Arsip Bulanan: Maret 2019

Pola Timbal Balik


Menulis pos ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dan berusaha menulisnya dengan cermat berdasarkan penelitian dan penelaahan yang cukup matang. Kalaupun ada kekurangan, saya pikir kekurangan itu tidak masif. Saya tertarik dengan suatu pola yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat yang saya maksudkan di sini adalah masyarakat dari dua suku besar yang ada di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Pola itu saya sebut pola timbal-balik; khususnya dalam perkara perkawinan.

Baca Juga: Manis Akustik

Bukan rahasia lagi jika kami yang hidup di Kabupaten Ende sering mendengar kalimat: ndoe, minta belis besar macam jual anak saja! Ya, kalimat itu memang menyakitkan tapi sering terucap di forum-forum tidak resmi apabila orang-orang mulai membicarakan belis. Bahkan dari MerdekaDotCom pada artikel berjudul Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT dijelaskan tentang gading sebagai belis wajib di Kabupaten Flores Timur. Tapi tentu, beda kabupaten, beda pula belis-nya. Misalnya Suku Ende dan Suku Lio pantang meminta gading sebagai belis, kalau emas sih yess. Tidak bisa disama-ratakan begitu saja. Sehingga saran saya, jika ingin menulis tentang belis, pelajari terlebih dahulu suku mana yang hendak ditulis atau diulas.

Karena, bahkan, ada keluarga Suku Ende dan Suku Lio yang tidak terlalu memusingkan belis. Yang penting kelayakan, kepatutan, dan syariat atau secara agamanya dijalankan dengan baik.


Oleh karena itu, mari baca pos ini sampai selesai dengan cermat agar tidak terjadi salah tafsir. Kalau salah tafsir kan repot! Ibarat salah informasi yang kemudian disebarkan lagi dan menjadi hoax. Bisa-bisa kami, perempuan Kabupaten Ende, tidak ada yang melamar gara-gara disebut belis-nya mahal selangit.

Perpaduan Agama dan Budaya


Perkawinan di Indonesia tidak terlepas dari dua lingkup utama yaitu agama dan budaya (yang ketiga adalah peran pemerintah dalam pencatatan sipil). Perpaduan agama dan budaya dalam perkawinan ini berbeda-beda di setiap wilayah di Indonesia. Jangankan Indonesia, di Kabupaten Ende pun demikian adanya, tergantung asal suku calon pengantin perempuannya. Suku Ende atau Suku Lio. Karena saya berasal dari Suku Ende, mengikuti garis keturunan almarhum Bapa (we are patrilineal), maka saya pasti tahu tentang perkawinan adat Suku Ende. Yang namanya adat memang berat, tapi yang perlu diingat adalah kompromi dan kesepakatan kedua belah pihak. Kalau sama-sama ingin menjalankan syariat dan agar si laki-laki dan perempuan tidak melakukan hal-hal di luar aturan, segerakan perkawinan mereka dengan adat yang disertakan tapi tidak memberatkan.

Suku Ende


Suku Ende, terutama berakar pada bagian pesisir pantai Selatan hingga Pulau Ende, terakulturasi dengan agama Islam dan budaya yang dibawa oleh para pedagang/pelaut dari Bugis dan Makassar (dulu kami menyebutnya Ujung Pandang). Sehingga jarang sekali saya mendengar kata belis dari Suku Ende, melainkan mendhi belanja. Akan tetapi kata belis memang sulit dilepaskan rekatannya dari perkawinan.

