Arsip Bulanan: September 2019

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***


#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika. Tahun 2018, saya diminta oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, Pak Roni Wolo, untuk memotret beliau bersama calon isterinya (sekarang sudah jadi isteri donk) alias foto prewed. Demi memuluskan aksi foto prewed itu, saya mengajak Ocha dan Thika Pharmantara menjadi asisten, buat bantuin ngangkut barang. Tidak disangka, saya melihat pemandangan ini. Ampun, Ocha, itu sisir nangkring manis di rambut. Haha. Ini namanya asisten setulus hati sepenuh jiwa.

Baca Juga: Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain

#PDL



Cheers.

Coba deh pakai Ecolink, Lampu LED Ramah Lingkungan Paling Murah Di Indonesia


Bagi seorang yang hobi membuat Vlog alias youtuber,  saya kadang ingin mendapatkan hasil maksimal dengan menggunakan beberapa lampu LED yang terang. Namun,  beberapa lampu LED kadang sangat mahal dan tidak ramah dengan lingkungan. Menjawab keresahan saya,  kini hadir sebuah merek LED yang sangat ramah terhadap lingkungan yaitu ECOLINK.

"Kalau mau bikin studio yang bagus itu kayak apa sih?"

"Bikin yang sederhana aja sih di dalam kamar atau ruangan yang kosong."

"Kalau ruangan sih bisa pakai kamar aja sih tinggal setting dan kasih pernak pernik."

"Udah cukup kok kalau pakai kamar."

"Terus gimana sih caranya biar penerangan dalam ruangan itu bagus saat syuting Vlog?"

"Ya ampun bro itu mah gampang banget."

"Gampang?"

"Iya kamu tinggal pakai lampu LED deh,  pasti hasilnya cakep banget."

"Ya ampun, kok selama ini aku ngga kepikiran. Makasih ya bro."


Selama ini saya selalu berpikiran kalau untuk menghasilkan vlog yang bagus maka budget yang dikeluarkan untuk membuat studio itu bakalan cukup banyak banget. Ternyata itu sangat keliru,  saya tidak harus mengeluarkan banyak uang untuk menghasilkan studio. Salah satu caranya adalah menggantikan lampu studio yang sangat mahal dengan Lampu LED yang sangat murah.

Beruntung banget saya bisa hadir dalam launching Ecolink,  sebuah produk LED ramah lingkungan dan ramah bagi kantong anak muda atau bahkan ibu rumah tangga yang memiliki kebutuhan banyak lampu untuk usaha atau karena penerangan di luar rumah sangat kurang misalnya.


Signify Indonesia memperkenalkan produk lampu light-emitting diode (LED) dengan merek Ecolink yang ramah lingkungan. Lampu LED Ecolink sangat pas untuk sekmen rumah tangga menengah ke bawah dengan masa pakai hingga 15.000 jam.

Saat ini, Ecolink menawarkan rangkaian bohlam LED dan lampu downlight yang nantinya akan disusul oleh berbagai tipe lampu lainnya. Lampu LED Ecolink tersedia dalam dua varian warna: cool daylight (6500K) yang menyerupai warna sinar matahari, dan warm white (3000K).

Harga eceran untuk bohlam LED Ecolink berkisar dari Rp 15.000 hingga Rp 38.000, sedangkan downlight dipasarkan dengan harga Rp 43.000- Rp97.000, bergantung pada besaran wattnya. Produk-produk Ecolink hadir dengan garansi satu tahun dan tersedia di toko ritel tertentu.



Dengan munculnya produk Ecolink Lampu LED ini banyak banget yang mengharapkan distribusinya bisa sampai ke pelosok negeri yang membutuhkan lampu murah dan ramah lingkungan serta menjadi solusi apabila memiliki usaha kecil menengah yang membutuhkan banyak sekali konsumsi lampu LED.

