Arsip Bulanan: Januari 2019

5 Keistimewaan Canva


Canva. Bukan kanvas. Saya sempat berpikir nama Canva terinspirasi dari kanvas *dipelototin dinosaurus*. Well, zaman sekarang saya jamin 80% pembaca blog ini pasti tahu Canva dan bahkan pernah menggunakannya untuk berbagai kebutuhan, salah satunya untuk memperindah pos blog. Bagi yang belum pernah tahu, coba deh intip situsnya.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

What is Canva?


Canva adalah sebuah situs yang menyediakan program untuk mendesain berbagai desain grafis antara lain Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain sebagainya. All in one! Karena kerjanya langsung di situs Canva, untuk menggunakannya kita harus dalam posisi jongkok daring (saya mulai menggunakan padanan Bahasa Indonesia nih, semua berkat Kakak Rohyati). 

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Beruntung ya bisa dapat pinjaman uang, kemudian mendirikan Fusion Books. Bisnis ini kemudian berkembang dan berkembang, menjadi Canva yang sekarang rajin saya gunakan. 

Is It Free?


Yess. It is free. Tapi ... ada juga yang berbayar. Untuk yang gratisan beberapa gambar menarik yang dipakai untuk suatu desain selalu diberi tanda air Canva itu sendiri. Ya kalau mau gambarnya tanpa tanda air, pakai yang berbayar. Sejauh ini saya memakai yang gratisan donk ... seperti tampang saya yang gratisan ini. Sayang, mencari-cari video tampang gratisan saya di Youtube yang diunggah sama Panitia ACI Detik Com 2010 susah sekali. Haha.


Jadi, Apa Istimewanya Canva?


Mengenal Canva memberikan begitu banyak pengalaman dan kemudahan pada saya yang pengen bisa mendesain tapi tidak bisa mendesain. Tapi bukan berarti saya menggunakan lurus-lurus 100% desain dari Canva, meskipun ada yang begitu, karena untuk beberapa desain saya hanya menggunakan tata letak dan huruf sedangkan gambarnya dari saya sendiri. Dan untuk itu saya menggunakan ... apa ... saudara-saudara? Iyess, Photoscape! Jangan tanya saya soal Photoshop karena pertanyaan itu sangat menyakitkan hati.

Selama menggunakan Canva saya jelas merasakan keistimewaannya ketimbang program desain daring lainnya. Mungkin ada program desain daring yang lebih istimewa dari Canva tapi saya menulis ini karena sudah mengalaminya alias pengalaman pribadi. Maklum, saya kan agak gagap teknologi, jadi maklumi saja ya.

Mari kita cek apa saja keistimewaan Canva menurut saya:

1. Mudah Mendaftarkan Akun


Ya, kalian bisa mendaftarkan akun dengan mudah di Canva. Tidak perlu melampirkan fotokopi KTP dan akun/rekening Bank dan/atau Paypal. A-haaa.

2. Dashboard yang User Friendly


Pengalaman saya menggunakan program daring lain, terutama yang video dan animasi, dashboard-nya bikin bingung dan bikin setress. Di Canva, kalian tidak akan menemukan kebingungan itu karena semuanya serba mudah mudah dan mudah. Silahkan log in, pilih jenis desain, pilih tema desain yang sudah ada gambar-gambarnya, silahkan diutak-atik. Asyik lah!

3. Banyak Pilihan Jenis Desain


Kalian mau mendesain apa? Silahkan pilih! Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Puas pokoknya.

4. Melimpahnya Pilihan Tema


Istimewa sekali tema-tema yang ditawarkan oleh Canva, untuk semua program daring gratisan! Ada template, element, text, dan background. Saya jarang memakai yang lain selain template alias yang sudah jadi alias siap pakai, tinggal mengubah tulisannya saja. Kadang-kadang saya hanya memakai tulisannya saja sedangkan gambar saya edit lagi memakai apa saudara-saudara???? Iyess, Photoscape! Dududud.

5. Proses Penyimpanan Hasil Desain yang Tidak Ribet


Tidak seribet saya menulis sub nomor lima ini hehe. Untuk menyimpan hasil desain bisa langsung diunduh, bisa juga dibagikan, dan khusus untuk saya: buka full screen lalu screenshoot untuk disunting di mana saudara-saudara???? Iyess, di Photoscape! Haha.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Lima keistimewaan Canva, program desain daring, membikin saya betah dan akan selalu betah menggunakannya.


Bagaimana dengan kalian? Apa keistimewaan Canva menurut kalian (apabila memang menggunakannya juga)? Bagi tahu donk di papan komentar.


Akhir-akhir ini saya sering ngepos malam hari. Padahal biasanya ngepos pagi hari, kadang karena memang sudah menulis draft-nya. Maafkan ya, maklum sedang banyak pekerjaan, baik pekerjaan utama maupun pekerjaan atasan dan bawahan (karena pekerjaan sampingan sudah terlalu umum) qiqiqi. Ini saja menulis pos blog dengan posisi empat dokumen Word masih membuka menunggu dilanjutkan. Fiuh.