Pola Timbal Balik dalam Adat Perkawinan Suku Ende


Menurut analisa saya, tidak seratus persen benar bila orang-orang berkata: belis sama dengan menjual anak perempuan kepada laki-laki yang meminangnya. Karena, berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi terhadap urusan perkawinan ini, saya paham betul bahwa selalu ada pola timbal balik dari semua tahap menuju perkawinan. Paling akhir, saya mengamati dan mempelajari pola timbal balik dari perkawinan keponakan laki-laki yaitu Angga dengan seorang perempuan bernama Titin, dari Suku Ende. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melewati/melalui proses ta'aruf

1. Timbal Balik Saat Nai Ono dan Buku Pelulu

Awal mula dari perkawinan Angga dan Titin adalah ta'aruf yang dilanjutkan dengan kunjungan awal keluarga laki-laki ke rumah keluarga perempuan yang disebut temba rasa. Tahap berikut adalah nai ono dan buku peluluNai ono merupakan kegiatan maso minta (masuk minta) atau lamaran. Kegiatan nai ono ini biasanya dibarengi dengan buku pelulu. Buku pelulu (sekatu uwi jawa) juga disebut mendi bha raka merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili mayoritas oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (waktu itu kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu perempuan itu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini saat berkumpul). Pada buku pelulu Angga dan Titin, selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, kakak saya Abang Nanu dan ipar saya Mbak Wati, juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran buku pelulu.

Sebagian hantaran saat buku pelulu, Desember 2018. 

Si cantik, yang dibikin sama Mbak In, kakaknya Angga. 

Kakak Nani, memasang cincin hadiah dari Abang Nanu dan Mbak Wati untuk Titin. 

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Lalu di mana pola timbal baliknya?

Dalam adat Suku Ende perkara perkawinan ini, setelah pihak keluarga calon pengantin laki-laki mengantarkan buku pelulu seperti yang sudah saya tulis di atas, maka keluarga calon pengantin perempuan akan melakukan bazhe duza/dhuza atau balik dulang atau mengembalikan dulang-dulang yang diantar sebelumnya oleh pihak keluarga laki-laki, tentu bukan dulang kosong tetapi harus ada isinya. Bazhe duza biasanya dilakukan beberapa hari setelah buku pelulu sesuai kesepakatan kedua belah pihak, agar pihak keluarga calon pengantin laki-laki juga bersiap-siap menjamu tamu. Dalam bazhe duza, jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantar. Isi dulangnya boleh berbeda dari yang diantar oleh pihak keluarga calon pengantin laki-laki, boleh sama, dan umumnya terdiri atas aneka kue dan buah-buahan. Inilah pola timbal balik yang saya maksudkan.

Baca Juga: Es Gula Moke

Jadi, pihak keluarga calon pengantin perempuan tidak semata-mata menerima seratus persen hantaran dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki. Ada timbal baliknya. Pola timbal balik ini masih ada sampai pada saat setelah perkawinan berlangsung.

2. Mendhi Belanja, Bukan Belis

Meskipun namanya mendhi belanja atau mengantar uang belanja, bukan belis, namun tetap saja masyarakat Suku Ende menyebutnya belis. Karena, apa-apa yang diantar saat mendhi belanja ini umumnya sama dengan hantaran belis. Apa saja kah yang diantar saat mendhi belanja? Ini dia, antara lain:

a. Uang belanja.
b. Uang pemuda/lingkup RT.
c. Uang air susu ibu (kemarin ditolak oleh Mamanya Titin).
d. Seekor sapi.
e. Barang-barang kebutuhan perempuan.
f. Uang isi kumba isi ae nio untuk paman-paman si calon pengantin perempuan.

Totalannya bisa mencapai 100Juta, bahkan lebih. Uang belanja ya uang bumbu dan keperluan acara perkawinan nanti, uang pemuda ya untuk pemuda-pemudi setempat lingkungan si calon pengantin perempuan, uang air susu ibu semakin ke sini telah sering ditolak oleh para ibu, sapi untuk keperluan konsumsi acara perkawinan, barang-barang kebutuhan perempuan dari A sampai Z, isi kumba isi ae nio

3. Isi Kumba Isi Ae Nio

Menarik sekali membahas ini. Karena pola timbal balik juga terjadi di sini. Pihak keluarga calon pengantin laki-laki memang juga mengantar sejumlah uang untuk isi kumba isi ae nio saat mendhi belanja, tapi jangan salah, sebenarnya itu bakal dibalikin, kadang jauh lebih besar jumlahnya, oleh para Ka'e Embu. Ka'e embu adalah om/paman dari pengantin perempuan baik dari pihak Bapak maupun pihak Ibu. Jadi, setelah perkawinan berlangsung, pihak ka'e embu ini wajib mengantarkan isi kumba isi ae nio ke rumah pengantin laki-laki. Isi kumba ditanggung oleh paman dari pihak Ibu sedangkan isi ae nio ditanggung oleh paman dari pihak Bapak si pengantin perempuan.