Selain itu diharapkan banyak produk LED lain dengan teknologi canggih namun harganya sangat terjangkau.

Selamat membuat karya dan membantu pekerjaan kamu dengan ECOLINK yang ramah lingkungan.





5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.

Kepo Buku #26: Kisah Djakarta Tempoe Doeloe

Kali ini kita membahas dua buku yang ada kaitannya dengan daerah khusus ibukota yang bakal jadi daerah saja. Tapi bukan itu yang kita mau cerita melainkan buku yang bercerita tentang kota Jakarta “Tempoe Doeloe.” Satu buku sejarah satu lagi novel. Penulisnya sama-sama bermarga Lubis, satu Firman Lubis dan satu lagi Muchtar Lubis. Selamat mendengarkan.

**PENGUMUMAN GIVEAWAY BUKU ADA DI EPISODE INI ** 🙂

Selamat mendengarkan!



Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang dibahas di episode ini:

  • Jakarta 1950-1970 – Firman Lubis (Penerbit: Komunitas Bambu)
  • Senja di Jakarta – Mochtar Lubis (Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia)


Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa. Berapa banyak barang yang kita buang dalam sebulan? Sekardus? Dua kardus? Apakah celana jin termasuk di dalamnya? Oh, sayang sekali kalau begitu, karena celana jin punya begitu banyak manfaat justru setelah tidak dipakai lagi. Haha. Dinosaurus melirik malas kalau saya sudah menulis begini. Tapi kenyataannya memang demikian. Ketika celana jin masih baik atau bagus, alias masih terus kita pakai, ya fungsinya paling-paling hanya dipakai sebagai bawahan. Akan tetapi bila sudah tidak dipakai lagi, celana jin punya banyak manfaat dan paling pertama bisa jadi keset kamar mandi *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Keset kamar mandi pun kadang tidak dibikin apa-apa terhadap celana jin tersebut. Cukup dilipat, jadi deh. Dududu. Betapa pemalasnya. Saya.

Saya pernah memanfaatkan celana jin yang tidak dipakai lagi ini untuk membikin berbagai barang dalam proyek-proyek Do It Yourself alias DIY. Tentu, semua atas bantuan video-video tutorial atau how to yang berserakan di Youtube. Tapi, jelas percikan kreativitas itu harus ada. Kalau tidak, ya percuma donk. Barang-barang yang pernah saya bikin dari celana jin itu antara lain tas selempang besar, tas selempang kecil, desk organizer, hingga mangkuk celana jin. Sudah ada pula yang saya ulas di blog ini. Silahkan cari sendiri posnya, yaaa.

Ini salah satu tas jin yang saya bikin.

Hari ini saya mau mengajak kalian melihat-lihat rumah saya, Pohon Tua, dengan seperangkat sofa kayu yang jok dan sandarannya kemudian saya selimuti, cie, cengan celana jin bekas.

Ceritanya, saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dua tahun yang lalu, saya berencana untuk memperbaiki sofa kayu yang kainnya sudah mreyap-mreyap gara-gara digauk kekucingan kami. Sungguh, kekucingan kami itu kalau tinggal di rumah kalian pasti sudah bikin kalian depresi. Kekucingan di rumah kami selalu menyasar sofa hingga gorden untuk pemanasan kuku mereka. Haha. Tapi kami tidak pernah protes pada kekucingan karena kami sayang mereka. Dududu. Alhamdulillah kekucingan juga sayang kami, buktinya mereka betah tinggal bersama kami.

Maka, saya menghubungi Om Fals untuk memperbaiki sofa kayu tersebut tetapi kain yang digunakan adalah celana jin bekas. Adalah tugas Mamasia dan Thika Pharmantara membongkar kardus-kardus berisi celana jin yang masih saya pertahankan dalam inspeksi tahunan. Iya, seharusnya sudah dibuang, tapi bertahun-tahun, saat inspeksi barang bekas, tetap saja celana-celana jin itu dikebas, dilipat, disimpan kembali di dalam kardus. Tanpa banyak protes, seperangkat sofa kayu diangkut oleh Om Fals berikut tumpukan celana jin bekas.

