Arsip Bulanan: Agustus 2018

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Sumbangsih Untuk Negeri Melalui Community Investment Prudential Indonesia


Melihat polosnya anak-anak yang bermain itu merupakan sebuah kesenangan tersendiri. Mereka tersenyum dan bahagia dengan kondisi apapun. Merekalah generasi yang akan meneruskan langkah kita di masa depan. Senyum mereka adalah vitamin yang terus menerus menyuntik kita untuk menjadi lebih baik. 

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengunjungi Raja Ampat. Bagai mendapatkan durian runtuh, untuk pertama kalinya terbang ke tanah Papua. Waktu itu saya melalui Sorong setelah sebelumnya  transit di Makassar. Perjalanan darat kemudian dilanjutkan dengan kapal motor menuju pulau besar sebelum ke kawasan Raja Ampat. Kebetulan saya akan tinggal di pulau Aljui, sebuah pulau kecil di kawasan Raja Ampat. Jangan dipandang dari kecilnya pulau tersebut, namun seberapa indahnya pemandangan yang menyambut saya dan teman saya dari Jakarta.


"Mau saya bikinkan pan cake untuk bekal perjalanan?"

Saya kemudian menganguk tanda setuju. Kebetulan saya ke Aljui dalam rangka tugas dari kantor sehingga semuanya disediakan termasuk makanan dan salah satunya adalah pan cake dari Ibu juru masak yang sangat lezat. Setiap makan, saya selalu meminta lebih pan cake tersebut. 

Saya sangat terkesan dengan keramahan warga Aljui, Papua. Mereka selalu tersenyum dan menyapa saya dimanapun kami berada. Dan, yang paling menyenangkan adalah saya bisa mengabadikannya dengan anak-anak Papua yang selalu ceria walaupun malu-malu di depan kamera. 


Kebetulan sekali dalam acara Prudential Indonesia East Indonesia Empowerment program, Prudential Indonesia melakukan Community Investment atau yang dikenal dengan CSR di daerah Timur Indonesia khusus tanah Papua yang masih memerlukan perhatian bersama terutama Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi. 

Pemerataan pembangunan bukanlah hanya tugas pemerintah semata. Kontribusi selain pemerintah sangat diharapkan untuk mempercepat pemerataan terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Prudential Indonesia mengambil peran yang sangat strategis sehingga memberikan banyak hal terutama program untuk Indonesia Timur tersebut. 


Bidang pendidikan merupakan hal yang paling disoroti karena bidang inilah yang paling dibutuhkan selain ekonomi. Prudential Indonesia memberikan kontribusi di bidang edukasi terutama kepada generasi penerus bangsa dengan bekerja sama dengan pihak yang sangat kompeten. Program seperti Literasi Keuangan untuk Perempuan, Program Magister Aktuaria, Cha-Ching Money Smart Kids dan Sekolah Ramah Anak di Papua merupakan beberapa program pendidikan yang telah dilakukan oleh Prudential Indonsia. 

Sedangkan masalah kesehatan, Prudential Indonesia telah melakukan kerja sama dengan beberapa rumah sakit di Indonesia untuk penderita kanker dan penderita cacat melalui YPAC. 



Dalam acara ini juga dilakukan penandatangan kerjasama untuk mendukung prgram Prudential Indonesia East Indonesia Empowerment yang menitik beratkan pada Indonesia bagian Timur dengan bidang kesehatan , pendidikan dan ekonomi yang sangat di dukung oleh Kepala Bappenas, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro S.E., M.U.P., Ph.D. 


Sebagai orang awam, saya selalu mendukung peran swasta dan masyarakat untuk medukung pemerataan pembangunan dimanapun terutama kawasan Indonesia timur. Cukup kata yang kita ucapkan, saatnya untuk memberikan sumbangsih yang nyata untuk bangsa Indonesia ini. Yuk mari kita sama-sama memberikan sumbangsih apapun untuk negara kita tercinta, Indonesia. 


5 Contoh Fisik Tidak Selamanya Mewakili Usia

Tebak, berapa jauh perbedaan usia kami?

Hingga saat ini masih ada orang yang salah menebak usia saya. Catatan: tidak berlaku bagi mereka-mereka yang pernah melihat KTP dan/atau Akta Kelahiran saya. Pernah, ada teman-dari-teman yang menebak usia saya jauh lebih muda sepuluh tahun dari usia yang sebenarnya. Tidak bisa saya salahkan. Memang. Senang, iya! Karena, jangankan manusia, kamera depan buat swafoto itu pun terkecoh dan melakukan kesalahan fatal menebak angka usia saya. Sampai di sini saya ketawa puas dulu ... boleh?

Ha ha ha ha ...