Isi kumba biasanya berupa perlengkapan untuk pengantin perempuan, sedangkan isi ae nio berupa perlengkapan untuk pengantin laki-laki. 

SAH!

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Kemarin, saat setelah pernikahan Angga dan Titin, ada tiga koper (karena zaman sekarang susah mencari gentong jadi memakai koper gedeeee) yang diantar oleh pihak pengantin perempuan. Satu koper lagi untuk siapa? Untuk saudari dari Bapaknya pengantin laki-laki. Ya, dalam hal ini Kakak Nani Pharmantara yang sebelum mendhi belanja sudah mengantarkan lebih dulu jatahnya yaitu seekor sapi kepada Abang Nanu Pharmantara. Seharusnya, sebagai adik dari Abang Nanu saya juga wajib mengantar eko (ekor, hewan) tetapi karena saya belum menikah dibolehkan untuk alpa hahaha.

See ...? Semuanya memakai pola timbal-balik.

Sehingga kalau ada yang menyamaratakan belis itu mencekik dan bikin bangkrut pihak laki-laki, menurut hemat saya ... tidak ah.

Soal pola timbal balik ini masih banyak loh dalam adat Suku Ende maupun Suku Lio, seperti weta ane itu hantaranya apa, dan kalau dibalik itu apa saja barangnya, dan lain sebagainya. Nanti saya ulas ya.

Ada Bedanya


Perbedaan ini bukan dari urusan suku saja, tetapi juga dari urusan kesepakatan kedua belah pihak. Oleh karena itu kalian masih bisa membaca tulisan tentang belis yang bikin pihak laki-laki kalang-kabut memenuhinya, tapi kalian juga bisa membaca tulisan saya tentang belis/mendhi belanja yang masih terhitung masuk akal. 

Makhluk Sosial dan Keluarga


Saya selalu bilang, jika kawin nanti (apabila diijinkan oleh Allah SWT), cukup di KUA dan makan keluarga, kemudian bubar. Apa yang saya sampaikan itu ditentang oleh keluarga dan bahkan teman-teman. Saya bilang: terlalu banyak uang dihambur-hamburkan, nanti. Mereka bilang: kalau menikah (mereka tidak pakai kata kawin karena mereka bukan orang Hukum, halah, hahaha) nanti yang memikirkan ini itu bukan kau, tapi keluarga, termasuk kami!

Ah, manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau memang harus hidup bersama manusia lainnya dalam suka dan duka. 

 Rempongnya memakai sarung tenun ikat, hahaha.

Ihiiirrr ... 

Abang Nanu, Kakak Nani, Angga dan Titin, saya, Babe Didi.

Kalau kalian membaca pos 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2), kalian pasti tahu soal minu ae petu. Pahami soal minu ae petu, kalian akan paham bagaimana cara pemenuhan belis atau keperluan mendhi belanja, selain dari tabungan pribadi. Karena kita, manusia, adalah makhluk sosial dan mempunyai keluarga yang tidak akan tinggal diam dalam urusan-urusan besar keluarga lainnya. Mau bilang: tidak perlu? Maka kita bakal melanggar adat-istiadat! Hahaha. Sumpah, meskipun hidup di zaman moderen dan di kota, saya tidak mau disebut melanggar atau meninggalkan adat. Karena saya, berakar dari dua adat yaitu adat Suku Ende (Bapa) dan adat Suku Lio (Mamatua).