Saat hari raya, sofa itu belum datang ...

What!?

Ya, betul sekali, kawan. Sofa-sofa itu datang dua minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Ini betul-betul kocak, tapi menyenangkan, karena bikin ngakak. Saya senang, meskipun telat dari hari perjanjian, karena sofanya kemudian menjadi cantik sekali. Kalian bisa melihatnya pada gambar-gambar berikut ini:



Yang paling detail itu pada sandarannya. Untuk sandaran, Om Fals khusus memakai bagian saku celana jin denga label yang masih tertempel. Serunya lagi dikasih paku semaca paku tekan, sehingga nampak gimanaaaaa gitu.



Sofa celana jin itu kemudian mengisi ruang tamu Pohon Tua dengan cantiknya. Banyak yang memuji, dan saya cuma bisa bilang, itu dibikin sama Om Fals, meskipun ide awalnya dari saya. Toh saya juga tidak pandai bermain-main dengan dunia pertukangan hahaha. Makanya, pada pos ini pun saya tidak menulis langkah-langkah membikin sofa celana jin, karena memang tidak tahu caranya. Itu urusannya Om Fals.

Baca Juga: Mempermudah Hidup Dengan Life Hack

Jadi, kalau di rumah kalian ada banyak celana jin yang tidak terpakai lagi entah karena sesak entah karena ada yang sobek entah karena bosan, jangan dibuang. Manfaatkan untuk membikin barang-barang DIY. Kalau bingung, tinggal buka Youtube dan mencari inspirasi di sana. Kalau masih bingung juga, baca-baca pos di blog saya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik


Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik. Saya pernah menulis pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tentang bagaimana cara saya menyunting video menggunakan Sony Movie  Studio Platinum sebagai rumah utama, tetapi masih menggunakan aplikasi lain sebagai pembantu. Aplikasi lainnya itu adalah Photoscape dan Proshow Producer (saya menulisnya Proshow saja). Photoscape untuk menyunting gambar, apabila video yang dikerjakan menyisipkan gambar, soalnya saya tidak fasih dengan Photoshop. Sedangkan Proshow untuk menyatukan gambar menjadi video, dengan template layer yang keren, banyak efek, serta banyak pilihan transisi. Tidak mudah memang untuk menghasilkan video yang, menurut saya, baik.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Hari ini saya mau kembali mengingatkan kalian tentang Proshow. Kenapa? Karena, jarang saya mendengar orang bercerita tentang Proshow, padahal aplikasi yang satu ini cukup bagus dipakai apabila hendak membikin video slide gambar/foto. Proshow sering saya pakai apabila ada teman meminta bantuan membikin video slide foto-foto prewedding untuk ditampilkan saat acara resepsi.

Jadi, apa itu Proshow? Cekidot.

Proshow


Proshow (Producer) merupakan salah satu produksi Photodex. Antarmukanya rata-rata sama dengan aplikasi sunting foto/video pada umumnya. Sepanjang saya memakai Proshow, belum menemukan tingkat kerumitan yang terlalu tinggi, karena aplikasi ini dibikin untuk memudahkan penggunanya membikin video slide. Selain itu, pengguna juga bisa menambahkan musik/sound untuk memperindah video yang dibikin. 


Saya mengenal Proshow dari seorang teman yang sudah saya anggap adik sendiri, Akim Yuven. Dia bahkan menunjukkan pada saya video-video yang sudah pernah dibikin menggunakan Proshow. Tertarik, saya memasang Proshow di laptop, dan mulai menggunakannya sampai dengan saat ini.

