Arsip Bulanan: Agustus 2019

Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila

Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial
Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial 

"Nanang" ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut jabat tangan saya. Selanjutnya Bang Iwan Bonick (yang lebih dahulu berada di sana) memperkenalkan saya lebih jauh kepada Pak Nanang agar kehadiran saya tidak mengubah suasana yang sudah terbangun sebelumnya.

Saya yang baru kenal dan baru ikut bergabung dalam "majelis asap" di Smoking Room Lobby Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center akhirnya hanya pasif mendengarkan perbincangan. 

Untuk menjalin keakraban, saya sebenarnya ingin nyeletuk saat Pak Nanang bercerita tentang pengalaman beliau di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Tapi pengalaman yang Pak Nanang sedang ceritakan ini frekuensinya mendekati sakral, tidak layak saya potong dengan celetukan garing "saya juga pernah ke sana loh pak". Gak nyambung dan gak penting.

Belakangan saya baru tahu, lelaki paruh baya tersebut bernama lengkap Nanang Rakhmad Hidayat, M. Sn. Beliau adalah dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga merupakan mitra kerja Pusat Studi Pancasila UGM.
  
Pak Nanang ini adalah seniman yang mendirikan "Museum Rumah Garuda" di Yogyakarta, sehingga dikenal dengan nama lain "Nanang Garuda", sedangkan Iwan Bonick adalah penyair unik yang mendirikan "Rumah Garuda" di Bekasi. Setidaknya itulah yang membuat obrolan mereka menjadi begitu akrab, hampir saja saya mempermalukan Bang Iwan Bonick dengan celetukan garing :)  

Pak Nanang yang menulis buku "Mencari Telur Garuda" ini datang ke Bekasi untuk memenuhi undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu pembicara dalam acara "Sosialisasi Pancasila Dengan Milenial/Blogger". Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 ini bertemakan "Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial". 
Sang Kartini Kembar guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Sri Rossyati (Rossi) dan Sri Irianingsih (Rian)
Sang Kartini Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini Jakarta Sri Rossyati dan Sri Irianingsih 
Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Bapak Aris Heru Utomo selaku Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ibu Irene Camelyn Sinaga selaku Direktur Pembudayaan BPIP serta Sang Kartini Kembar, duo guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Utara, yaitu Ibu Sri Rossyati (Ibu Rossi) dan Ibu Sri Irianingsih (Ibu Rian). Hadir pula Mbak Mira Sahid selaku tokoh blogger dari Bekasi yang bertindak sebagai MC dan moderator.

Dalam pemaparannya, Pak Nanang menyampaikan hasil perjalanannya mengumpulkan berbagai macam foto Garuda Pancasila yang memiliki bentuk dan ragam corak. Sebagai seniman ia mengapresiasi keragaman bentuk dan ragam hasil karya masyarakat, akan tetapi ia juga menyimpan kegelisahan mengenai inkonsistensi bentuk lambang negara ini. Namun demikian, yang lebih membuat Pak Nanang gelisah adalah "amputasi historis", karena tidak ada satupun pihak yang menceritakan tentang proses atau sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila.
proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila
Proses metamorfosis terbentuknya lambang Garuda Pancasila 
Sebagai seniman yang sensitif terhadap makna di balik tanda dan bentuk lambang (semiotika), saya kira kegelisahan Pak Nanang cukup beralasan. Ia tidak ingin lambang negara yang sudah dirumuskan oleh para pemikir dan pendiri bangsa ini dilupakan sejarah kelahirannya dan kehilangan makna-makna luhur yang disampaikan dalam bentuk Burung Garuda Pancasila.

Untuk menjawab kegelisahan itulah pada 17 Agustus 2011 ia mendirikan "Museum Rumah Garuda" sebagai ruang publik untuk berwisata sejarah dan edukasi khusus mengenai Garuda Pancasila. Museum yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Garuda ini berusaha mengenalkan akar jati diri bangsa yang telah tersimbolkan pada Garuda Pancasila, melalui pintu sejarah, filosofi, estetika, dan semiotika dengan pendekatan seni dan budaya. 

Rumah Garuda sudah banyak menghasilkan karya yang bertujuan untuk menyosialisasikan proses dan sejarah lahirnya Garuda Pancasila, baik berupa wayang, ragam bentuk permainan puzzle, film, buku, kamus dan lain sebagainya. 