Demikianlah pola timbal balik, pos yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, tapi tentu harus melengkapi data sebelum berani mempublikasikannya. Intinya adalah belis/mendhi belanja itu adalah adat yang wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh memberatkan, agar perkawinan dapat disegerakan. Oleh karena itu kesepakatan kedua belah pihak sangat diperlukan untuk mencapai mufakat sebelum hari perkawinan tiba. 

Baca Juga: Arekune

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Yuk, share ...



Cheers.

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.

Memen


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Meskipun tidak semua, tapi saya yakin sebagian besar orang-orang pasti punya nama samaran. Nama samaran ini juga bisa kita temui pada nama panggung/nama tenar. Nama samaran juga disebut alias, meskipun menurut saya keduanya tidak sama persis. Hampir semua berkas perkara yang saya baca tertera nama asli berikut nama samaran. Contohnya, Alaladun bin Alaladen alias Dinosaurus. Tidak bisa dipungkiri nama samaran ini jauh lebih ngehits dari nama asli yang tercantum di Kartu Keluarga, KTP, Passport, dan Buku Nikah. Charlie Chaplin, misalnya, punya nama asli Charles Spencer Chaplin. Atau Sunan Kalijaga yang punya nama asli Raden Said. Atau Peter Gene Hernandez yang kita kenal sebagai penyanyi kece Bruno Mars.

Baca Juga: Masak di Kantor

Nama samaran bisa diambil dari nama asli namun dipersingkat atau hanya memakai nama depan dan belakang dengan menghilangkan nama tengah, seperti nama Celine Dion yang aslinya Celine Marie Claudette Dion. Bisa juga nama yang benar-benar baru.

Alasan Memakai Nama Samaran/Alias


Ada bermacam sebab orang-orang memakai nama samaran atau nama alias ini. Alasan itu antara lain:

1. Daya Jual
Daya jual sebuah nama memang sangat berpengaruh pada apa yang dijual. Konon katanya begitu. Sehingga begitu banyak artis mengganti nama asli mereka dengan nama samaran/alias yang lebih pendek dan fenomenal agar mudah diingat oleh orang lain/penggemar. Ayu Ting Ting tidak memakai nama Ayu Rosmalina. Nama Ting Ting tentu lebih punya daya jual ketimbang Rosmalina. Sama juga dengan Bruno Mars yang terdengar lebih komersil ketimbang Peter Gene Hernandez.

2. Komunitas/Kelompok
Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Raden Said. Dan kita tahu dalam Wali Songo atau Sembilan Wali, semuanya memakai nama depan Sunan untuk menunjukkan kedudukan beliau sebagai orang yang dihormati dan terhormat dari sebuah kelompok agung bernama Wali Songo. Seperti kita kenal Ariel sebagai Ariel Peterpan atau Ariel Noah (keduanya merupakan nama band). Bahkan sampai sekarang saya masih menyebut Anji dengan Anji Drive haha.

3. Identitas Plus
Saya menyebut alasan ketiga ini sebagai Google Plus identitas plus. Ada orang yang karena keberaniannya punya nama samaran Preman atau Brandal. Bahkan saya punya teman kantor punya nama samaran Bandel padahal nama aslinya Eman hehe. Kadang-kadang saya dipanggil Kepala Suku oleh orang-orang. Entah apa alasannya. Kalau kemudian saya dipanggil Putih sama si Yusti, mungkin karena kulit saya sedikit lebih terang dari kulitnya. Dududud ...

Mendadak Punya Nama Samaran


Waktu masih SD dan SMP saya tidak punya nama samaran ini. Kalau mengisi diary (buku bio-data) itu saya mengisi nama samaran dengan nama artis ha ha ha. Mulai punya nama samaran saat SMA. Gara-gara iseng bermain pesawat telepon sampai tagihan membengkak. Kebiasaan masa SMA yang bikin orangtua misuh-misuh.

Dan memang, keisengan saya itu sungguh bikin orang lain keki.