Baca Juga:
 
Kondisi yang sama juga terjadi ketika saya menebak usia Mam Poppy Pelupessy. Rekan kerja yang juga si tukang jalan itu terbahak-bahak waktu saya salah menebak usianya. Tidak apa-apa, hukum karma berlaku *nyengir* Mam Poppy terlihat jauh lebih muda dari usianya atau dari perempuan seusianya.

Apa yang terjadi pada saya, juga Mam Poppy, membenturkan saya pada pos yang satu ini. Bedanya adalah kami selebritis lokal sedangkan mereka selebritis internasional. Tolong jangan berpaling dulu dari pos ini, haha, sesekali narsis itu perlu. Dari pos tersebut, ternyata banyak selebritis internasional yang sama usia tapi beda fisik; yang satu terlihat lebih muda sepuluh tahun, yang lain terlihat lebih tua sepuluh tahun. 

See? Tidak selamanya fisik mewakili usia!

Berikut saya pilihkan lima selebritis yang sepantaran usia tapi perbedaan fisiknya, terutama wajah, sangat signifikan. Semua foto bersumber dari sini.

1. Maisie Williams vs Bella Hadid


Ingat Arya Stark? Si pemberani dari klan Stark dalam Game of Thrones? Betul sekali, Arya diperankan oleh Maisie Williams (kiri). Di dalam foto ini Maisie Williams dan si super model Bella Hadid (kanan) sama-sama berada pada usia 21 tahun. Menurut saya, Maisie terlihat seperti ABG SMP belia belasan tahun, sedangkan Bella terlihat seperti sudah berusia 32 tahun. Sorry, Bella, sometimes pic can't cheat.

2. Tobey Maguire vs Kristian Nairn


Si bintang Spiderman, Tobey (kiri), terlihat lebih muda dari Kristian (kanan) yang berperan sebagai Hodor dalam Game of Thrones. Perbedaan fisik yang terrrrhakikiiii dalam usia 42 tahun. Apa!? Usia Tobey sudah 42 tahun!? You look so much younger, man. I can't believe it. Damn! Are you looking for a woman from Flores Island to be your ... your ... wife ... again? *dikeplak*.

3. Jennifer Lopez vs Cate Blanchett


Sudah separuh abad ini Jennifer Lopez (kiri) masih awet saja. Coba bandingkan dengan Cate (kanan) yang paling saya ingat sebagai Galadriel dalam The Lord of The Ring. Ajegile JLo ini awetnya minta ampun (49 tahun)! Mungkin karena selain main filem dia dikenal sebagai penari, penyanyi, produser, dan lain-lain. Loh, apa hubungannya? Penari, beb, penariiii. Orang yang rajin menari sama dengan rajin berolahraga dan punya bodi yahud macam JLo. Itu poinnya. Selain itu, dompet selalu tebal kan juga jadi salah satu faktor, hehe. Profesinya banyak begituuuu. Sukses semua pula! Go go go JLo! Bangga ane sama ente *ngarep uang sen*.

4. Meghan Markle vs Britney Spears


Seandainya dulu dia tidak mendadak kawin terus cerai, tidak terlibat narkoba, saya yakin Britney (kanan) bakal terlihat sama mudanya dengan Meghan (kiri), saat keduanya sama-sama berusia 37 tahun. Karir Britney Spears pada masa awal itu benar-benar cemerlang. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi, untungnya Britney telah 'kembali'. Yess, she's back, dude! Come on, hit me baby one more time.

5. Selena Gomez vs Cara Delevingne


Saya akui Selena Gomez (kiri) memang terlihat lebih awet muda ketimbang Cara (kanan) pada usia 26 tahun. Jujur, sakit banget waktu tahu si Bibir menyakitimu, honey *apa nih? batu nyasar!*

Betul kan? Fisik tidak selamanya mewakili usia!

Dari kelima perbandingan di atas, yang mana yang paling terlihat stuntman stunning? Menurut saya, JLo, tentu saja! JLo di usia 49 tahun terlihat hampir sama dengan Bella di usia 21 tahun. Duh emak, kita harus rajin olahraga nih; jalan sehat maupun menari. Keduanya sama meng-olah-kan-raga. Seperti kata Etchon, menari bebas sendirian di kamar merupakan salah satu bentuk pembakaran lemak hehe.

Pertanyaan saya sekarang adalah apakah kalian juga punya foto seperti itu? Bukan, bukan foto bareng selebritis di atas, tapi foto kalian dengan teman yang se-usia tetapi perbedaan secara fisik, terutama wajah, sangat kentara? Yuk share sama saya :)


Cheers.

5 Obat Sederhana Penurun Hipertensi

Gambar diambil dari sini.