Pak Nanang mengatakan, "Indonesia saat ini sedang mencekam, berhentilah men(jadi) ce(bong) kam(pret), bangkitlah menjadi Garuda"

Bagaimana caranya berhenti menjadi cebong dan kampret dan kembali menjadi garuda?. Dalam salah satu slide presentasinya Pak Nanang menampilkan kutipan dari Emha Ainun Najib, "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA"
Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila
Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA
Kutipan itu hanya potongan kecil, lengkapnya kalimat itu berbunyi "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tau kalau Anda ini garuda, Anda ini bangsa besar. Ndak apa-apa sampai akhir hayat Anda ndak berhasil, ndak pa-pa; anakmu yang berhasil, nek gak anakmu yo putumu, tapi kita bangun kembali paruh yang baru itu, kuku yang baru itu, dan tidak pernah putus asa." - Cak Nun

Pepatah lama mengatakan, "tidak kenal maka tak sayang", itulah salah satu solusi yang diupayakan Pak Nanang Garuda sekian lama, beliau secara aktif mengajak anak bangsa mengenal proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila agar kembali dikenal dengan sebagaimana layaknya.

Lambang Garuda Pancasila sejatinya memang tergali dari nilai-nilai peri kehidupan Bangsa Indonesia. Walau saat Orde Baru Pancasila pernah disalahgunakan untuk mengontrol hingga ke ruang pikir, namun di era pasca reformasi di mana kebebasan berekspresi telah mendapatkan tempat yang lebih layak, maka mengenal Garuda Pancasila dengan segala aspeknya kembali menjadi penting. Tentunya itu bukan hanya tugas Pak Nanang dan BPIP saja.

Salam.

Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De’ Bhagasasi

Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Bekasi, Tri Adhianto meresmikan De'Bhagasasi di Pasar Proyek Trade Center Bekasi [Dakta.com]
Hari Jumat lalu, 23 Agustus 2019, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto telah meresmikan Sentra Seni Budaya Bekasi bernama "De' Bhagasasi" di lantai upper ground Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur. 

De' Bhagasasi adalah pusat penjualan aneka souvenir, karya seni, dan kuliner khas Bekasi, namun begitu Wawali juga berharap De Bhagasasi dapat menjadi pusat edukasi seni dan budaya bagi warga Kota Bekasi termasuk pelajar.

"Tidak saja menjual, tapi juga melatih. Bagi mereka yang memiliki passion, bisa kami arahkan. Tidak saja hasilnya yang ada, tapi juga para pelaku dan komunitas bisa berkumpul di sini. Ada seni tari, lukis, mereka bisa saling berinteraksi," kata Tri sebagaimana dikutip Kompas.com.

Menurut Benny Tunggul, Ketua Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan, Tim Walikota untuk Percepatan Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan (TWUP4), De' Bhagasasi saat peresmian telah mengakomodir 40 pengrajin batik yang ada di Kota Bekasi.

Dari 40 gerai UMKM yang ada itu, terdapat salah satu gerai berbeda yang melengkapi keragaman sentra budaya De' Bhagasasi. Gerai tersebut adalah Gerai Kembang Wisata Handicraft yang menggelar koleksi kain Uis Gara, pakaian adat dari budaya Suku Karo Sumatera Utara. 
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Kota Bekasi Tri Adhianto di Gerai Gerai Kembang Wisata Handicraft [independensi.com]
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Selain menjual Uis Gara (Ulos), sesuai namanya, Gerai Kembang Wisata Handicraft juga menyediakan kerajinan tangan lainnya seperti miniatur rumah adat, produk batu, gelang, cincin dan semacamnya.

"Sebetulnya untuk souvenir saya mengutamakan cinderamata khas Bekasi, tapi belum kesampaian, oleh karenanya saya membuka peluang kerjasama bagi pengrajin lokal yang serius, mungkin Bang Bisot bisa bantu?" ungkap Hairani Tarigan selaku pemilik Kembang Wisata Handicraft yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Bekasi saat saya hubungi.

"Saat ini masih penyusunan katalog. Baru ada aneka tenun khas Karo, ada Ulos Batak Toba dan batu perhiasan. Sementara yang baru saya posting dan masih asli banget ada di Instagram @kembangwisatahandicraft" lanjutnya.