Suatu hari saya sedang sangat bosan. Wiro Sableng sudah tidak ada di rumah karena disumbangkan Bapa pada Perpustakaan Keliling. Komik Tiger Wong dan Tapak Sakti sudah dibaca ulang. Novel Agatha Christie pun demikian. Sementara saya malas menonton televisi. A-ha! Bapa sedang pergi, sehingga sore itu saya memutuskan untuk menggunakan pesawat telepon. Tumben kan kotak pesawat telepon tidak dikunci sama Bapa. Horeeeee!

Saya memilih menelepon Ryan, sahabat sejati, yang baru jadian sama Hilda, yang juga sahabat sejati saya he he he. Yang menerima panggilan adalah Bapaknya. Ketika ditanya, siapa yang menelpon, otak saya bekerja secepat kilat (dan saat itu lagi hitsnya Memes dengan lagu Terlanjur Sayang), dan menjawab: ini dengan Memen. Kalian bisa bayangkan betapa kagetnya Ryan waktu saya bilang saya mantan pacarnya dia yang sudah dia lupakan, pengen nyambung lagi, bla bla bla. Sumpah, menahan ngakak itu pekerjaan tersulit saat itu.

Usai menelepon Ryan, dan meninggalkan segudang tanda tanya, saya pun menelpon Hilda. Pada Hilda saya bilang bahwa saya mantan pacarnya Ryan dan kenapa Hilda merebut Ryan dari saya. Saya tahu semua rahasia Ryan, bla bla bla ...

Dunia sungguh indah ketika kita 'menciptakan skenario' gila :D

Memen


Keesokan harinya, Memen menjadi nama yang fenomenal. Meskipun berusaha mengelak tapi Ryan dan Hilda tahu persis bahwa Memen adalah saya. Mereka mengacak-acak jilbab saya kala itu dan pada akhirnya nama Memen masih bergaung sampai sekarang. Saya suka ... setidaknya kalau tidak bisa menjadi seperti Memes, jadi Memen saja.


Sampai sekarang, kapan pun dan di mana pun, rata-rata semua teman masa SMA masih memanggil saya dengan nama samaran: Memen. Nama ini tidak membawa keberuntungan apa-apa. Berbeda dengan nama samaran Tootyee dan Tuteh (untuk dua nama ini nanti deh ditulis). Meskipun Memen tidak membawa keberuntungan apa-apa pada saya, tapi saya suka karena Memen menjadi begitu terkenalnya *naik-naikin alis*.

Baca Juga: Angry Face

Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin Mas Djangkaru Bumi punya nama KTP yang berbeda. Sama juga dengan Om Bisot yang tentu punya nama KTP berbeda. 



Cheers.

Kepo Buku #10: Ngobrol dengan Pemilik Toko Buku Post Santa

Kali ini kita akan ngobrol tentang toko buku yang terdapat di sebuah pasar di Jakarta Selatan, yang oleh Steven –salah satu host Kepo Buku–  disebut sebagai salah satu “toko buku yang wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.” Mengapa sampai dia bilang begitu? Kami mengajak ngobrol salah satu pendiri toko buku yang dikenal dengan nama “Post Santa” itu.
Tamu: Teddy W. Kusuma

Selamat mendengarkan!



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Tentang Toko Buku Post Santa:

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 

5 Gaya Zawo Zambu


Zawo zambu (dalam penyebutan oleh Suku Ende), atau lawo lambu (dalam penyebutan Suku Lio), merupakan pakaian tradisional/adat untuk perempuan Kabupaten Ende. Zawo/lawo berarti sarung tenun ikat sedangkan zambu/lambu berarti baju yang modelnya mirip Baju Bodo. Tidak semua perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu setiap harinya, atau tidak setiap hari perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu. Bagi yang tinggal di daerah perkotaan, zawo zambu dipakai saat acara-acara tertentu diantaranya acara adat pernikahan, acara kedaerahan oleh pemerintah, hingga acara-acara lainnya yang mewajibkan perempuan memakai zawo zambu.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Saya suka memakai zawo zambu, meskipun tidak setiap hari, karena kebanggaan saya pada pakaian tradisional ini. Berbeda dari perempuan lain yang memadukan zawo zambu dengan selop, kelom, sandal cantik, hingga high heels, saya memadukan zawo zambu dengan sepatu kets atau boot. Alasannya karena kaki saya tidak bisa berkompromi dengan sendal dan/atau sepatu perempuan. Cantik selalu menyakitkan kaki saya ha ha ha.