Hipertensi berarti tekanan darah tinggi. Lawan hipertensi adalah hipotensi yang berarti tekanan darah rendah. Orang sering bilang jangan banyak mengonsumsi garam nanti hipertensi. Itu benar. Dari situs Alodokter saya jadi tahu ada dua jenis hipertensi yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Sama seperti amonerhea yang juga diklasifikasi dalam primer dan sekunder. Kebanyakan penyebab hipertensi primer tidak diketahui tetapi faktor-faktor penyebabkan antara lain: usia, keturunan, obesitas, terlalu banyak makan garam, kurang olahraga, dan merokok. Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit ginjal, kehamilan, kecanduan alkohol, dan lain-lain.

Baca Juga:

Kakak saya yang nomor dua, Kakak Nani, adalah penderita hipertensi dan mengonsumsi catopril untuk mengatasinya. Ternyata catopril juga bagus dikonsumsi oleh penderita penyakit ginjal akibat diabetes. Bagaimana dengan saya? Saya pernah mengalami hipertensi tapi merupakan penyakit turunan dari penyakit lain bernama maag. Maag memang jangan diabaikan karena bisa berujung pada angin duduk, hipertensi, jantung berdebar lebih kencang, kepala pening/pusing/sakit hingga muntah. Ini yang saya alami, sehingga apabila rasa sesak di dasar hati diam tak mau pergi di ulu hati saya harus berusaha untuk sendawa dan/atau buang angin. 

Kalian tidak tahu betapa setiap hari saya sangat merindukan aktifitas buang angin ini. Semakin banyak angin yang dikeluarkan, semakin bahagia.

Jadi, kalau kalian mengalami gejala sakit kepala atau pusing kepala, jangan dulu minum obat sakit kepala. Yang perlu dilakukan adalah:

a. Mengecek sudah makan atau belum.
b. Mengecek isi dompet. Kalau tipis ... jawab sendiri.

Haha!

Makanya di rumah, kalau akhir bulan, si Indra dan Thika tidak bakal kebanyakan gaya karena kuatir Encimnya ngamuk *ngakak tiarap*.

Kembali ke ... ke ... ke saya saja ya. Oke, kembali ke saya, bahwa saya pernah mengalami hipertensi. Yang pertama gara-gara maag (tahun 2009), yang kedua gara-gara makanan (tahun 2010). Jelas saya kelimpungan. Sakit yang pertama itu saya pernah mengatasinya dengan ketimun tapi kemudian sampai di-UGD selama 8 (delapan) jam di RSUD Ende. Sakit yang kedua cukup diatasi dengan meminum teh rosela. Lantas entah dari mana, saya lupa sumbernya, saya meminum air es untuk mengatasinya. Apabila merasa sedikit tegang di leher maka saya meminum banyak air es dan menunggu panggilan alam. Setelahnya ... aman.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, bercerita dan berbagi dengan orang lain, saya jadi tahu pertolongan pertama pada penderita hipertensi sebelum dibawa ke dokter atau ke rumah sakit. Mau tahu? Kan sudah saya kasih tahu di awal pos ini hahaha. Jadi, kalau saya kuatir sama hipertensi atau merasakan gejalanya (setiap orang pasti punya alaram tubuh untuk mendeteksi penyakit tertentu) maka yang saya konsumsi terlebih dahulu adalah:

1. Air es.
2. Ketimun.
3. Teh rosela.
4. Daun sop.
5. Alpukat.

Mungkin memang belum ada penjelasan yang lebih ilmiah mengapa kelima bahan minum/makanan sederhana di atas dapat mengatasi hipertensi. Bagaimanapun, saya tetap menyebutnya obat sederhana penurun hipertensi.

Based on true story of me.

Tapi yang perlu diingat adalah kalian harus tetap menemui dokter untuk mengatasi/mengobati hipertensi yang diderita. Dokter akan lebih tahu setelah mendiagnosa gejala hipertensi yang diderita karena hipertensi itu banyak gejala/alasannya sehingga pengobatannya pun mungkin berbeda untuk setiap orang.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian.


Cheers.

Survey Podcast 2018 di Indonesia

Daily Social bikin survey yang sangat menarik soal Podcast di Indonesia. Dengan jumlah responden dari 2032 pengguna ponsel pintar, tentu ini riset yang serius dan valid. Hasilnya cukup mengagetkan buat podcaster seperti gue. Selengkapnya silahkan akses di tautan di bawah. Tapi berikut ini ada beberapa hasil yang menarik perhatian gue dan pastinya juga teman-teman podcaster lain:

Responden: Millenials Rule!

podsurvey

Yang menarik adalah usia pendengar podcast di Indonesia  40 persen lebih berasal dari usia 20-25 tahun (42,12%), diikuti oleh usia 26-29 tahun (25,52 %) dan usia 30-25 tahun (15,96%). Apa artinya? Menurut gue, persepsi bahwa generasi yang sering dijuluki millenial adalah generasi penonton daripada pendengar tidak terlalu tepat. Bisa jadi juga ini disebabkan karena kalangan usia itu sangat suka pada hal-hal yang dianggap “baru.” Menarik untuk dilihat setahun lagi apakah minat itu masih sama.

