terkhusus untuk mengirim foto dan lain sebagainya. Ini hanya soal kebiasaan saja. Teknologi memang canggih kan.

Mengenal dan Membikin Blog


Bukan barang baru bagi saya memperkenalkan dan mengajar orang membikin blog melalui WA. Bersama Om Bisot dan Kak Anazkia, sudah banyak grup kelas blogging yang dibuka. Sebut saja Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II dan Kelas Blogging Online. Selain itu saya juga membuka Kelas Blogging Tuteh yang berisikan mahasiswa yang pernah mengikuti workshop blog dimana saya menjadi pematerinya. Tentu materi saya tetap berjudul Blogging is Fun and Easy. Alasan membuka kelas blogging di grup WA, bisa kalian baca pada pos berjudul 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT.

Balik lagi ke Ny.

Ny sudah punya modal awal sebagai blogger yaitu suka menulis. Sayang banget kalau dia menulis di layanan catatan Facebook. Saya jelaskan padanya bahwa menulis di blog itu jauh lebih baik karena semua tulisan terarsip dengan sangat baik, kita bisa mencarinya kembali dengan memasukkan kata kunci di blog, dan tentu tautannya bisa dibagi ke berbagai media sosial sebagai aksi promosi blog. Maka melalui pesan WA kami berdua berusaha yang memberi pengajaran (saya) dan memahami pengajaran (Ny). Hanya dalam waktu sepuluh menit saya sudah memperkenalkan pada Ny tentang konsep awal blog, ragam platform blog, contoh blog gratisan dan berbayar, hingga kenapa membikin blog di platform Blogger.

Dua menit kemudian, Ny sudah mendaftarkan blog di Blogger menggunakan nama keluarganya yaitu Sargaling. Saya bilang padanya bahwa nama Sargaling itu unik, pasti langsung jadi begitu didaftarkan ke Blogger, dan ternyata benar adanya. Blog Ny sudah jadi tetapi belum ada isinya karena dia harus menulis pos (pertama) terlebih dahulu. Selamat nge-blog ya, Ny! Terus menulis dan berbagi ragam kisah, terutama tentang Kabupaten Manggarai, di blog. Saya yakin akan banyak pembaca karena tulisan tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT): adat, wisata, budaya, kehidupan beragama yang harmonis, jadi buruan para pembaca.

Sebenarnya selain Ny, ada Facebooker lain yang juga menghubungi saya lewat inbox Facebook dan sangat tertarik untuk punya blog juga. Namanya Salsabila Salsa. Saya sudah memberikan nomor WA sih, tinggal menunggu dia menghubungi. Dan Insha Allah akan hadir blog baru lagi di dunia ini. Dududud. Terbukti teknologi memang memudahkan banyak hal, termasuk memudahkan orang-orang yang ingin belajar blog.

Hari Blogger Nasional


Siapa sangka apa yang saya dan Ny lakukan, mengajar dan mempelajari, merupakan cara keren (saya akui itu keren, hahaha) untuk merayakan Hari Blogger Nasional. Ternyata, sepanjang saya nge-blog, hanya ada satu pos tentang Hari Blogger Nasional. Padahal sudah tujuh belas tahun lebih saya nge-blog. Ditambah dengan pos ini, jadi dua.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Soa saya sudah memikirkan apakah hari Minggu (malamnya) akan menulis tentang Hari Blogger Nasional atau tidak? Karena Minggu adalah hari libur nge-blog dan hari bershanthaaaiii. Namanya juga blogger, sebagai blogger saya kan harus bisa membikin sesuatu yang beda berhubungan dengan Hari Blogger Nasional ini. Apakah pos di blog, atau status di media sosial, dan lain sebagainya. Ndilalah, gara-gara Ny yang pengen belajar blog, akhirnya saya bisa merayakan Hari Blogger Nasional dengan sangat keren. 

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Mengajar Blog!

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Sebagai blogger, belum banyak yang bisa saya perbuat untuk Indonesia *tsah* tetapi melalui kampanye terselubung maupun terbuka di media sosial tentang manfaat blog yang luar biasa, alias supa amazing, saya berharap akan semakin banyak pula orang-orang khususnya masyarakat NTT yang membikin blog. Karena, ada begitu banyak perkara tentang Provinsi NTT yang dapat digali, diolah, ditulis, dan dibaca oleh orang lain. Blog merupakan salah media promosi wisata juga. Kalian harus percayai itu, dan Ny ... juga harus percaya itu.