Hari ini saya pengen ngama (pamer) foto-foto zawo zambu yang pernah saya pakai.

1. Zawo dan Zambu Cokelat


Umumnya zambu yang dipakai itu dapat dimasukkan ke dalam zawo, atau bisa juga dikeluarkan. Yang satu ini saya memakai zawo jenis Kembo milik Kakak Niniek dan zambu cokelat.


Ya, memang, selalu ada yang aneh bin gokil kalau urusan foto itu modelnya adalah saya *ngakak guling-guling*.

2. Zawo dan Zambu Pink


Sejak ada Thika Pharmantara di rumah, saya jadi suka juga memakai pakaian berwarna pink. Padahal, saya kan Presiden Negara Kuning! Haha.


Kali ini zambu-nya tidak dimasukkan ke dalam zawo. Oh ya, jenis zawo yang saya pakai ini bernama Mangga. Ditenun khusus sama calon kakak ipar sehingga ukurannya lebih besar dari ukuran normal. Maklum ... bodi segede parabola begini. Haha.

3. No Zambu!


Agak aneh menulis ini, karena kok malah no-zambu? Iya, ceritanya saya malas memakai zambu, jadi saya memilih kemeja yang mirip-mirip sama zambu. Lagi pula, ketika telah tertutup jilbab, zambu-nya jadi kurang menonjol kan *senyum kemenangan*.


Ini fotonya bareng Reynold yang memakai pakaian adat Sumba. Saya lupa acara apa, yang jelas hari itu kami wajib mengikuti upacara bendera memakai pakaian adat asal masing-masing. Oh ya, tas yang saya pakai itu tas rajutan oleh-oleh dari sepupu saya Pater Anang Bhara yang bertugas di Equador.

4. Zambu Berekor


Haha. Rikyn Radja merupakan orang tercerdas dalam urusan memodifikasi zambu model ini. Saya pernah memakainya saat pernikahan keponakan saya si Indri, dan Minggu (24 Maret 2019) kemarin saya memakai lagi yang modelnya sama tapi beda warna:

Ini waktu nikahannya Indri. 

Ini waktu nikahnya Angga, Minggu kemarin.

Zambu seperti ini memang paling bagus jika digunakan dalam acara pernikahan karena kecetarannya. Bahkan ada pengantin yang juga memakai zambu model begini tapi pastinya berwarna putih khas pengantin perempuan.

5. Modifikasi Habis-Habisan


Lagi-lagi Rikyn Radja mengkreasikan zawo zambu menjadi seperti ini:


Selain yang satu ini, ada lagi yang dimodifikasi menjadi mirip pakaian orang Jepang, ada obi-nya. Tapi masih belum berhasil saya temukan berkas fotonya. Nanti deh hehe.


Apa pun modelnya; asli maupun modifikasi, saya selalu suka memakai zawo zambu. Zambu-nya dimasukin ke zawo atau dikeluarin, sama saja. Tetap suka. Karena memakai zawo zambu itu langka, momen saat sedang memakainya harus terus diabadikan hingga memori telepon genggam penuh dan nyaris ngambek.

Presiden Negara Kuning dan Penduduknya. Haha. 

Keluarga Besar Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Bagaimana dengan kalian? Pasti bangga juga donk ya memakai pakaian adat/tradisional daerah masing-masing. Adat yang fleksibel dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kaidah/norma dasarnya.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Selamat Kamis, kawan ...



Cheers.