Mengulik Cara Kerja Proshow


Saat membuka Proshow, biasanya pengguna akan disuruh menambah gambar - musik - template terlebih dahulu, tapi semua itu bisa dibatalkan dan akan nampak antarmuka seperti gambar berikut ini:


Ada empat kotak dialog utama pada antarmukanya. Bagian folder gambar/video, bagian isi folder (di bawahnya folder), bagian tampilan (di sampingnya folder), dan paling bawah time line-nya yaitu time line gambar/video dan musik. Pada gambar di atas saya mengeklik folder Geng Pharmantara, dengan foto-foto kegiatannya keluarga kami, salah satu yang saya klik adalah keponakan: Rama - Indri - Syiva. Bisa dilihat di atas ya. Cukup jelas.


Lingkar merah adalah foto yang hendak dibikin slide, di atas ada empat foto, sedangkan lingkar kuning adalah transisi. Apabila pengguna hendak menyunting foto agar terlihat bergerak dengan berbagai slide keren, cukup klik dua kali pada foto dimaksud, maka akan terbuka kotak dialog pilihan gaya slide yang begitu banyak.


Di sinilah pengguna bekerja. Ada pilihan slide, layers, effects, caption, dan sounds. Silahkan pilih slide pada bagian kiri, dan silahkan disunting pada bagian kanan. Hebatnya, pilihan slide ini beragam, karena ada slide dengan satu layer, dua layer, bahkan sembilan layer. Sehingga pengguna bisa membikin satu slide dengan banyak foto, atau satu slide dengan satu foto. Pengaturan lainnya adalah efek bergeraknya (hitungan x - y panning, dan lain sebagainya).



Apabila pengguna mengeklik transisi, lingkar kuning seperti gambar sebelumnya di atas, maka akan keluar kotak dialog transisi. Proshow kaya akan transisi, beda jauh sama Sony Movie Studio Platinum yang terbatas transisinya sehingga harus memakai transisi pihak lain. Kelompok transisi bisa kalian lihat pada gambar di atas, ada blocks, patterns, themed, wipes, dan lain-lain. Inilah yang membikin saya menyukai Proshow. Transisinya kaya raya!

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Foto sudah oke, transisi oke, sampai pada musik pun oke (saya jarang pakai musik di sini), maka pengguna tinggal menyimpan hasil suntingannya. 




Create output, dan pilih video file. Silahkan disimpan. Selesai. Jangan kuatir dengan kualitas. Sudah HD kok. Hehe. Meskipun sekarang zamannya 4K tapi HD masih jadi pilihan.

'Rumah Besar' Sunting Video


Rumah besar sunting video saya adalah Sony Movie Studio Platinum. Saya memakai yang versi 13. Jadi, biasanya saya menyiapkan dulu elemen-elemen pembantu yang sudah dikerjakan di Proshow dan di Photoscape, lantas menyatukan semuanya di Sony Movie Studio Platinum. 


Gambar di atas, adalah gambar time line kerjaan sunting video di Sony Movie Studio Platinum 13. Bisalah kalian bayangkan betapa pusingnya otak saya menyatukan semua keperluan sebuah video. Berbeda dengan video dokumenter yang keseluruhannya terdiri atas video/gambar bergerak. Kalau foto, itu kita harus bisa menyesuaikan frame, menyesuaikan warna dan kecerahan, hingga durasi foto itu sendiri. Yang biasa sunting video pasti tahulah. Hehe.

Makanya, kalau biaya videografer agak mahal itu bukan saja karena kamera yang dipakai mahal, tetapi biaya menyunting yang mahal. Kalian bisalah tahu tentang ongkos listrik, ongkos kopi, ongkos cemilan (ini utama hahaha), sampai ongkos obat sakit pinggang kalau terlalu lama duduk di kursi pelototin layar laptop. Sampai sekarang saya masih mengandalkan Acer, belum punya rencana membeli komputer, rakitan, khusus untuk keperluan bekerja sunting video.