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah ternyata 80% lebih pendengar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ayo podcaster di daerah, ini kesempatan kalian!

Familiaritas: Siapa Bilang Podcast Nggak Dikenal?

podsurvey2

Hampir 70% responden tahu apa itu podcast dan 80% lebih diantaranya pernah dengar podcast dalam 6 bulan terakhir. So, siapa bilang podcast belum dikenal?

Podcast atau Radio: Radio, someone still love you?

podsurvey3

Sebagai (mantan) orang radio, gue selalu tertarik ingin tahu ini. Menurut survey Daily Social terjadi pergeseran yang cukup signifikan menuju trend mendengarkan audio berbasis digital. Apa artinya?

Orang radio: waktunya kalian mengadopsi teknologi audio digital. Gue nggak punya risetnya, tapi cukup bermodal streaming siaran kalian di internet saja tidak cukup. Orang semakin sibuk dan tidak mau lagi diatur harus dengar radio di jam-jam tertentu.

Podcaster: Gue percaya banget bahwa pola pikir acara podcast yang meniru style radio (baca: golden voice, heavy audio mixing dll) perlahan akan bergeser menjadi lebih personal, lebih natural, lebih ngobrol.

Platform: Spotify Rules!!

podsurvey4

Mengutip seorang teman podcaster: “Ini sih kampret banget!” haha! Meskipun aplikasi anchor ada di buntut dalam hal aplikasi untuk mendengarkan podcast, tapi sejak aplikasi itu menyediakan layanan distribusi ke Spotify, angka pendengar di Spotify melonjak gila-gilaan. Paling enggak itu yang gue rasakan di dua channel podcast gue. Ini relevan banget dengan data pendengar usia muda yang rasanya adalah pengguna Spotify.

Gue bukan buzzer Anchor, tapi kalau kalian podcaster mau tambahan pendengar, cobalah sasar pendengar Spotify, dan Anchor menyediakan itu secara gratis!

Yang tidak kalah menarik, Soundcloud sebagai basis “tradisional” pendengar podcast masih jumawa di peringkat kedua. Toh gue nyaris yakin perlahan mereka akan tergeser oleh Google Podcast.

Bicara podcast, Indonesia ini emang unik banget! Temen-temen podcaster gue di luar Indonesia sering bingung. Mereka sering “mendewakan” Apple Podcast sebagai channel utama mendengarkan podcast yang paling tob! Tapi lihat hasil survey itu. Dimana posisi Apple Podcast? Hehe..

Oya, gue acung jempol sama Inspigo, karena mereka masuk dalam daftar platform yang dipakai mendengarkan podcast, bersaing dengan penyedia layanan podcast luar negeri. Inspigo ini bisa dibilang sebagai platform podcast lokal yang paling niat dan keren. You’re well on your way, guys! 

Kapan Dengar Podcast: Eh, buset? Seriuss?

podsurvey5

Jujur ini yang paling bikin gue melongo. Asumsi bahwa pendengar podcast itu ada di drive time alias jam orang pulang pergi kantor atau sekolah ternyata terpatahkan oleh survei ini.

32,50% responden mendengarkan podcast di atas jam 9 malam. Memang yang mendengarkan di jam pulang kantor juga tinggi (27,02%), tapi di atas jam 9 itu menarik banget. Hasil ini diperkuat dengan data bahwa mayoritas mendengarkan podcast di rumah, cuy!!

 

KONTEN, KONTEN, KONTEN!

Hasil yang tidak kalah penting, terutama buat para podcaster adalah: Konten dan fleksibilitas akses itu adalah hal yang paling dianggap menarik oleh para responden survey.

Apa artinya? Fleksibilitas akses jelas sangat berpengaruh. Podcast adalah platform yang mudah dikonsumsi dan bisa disambi mengerjakan hal lain. Pas buat generasi multi tasker!

Tapi yang sangat amat tidak kalah penting kalau tidak bisa dibilang paling penting di atas segalanya adalah: KONTEN!

Cuy, lo mau pakai alat canggih yang menghasilkan kualitas audio podcast cring super bening banget pake stereo kiri kanan atas bawah, kalau konten lo kosong, percuma.