Mewujudkan Mimpi Ketemu Real Madrid Bersama Liga Nivea Men Top Skor U-17


Sweet seven teen biasanya kamu ngapain? Ngadain pesta besar dan ngundang teman-teman,  atau kamu hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Lihatlah teman-teman di Liga Nivea Men Top Skor U-17 ini mampu membanggakan nama sekolah,  daerah dan kedua orang tua mereka pada saat bertanding di lapangan sepak bola GOR Soemantri Brojonegoro. Dan,  saya adalah salah satu saksi yang menyaksikan perjuangan anak-anak muds yang bertalenta dan siap menggantikan pemain sepak bola dengan prestasi yang lebih keren dan kece.

Jujur pada saat usia 17 tahun, saya belom kepikiran untuk berprestasi atau setidaknya mewakili sekolah dalam event-event kesenian dan olahraga. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan kala itu adalah mewakili kelas untuk bertukar sahabat pena dengan sekolah lain. Dan,  hasilnya saya memiliki banyak sahabat pena dari luar pulau Jawa.



Saya sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan sepakbola, namun kalau sudah menyangkut nama daerah atau Indonesia,  maka dengan sepenuh hati saya akan rela mendukungnya. Dan,  kali ini saya berkesempatan mendukung yang muda dengan prestasi yang luar biasa. Bisa di bilang kalau inilah yang menambah semangat anak muda berprestasi dan akan melebihi senior-seniornya nanti.

Kalau yang tidak suka sepakbola,  bisa juga memilih apapun sesuai dengan bakat dan minatnya serta berprestasilah setinggi-tingginya membawa nama daerah dan Indonesia. Pasti banyak orang yang akan selalu mendukung dan berdoa agar kamu membanggakan seluruh masyarakat Indonesia.



Berjuang demi nama sekolah dan daerah di ajang Nasional itu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan konsentrasi dan fokus demi meraih prestasi. Latihan yang tidak sebentar,  pengorbanan lain misalnya waktu main dan waktu kumpul bersama keluarga itu juga harus dilalui sebelum pertandingan. Belum lagi kalau ajang nasional harus bentrok dengan ujian semester atau ujian lainnya. Tentunya harus ada prioritas untuk menjadi juara sejati.




Dan,  akhirnya setelah 2 kali babak,skor masih 0-0 sehingga harus dilakukan adu penalti. Setelah dilakukan adu penalti, maka berakhirlah Liga Nivea Men Top Skor U-17 yang dilakukan di GOR Soemantri Brojonegoro,  Jakarta. Dan,  untuk kategori SMA, Juaranya adalah SMA N 3 Cibinong,  Bogor,  sedangkan untuk kategori U-17 diraih oleh SSB Chandrabaga,  Bekasi.

Tidak hanya medali dan piala, namun pemain terbaik dari Liga Nivea Men Top Skor U-17 ini berkesempatan bertemu idola mereka yaitu klub sepabola ternama di Spanyol,  yaitu Real Madrid. Betapa senang dan bahagianya karena bisa mendapatkan kesempatan yang belum tentu diraih oleh orang lain.

Selain mengadakan Liga Sepakbola, banyak sekali acara yang diadakan salah satunya bintang tamu pesepakbola nasional yaitu Bambang Pamungkas.

Dalam kesempatan ini,  Bepe membagikan rahasia kenapa selalu menjadi yang terbaik pada saat membela Timnas pada beberapa kesempatan lalu.


Apapun mimpimu dan apapun bidang yang kamu geluti, berjuang dan berusahalah sekeras mungkin sehingga bisa mewujudkannya. Dan yang paling penting adalah dapat membawa dan membanggakan nama Indonesia di kancah Internasional.

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Re:Ease

Sumber gambar: Yanko Design.