Setelah saya check di Instagram  https://www.instagram.com/kembangwisatahandicraft/ ternyata memang baru sedikit, sehingga kalau ingin melihat koleksi Kembang Wisata Handicraft secara lengkap sepertinya kita harus mendatanginya langsung di Upper Ground #130, Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur.
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Ibu Hairani Tarigan di Gerai Kembang Wisata Handicraft

Mengenal Sepintas Uis Gara Batak Karo

Kata Uis Gara dalam bahasa Batak Karo berasal dari kata Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut Uis Gara atau "kain merah" karena warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, dengan dihiasi ragam motif tenunan dari benang emas dan perak.

Uis Gara pada umumnya terbuat dari bahan kapas yang dipintal dan ditenun secara manual dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Proses pembuatannya secara garis besar sama dengan pembuatan Songket.

Uis Gara pada awalnya digunakan untuk pakaian sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini Uis Gara hanya digunakan di upacara adat dan budaya. Baik yang dilaksanakan di daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk souvenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.

Keunikan Uis gara juga karena memiliki ragam jenis dengan fungsinya masing-masing, sebagian jenis sudah langka karena tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa jenis uis gara diantaranya adalah sebagai berikut: Uis Beka Buluh, Uis Gatip Jongkit, Uis Gatip, Uis Nipes Padang Rusak, Uis Nipes Benang Iring, Uis Ragi Barat, Uis Jujung-Jujungen, Uis Nipes Mangiring, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Julu Diberu, Uis Arinteneng, Perembah dan Uis Kelam-kelam.

***

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

Gula-Gula Batavia En Ommelanden
"Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah Anda dapatkan, sampai Anda benar-benar membutuhkannya" kata seorang komedian. 

Berbicara soal pengalaman sama saja dengan membicarakan apa-apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Ketika pengalaman pribadi saja sering dikunci dalam kotak masa lalu dan diabaikan, apalagi pengalaman sosial dalam ingatan kolektif. Karena ingatan kolektif lebih sering diabaikan, disadari atau tidak kita seperti orang-orang yang menderita amnesia sejarah. 

Ibarat pohon kita lupa siapa yang menanam, di mana kita tumbuh, akar tidak menyentuh tanah dan seperti tumbuhan air yang ikut ke mana arus diarahkan.

Seperti remaja tanpa pengalaman yang disodorkan narasi-narasi indah, tanpa perlu paksaan, secara sukarela kita akan melakukan apa saja atas nama "pengalaman". Peringatan dari yang sudah paham dianggap angin, kalaupun terdengar, lebih seperti larangan seorang ibu ketika anaknya membeli permen. Walau dengan penuh cinta dan logika sudah diperingatkan permen itu tidak baik untuk gigi dan lain-lain, si anak tetap saja membeli dan memakannya. Orang tua mana paham enaknya gula-gula masa kini?.

"Gula-gula" itu sekarang bentuknya bermacam-macam. Dikemas dengan narasi mutakhir dan imajinasi yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan instan. Ditawarkan 24 jam melalui semua indera, selama otak bisa bekerja, selama itu pula plasebo yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit itu disodorkan. Kunci surga yang sedang menanti untuk diambil.

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

15 Agustus 1950 itu belum lama, masih ada orang-orang yang paham mengapa Bekasi memisahkan diri dari Kabupaten Jatinegara, yang berarti lepas dari Jakarta dan masuk ke Provinsi Jawa Barat sebagai kabupaten yang setara dengan Kabupaten Jatinegara walau beda provinsi. 

Latar belakang perpisahan ini juga bukan hanya persoalan administratif naiknya status dari kewedanan menjadi kabupaten dan kotamadya (Kota) seperti sekarang, tapi soal pernyataan sikap dan semangat kemandirian para pejuang di Bekasi yang bertekad untuk menentukan nasib daerahnya sendiri sebagaimana dikenal sebagai Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi.  [Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini hal. 403]
Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi
Harian umum Pemandangan 1 Februari 1950, memuat berita peristiwa di alun-alun Bekasi tentang rapat raksasa
Semangat kemandirian yang harusnya terpatri dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat Bekasi sampai kapan pun. Tapi kalau pengalaman dan sejarah itu tidak bermanfaat, silakan masukkan ke dalam kotak masa lalu dan abaikan.