Sebaliknya, rekam podcast pakai ponsel tapi konten lo bagus, tentu akan jauh lebih menarik. Banyak contohnya!

Jadi, gue tetap pada pendapat gue setiap kali ada yang bertanya: “Bang, gue bikin podcast tentang apa ya?”

Gue akan selalu jawab:

Mulailah dari apa yang lo tau dan jangan sok tau!

Terus ketika ada yang tanya: “Bang, konten yang bagus kayak apa ya?”

Gue akan jawab:

Konten yang lo tau, dan bukan konten yang sok tau! 

hehehe!

Masih banyak data menarik lainnya soal podcast ini. Silahkan unduh aja di: https://dailysocial.id/post/laporan-dailysocial-penggunaan-layanan-podcast-2018

Angkat topi buat Daily Social yang sudah merintis survey ini.

 

Salam,

Rane

Mesin Cuci Portabel Ini Keren Banget

Gambar diambil dari sini.

Sejak mesin cuci kami rusak, ritual mencuci dilakukan dengan mesin manual pemberian Allah SWT (baca: dua tangan) hehe. Karena tidak kuat, harus menyewa orang untuk mencucinya. Yang saya tahu, tidak semua orang puas memakai mesin cuci, karena mereka dengan terang-terangan berkata, "Cuci baju pakai mesin tidak bersih!" Oh, ya, mungkin untuk baju-baju tertentu seperti baju bocah usia aktif yang masih mau bermain permainan tradisional. Waktu masih kecil saya sering diomeli karena setiap sore pulang dari bermain kondisi baju saya (terutama celana pendek) kayak habis berendam di lumpur.

Baca Juga:

Sekarang di rumah saya sudah tidak ada lagi bocah. Otomatis sudah tidak ada lagi pakaian yang kotornya terhakiki di dunia. Baju-baju yang kotornya tidak seberapa, lebih didominasi keringat, tidak membutuhkan gerakan mengucak dan menyikat memakai tenaga Hulk. Mamasia tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengucak dan menyikat pakaian; kecuali celana jin yang memang kudu disikaaaat sampai puas.

Tapi bagi siapapun di luar sana, kondisi tidak adanya bocah di rumah bukan berarti tidak membutuhkan mesin cuci (bocah sekarang pun mainnya serba bersih dan resikonya bukan baju yang kotor tapi kesetrum :p). Beberapa rumah tangga masih sangat membutuhkan mesin cuci, terlebih jika semua anggota keluarga berkarir di luar rumah. Bukannya sombong, tapi mereka tentu sangat menghargai waktu. Jika mencuci manual membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, maka mencuci menggunakan mesin cuci tentu menghemat waktu dan tenaga. Waktu berkualitas menjadi lebih banyak dengan anak-anak bila mencuci menggunakan mesin cuci. Tinggal setel, masukkan baju, pergi bermain dengan anak, beberapa jam kemudian baju tinggal dijemur. I am so fvckin crazy with that automatic machine wash!

Kira-kira demikian.

Kalau hidupnya masih ... errr ... single, Teh? Boleh juga pakai mesin cuci. Tapi kalau masih belum menemukan jodoh (ini lebih sopan kan bahasanya) dan/atau anak kos, kenapa tidak coba menggunakan mesin cuci portabel? Harganya lumayan mahal, bentuknya imut (banyak yang mirip droid), dan ukurannya kecil. Cukup untuk keperluan mencuci pakaian sehari-hari.


Yang pertama ada The EchoWash dari Avalon Bay. Sering lihat mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki? The EchoWash dioperasikan dengan tangan loh. Kayak mol daging begitu hehe. Waktu yang dibutuhkan untuk mencuci menggunakan The EchoWash hanya dua menit. Informasi lebih lengkap tentang mesin cuci yang satu ini, termasuk jumlah/berat pakaian serta takaran air dan cairan pencuci, silahkan kunjungi situsnya.


Kembali lagi ke mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki. Oke, ini yang kedua dalam pos ini, yaitu Drumi. Kenapa namanya Drumi? Menurut analisa ngawur saya; karena bentuknya mirip drom dan droid haha. Tata caranya sama dengan The EchoWash, hanya saja pengoperasiannya menggunakan kaki. Mirip ... mirip ... saat kita mengayuh pedal sepeda. Untuk dua kilogram pakaian (pakaian yang bahannya ringan/tipis) membutuhkan waktu mencuci hanya lima menit saja.

Dan yang berikut, oke yang ketiga, adalah Scrubba Wash Bag. Namanya saja tas mencuci, bentuk awalnya itu kecil banget:


Kalau dibutuhkan baru dibuka. Jadi Scrubba Wash Bag ini juga bagus untuk dibawa bepergian. 