Bagi saya, meja kerja, di kantor maupun di rumah, harus selalu rapi. Kenapa harus rapi? Karena kalau berantakan bakal bikin mood kerja kendor. Oleh karena itu, hasil craft dari Proyek #DIY saya salah satunya adalah desk-organizer. Desk-organizer buatan saya berbahan karton yang ditutup dengan kertas-kertas majalah bekas. Warna-warni dan penuh gambar. Iya. Tapi saya juga sering bikin yang bertema. Flora Wodangange bahkan pernah membawakan saya majalah yang beberapa halaman sudah dia tandai untuk dipakai menutup desk-organizer pesanannya; tema alam.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Contoh desk-organizer buatan saya. Ini bukan hasil yang paling pertama sih. Yang paling pertama itu sampai sekarang masih duduk manis di meja kerja Kakak Shinta Degor. Sedangkan yang ini masih duduk manis di meja kerja Kakak Ully Ngga'a:


Pesanannya memang begitu, ada kotak untuk meletakkan amplop (memanjang), kotak alat tulis, kotak staples/hekter, dan lain sebagainya. Mereka bahkan suka kalau penutupnya menggunakan kertas/halaman majalah bekas. Bangga dan bahagian setiap kali melihat barang-barang kerajinan tangan ini masih dipakai oleh pemesan. Semakin ke sini desk-organizer tidak menggunakan halaman majalah bekas saja. Ada yang yang di-cat, ada yang saya padukan dengan keranjang mini, ada pula yang menggunakan kertas khusus (kertas kado) bertema. Suka-suka yang memesan.

Sebenarnya saya ingin sekali memotret meja kerja saya, namun desk-organizer di meja kerja saya entah hilang ke mana. Mungkin saat pindahan ruang kerja dari lantai dasar ke lantai tiga. Yang tersisa di meja kerja saya adalah komputer, tumpukan buku, map holder, dan foto keramat: Mamatua, saya, dan Rara. Itu foto tak boleh hilang! Tuh kaaaan, jadi kepingin bikin lagi desk-organizer untuk meja kerja sendiri. Supaya rapi dan cantik seperti pemilik meja kerjanya. Hihihi.

Karena hari ini bukan saatnya #RabuDIY melainkan #SelasaTekno, jadi saya tidak menulis tentang produk #DIY atau craft hasil buatan sendiri, melainkan tentang sebuah terobosan desk-organizer yang ciamik sekali. Seperti biasa, semua sumber baik informasi dan foto saya peroleh dari Yanko Design, saya tidak perlu menulis terus-menerus sumber gambarnya. Noted, ya.

Re:Ease


Sesuai judul pos ini, inilah teknologi yang bakal bikin meja kerja menjadi jauh lebih rapi dan terlihat sangat clean. Ini dia, Re:Ease.


Terlihat sangat menawan. 

Re:Ease dibikin oleh Marc Stueber dan Laurent Hartmann. Re:Ease merupakan desk-organizer yang cerdas yang terdiri dari enam modul yang berdiri sendiri namun juga dapat digandeng karena dilengkapi dengan magnet. Didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan para pekerja dengan warna putih yang membikinnya terlihat so clean. Kalian lihat foto di atas ... siapa sih yang tidak ingin punya desk-organizer macam itu? Saya saja ngiler to the max *dicibirin dinosaurus*.

Fitur Re:Ease


Re:Ease mempunyai enam modul berbentuk geometris dengan fitur-fitur antara lain: 

1. Pelubang kertas.
2. Rautan.
3. Stapler.
4. Dispenser selotip.
5. Planter.
6. Dok pengisian daya untuk smartphone.
7. Dudukan pena untuk: pensil, stabilo, dan catatan.

Keenamnya dalam slot/unit individual, alias berdiri sendiri, namun dapat pula digandeng satu sama lain karena setiap unit mempunyai basis magnet untuk saling tarik-menarik. Haha! Uh wow sekali kan? Untuk lebih jelasnya, coba lihat gambar berikut ini:




Bisa dipisah, bisa disatukan. Sungguh fleksibel.

Untuk desk-organizer sekeren ini dibanderol harga sekitar 1,6 Juta. Entah kalau masuk ke Indonesia berapa harganya. Pasti lebih mahal.

Eits!

Jangan-jangan ada dari kalian yang sudah memakainya? Ih, bikin iri.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Jadi itu dia Re:Ease yang saya bahas hari ini. Desk-organizer yang bikin meja kerja kita menjadi jauh lebih rapi dan tentu cantik!



Cheers.