Salam Hari Blogger Nasional!

#SelasaTekno



Cheers.

Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend’s Wedding


Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding. Minggu lalu saya dihubungi oleh Kakak Ida yang membantu Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang hendak mengundang blogger untuk acara Gotong Royong, Bakti Negeri +62 di Tanggerang. Dalam perkara ini, blogger dimaksud adalah saya sebagai blogger asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua ditanggung oleh panitia (transportasi, akomodasi, konsumsi). Kegiatannya dimulai 26 Oktober hingga 30 Oktober 2019. Dengan berat hati saya menolak. Sumpah! Berat bangettttt menolak undangan tersebut. Menolak karena tanggal 26 Oktober adalah tanggal keramat. Keramat pertama: kegiatan kuliah umum. Keramat kedua: pernikahan sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri Mila Wolo dan Ismail Harun. Sumpah, lebih mengerikan dicakar Mila ketimbang dipeluk Abang. Eh, maksudnya ya begitu. Haha. Tolong bagian dipeluk Abang jangan dibahas, ya. Haha!

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Sebagai manusia penghuni semesta raya saya harus rela mengorbankan yang satu demi menunaikan yang lain. Tentu, saya sudah mengorbankan tidak pergi ke Tanggerang, meskipun penolakan itu seharusnya bukan pengorbanan tetapi keikhlasan. Tsaaaah. Hehe. Bagaimana dengan dua kegiatan lainnya? Mana yang saya pilih untuk dihadiri? Kalian pasti kepo kan? Baca donk sampai selesai.

Kuliah Umum Menyambut Panca Windu Uniflor


Sudah saya ceritakan sebelumnya pada pos berjudul 5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor bahwa dalam rangka menyambut usia panca windu, Universitas Flores (Uniflor) bakal menggelar begitu banyak kegiatan, salah satunya kuliah umum dan/atau seminar yang cakupannya lokal, nasional, hingga internasional (internasional, masih dalam wacana). Panca windu, dan tahun emas nanti, memang merupakan momen spesial yang ditunggu-tunggu. Meskipun panca windu baru akan terjadi pada Juli 2020 namun persiapannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. What!? Tiga tahun lalu? Ya, kepanitiaan ini sudah dibentuk tiga tahun lalu, kemudian mandek, kemudian bulan lalu kembali disetrum dan lantas setiap koordinator menyusun begitu banyak rencana kegiatan. Hebatnya, Panitia Panca Windu Uniflor bakal di-launching pada tanggal 1 November 2019 bertepatan dengan launching event tahunan Ema Gadi Djou Memorial Cup. Bapak Ema Gadi Djou adalah our founding father. Launching-nya pun dirancang supa amazing! Nantikan ceritanya, ya. 

Credits: Edwin Firmansyah.

Kuliah umum merupakan salah satu kegiatan awal, pre-event, Panca Windu Uniflor. Kuliah umum tersebut bertema: Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya "Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme" Pancasila dari Ende untuk Nusantara. Tema yang menarik. Tapi yang lebih menarik adalah Pemateri Utama yaitu Bapak Dr. Refly Harun, S.H., M.H., I.L.M. yang dikenal sebagai Pakar Hukum Tata Negara, Pemateri Pendamping yaitu Ibu Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang adalah dosen Fakultas Hukum Uniflor, serta Moderator kece yaitu Gusti Adi Tetiro yang dikenal sebagai novelis dan jurnalis BeritaSatuTV.

Hadir dalam kegiatan kuliah umum yang dilaksanakan di Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor tersebut Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Wakil Rektor dan Dekan se-lingkup Uniflor, Pasi Pers Kodim 1602/Ende Lettu Inf. Ilham Amir, Camat Ende Utara Kapitan Lingga, Pastor Rekanan Paroki St. Yosef Onekore/Pastor Kampus Ministry RP. John Ballan, SVD., Ketua FKUB Rd. Sipri Sadipun bersama anggota FKUB Kabupaten Ende, para dosen dan karyawan Uniflor, para guru di wilayah Kabupaten Ende, mahasiswa dan pelajar dalam Kota Ende. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 2.500 orang. Bisa saya bayangkan betapa penuhnya auditorium kebanggaan kami itu.