Pilih mana: membawa banyak baju untuk dua minggu perjalanan atau membawa baju seperlunya untuk dua minggu perjalanan ditambah Scrubba Wash Bag? Pasti pilih yang kedua donk hehe. Praktis! 

Dari ketiga mesin cuci portabel di atas, saya lebih memilih Scrubba Wash Bag (meskipun tidak harus membelinya) karena sangat bermanfaat baik di rumah maupun saat bepergian. Terutama bepergian, ya itu tadi, dapat menghemat space karena tidak perlu membawa teralu banyak baju. Ya ya ya, kalau cuaca di tempat tujuan kita selalu cerah. Kalau mendung sih ... ke laundry saja cepat keringnya haha.

Semoga bermanfaat, kawan!


Cheers.

Cerita 7 Tahun Lalu di Asean Blogger



Gara-gara Asian Games 2018, saya jadi ingat Asean Blogger 2011. Sabar dulu. Itu Asian dan Asean, beda? Ya jelas beda, satunya pakai 'I' satunya pakai 'E'. Asian merujuk pada negara-negara di Benua Asia, sedangkan Asean merujuk pada negara-negara di Asia Tenggara sesuai kepanjangan Asean yaitu Association of Southeast Asia Nation (Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara). Jelas, Asian Games tidak sama dengan Asean Games / Sea Games. Asian tidak sama dengan Asean.

Baca Juga:

Balik lagi soal Asian Games 2018 yang mengingatkan saya pada Asean Blogger 2011 ...

Pada tahun 2011 Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan Konferensi Asean Blogger Community (ABC) atau Asean Blogger Community Conference I. Pertama! Kalau di serial-serial istilah pertama ini disebut pilot (episode pilot). Kalau di komentar pos blog istilah komentar pertama ini disebut pertamax. Hehe. Kegiatan Konferensi ABC dilaksanakan selama dua hari di Museum Pasifika Nusa Dua - Bali, bersamaan dengan KTT Asean yang juga dilaksanakan di Nusa Dua - Bali. 


Hari pertama kegiatan Konferensi ABC 2011 dibuka oleh Menteri Kominfo saat itu yaitu Bapak Tifatul Sembiring dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Duta Besar yaitu Bapak Hazairin Pohan. Kalimat terakhir Bapak Tifatul menutup speech kira-kira seperti ini: ikan hiu minum es puter, thankyou and see you later! Hehe. Tapi intinya adalah pemerintah mendukung para blogger dan ide-iden kreatif mereka demi perkembangan dan kemajuan IT di Indonesia.

Bunda Injul, Bang Agus, Nona Dita, Dari Kamboja, Ehem, Dari Malaysia.

Dimoderatori oleh Om Onno W. Purbo, Kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan blogger dari setiap negara yang mengikuti Konferensi ABC terkhusus dari negara-negara selain Indonesia yaitu dari Thailand, Kamboja, Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, Myanmar, Philipina, Laos, dan Vietnam. Bagaimana dengan peserta dari Indonesia? Terlalu banyak untuk memperkenalkan diri satu per satu, gengs. Hehe. Rata-rata peserta Konferensi ABC memang dari Indonesia. Termasuk saya.


Selain materi dari Mas Donny BU dari ICT Watch Indonesia, peserta kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok. 1 2 dan 3 kumulai membacaaaa surat cintaku yang pertamaaaa membikin hatiku berlomba. Masing-masing tiap tiga kelompok itu ditugaskan untuk mencari, menemukan, dan memberikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh para blogger. Waktu itu saya sekelompok sama Bang Agus Lahinta, teman ACI Detik Com 2010, dosen Universitas Gorontalo yang empunya Rumah Karawo itu.

Acara hari pertama Konferensi ABC 2010 memang padat banget. Setelah mempresentasikan hasil tugas masing-masing kelompok, dilanjutkan dengan talkshow dengan moderator Om Onno yang menampilkan banyak orang-orang hebat seperti Endah Nasution yang dikenal sebagai Bapak Blogger Indonesia, Mike Orgill dari Google yang gantengnya bikin baper setahun, Bapak Nukman Luthfie yang paling saya suka karena gayanya yang keren kalau menyampaikan materi, Shinta Bubu, sampai Mas Anggara Suwahju idola saya karena kalau bicara soal hukum paling senang saya sama paparan beliauuuuu.

Masih lanjut? Masih! Kan sudah saya bilang padat bangetttt. Masih ada deklarasi dan terakhir gala dinner. Oh Tuhan, keren sekali itu para penarinya! Yuhuuuu saya termehek-mehek.