Mungkin ada yang berpikir, masih ada kerjaan kok malah ngepos blog? Karena, pekerjaan itu butuh selingan. Diantaranya kembali dari Al Baqarah dan menulis blog. Kalian juga pasti bilang otak saya kacau karena setiap setengah jam saya bakal bangun dan lari-lari kecil keliling rumah, atau melanjutkan permainan di telepon genggam, atau pergi mengobrol dengan Mamatua. Seperti ulasan pada beberapa halaman depan buku yang baru saya baca:



Mengatakan bahwa: jangan terlalu fokus. Haha. Padahal intinya bukan itu sih. Yang jelas buku ini nanti bakal saya bahas di #SabtuReview dan bukan Sabtu lusa.

Ya tuntutan pekerjaan itu tidak memberi saya ruang untuk bahkan menulis draf. Tapi itu bukan masalah, karena bagi saya menulis pos blog merupakan salah satu hiburan di sela-sela kesibukan. Ada seninya juga kan. Seni untuk memberikan diri jam istirahat agar bisa menghibur diri sendiri dengan hiburan pilihan sendiri. Ya karena kan mungkin kalian punya hiburan di sela-sela pekerjaan utama adalah tidur dan nongkrong di kafe, tapi kalau saya ... bisa dengan menulis konten/pos blog. Salah satunya. Salah lainnya ya tetap main Cooking Fever di Android *dicibirin dinosaurus*.

Jadi, demikianlah kawan cerita hari ini di #KamisLima. Semoga bermanfaat untuk kalian, mereka, dia, dia, dia ... cinta yang kutunggu tunggu tunggu *malah nyanyi*.


Eh, sudah nonton video lipsync saya belum? Nonton donk :D



Cheers.

5 Manfaat Teh Rosella



Kalian peminum teh? Jangan lewatkan pos tentang Kualitas Teh yang satu ini. Di pos itu kalian bakal menemukan proses pembuatan teh dari awal hingga akhir, hasil jalan-jalan gratis keliling Jawa Barat tahun 2010 yang lalu. Yuhuuuu. Sekalian promosi, haha.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Selain kopi susu, saya juga suka minum teh. Bahkan, sebelum semacam kecanduan sama kopi susu, saya lebih dulu kecanduan sama teh pekat. Teh pekat itu maksudnya sekali seduh terdiri dari satu mug air panas, satu sendok gula, dan dua kantong teh merek Sari Wangi. Teh pekat saya minum pagi dan sore, terkadang malam pun juga. Makanya stok teh kami selalu berlimpah di dalam stoples-stoples persediaan. Aroma teh itu semacam aroma terapi yang melipur lara kala hujan dan sendiri. Duh ileeeeeh, bahasanyaaaaa.

Kalau kalian melihat gambar di awal pos, kalian pasti sudah tahu apa yang mau saya tulis di #RabuLima ini. Betul, kawan, saya mau menulis tentang teh rosella. Tapi sebelumnya, mari kita simak penjelasan tentang rosella yang telah ditulis dengan apik di Wikipedia:

Rosela, rosella, asam paya, asam kumbang dan asam susur atau Hisbiscus sabdariffa, adalah spesies bunga yang berasal dari benua Afrika. Mulanya bunga yang juga cantik untuk dijadikan penghias halaman rumah itu diseduh sebagai minuman hangat di musim dingin dan minuman dingin di musim panas. Di negeri asalnya, Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosela, sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Adakalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula. Di Mesir, rosela diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin. Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu. Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk. Tak jarang, rosela juga dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung. Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.

Di Ende, umumnya rosella dijual dalam kemasan dan isinya berbentuk (kuncup) bunga seperti gambar dari Wikipedia berikut ini:


Sebenarnya saya bisa foto sendiri teh rosella yang ada di belakang, tapi lagi malas jalan ke belakang (ruang makan), jadi saya ambil saja gambar dari Wikipedia. Haha.

Perkenalan saya dengan teh rosella dimulai tahun 2010 ketika saya masih nguli di Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Iya, waktu itu menambang berlian jauh banget dari Kota Ende. Ceritanya: suatu hari saya diajak makan coto Makassar sama teman-teman. Tidak disangka sore hari setelah makan siang yang bersantan itu membikin kepala saya memberat dengan dahsyatnya. Rasanya sungguh tidak enak. Kalau kalian pernah mengalami serangan darah tinggi, kira-kira seperti itulah yang saya rasakan. Waktu itu, karena tahun 2009 pernah punya pengalaman serangan darah tinggi gara-gara maag, saya langsung mengonsumsi ketimun dan memperbanyak minum air dingin/es. Lumayan, rasa tidak enak di kepala itu berangsur pulih.

Dalam percakapan saya dengan keponakan yang saat itu sedang kuliah di Farmasi di Malang, saya kemudian disarankan untuk mengonsumsi teh rosella. Seperti pada gambar awal pos, waktu itu teh rosella belum ada yang jual baik di Kota Maumere maupun di Kota Ende. Makanya saya meminta dia membawakannya dari Malang. Saya lupa waktu itu dia memang membawakannya waktu sekalian pulang liburan atau dikirim, pokoknya saya menerima satu kantong teh rosella dalam kemasan yang didominasi warna merah maroon begitu.

Kata keponakan saya, teh rosella itu sangat baik untuk kesehatan. "Bagus untuk pembuluh darah, Ncim, makanya kalau ada yang darah tinggi bisa minum seduhan teh rosella juga. Teh ini juga punya kandungan vitamin C yang tinggi jadi Encim kalau minum teh ini Insha Allah imun tubuhnya jauh lebih baik, jadi ... tidak gampang sakit." Dan itu terbukti, kawan. Bukan hisapan jempol belaka. Sepanjang satu tahun saya bekerja di Kota Maumere, Alhamdulillah tidak mudah terserang flu/pilek meskipun teman-teman lainnya sudah bersin-bersin di dekat saya *soalnya ditangkis sama dinosaurus*. Selain itu saya tidak lagi mengalami serangan darah tinggi yang bikin tidak dapat tidur itu. 