Credits: Edwin Firmansyah.

Dalam sambutannya Rektor Uniflor mengatakan bahwa Kota Ende terletak di tengah Pulau Flores dengan cuaca yang sejuk, masyarakatnya secara sosiologis kondisinya sangat manis. Kota Ende semacam menjadi pertemuan budaya sedaratan Flores dan sampai saat ini tidak ada gejolak seperti yang terjadi di tempat lain. Di Kota Ende Pancasila dikandung. Konsep awalnya Pancasila ada di Kota Ende. Mungkin Bung Karno melihat betapa manisnya Orang Ende. Semoga Pancasila tetap menjadi dasar penyejuk semua Agama, RAS, dan Budaya di Indonesia, dan ini menjadi harapan besar Orang Ende. Lebih lanjut Rektor Uniflor mengatakan, "Pada momen panca windu kami ingin membulatkan tekad untuk mengawal Pancasila yang dikandung di Kota Ende ini. Maka kami mengundang Pak Refly Harun untuk memberi pemahaman kepada kami agar kejadian dan gejolak tidak menggerus nilai Pancasila yang dikandung di Ende ini karena dia adalah mutiara indah yang dikandung di Ende dan dipersembahkan untuk mempersatukan Nusantara."

Kegiatan kuliah umum sebagai pre-event panca windu Uniflor sungguh luar biasa!

Credits: Edwin Firmansyah.

Pertanyaannya: bagaimana saya yang memutuskan untuk menghadiri pernikahan sahabat baik saya tahu tentang kuliah umum ini, termasuk sambutan Rektor Uniflor? Jawabnya hanya satu: jaringan. Haha. Pokoknya jaringan mempermudah segalanya. Terima kasih Om Edwin. Selain itu, untuk kepentingan publikasi Uniflor sudah ada Kakak Rossa yang berbaik hati memberi ijin saya mendokumentasikan pernikahan Mila dan Aram, dan meliput sendirian di auditorium. Sungguh, saya dikelilingi oleh orang-orang sangat baik.

Yuk ah ... tepuk tangan yang meriah.

My Best Friend's Wedding


Mila adalah sahabat yang sudah saya anggap adek sendiri, kami mulai menjalin persahabatan sejak tahun 2011. Pernikahannya dengan Aram merupakan momen terbaik tahun ini yang saya tunggu-tunggu. Sudah dimulai dengan mengatur proses foto pre-wedding, hingga membikin video undangan online. Yang jelas, demi kepentingan Mila, malam sebelumnya Cahyadi sudah membantu mendokumentasikan Malam Deba, sedangkan Thika Pharmantara menghias tangannya dengan hena. Pada hari pernikahan pun saya siap bangun lebih awal, karena biasanya iler sudah banjir baru bangun, demi bisa mendokumentasikan proses ijab-kabul, soalnya Cahyadi harus mengikuti kegiatan lain bersama Ethical.



Adalah air mata haru ketika melihat Bapa Anwar Wolo menikahkan puteri semata wayangnya dengan lelaki pilihan. Mata saya berkaca-kaca melihatnya. Bapa dan Mama, tunai sudah tugas kalian untuk Mila. Kalian adalah orangtua saya juga, yang selalu bisa membikin saya lebih bersemangat menjalani hidup, hanya dengan melihat perilaku kalian yang mulia. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan berkatNya untuk Bapa dan Mama. Semoga panggilan ke Tanah Suci kelak dapat terwujud. Amin ... Amin ... Amin. Jangan lupa, sebut nama saya kalau ke Tanah Suci Mekah, ya. Haha. Siapa tahu menyusul. Menyusuk ke Tanah Suci, bukan menyusul Mila dan Aram melenggang ke pelaminan. Eh tapi kalau itu juga didoakan ... Amin!




Saya dan keluarga Wolo memang tidak berhubungan darah. Kami hanya didekatkan oleh persahabatan saya dan Mila, yang kemudian persahabatan saya dan Deni. Tapi bagi saya, persahabatan dapat berujung pada persaudaraan apabila kita mampu membawanya pada tahap itu. Persahabatan juga dapat berujung pada permusuhan apabila kita membawanya pada tahap itu. Intinya adalah, semua sahabat saya adalah saudara. Karena, saudara tidak musti di tubuh mengalir darah yang sama.