Kalau sekarang Bekasi dianggap tertinggal dari daerah tetangga-tetangganya, menurut saya itu lebih karena faktor pengelolaan yang belum profesional yang bisa disebabkan banyak faktor, mungkin salah satunya masalah anggaran yang sering dijadikan alasan pamungkas, tapi apapun itu, saya kira bergabung kembali ke DKI bukan solusinya

Ya tentu saja kalau Bekasi bergabung dengan Jakarta maka Bekasi menjadi tidak relevan lagi dibandingkan-bandingkan dengan Jakarta. Bekasi tidak bisa lagi dikatakan lebih tertinggal dari Jakarta karena Bekasi sudah bagian dari Jakarta itu sendiri, tapi apa gunanya status itu untuk kesejahteraan warganya?.

Perbincangan mengenai perpindahan Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara ini pada akhirnya menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat untuk menentukan, namun narasi yang berkembang di masyarakat rupanya tidak selesai sampai di situ. 

Polarisasi setuju dan tidak bukan hanya sebatas pro dan kontra, tapi sudah berkembang ke mana-mana. Pro dan kontra pada dasarnya bagus selama masih dalam koridor konstruktif, lain daripada itu sebaiknya dikembalikan ke forum silaturahmi dan persaudaraan.

Bekasi sudah mengalami banyak macam perpindahan administrasi daerah, kalau tidak ada nilai lebihnya bagi masyarakat lalu untuk apa pengalaman seperti itu diulangi lagi? jangan sampai menjadi petualangan yang buang-buang waktu dan biaya. 

Saya saat ini masih melihat-lihat saja, tidak mendukung dan cenderung menolak, tapi apalah gunanya? saya hanya warga kabupaten Bekasi yang keadaanya tidak sebaik Kota Bekasi. Jelas saya tidak akan pernah setuju kalau Kabupaten Bekasi ikut-ikutan latah ingin menjadi bagian dari DKI :)

Terlepas dari itu semua, diskusi kita sebagai masyarakat tentang perpindahan administrasi Kota Bekasi yang akan kembali menjadi Batavia En Ommelanden ini cukupkan di "setuju atau tidak saja". Apapun alasannya patut dihargai. Selebihnya serahkan hal seperti ini kepada para wakil rakyat dan pimpinan daerah, mereka memang digaji untuk memikirkan hal-hal seperti ini, ya kan?.


Tips Mencari Tiket Pesawat Murah Tujuan Domestik Di Indonesia


Siapa yang pengen dapat harga tiket murah dan traveling kemana pun bahkan keliling Indonesia? Siapa yang ngga mau sih, iya kan? Kalau saya sih pengen banget keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Miangas, Rote? Iya Miangas adalah pulau terluar bagian barat sedangkan Rote adalah pulau terluar di bagian Selatan. Beruntungnya saya pernah mengunjungi Pulau Rote yang awanya luar biasa indah. 

"Tiada langit yang tidak sempurna di Rote ini."

Saya selalu mengucapkan kekaguman pada Rote, sebagai salah satu destinasi yang paling favorite. 

"Tiket pesawat sekarang mahal loh."

Iya memang tiket pesawat agak lumayan mahal dibandingkan dengan tahun lalu, tapi masih bisa banget di siasati dengan banyak hal kok. Mau tahu ngga caranya dapat tiket murah seperti tiket pesawat malaysia airlines dan tiket airlines lainnya.


Berikut ini tips mencari tiket pesawat murah tujuan Domestik di Indonesia.

Pesan Tiket Jauh-Jauh Hari


Kadang kita selalu membeli tiket mendadak yang mengakibatkan harganya sudah melonjak naik berkali-kali lipat dari harga normal. Saya pernah mengecek suatu penerbangan, pada waktu itu saya ingin memajukan penerbangan sehari sebelumnya, namun ternyata harganya sudah 2 kali lipat dari beberapa hari sebelumnya. 

Usahakan belilah tiket pesawat jauh-jauh hari sekitar 6 bulan, atau bahkan 1 tahun sebelumnya apabila menemukan promo menarik dan sangat murah. Saya pernah mendapatkan harga penerbangan yang sangat lumayan sekitar 50 persen lebih murah dari harga tiket pada saat promo spesial. 