Rasa teh rosella tidak seperti teh umumnya yang kalian minum. Rasanya asam-asam gimana gituuu. Supaya enak diminum boleh mencampurnya dengan madu atau gula. Bagi penderita diabetes boleh dicampur gula jagung. Tapi sejak awal saya sudah meminum teh rosella tanpa campuran madu maupun gula. Lidah menjadi terbiasa dengan rasanya yang asam-asam ngangenin :p qiqiqi.

Jadi, secara umum, berdasarkan yang sudah saya alami sendiri dan hasil membaca sana sini, manfaat teh rosella bagi tubuh manusia antara lain:

1. Mengandung vitamin C.
2. Mengatasi tekanan darah tinggi.
3. Mengatasi asam urat.
4. Menjaga kesehatan ginjal.
5. Baik untuk penderita diabetes.

Untuk penjelasan dari masing-masing manfaat, kalian bisa membacanya di sini.

Baca Juga: 5 Manfaat Tertawa

Bagaimana, kawan ... sehat itu murah kan sebenarnya? Yang mahal itu sakit! Kalau sudah sakit, bisa-bisa biayanya mencakar langit. Tapi satu yang perlu diingat, saya tidak menyarankan teh rosella ini untuk kalian yang mengidap tekanan darah rendah ya. Sebaiknya kontrol dulu ke dokter hehe. Yang jelas, kalau kepala saya mendadak berat gara-gara maag, saya bakal minum segelas teh rosella.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Kepo Buku #4: Nyai Gowok dan Novel “Kipas-kipas” (Part 2)

Bagian kedua dari obrolan tentang novel-novel erotis bersama Yori, seorang psikolog dan seksolog yang juga podcaster di “Celoteh Yori.” Diawali dengan sedikit melanjutkan soal novel Nyai Gowok: Novel Kamasutra Jawa karya Budi Sardjono, obrolan meluas ke  novel-novel erotis mulai dari era stensilan sampai ke 50 Shades of Grey dan apakah ada unsur pendidikan sex dari novel-novel semacam ini.
Tamu: Diana Mayorita M.Psi (Psikolog dan Seksolog)

DISCLAIMER: Obrolan episode ini mengandung bahasan soal seks yang belum tentu cocok bagi seberapa orang, mungkin karena tabu atau merasa tidak nyaman.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cover: pixabay.com

 

-rh-

 

Kongko Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Sabtu, 26 Januari 2019. Sudah larut pagi saat saya menelusuri peta google untuk mencari tahu di mana letak pasti SMK Al-Muhadjirin yang beralamat di Perumnas III, Jl. P. Jawa Raya, Aren Jaya, Bekasi Timur. Google Map mengantar saya ke gerbang sekolah yang tergembok. 

Dari hasil interogasi kepada adik-adik yang bersepeda di dekat gerbang akhirnya saya tahu kalau yang digembok adalah gerbang SMP Al-Muhadjirin, SMK yang saya tuju masih satu komplek tapi beda gerbang, saya harus melewati Masjid Al Muhadjirin baru bisa masuk ke SMA dan SMK Al-Muhadjirin.

Saat saya tiba, ternyata acara Kongko Bersama Bloger ini sudah dimulai. Pak Rijan Sania Saputra. ST selaku kepala sekolah SMK AL-Muhadjirin sedang memberikan sambutan pembukaan dan membawakan materinya. Btw Pak Rijan Sania selain kepsek ternyata juga seorang penulis loh. Keren lah ini kepsek SMK AL-Muhadjirin, beliau salah seorang penulis produktif dari Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya :)

Sisi baiknya, saya jadi punya kesempatan menikmati kopi sambil ngobrol banyak sama Taufik dan Galing selaku panitia. Ngopi santai menunggu materi Pak Rijan selesai, gak lama Gorby yang ternyata alumni SMK Al-Muhadjirin ikut bergabung menemani saya.

Acara "Kongko Bareng Blogger & Entrepreneur di Zaman Milenial" ini terselenggara atas kerjasama civitas akademika SMK Al Muhadjirin Bekasi dan Yayasan Relawan Sedekah Indonesia.
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongko apa monolog nih?

Setelah break dan hiburan maka tibalah waktunya saya menjadi narasumber kongko bareng blogger. Judulnya kongko jadi harus lebih banyak interaksi, setidaknya saya bisa pakai 15-20 menit memberi materi supaya tuning-nya pas lalu tanya jawab sebelum lanjut ke sesi berikutnya. Btw kalau belum tahu, kongko itu artinya ngobrol atau berbincang-bincang.

Untuk menjelaskan blog dan blogger saya mengutip kisah sukses Raditya Dika dan Pidi Baiq yang keduanya menuangkan tulisan melalui blog kemudian dibukukan/novel kemudian menjadi film.

Blog adalah wadah untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita apapun bentuknya, bisa puisi, syair, cerita fiksi, cerpen, reportase, review, dan lain-lain. Raditya Dika awalnya menulis kisah-kisah jenaka yang ternyata mendapat respon positif dari netizen. 