Baca Juga: Shapire OFX

Jadi itulah cara kerja Proshow yang masih asyik dipakai sampai sekarang. Tidak semua saya jelaskan, tidak sampai detail, karena feel dan sense itu harus dari penggunanya sendiri. Percayalah, ketika kalian sudah menggunakan suatu aplikasi sunting video, kalian bakal punya feel dan sense sendiri ketika proses kreatif berjalan. Semua itu sudah saya rasakan dan alami. Sayangnya, saya bukan Youtuber yang super aktif. Saya tidak pernah serius menjadi Youtuber, kalau untuk senang-senang, bolehlah. Haha.

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah memakai Proshow?

#SelasaTekno



Cheers.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Gambar diambil dari sini.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Sebelumnya, kalian harus baca terlebih dahulu pos Senin lalu yaitu Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1). Supaya apa? Supaya tahu donk. Hehe. Padahal, siapa sih yang tidak tahu Upin Ipin? Semua orang pasti tahu. Senin ini, di tengah perasaan bahagia karena pagi-pagi sudah di-video call sama Salep Hitam yang justru tidak suka Upin Ipin, saya mau melanjutkan pos penting yang satu ini. Karena, sejak Senin kemarin kalian pasti bertanya-tanya mengapa saya menulis pos tentang Upin Ipin. Kalau tidak ada yang bertanya-tanya pun, tidak masalah, haha.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Pada pos lalu sudah banyak yang kalian tahu, mulai dari karakter sampai kebiasaan dan ciri khas yang melekat setiap karakter di dalam Upin Ipin. Tapi intinya ada pada pos hari ini. Mengapa semua anak Indonesia harus menonton Upin Ipin? Yuk ... cekidot.

Upin Ipin Mengajarkan Toleransi


Dari banyak poin penting yang saya catat dari Upin Ipin, inilah poin paling utama yang menginspirasi saya menulis pos tentang serial kartun asal Negeri Jiran. Toleransi. Toleransi yang seharusnya dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.

Malaysia adalah Melayu. Meskipun bukan negara Islam tapi Malaysia identik dengan Islam. Bahkan, awal Upin Ipin dibikin pun demi untuk kepentingan Bulan Ramadhan, demi menanamkan semangat dan nilai-nilai positif Bulan Ramadhan kepada anak-anak. Hebatnya, pembikin Upin Ipin ini tidak idealis dengan ke-Islam-an saja. Penduduk Malaysia itu beragam. Bangsa Melayu menjadi bagian terbesar tetapi ada pula Ras Tionghoa Malaysia dan India Malaysia. Oleh karena itu ada karakter seperti Mei Mei dan Uncle Ah Tong yang tentunya kita tahu mereka sangat Cina. Ada pula Uncle Mutu dan keluarga Jarjit Singh yang sangat India.

Nilai toleransi yang diajarkan dalam serial Upin Ipin itu sederhana. Contohnya, saat ada anak-anak Muslim yang hendak batal puasa karena kelelahan bermain di lapangan, Mei Mei dengan gaya khasnya bakal bilang: tak boleh, nanti kamu punya Tuhan marah. Contoh lain saat Hari Raya Idul Fitri, teman-teman biasa diajak makan di rumah Upin Ipin. Ini pun berlaku ketika Mei Mei merayakan Tahun Baru Cina. Banyak penjelasan tentang kebiasaan dan kepercayaan Orang Cina. Upin Ipin dan teman-temannya pun tahu bahwa sapi merupakan hewan yang sangat suci bagi Orang India (Uncle Mutu dan keluarga Jarjit Singh). Jadi ingat Seppy. Hehe.