Perhatikan periode perjalanan, juga hari pergi dan pulang Anda

Kadang kita suka mengabaikan hari pergi dan pulang, karena sangat mengirit cuti. Padahal kalau kita ingin mendapatkan tiket pesawat yang cukup murah, kita sesuaikan dengan waktu yang kurang favorite untuk liburan seperti weekdays. Usahakan stok cuti masih banyak dan tidak terikat dengan waktu, sehingga bisa mengambil hari seperti selasa sampai kamis atau jumat. Misalnya durasi perjalanan satu minggu, maka sebaiknya berangkat pada rabu dan pulang pada hari selasa. Memang ini sangat jarang dilakukan oleh pekerja kantoran, namun saya sangat sarankan jika memiliki cukup cuti.

Kalaupun tidak memiliki cuti, berangkatlah pada jumat dan pulanglah pada hari senin. Atau kombinasi kamis-senin, jumat-selasa, rabu-senin dan kamis-selasa. Kombinasi lainnya juga bisa asalkan memilih weekdays dan menghindari weekend.


Pelajari Tren Promo Maskapai


Yes, kadang kita sering lupa kalau maskapai seperi Mas ini memiliki jadwal promo yang tetap dan sesuai dengan spesial event seperti tahun baru atau musim liburan. Jadi kita harus mengenali terlebih dahulu jadwal promo maskapai yang sudah lama kita incar. Usahakan kumpulkan informasi lengkap tentang promo. Dan, jangan lupakan reminder pada setiap promo maskapai tersebut.

Pilih Penerbangan Dengan Rute Transit 


Kalau rute langsung sangat mahal, cobalah rute transit yang lumayan memotong harga sampai setengah harga. Kalau kita memiliki banyak waktu, cobalah memilih penerbangan yang tidak langsung, dengan durasi perjalanan yang cukup dan tidak terlalu lama. Namun, masalah kenyamanan tidak akan masalah. 


Jangan Memborong Tiket Pesawat


Oh iya, jangan pernah memborong tiket pesawat karena biasanya harganya akan lebih mahal karena harus memilih kursi pesawat yang berdekatan. Jika kita pergi sekeluarga, usahakan untuk membeli sesuai kursi, misalnya 3 -3 atau 3-2-3 atau yang lainnya.

Bagaimana cara pemesanan tiket,  via online atau pas travel fair? Kalau saya sih lebih suka beli tiket pesawat online. Alasannya simple banget karena ngga pakai ribet dan bisa kapan saja ngga tergantung pada waktunya. Biasanya saya pesan tiket melalui pegipegi. Mengapa memilih pegipegi karena tinggal pesan melalui aplikasi dan bisa membayar melalui transfer bisa, via atmbisa,  kartu kredit juga bisa, dan berbagai macam fitur pembayaran lainnya.

Nah, itu tadi tips mencari tiket pesawat murah tujuan domestik di Indonesia. Selamat berburu tiket pesawat murah ya.




Kepo Buku #22: Buku Cara Membaca Buku, Orang-orang Biasa dan “Mbak-mbak Indomaret” Jepang

Sebuah buku klasik yang membahas tentang cara membaca buku, sebuah novel yang bercerita tentang orang-orang biasa dan cerita tentang seorang wanita yang 18 tahun bekerja sebagai “Mbak-mbak  Indomaret”di  Jepang. Inilah tiga buku yang menjadi bahan obrolan Kepo Buku episode kali ini.

Oya, jangan lewatkan kuis berhadiah buku. Selengkapnya dengarkan di episode ini. Pemenang akan diumumkan dua minggu kemudian.

Selamat mendengarkan!



Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode Ini:

  • How To Read a Book – Mortimer J. Adler & Charles van Doren
  • Orang-orang Biasa – Andrea Hirata
  • Convenience Store Woman – Sayaka Murata

 

Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Kini Bayar JNE Lebih Mudah Pakai Gopay


Saat mengirim mainan ke keponakan di Kampung Halaman saya, Pemalang, kadang ada rasa yang ngga nyaman. Kepikiran kalau pengirimannya itu ngga sampe atau bahkan nyangkut di tempat lain serta ada ketakutan kalau barangnya itu tidak sesuai pada saat dikirim dengan barang yang diterima.

"Fan, Safira udah terima paket crayonnya?"

"Belum, Man."