Tulisan-tulisan bernada komedi di blognya sangat digemari sehingga berhasil memenangkan penghargaan Indonesian Blog Award dan penghargaan dari Indosat sebagai The Online Inspiring di tahun 2009.
Raditya Dika
Tulisan di blognya itu kemudian dibukukan dalam novel Kambing Jantan dan kemudian diangkat dalam film komedi yang berjudul sama. Tentu di balik kisah sukses ini ada kisah perjuangan tak kenal lelah, keseriusan dan semangat yang tak gampang patah, itulah yang perlu diteladani oleh siapa saja termasuk saya.

Begitu juga dengan Pidi Baiq yang awalnya menceritakan kisah Dilan dan Milea melalui blognya. Seperti yang kita ketahui, saat ini novel Dilan menjadi novel yang sangat laris dan sudah 2 novel Dilan yang dijadikan film.
novel dilan dan milea
Dari kisah ini yang ingin saya sampaikan adalah, internet juga membuka peluang bagi kita untuk kita manfaatkan sebagai wadah kreativitas seperti menulis, fotografi, lukisan, rekaman lagu hingga video. Pintu keberhasilan menunggu di sana, tentu tidak mudah, karenanya butuh banyak pengalaman dan kreativitas.

Setelah sekilas membahas mengenai blog kemudian sengaja saya bahas mengenai perkembangan evolusi web 1.0, web 2.0 dan web 3.0. Kita saat ini sudah mulai tahap awal evolusi web 3.0 yang sudah memanfaatkan AI (artificial intelligence). Bahwa smartphone yang kita gunakan saat ini sudah berisikan operating sistem yang mulai mengadopsi AI dan Learning Machine.

Asisten digital di HP akan semakin pintar, tapi sayang penggunanya jauh tertinggal karena masih kurang smart akibat sering mengonsumsi hoax. Materi 3 kerangka literasi digital Indonesia sempat pula saya sampaikan walau waktunya sudah mepet. Tentu tidak maksimal, tapi berbicara di depan kelas sampai 90 menit itu benar-benar menguras energi :D
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Hasil dari kongko ini saya berharap semoga dengan acara ini adik-adik SMK dan para hadirin tergugah untuk membuat konten kreatifnya sendiri. Menjadikan sosmed sebagai media promosi kegiatan positif dan informasi bermanfaat. 

Pemateri selanjutnya adalah Nana Praja, penggiat literasi dan pendiri TBM Rumah Warna Bekasi yang terletak di Kampung Penombo, Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi.  Mungkin Nana yang akan membawakan materi mengenai entrepreneur dan usaha. Saya selesai materi langsung kabur untuk menambah kadar nikotin dan kafein setelah 1 jam setengah mencoba menjadi guru yang baik :D

Dari hasil ngobrol dengan Galing Gema Takbir yang mengundang saya ke acara ini mudah-mudahan mading (majalah dinding) yang ada di sekolah bisa  berfungsi maksimal. Ke depan mudah-mudahan kalau lancar akan ada ekskul jurnalistik di SMK ini.  Amiiin.




1 Video, 3 Aplikasi



Sering bikin video? Tentu! Kalian, mereka, saya. Kita sering bikin video untuk berbagai keperluan, terutama zaman sekarang untuk vlog yang diunggah di Youtube. Aplikasi edit video yang dipakai pun beragam, baik aplikasi khusus untuk menyunting video di Android seperti KineMaster maupun di komputer dan/atau laptop seperti Adobe Premiere.

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Saya sendiri juga sering bikin video. Sayangnya, saya belum bisa memakai Adobe Premiere yang kesohor dan paling digemari teman-teman videografer di Ende. Alasannya sederhana: laptop yang saya pakai tidak mampu 'mengangkat' kalau pakai Adobe Premiere. Kalian tahu siput? Kira-kira kerja laptop saya jadi macam siput kalau pakai Adobe Premiere haha. Oleh karena itu harus ada solusi. Dan ... terima kasih Martozzo Hann, sampai saat ini saya masih memakai Sony Movie Studio Platinum (SMSP) versi 12 dan versi 13.

Sepanjang pengalaman saya membikin video, kalau memang mau hasilnya bagus, tidak bisa mengandalkan satu aplikasi saja. Terlebih jika video tersebut harus digabung dengan foto-foto pendukung lainnya. Agak kurang sedap dilihat apabila transisi dari gambar bergerak menuju gambar tidak bergerak Oleh karena itu untuk membikin foto itu terlihat 'hidup' harus pakai aplikasi lainnya sebelum digabung dalam time line pada aplikasi final.

Kali ini saya mau bercerita tentang tiga aplikasi yang selama ini senantiasa menemani kegiatan menyunting video di laptop. Laptop saya, bukan laptop tetangga. Mungkin menurut kalian tiga aplikasi ini sudah basi, tapi bagi saya tiga aplikasi ini sangat mendukung proses edit video. 

Aplikasi apa saja kah itu? Mari kita cek ...

1. Sony Movie Studio Platinum (SMSP)


Aplikasi yang satu ini boleh saya tulis sebagai aplikasi utama (aplikasi final). Yang terinstal di laptop saya ada dua versi yaitu 12 dan 13. Seringnya sih saya pakai yang versi 12 karena sejak awal sudah pakai versi itu sehingga sudah akrab sekali sama belantaranya. SMSP menyelamatkan saya dari aplikasi edit video sebelumnya. Aplikasi sebelum SMSP itu menurunkan kualitas video sehingga saya harus say good bye padanya. Maafkan ya.