Ajaran tentang toleransi yang sederhana itu yang membikin saya menulis pos ini. Bagaimana dengan Indonesia yang punya begitu banyak suku serta banyak agama? Sudah seharusnya toleransi hidup lebih kental di negara kita bukan? Tapi kenapa tontonan tentang intoleran di televisi juga banyak datang dari negara kita? Sampai-sampai ada kaum ini lah, ada kaum itulah, ada kelompok inilah, ada kelompok itulah. Padahal, perbedaan yang tumbuh di Indonesia ini banyak, semakin banyak perbedaan seharusnya toleransi juga semakin tinggi.

Upin Ipin Mengajarkan Tentang Kebaikan


Toleransi dan kebaikan, tentu. Kebaikan ini datang dari semua karakter dalam Upin Ipin. Opah yang bijak, misalnya, selalu memberikan petuah berharga dalam setiap sendi kehidupan.Meskipun garang, Kak Ross sangat sayang pada adik-adiknya. Lihat saja Mail, segala sesuatu selalu diperhitungkan, tetapi dia tidak pelit ketika Upin dan Ipin membantunya berjualan ayam goreng di pasar. Tuk Dalang pun lebih lagi. Apabila musim rambutan, anak-anak boleh menikmati rambutan ... secara percuma. Belum lagi kebun duriannya. Tuk Dalang selalu saja bisa menraktir ABCD untuk Upin Ipin dan teman-teman. Belum lagi soal ajaran berkebun, memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran kebutuhan makan sehari-hari.

Tidak berhenti sampai di situ. Kebaikan hidup yang diajarkan di dalam Upin Ipin juga datang dari permainan. Meskipun anak-anak itu tidak menutup mata dari permainan canggih semacam mobil remote control, tapi justru yang paling sering terekspos adalah permainan tradisional anak-anak di Kampung Durian Runtuh! Ada layangan, ada petak umpet, ada gundu, ada pula saat mereka harus menggantikan kelompok rebana di suatu acara pernikahan.

Kebaikan lain yang juga tak kalah seru adalah pesan-pesan sponsor. Seperti minum susu bagus untuk kesehatan, masalah mata, imunisasi, hingga rasuah alias suap. Bagaimana KPK-nya Malaysia bekerja itu dijelaskan dengan sangat sederhana kepada anak-anak, serta macam-macam rasuah dimana rasuah tak hanya uang tapi juga dalam bentuk barang ... termasuk ayam goreng. Hahaha. Ini kan bagus! Pelajaran demi pelajaran, kebaikan demi kebaikan, terus ada dan tersaji dalam serial Upin Ipin. Serial yang menurut orang lain sepele, tapi menurut saya sangat berharga.

⇜⇝

Poin-poin penting yang bisa dipetik dari serial kartun Upin Ipin di atas saya tulis dengan sungguh-sungguh. Bukan supaya kalian juga menonton Upin Ipin, melainkan supaya kalian juga tahu bahwa pelajaran berharga bisa kita dapatkan dari mana saja, termasuk dari menonton serial kartun yang konon katanya khusus untuk anak-anak.

Baca juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Bagaimana dengan kalian?

Suka Upin Ipin juga?

Apa hikmah yang kalian petik dari serial kartu yang diproduksi Les' Copaque, Malaysia itu? Bagi tahu yuk di komen!

#SeninCerita



Cheers.

Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya

Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Pramugari Kereta Api | Foto Jurnal Media Indonesia
Berbagai tujuan daerah di pulau Jawa sudah aku tempuh menggunakan kereta api. Apalagi dengan perubahan wajah kereta api seperti sekarang ini. Dari kelas ekonomi hingga eksekutif tidak ada gap yang terlalu jauh. Semua rangkaian kereta sudah menggunakan pendingin udara (AC) dan jumlah penumpangnya pun sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri

Semua yang ada sudah sangat jauh berbeda jika kita bandingkan dengan wajah kereta api masa lalu. Maka tak heran, jika sekarang kereta api menjadi salah satu wahana transportasi yang populer dan menjadi favorit karena fasilitas dan layanannya. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, layanan dan fasilitas kereta api baik di stasiun maupun di dalam rangkaian tidak berkurang, justru terus meningkat. Seperti yang aku rasakan beberapa waktu lalu ketika aku bepergian dari Semarang ke Surabaya. 