Malam itu usai gala dinner saya dan beberapa teman dipandu oleh Mas Antonemus tidak kembali ke PopHaris Hotel melainkan ke sebuah lokasi/kafe di daerah Seminyak untuk menyaksikan pertunjukan maha kece di sana dan bertemu dengan Dialog Dini Hari. Oh, crappp di mana CD album Dialog Dini Hari itu sekarang?! Teman-teman lainnya memilih untuk pergi ke Pantai Kuta, beberapa lagi mungkin kembali ke hotel.

Hari kedua Konferensi ABC 2011 kami diajak berwisata ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park yang mana saat itu pengerjaan patungnya belum selesai. Nonton bermacam pertunjukan, makan-makan, haha hihi, foto-foto, sampai puas, lantas kembali ke hotel.


Masih banyak cerita dari Konferensi ABC 2011 tapi kalau ditulis semua jari saya menjerit kesal. Tapi saya masih ingin berbagi cerita lain ... bahwa dari kegiatan itu saya kembali bertemu Arie Pitax alias Goiq yang menghadiahkan saya kaos Mama Cake, saya bisa bertemu kembali Nike Rasyid yang pernah mengirimi saya buku Honeymoon with my Brother dan syal rajutan, pada akhirnya bertemu Ollie yang telah lama saya kagum padanya dan Nulis Buku *cie*, bertemu lagi sama Kang Iwok Abqary dan bisa haha hihi seperti biasanya kalau kami bertemu, bertemu sama Bang Agus Lahinta dan Nona Dita dari ACI Detik Com, jelasnya bertemu Bunda Injul, abang paling baik yang saya panggil Om Bisot, dan kakak paling baik Mami Vi3 yang rela menyeberang dari Banyuwangi ke Bali ha ha ha. Jadinya Kopdar Blogger Family donk kita :D

AWEEEEEESOME!


Makan malam di Pantai Jimbaran dan merusuhi pengamen itu paling seru lah *ketawa raksasa*

Demikianlah Asian Games 2018 mengingatkan saya pada Asean Blogger 2011. Padahal Asian dan Asean itu beda. Saya masih sempat bertemu kembali dengan teman-teman blogger dalam kegiatan-kegiatan lain seperti Blogger Nusantara di Makassar (kegiatan kedua) dan beragam FGD yang diselenggarakan oleh ICT Watch atau Internetsehat. Bahkan saya masih menjadi salah seorang sutradara dari video Linimassa 3 oleh ICT Watch.

Ollie, Nona Dita, Ehem, Goiq.

Dan ...

Waktu berjalan begitu cepat, bukan?


Cheers.

Tantowi Ahmad Dan Liliyana Natsir Jadi Duta Jam Tangan Tissot Di Asian Games 2018


Asian Games 2018 masih berlangsung dan salah satu olahraga yang menjadi favorite saya adalah Bulutangkis. Dulu, hampir setiap minggu saya disuguhkan pertandingan antar RT atau Desa. Om saya adalah salah satu peserta. Om adalah adik paling bungsu dari Ayah saya. Jangan ditanya apakah  Om saya bisa bermain atau tidak, tapi tanya bagaimana semangatnya saat bertanding melawan RT sebelah. Keriaan dan kemeriahan inilah yang masih melekat hingga sekarang. 

Selain menonton pertandingan tiap malam, saya juga biasanya menyaksikan secara langsung pertandingan tepok bulu melalui televisi. Susi Susanti, Mia Audina, Taufik Hidayat, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, dan masih banyak deretan nama yang masih teringat hingga sekarang. Kini, pada Asian Games 2018, Indonesia bertumpu dengan Markus Gideon/Kevin Sanjaya, Gresya Polii/Apriyani/Rahayu dan Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir. 


Dalam Asian Games 2018, ketepatan waktu adalah segalanya. Bayangkan jika seluruh jadwal pertandingan yang ada di Asian Games berjalan tanpa adanya waktu yang tepat dari setiap cabang olahraga, maka segalanya akan berjalan secara tidak teratur dan berantakan. Betapa pentingnya sebuah ketepatan waktu. Selain ketepatan waktu, dibutuhkan juga skor, catatan waktu dan hasil pertandingan. Di Bulutangkis, ketepatan waktu menjadi penting untuk memulai sebuah pertandingan dan selama pertandingan. Atlet yang bertanding pun membutuhkan ketepatan waktu yang menjadi bagian dari strategi, kedisiplinan dan kemenangan. 


Beruntung saya bisa menyaksikan secara langsung pertandingan bulutangkis babak beregu yang kini memasuki babak akhir untuk perseorangan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pertandingan antara Indonesia melawan Hongkong. Gresya Polii dan Apriyani Rahayu berhasil menang menlawan ganda putri dari Hongkong dengan 2 set langsung. 