Ini tampilan lembar kerja SMSP yang saat ini sedang saya kerjakan yaitu tentang potensi desa-desa di Kecamatan Ende.

Potongan video (beberapa foto) ini terlihat seperti barcode.


Proses mengedit ini sering saya sebut 'bikin pola' sedangkan proses render saya sebut 'menjahit'.

Kelemahan SMSP hanya satu yaitu transisi yang terbatas; yang itu-itu saja. Apapun transisi tambahan yang ditawarkan di internet pun berakhir pada kalimat: beli dooonk, yang gratisan sudah selesai masa pakai ini! Haha. Tapi tidak mengapa, karena jika saya mau lebih lelah sedikit, maka saya bisa membikin sendiri transisi yang diinginkan kayak punya Sam Kolder. 

2. ProShow Producer


Aplikasi kedua adalah ProShow Producer. Secara umum aplikasi ini juga bisa dipakai untuk menyunting video tetapi saya lebih suka memakainya untuk kebutuhan menyunting foto agar fotonya terlihat lebih hidup alias bergerak seperti sebuah video.


Pada gambar di atas, masih dari lembar kerja SMSP, kalian bisa melihat foto peta yang saya insert sebagai dukungan cut-to-cut video. Foto peta itu kalau dilihat sudah bergerak (saya pakai efek zoom dan pan begitu) sehingga transisi ke video berikutnya terlihat lebih sedap.

3. Photoscape


Ada apa antara saya dengan Photoscape!? Bukankah seharusnya saya melanjutkan belajar Photoshop? Hehe. Ah, dinosaurus manyun tuuuh gara-gara saya berhenti belajar Photoshop hanya karena otak saya sudah letih huhuhu. 


Photoscape membantu saya mengedit foto-foto mulai dari pencahayaan, warna, hingga untuk penggabungan beberapa foto sekaligus. Saya suka Photoscape karena memang menggunakannya super duper mudah! Selain Canva, saya juga mengandalkan Photoscape untuk foto-foto pendukung pos blog.

1 Video, 3 Aplikasi, itu yang saya gunakan demi membikin satu video ... siapa tahu kalian justru memakai lebih dari satu aplikasi.

Baca Juga: Living In A Camper

Biasanya saya akan membuat draf video terlebih dahulu. Setelah draf jadi, saya mengumpulkan materi-materinya. Materi ini terdiri dari video, foto, dan musik pendukung jika kita memang tidak memakai natural sound dari video yang bersangkutan. Supaya keren saja haha. Materi sudah lengkap atau 90% lengkap, saya buka lembar kerja di SMSP dan mulai membikin pola. Membikin pola sama lamanya dengan render. Hanya saja, lamanya membikin pola tergantung mood. Rata-rata video berdurasi 45 menit membutuhkan waktu dua hari atau tiga hari untuk pola-nya. Render-nya atau waktu jahitnya kan sudah ada rata-rata durasi. Terlama itu waktu saya bikin video untuk pernikahannya Om Nugie dan Tante Mercy, bisa memakan waktu satu minggu dan fokus terlama pada pola penari awalnya. Bisa dilihat pada video di bawah ini:


Okay, itu saja cerita hari ini tentang aplikasi-aplikasi yang saya gunakan untuk membikin atau edit video. Bagaimana dengan kalian? Jangan bilang kalian pakai Adobe Premiere huhuhu itu bikin iri to the max, tahuuuu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Mamatua Project



Hari ini sedang tidak ingin menulis banyak. Haha. Maklum, sedang ada kesibukan yang juga membutuhkan konsentrasi. Hari ini saya cuma ingin menulis tentang salah satu resolusi yang tidak saya masukkan dalam pos soal resolusi-resolusi itu. Saya pikir, baik juga menulis ini, mungkin bisa jadi inspirasi untuk kalian *halaaah* hahaha.

Baca Juga: Proses Pembuatan Tenun Ikat

Namanya Mamatua Project. Proyek tentang mengumpulkan foto Mamatua dari hari ke hari yang sudah dimulai 1 Januari 2019 dan, Insha Allah, akan berakhir 31 Desember 2019. Memori telepon genggam saya tidak akan penuh hanya dengan memotret perempuan tercantik dalam hidup saya ini. Ya kaaan. She's so beautiful!


Kalau kalian pernah nonton filem Chef, tentu kalian tahu bahwa si anak punya proyek mengumpulkan video satu detik per hari selama perjalanan mereka bersama food truck itu. Nah, rencananya pengen bikin yang video, tapi belum kesampaian, ya sudah bikin foto-foto dulu. Foto-foto Mamatua ini pun nanti bakal saya bikinkan video kok ... Insha Allah.

Bagaimana dengan kalian? Punya proyek yang sama juga? Yuk share!



Cheers.