Baca Juga: Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru

Well, untuk Mila dan Aram ... selamat yaaaaa.

⇜⇝

Meskipun saya belum memperoleh materi dari Pak Refly secara keseluruhan, tetapi saya yakin nanti bisa memperolehnya dari Kakak Rossa, atau dari Ibu Emmi. Materinya pasti bagus sekali: tentang menjaga Pancasila yang sangat kita cintai. Tapi yang jelas, Sabtu kemarin itu saya sangat puas dengan apa yang sudah saya pilih dan lakukan. Karena, sekali lagi, saya harus bisa mengorbankan yang satu untuk dapat menunaikan yang lain.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa


Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa. Akan? Artinya ... belum. Betul sekali. Saya bahkan baru dalam tahap membaca salah satunya. Me-review tanpa membaca keseluruhan buku merupakan perbuatan pamali dan pengkhianatan pada diri sendiri karena yang tertangkap hanyalah keping-keping yang belum boleh dipamerkan. Tapi, dalam lini sombong, boleh donk saya pamerkan tiga buku yang dikirimkan oleh Kakak Rosalin Togo a.k.a. Mami Ocha? Bolahlah! Ini kan blog saya! Malah ngegas. Haha. Mungkin ini yang disebut, bermimpilah setinggi langit karena siapa tahu ada orang lain yang akan mewujudkan mimpi itu.


Ceritanya ...

Adalah salah seorang teman Facebook, saya lupa siapa, yang mengepos sebuah foto buku berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Foto buku itu mengingatkan saya pada buku lain berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Kok bisa? Iya, karena sampulnya mirip. Kalau Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bersampul oranye, maka Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah. Sekilas, sama-sama oranye. Itulah kerja otak manusia yang suka memiripkan sesuatu. Hehe *cubit otak sendiri*.

Lalu foto dari pos Facebook itu saya keep alias simpan, dan saya pos lagi di status WA dengan caption: pengen punya buku ini. Siapa sangka, status itu justru direspon sama Mami Ocha yang menulis: Mami sudah punya. Mau? Dengan cepat saya balas: mau leeeee. Kata Mami: Jum'at meluncur Ende. Tapi Jum'at siang harus diingatkan lagi. Kawan, kalau urusannya sama buku, tidak ada kata saya lupa, harus ingat dengan berbagai cara! Tidak lama berselang, Mami Ocha malah mengirim foto sebuah buku lain berjudul Bicara Itu Ada Seninya dengan pesan: Ini sudah punya?

Bisa kalian tebak, kawan. Pada akhirnya Mami Ocha menyiapkan tiga buah buku untuk saya.

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

How lucky I am!

Oh ya, Mami Ocha ini adalah dosen Uniflor yang sedang mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya.

Nah, pada foto sampul pos ini kalian melihat tiga buah buku bersama kotak mangga dan kotak buku lainnya. Mangga itu dikirim sama Noviea Azizah dari Kota Mbay. Kotak buku itu adalah kotak yang sama dengan tiga buku kiriman Mami Ocha, dan buku-buku lainnya itu adalah buku-buku yang akan disumbangkan untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Kami memang sedang dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa KKN-PPM Uniflor di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo tersebut.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Saat ini saya baru membaca buku berjudul Seni Hidup Minimalis. Bukan karena buku itu bersampul kuning, warna kecintaan saya, tetapi karena buku itu memang harus dilahap terlebih dahulu. Tetapi, tumpukan pekerjaan tambahan memang tidak bisa diabaikan. Sehingga bacanya pun baru beberapa lembar. Seperti apa isinya? Tunggulah setiap Sabtu di #SabtuReview!

Semoga dalam minggu ini bisa menyelesaikan salah satunya. Amin.

Terima kasih Mami Ocha, Pahlawan Intelektual saya. Tidak bisa saya balas kebaikan Mami. Sungguh. Bagi saya siapa pun yang memberikan buku untuk saya adalah Pahlawan Intelektual sejati.

#SabtuReview



Cheers.