Saya sedikit khawatir, apakah memang ada kendala pada saat pengiriman dari penjualnya.

"Ntar dikasih tahu ya kalau sudah diterima."

"Iya."

Saya sempat membelikan Safira paket crayon. Keponakan saya ini akan sekolah di TK bulan Agustus ini. Pada saat bulan Puasa menjelang Ramadhan, saya membelikan perlengkapan crayon dan alat mengambar lengkap dengan alat lukis. Memang saya sangat jarang sekali membelikan permainan, yang saya belikan hanya yang membuat Safira lebih kreatif dan bermain seperti peralatan lengkap ini.


Setelah beberapa hari, adik saya memberikan kabar gembira. Ternyata paket yang ditunggu telah datang.

"Man, paket crayonnya sudah sampai."

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga."

Sering tidak mengalami kejadian seperti ini? Kita menantikan kedatangan paket yang sudah lama dan tidak kunjung sampai. Padahal kita telah membayar biaya pengiriman dari toko online? 


Kejadian pengiriman barang yang tidak terjamin keamanan dan kenyamanannya ngga bakalan terjadi kalau menggunakan jasa pengiriman barang yang sudah ternama dari dahulu yaitu JNE. Pengirimannya sekarang sudah bisa pakai aplikasi dan pembayarannya pun sudah sangat beragam. Kini pembayarannya pun bisa menggunakan Gopay.

GoPay bekerjasama dengan JNE sebagai salah satu opsi pembayaran non-tunai untuk mempermudah customer ketika melakukan pembayaran di outlet JNE seluruh Indonesia serta layanan COD.

Untuk mendapatkan exposure yang lebih luas terkait kerjasama ini, GoPay bersama dengan JNE acara konferensi pers bersama (joint press conference) bertempat di Baxter Smith, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebagai tanda peresmian program kerja sama kedua belah pihak.


Dalam acara ini, juga akan turut menandai peluncuran digital wallet pertama sebagai metode pembayaran JNE melalui layanan GoPay. Selain itu, sebagai salah satu wujud kepedulian GoPay terhadap UMKM agar naik kelas dan bisa mengembangkan bisnisnya acara ini akan diisi dengan talk-show entrepreneurship bersama Ria Sarwono founder CottonInk.

Apa yang menyebabkan GoPay itu sangat mudah? Karena dengan pembayaran menggunakan GoPay, maka tinggal scan QR Code yang ada maka transaksi sudah berhasil dilakukan dan biasanya dilakukan kurang dari 1 menit. Mudah dan cepat jika membayar menggunakan GoPay. Nah ini dia tata cara melakukan pembayaran menggunakan GoPay. 



Tata cara melakukan pembayaran GoPay di JNE:
  1. Lakukan transaksi di JNE menggunakan GO-PAY
  2. Scan QR code yang berada di Personal Computer/PC JNE, dengan cara klik “Bayar” pada aplikasi GOJEK 
  3. Masukan kode PIN GoPay
  4. Transaksi berhasil, saldo GoPay akan terpotong otomatis
Oh iya selama periode 1 Agustus  hingga 31 Oktober 2019  terdapat promo GoPay yaitu cashback Rp5.000 di JNE. Dan informasi promo GoPay di JNE dapat dilihat di website GoPay promo:  https://www.go-jek.com/blog/promo-jne/.


Menjawab Pertanyaan “Penting Atau Tidak Penting?”

Kopi Hainam Jakarta
 Kopi Hainam Jakarta 
Perbincangan santai saat ngopi sore ini seperti biasa, mengalir tanpa pola, sambung menyambung sampai akhirnya waktu menjelang magrib datang.

Istilah "zaman susah" atau "zaman sulit" sudah lama saya tidak dengar. Kembali terdengar ketika salah satu kawan sedang flashback masa lalunya dengan kalimat "dulu saat di zaman susah".

Saya paham istilah itu dimaksudkan atau hanya ungkapan saat-saat ybs sedang menjalani masa-masa mudanya yang tampaknya tidak lebih buruk dari yang saya alami. 

Siklusnya mirip, lulus sekolah (SMA), menganggur, kuliah, menganggur lagi lalu keluar masuk pekerjaan hingga akhirnya bertahan pada profesi yang sampai sekarang masih dijalani.