Suarane #2: Life Skills for Anak Kost

Bonus episode #1 dengan tamu Jeng Sri.. eh Jeng Winny yang kali ini berbagi beberapa life skills atau mungkin lebih tepat disebut “survivability skills” untuk para anak kos, bukan hanya dalam mengenyangkan tapi yang tidak kalah penting adalah menyenangkan perut. Penting! 😉

Tamu: Winny Soendaroe

Disclaimer:

  • Penyebutan merek produk-produk di episode ini bukan bentuk sponsor dari pihak manapun. Sumpah! ;D Eh, ada yang mau sponsorin emang? *kode kerass*

Credits: 

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Daily Beetle” karya Kevin MacLeod feat: Brett Van Donsel (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Image: Pixabay.com

The Mentalist



Kalau kalian membaca pos tentang 5 Keseruan Tinggal di Motorhome, sedikit tidaknya sudah tahu tentang serial televisi yang satu ini. Sudah lama saya menonton The Mentalist, waktu itu masih menonton televisi yang kisahnya bisa kalian baca di pos tentang 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi, di channel Fox atau Fox Crime. Saya lupa channel-nya karena sudah lama sekali. Saya memang tergila-gila pada serial-serial kriminal seperti Castle, Law & Order, Law & Order: Criminal Intent, Law & Order: Special Victims Unit, Criminal Minds, CSI dan fransaisnya, NCIS, Quantico, Sherlock, Hawaii Five-O, dan lain sebagainya. Jauh sebelum itu pun TVRI sudah bikin saya terpesona pada serial kriminal seperti Hunter, Remington Steele, dan yang paling fenomenal Twin Peaks.

Baca Juga: Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan

Gara-gara Hooq, saya kembali menonton The Mentalist secara semua season (dulu saya menulis session loh) lengkap tersaji. Senangnya hatiku hilang panas demamku karena bisa melanjutkan kisah si Patrick Jane dalam membantu para agen California Bureau of Investigation (CBI) yang berpusat di Sacramento. Bagi kalian yang belum pernah menonton The Mentalist dan memang ingin mencari hiburan serial kriminal, silahkan tonton dan rasakan sensasi yang berbeda dari serial kriminal lainnya.

Mari mengulas The Mentalist.

The Mentalist


The Mentalist merupakan serial kriminal yang menceritakan tentang tugas para agen di CBI yang kantor pusatnya di Sacramento dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan. Dalam menjalankan tugas, satuan agen (karena di CBI ini banyak satuan agen) yang dipimpin oleh Teresa Lisbon dibantu oleh Patrick Jane, seorang lelaki yang mengalami trauma berat karena isteri dan anaknya dibunuh secara brutal dan lantas terobsesi pada si pembunuh berantai bernama Red John tersebut.

Tokoh The Mentalist


The Mentalist diperankan oleh banyak aktor dan aktris karena kadang terjadi pergantian tokoh tertentu dan/atau karena si tokoh meninggal dunia. Tapi di sini saya hanya akan membahas tentang tokoh-tokoh sentral-nya saja. Dan seterusnya saya akan menulis nama family mereka.

Semua gambar tokoh ini diambil dari Wikipedia.


1. Teresa Lisbon

Teresa Lisbon merupakan agen sekaligus kepala satuan agennya. Karakter ini diperankan oleh Robin Tunney. Sebagai kepala satuan dia harus bisa bersikap adil pada semua agen-agennya termasuk pada konsultan yaitu Jane. Tantangan terberat Lisbon adalah bagaimana bisa 'mendisiplinkan' Jane yang kadang bikin para atasan kesal to the max.

2. Kimball Cho

Karakter Kimball Cho diperankan oleh mantan pacar saya Tim Kang. Waktu Cho punya pasangan yaitu inforwoman-nya sendiri yang syukurnya kemudian mereka putus, saya sampai tidak bisa tidur karena cemburu. Haha. Dia termasuk agen yang sedikit bicara, banyak kerja. Jangan pernah menanyakan pendapatnya karena dia punya jawaban favorit: ya atau tidak.

3. Wayne Rigsby

Meskipun sudah tahu Cho bakal jawab seperlunya saja, Rigsby paling doyan curhat sama sohibnya ini, terutama soal hubungan asmaranya baik dengan Van Pelt maupun dengan ibu dari puteranya Sarah Harrigan. Oh ya, Rigsby punya anak memang dari Harrigan, tapi kemudian dia justru menikahi Van Pelt, perempuan yang sangat dicintainya sejak pertama bertemu di CBI. Rigsby diperankan oleh Owain Yeoman.

4. Grace Van Pelt

Tinggi, cantik, pintar, kerjaannya selain di lapangan juga di bidang komputer dan jaringan. Gara-gara aturan lama yaitu sesama agen dilarang saling mendahului, eh sesama agen dilarang punya hubungan asmara, Van Pelt dan Rigsby pun putus. Gara-gara itu, Van Pelt pacaran sama agen FBI bernama Craig O'Laughlin yang ternyata kaki-tangannya Red John.

5. Patrick Jane

Ini dia tokoh paling menyebalkan sekaligus paling brilian. Jane adalah cenayang-palsu yang mencari uang lewat acara-acara tentang cenayang, padahal sesungguhnya dia hanya menggunakan kesempatan, momen, dan ketelitian dalam memerhatikan sesuatu. Menjadi masalah ketika di televisi dia semacam menantang Red John, si pembunuh berantai. Pulang ke rumah, isteri dan anak Jane tewas dibunuh oleh Red John. Bagaimana dia tahu? Karena di dinding kamar itu ada wajah senyum yang digambar menggunakan darah. Ciri khas Red John. Van Pelt diperankan oleh Amanda Righetti.