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu. Mengarungi Pulau Flores memang butuh ketangguhan, terutama jika kalian adalah perempuan yang mengendarai sepeda motor, bukan mobil mewah ber-AC. Infrastruktur jalan Trans Flores memang sudah sangat baik. Tetapi, topografi Pulau Flores yang didominasi perbukitan, menyebabkan Trans Flores harus sering diperhatikan kondisinya. Saat musim hujan tiba, longsor (batu dan tanah) bisa saja terjadi, memenuhi sebagian badan jalan. Hujan juga bisa mengakibatkan putusnya jalan akibat aliran air super deras memangkas badan jalan. Kecuali jika sedang ada proyek pelebaran jalan, di luar musim hujan, kondisi Trans Flores baik-baik saja alias sangat sehat. Haha.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

#PDL kali ini adalah tentang dua kondisi yang harus kalian ketahui. Penting? Tidak juga sih, haha. Pernah, saya pernah melakukan dan mengalaminya. 

Gantung Sepatu


Dalam perjalanan ke arah Utara, ke daerah Maurole di awal tahun kemarin saat mempromosikan Universitas Flores ke seluruh SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya, musim hujan menyebabkan jalur yang satu ini 'putus'. Putus bukan berarti sama sekali tidak bisa dilewati, melainkan aliran air memangkas badan jalan sehingga pengendara harus lebih berhati-hati. Biasanya saya selalu membawa sepatu karet petani kalau sedang musim hujan, tapi hari itu saya lupa! Walhasil, harus rela sepatu dan kaki celana kuyup. Maunya sih tidak usah menurunkan kaki, tetapi batu-batu di dasar aliran air ini cukup besar sehingga pilihannya hanya dua: turunkan kaki atau jatuh.


Ada dua kondisi jalan yang mirip seperti foto di atas, yang satunya tidak seberapa dalam. Oh ya, yang memotret saya adalah Kakak Shinta Degor yang waktu itu seperjalanan sama saya ke wilayah Utara.

Gara-gara sepatu kanvas itu basah, saat tiba di Maurole saya terpaksa membeli sandal. Sungguh, memakai sepatu basah itu tidak enak sekali rasanya di kaki. Setelah mencuci kaki menggunakan air minum kemasan, saya memang sombong hahaha, baru sepatu diikat di sepeda motor dan kami pergi mencari warung untuk makan siang. 



Selang beberapa bulan, lagi-lagi saya harus menggantung sepatu, hanya karena salah perkiraan. Iya, saya berpikir aliran itu sudah lenyap, ternyata masih ada. Terpaksa sepatu saya jemur di atap dagangan bensinnya penduduk Desa Tana Li, hingga kering!


Dalam perjalanan pulang, waktu itu bareng Thika Pharmantara, kami membeli dua kresek merah buat membungkus kaki saya. Alhamdulillah sepatu tetap kering, setelah dijemur itu, sampai kami tiba kembali di Kota Ende.

Terjebak Debu


Kayaknya keren banget begitu menulis 'terjebak debu' haha. Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, dimana mendung hanyalah screensaver yang tidak boleh terlalu dipercaya bakal turun hujan, para pejalan seperti saya harus menyiapkan ekstra masker. Sebagai pengendara sepeda motor, masker merupakan barang wajib pakai/bawa. Sesekali dibuka kalau udara sudah terlihat/terasa bersih. Tapi jika ada proyek pelebaran jalan, jangan sampai masker dilepas dari wajah (hidung dan mulut).




Awas nyasar! Karena pada jalur darurat Mbay - Riung yang maha luas ini, nampak begitu banyak jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor agar tidak makan debu dari kendaraan yang melaju di depannya. Kalian tahu? Roda sepeda motor saya sampai tertanam nyaris setengah akibat tebalnya tanah/pasir.

⇜⇝

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi. Karena saya pengendara sepeda motor, jelas menurut saya Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi oleh para pengendara sepeda motor. Kalau pengendara mobil, ya terserah, karena saya tidak suka naik mobil. Alasannya cuma satu: kalau naik mobil di Trans Flores usus saya bisa keluar dari lobang hidung. Iya, jalannya yang berkelok-kelok itu sangat memelintir isi perut! Haha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Adakah yang pernah mengarungi Pulau Flores? Yuk bagi tahu di komen!




Cheers.