Saya sendiri saat flashback masa-masa itu lebih suka menyebut dengan istilah "masa revolusi fisik" atau "zaman perjuangan", karena keadaan situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya menjalani hidup dengan sederhana dan prihatin.

Tapi apakah tepat menyebut masa-masa itu adalah "zaman susah?". Bagi saya tidak ada zaman susah atau zaman senang, semua sama saja dan punya tantangannya sendiri.

Dulu kita berjuang melamar pekerjaan sana-sini, keluar masuk dan mencoba berbagai profesi hingga akhirnya bisa kredit rumah, kredit kendaraan dan lain sebagainya. 

Sekarang pun belum selesai perjuangan, anak-anak semakin besar sehingga semakin banyak kebutuhannya. Kesehatan sudah semakin menurun sehingga mulai sering bolak-balik klinik atau rumah sakit dan seterusnya.

Kalau mau berpikir tentang zaman susah, yah menurut saya baik dulu maupun sekarang tidak ada bedanya, sama-sama zaman susah, hanya beda tantangan yang dihadapi. Begitu juga kalau kita bicara "zaman senang", baik dulu dan sekarang kita bisa menikmati semua dan bersenang-senang.

Berbicara soal kesenangan hidup itu benar-benar sulit mencari standar bakunya. Semua berpulang kepada pribadi masing-masing, kepada standar kebutuhan, gaya hidup, persepsi masing-masing dll.

Ada yang memiliki standar hidup sederhana dengan kebutuhan hidup yang sederhana pula, mereka akan senang jika kebutuhan mereka yang sederhana itu sudah terpenuhi, lebih dan kurangnya itu sudah menjadi rahasia Ilahi. 

Demikian juga ada yang punya standar hidup yang tinggi, dia akan senang jika keinginannya tersebut terpenuhi. Selama dia bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan dapat memenuhinya sah-sah saja memiliki target-target hidup yang mungkin bagi orang lain berlebihan.

Buat saya semua kembali ke prioritas, dulu waktu belum paham teori SWOT, 4 Kuadran waktu Penting dan genting hidup saya mengalir bukan dengan tanpa beban. Prioritas-prioritas tetap ada sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

4 Kuadran waktu Penting dan genting

Menjadi pengamen dan tukang bangunan saya lakukan karena pada saat itu, situasi dan kondisi yang memungkinkan hanya itu. Pastinya mau kerja kantoran atau jualan, tapi belum ada kesempatan seperti itu.

Tapi ternyata setelah dijalani, mengamen itu membuka peluang saya untuk mengenal banyak karakter orang, belajar membaca bahasa tubuh dan yang lebih penting belajar mengenal dunia entertainment kecil-kecilan.

Dari pengalaman sebagai tukang bangunan juga saya belajar yang namanya teamwork, sedikit teknik sipil, jadi tau pentingnya profesi arsitek dst.
Penting nggak penting, buat saya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman seperti itu membuat saya lebih tertarik lagi untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal. Tapi kalau ditanya, apa semua itu penting? 
Kalau menurut saya, pertanyaan "penting atau tidak" adalah pertanyaan relatif yang akan berpulang ke prioritas, nilai-nilai, situasi dan kondisi masing-masing, sehingga jawabannya bisa berubah seiring berubahnya prioritas hidup seseorang.

Soal prioritas ada baiknya kita mengenal tentang Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow seperti yang saya bahas di tulisan puasa sebagai vaksinasi virus akal budi.
Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Namun begitu kalau pertanyaan "penting atau tidak" perlu di jawab maka jawaban saya adalan PENTING tapi TIDAK GENTING. Penting tapi tidak genting berarti masuk ke kuadran 2. 

Aktivitas di kuadran 2 memiliki ciri: pencegahan, aktivitas kapasitas produksi, pengembangan hubungan, pengenalan peluang baru, perencanaan, rekreasi dst. Hasil dari kegiatan di kuadran dua antara lain: visi, perspektif, keseimbangan, disiplin, kontrol, beberapa krisis. Demikian menurut teorinya, prakteknya silakan resapi masing-masing.

Kalau orang lain menganggap itu tidak penting, maka anggapan seperti itu boleh dipertimbangkan tapi bukan untuk diperdebatkan. :)

Begitu saja dulu catatan akhir pekan ini.

Salam



Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.