Garis Besar


Ada tujuh season The Mentalist. Pada masing-masing season, setiap episodenya menampilkan kasus demi kasus pembunuhan. Sebagai pengenalan, pada season pertama, kasus pembunuhan isteri dan anak Jane (oleh Red John) menyebabkan lelaki itu menghilang selama setahun, lantas mendadak muncul di kantor CBI untuk menanyakan proses penyelidikannya. Karena mengganggu, dengan penampilan awut-awutan dan selalu bertanya, Lisbon diminta untuk 'mengurusi' Jane. Jane pun diajak menuju lokasi pembunuhan yang sedang ditangani. Kasus ini, boleh dibilang kasus pertama Jane, dipecahkan dengan sangat mudah oleh Jane. Caranya melihat posisi korban, mencium aroma, mempelajari pakaian dan asesoris korban, sampai menyusun skenario kejadian, sungguh di luar pola kerja para agen.

Jane kemudian menerima kotak berkas kasus Red John atas kematian isteri dan anaknya, diberi sebuah meja menghadap jendela besar, untuk membaca berkas-berkasnya. Sampai gedung CBI kemudian direnovasi, area itu kemudian menjadi ruang kantor khusus untuk Jane dengan ciri khas jendela besarnya itu.

Ya, betul ... Jane lantas menjadi konsultan CBI. 

Meskipun setiap episode dari masing-masing season menampilkan begitu banyak kasus pembunuhan, namun Jane tidak pernah lupa pada berkas-berkas Red John tersebut. Inilah hebatnya The Mentalist, ada benang merah yang menghubungkan season satu sampai tujuh. Siapa Red John? Sudah terungkap di season enam. 

Benang Merah


Red John adalah benang merah The Mentalist. Red John; seorang pembunuh berantai yang selalu selangkah di depan Jane, punya sumber daya tidak terbatas, dan punya kaki-tangan yang loyal. Kaki-tangannya yang terakhir yang paling saya ingat adalah Lorelei Martins, yang sempat dekat dengan Jane, namun kemudian dibunuh juga oleh Red John dengan meninggalkan trade mark-nya yaitu senyum berdarah.

Membongkar kedok Red John sama dengan membongkar sindikat (wuih) penegak hukum korup di California; yang anggotanya mulai dari sherrif di desa sampai anggota CBI, FBI, jaksa, hakim, dan sebagainya. Red John sendiri ternyata seorang (semacam) sherrif yang sudah lama dicurigai baik oleh Lisbon maupun oleh Jane. Tapi mereka sering terkecoh. Hanya saja saya masih kurang sreg tentang penentuan tokoh yang ternyata adalah Red John ini, dan saya kurang suka titik tamatnya Red John. Selebihnya ... Ini serial cerdas.

Baca Juga: Don't Breathe

Seru ya menulis tentang The Mentalist. Setelah sekian lama hahaha. Saya pikir kalau kalian mau menontonnya, bagi yang belum menonton, itu bagus haha. Kita bisa diskusi bersama hehe.

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

#PDL Bikin Video Lip Sync



Pada zaman masih SMP, waktu itu dinosaurus lagi senang-senangnya main pasir di Pantai Ende, saya doyan banget sama Mili Vanili. Meskipun kemudian terkuak skandal mereka ternyata melakukan lip sync tapi saya tetap gemar mendengarkan lagu-lagu mereka kayak Blame It On The Rain (dinosaurus pun menyambar: yeaaah yeaaah), Girl I'm Gonna Miss You, sampai Girl You Know It's True. Saya bahkan mencatat biografi mereka dari majalah ke sebuah buku. Kurang kerjaan. Ember ... hehe. Nanti akan ada cerita tentang angkot di Kota Ende yang kayak mobil pribadi dan punya soundsystem awesome yangmana salah satu angkot itu paling rajin memperdengarkan lagu-lagu Mili Vanili.

Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Selain Mili Vanili, prestasi saya saat SMP adalah menerima surat balasan dari Java Jive dan Pulau Biru Production - Oppie Andaresta. Yay! Walkman saya zaman SMP itu kalau bisa protes pasti sudah protes keras gara-gara setiap hari keseringan memutar lagu-lagunya Oppie Andaresta, Mili Vanili, Iwan Fals, sampai kaset kompilasi lagu-lagunya Def Leppard, Bon Jovi, Nirvana, Scorpion, dan setanah-airnya. Kaset terakhir miliknya (alm.) Kakak Toto Pharmantara. Oh ya, walkman-nya ganti dua kali gara-gara ... mungkin gara-gara terlalu sering dipakai haha.

Beruntung foto walkman terakhir ini masih tersimpan, berkat membongkar komputer Pentium II itu:


Kembali ke #PDL ...

Sebenarnya apa sih lip sync itu?

Sederhananya lip sync adalah lip dan sync *digampar masyarakat sekota*. Lip sync adalah sinkronisasi bibir singkatan dari lip synchronisation. Jadi, bukan cuma Android saja yang perlu sinkronisasi supaya tidak sembarangan ngomong dan menyebar hoax tapi bibir juga. Lip sync adalah sikap seseorang seolah benar-benar bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya dibarengi lagu yang diputar melalui kaset atau media lain.

Menurut analisa dinosaurus, lip sync ada dua tipe:

Yang Pertama:
Lip sync lagu sendiri yang umumnya dilakukan di video klip dan di panggung (live). Skandal Mili Vanili ini terjadi di panggung, karena tidak mungkin lip sync di video klip dijadikan skandal *ngikik* Selain Mili Vanili, kalian pasti tahu penyanyi lain yang melakukan itu, terutama saat bernyanyi di panggung tidak ada urat leher yang terlihat. Sulit kan ... apalagi kalau penyanyinya berhijab macam saya. Haha.