Bepergian naik kereta saat ini sudah tidak perlu khawatir macam-macam, sekalipun jarak tempuh menggunakan kereta lebih lama, tapi aku merasa lebih aman dan nyaman dibandingkan naik pesawat terbang. Mungkin karena takut ketinggian atau mungkin juga karena sudah terbiasa setiap hari menggunakan moda transportasi KRL. Selain itu, alasan berhematlah menjadi alasan utama, karena tiket kereta lebih murah dibandingkan tiket pesawatCoba pastikan harga tiket kereta Semarang Surabaya, harganya jelas masih lebih terjangkau daripada harga tiket pesawat.

Meski aku memilih kelas ekonomi menggunakan KA Ambarawa Ekspres namun fasilitasnya serasa berada di kereta eksekutif. Betapa tidak, meski menggunakan kursi ekonomi, tetapi bisa diubah sendiri sandaran kursinya, layaknya kursi kereta eksekutif. Setidaknya, fasilitas ini membuatku nyaman menempuh perjalanan sekitar 4 jam lebih dari stasiun Semarang Poncol menuju stasiun Pasar Turi Surabaya. FYI, perjalanan dari Semarang (Poncol) hingga ke Surabaya (Pasar Turi), KA Ambarawa Ekspres akan berhenti di 8 (delapan) stasiun, yaitu Semarang Tawang, Ngrombo, Kradenan, Randublatung, Cepu, Bojonegoro, Babat, dan Lamongan.

Sejuknya udara di dalam rangkaian juga semakin menambah kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas di dalam kereta. Sudah gitu, masing-masing kursi juga dilengkapi dengan colokan listrik yang umumnya digunakan untuk men-charge hp. Jadi, enggak perlu panik ketika baterai hp mulai kehabisan daya. 
Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Charger dalam gerbong kereta | Foto: indoinspector.blogspot.com
Layanan kereta juga tidak sampai di situ sebatas fasilitas rangkaian saja, namun layanan dari para crew yang patut diacungkan jempol. Ketika aku melihat AC di atasku bocor sedikit, aku segera laporkan ke petugas yang lewat. Tak lama kemudian, petugas datang menghampiri dan langsung melakukan perbaikan. Taarrraaa.....AC ku kembali normal dan akupun kembali duduk dengan nyaman. 

Kebersihan di dalam rangkaian dan khususnya di dalam toilet selalu terjaga dengan baik. Air selalu mengalir dari keran yang tersedia, dilengkapi dengan hand wash dan tissue. Closed-nya pun dilengkapi dengan tombol flush, jadi tidak meninggalkan jejak bau yang tak sedap. Dulu...aku selalu menahan buang air kecil jika bepergian menggunakan kereta, tapi sekarang tidak lagi.

Jika perut keroncongan pun, kita tinggal memesan makanan/minuman melalui crew. Berbagai pilihan menu tersedia dan tinggal pilih. Meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan harga di warung, tapi cukup worth it-lah dengan layanan yang didapat.

Meskipun masing-masing kelas (ekonomi, bisnis, eksekutif) ada nilai tambah dalam hal layanan, namun layanan standar yang diberikan memang jauh lebih manusiawi dibandingkan dulu. Tak ada lagi, penumpang yang berdiri, tak ada lagi WC jorok, tak ada lagi kereta yang jendelanya terbuka, tak ada lagi kereta yang berbau apek, pesing dan lain-lain. Maka tak heran jika kereta menjadi idola masyarakat sekarang. Dengan  semua fasilitas dan layanan yang ada di kereta Ambarawa Ekspres ini menjadikan penumpangnya nyaman senyaman di rumah sendiri.

Narablog: Tarini Hadi Subroto