Yang kedua:
Lip sync lagu milik orang lain cuma karena suka sama lagunya tapi belum bisa menyanyikannya. Kalau bisa menyanyikannya diistilahkan dengan cover. Bicara soal cover song, kalian harus nonton video lagu-lagu yang di-cover sama Ajeng Veran di Youtube! She's so multi-talented!

Yang mau saya ceritakan sekarang adalah tipe kedua, yaitu lip sync karena suka sama lagunya. Lagunya siapa? Lagunya Meghan Trainor yang super seksi itu. Seksi bodinya, seksi suaranya. Haha. Kami kembaran sih, jangan dulu protes, kembaran dalam mimpi maksud saya. Suara Meghan Trainor ini ibarat bumbu penyedap rasa universal, anggap saja ada lah bumbu penyedap rasa universal untuk semua jenis makanan dari gulai hingga cakes, dicampur apa saja pasti enak, kecuali dicampur ke campuran semen dan tanah bakal batako. Dan lagu Meghan Trainor yang paling saya suka berjudul Better When I'm Dancin'.

Maka pada hari itu, suatu sore yang menggairahkan, saya memutuskan untuk membikin video lip sync Better When I'm Dancin', sebuah lagu yang luar biasa memotivasi. Yang perlu saya siapkan adalah sebagai berikut:

1. Latar video.
2. Wardrobe.
3. Kamera.
4. Bedak dan gincu.

Aaawwwwww bedak dan gincu!


Latar belakang video ini adalah lemari pakaian yang ditutupi dengan kain motif ... motif apa ya itu ... kayak macan atau cheetah begitu. Ini kain dikasih sama Dessy, dikasih sebagai hadiah saat saya mulai berhijab (semacam pashmina). Wardrobe, gaya banget menulis ini, hanya dua baju dan dua pashmina. Kamera, saya memilik memakai Canon EOS 600D. Bedan dan gincu ... errr ... hasil menambang koleksi lama dan waktu itu berdoa belum kadaluarsa bedan dan gincunya.

Baca Juga: Sheena dan Bananaque

Kamar saya yang sempit karena kebanyakan lemari itu menjadi lebih sempit karena tripod harus berdiri sempurna. Semua sudah siap. Hidupkan kameranya, diatur dulu, mainkan lagunya, mulai bernyanyi (harus mengeluarkan suara juga meskipun belum sepenuhnya hafal lirik - jadi sambil lihat di laptop). Daaaan saya lupa mengunci pintu sehingga saat sedang beraksi mendadak pintu terkuak dan Kakak Pacar nongol ... dia melongo ... dan berpikir apakah saya tadi saya diajak dinosaurus makan sate binen?

Ndilalah, Kakak Pacar malah mendukung hahaha. Dia memutuskan untuk memegang telepon genggam, lebih dekat ke kamera, agar saya bisa membaca liriknya. 

Dan saya memang sengaja menulis LIPSING bukan LIP SYNC karena ... karena pengen saja haha.


Kalian belum nonton? Rugi dooonk. Sini nonton di Youtube:


Waktu selesai di-render, saya cuma bisa terbahak-bahak sepanjang menontonnya, dan dilirik saja sama Kakak Pacar. Mungkin dalam hati dia bilang: kenapa yaaaa saya bisa jadian sama perempuan ini? Tanggung derita ...


Pernah, saya pernah begitu, membikin video cuma karena suka sama lagunya. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di papan komentar. Siapa tahu kita bisa saling subscribe di Youtube. Yuuuk.



Cheers.

Inkonsistensi BTP

Lini masa media sosial riuh banget saat menjelang dan setelah bebasnya BTP dari tahanan di Kelapa Dua.

Dari sekian banyak cuitan di twitter dan status FB, ada satu yang menarik dan membuat saya kepingin ngecuprus di blog lagi.

Ini tentang inkonsistensi yang dilakukan oleh BTP.

Seperti yang sudah diberitakan, Ahok lebih suka disebut dengan BTP setelah bebas dari tahanan.

Itu sebabnya saya, pemerhati dan enthusiast level receh soal bahasa Indonesia, jadi terpancing oleh status FB kawan saya ini.

Jadi kepikiran nggak sih, kenapa dulu blio diberi nama Basuki Tjahaja Purnama? Kenapa bukan Basuki Cahaya Purnama atau Basoeki Tjahaja Poernama agar soepaja tertjipta konsistensie dalam namanja?

Kalau ada yang tahu alasannya, tolong informasikan di kolom komentar ya.

Kalau ada yang sebal karena merasa terjebak oleh judul yang sok serius padahal isinya receh, berarti kamu baru pertama main ke sini atau memang belum kenal sama yang punya blog ini, ehehe. Saya cuma serius kalau bahas fotografi, selebihnya kebanyakan receh.

Apalagi ini update blog pertama di awal tahun, ya kalik bakal ngecuprus yang serius 🥴

Ya sudah, selamat menikmati tahun politik. Beda pilihan boleh, benci jangan. Ibarat ngopi, mau tubruk hayuk, mau french press boleh, mau metode drip monggo, mau cold brew atau ala Turki juga silakan. Karena apapun metodenya, ngopi yang paling nikmat itu saat sembari ngobrol santai dengan teman atau dengan pasangan kalau punya. Yo ra, mblo?