Idola saya lainnya adalah Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir adalah peraih medali di Olimpiade 2016 di Rio De Janerio, Brazil. Dan kali ini menjadi andalan Indonesia meraih medali emas di Asian Games 2018. Semoga bisa mendapatkan medali emas yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia. Aamiin.


Siapa yang tak kenal dengan Tissot, sebuah brand jam tangan yang memiliki nama yang sudah mendunia. Tissot dikenal sangat klasik namun sangat menyesuaikan kebutuhan seluruh usia. Jadi Tissot sangat memahami kebutuhan generasi milenial zaman now. Dan, pada Asian Games 2018 kali ini, Tissot dipercaya secagai Time Keeper, yang sangat penting dalam sebuah multievent terbesar di Asia ini. 

Tissot juga meluncurkan jam tangan yang merupakan edisi khusus Asian Games 2018 dengan brand ambassadornya adalah Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Kedua atlet ini selalu menjadi Idola saya karena konsistensinya dalam menjadi yang terbaik di Asia bahkan Dunia. Owi/Butet (sapaan akrab) adalah salah satu ganda campuran terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. 


Apa sih yang membuat Tissot selalu dihati? Saya menilai Tissot memiliki kualitas dan style yang klasik namun sangat kekinian. Jarang sekali jam tangan yang mampu memiliki style unik namun bisa memikat tanpa batasan usia. Swiss terkenal sebagai pembuat jam tangan tersohor di Dunia, nah Tissot ini merupakan brand dari Swiss sehingga teknologi dan stylenya pun sudah merupakan yang paling baik diantara lainnya. 

Selain, di lapangan bulutangkis, saya bisa melihat laangsung pertandingan renang yang kebetulan bersebelahan dengan Istora Senayan. Kita tahu bahwa ketepatan waktu yang dihasilkan dalam sebuah hasil pertandingan terutama renang ini pun sangatlah penting. Catatan waktu bukan hanya menit, namun bisa sampai pecahan waktu detik dan lebih kecil dari detik. So, Tissot sangat membantu dengan teknologinya sehingga tidak terjadi kesalah catatan waktu di kolam renang yang sudah berstandar Olimpiade ini. Wah, kece ya ternyata keberhasilan sebuah event pun terdapat brand yang sangat berkualitas seperti Tissot ini.



Setiap yang mendukung kelancaran Asian Games 2018 ini adalah sebuah kehormatan bagi Indonesia karena ini akan menjadi kesuksesan bersama sehingga Asian Games di Jakarta dan Palembang ini akan menjadi pesta olahraga yang tak akan terlupakan sepanjang masa. Bagi saya yang menyaksikan langsung tentunya menjadi hal yang tak terlupakan bahkan akan saya ceritakan kepada anak cucu nantinya, karena momen ini belum tentu bisa terulang dalam waktu yang relatif singkat. 

Terima kasih Tissot untuk ketepatan waktu yang diberikan selama Asian Games 2018 berlangsung. Yuk kita dukung kesuksesan Asian Games 2018 ini dengan terus mendukung Indonesia dan tetap sportif dengan kemenangan negara lain.  

Triplet ~ Part 22



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 22


 
~ Ende ~
14 Agustus 2015


Karena alasan topografis, hampir semua ruas jalan negara yang menghubungkan kabupaten atau kota di Pulau Flores sangat sempit dan berkelok-kelok (mengitari bukit). Kondisi tersebut diperparah oleh letak jalan yang hanya semeter-dua dari tebing dan jurang. Jika pengendara kendaraan bermotor tidak tangkas dan jeli, pilihannya hanya dua: menabrak tebing atau meluncur bebas ke jurang. Sisi positifnya, pemandangan alam sepanjang jalan negara di Pulau Flores selalu menimbulkan decak kagum pada siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Petak-petak sawah, air terjun, juga pantai, menjadi daya tarik tersendiri sehingga seringkali terlihat mobil sewaan atau bis berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kepada wisatawan mengabadikan panorama alam Pulau Flores. Kadang-kadang satu-dua wisatawan lupa waktu karena terlalu asyik mengajak penduduk setempat yang kebetulan sedang melintas, sambil mengusung kayu bakar, berbincang menggunakan Bahasa Indonesia yang patah-patah.
Mobil travel yang ditumpangi Atha dari Kota Maumere memasuki Kecamatann Detusoko. Mereka beristirahat sejenak di depan Terminal Detusoko.
Sejak berangkat ke Maumere beberapa hari lalu, mengantar Wati pulang ke rumah orangtuanya, Atha terus diserang pusing kepala. Meski tidak berlangsung lama, paling lama dua menit, namun jelas sangat mengganggu. Belum lagi dalam perjalanan pulang ke Ende dentuman musik yang disetel Hepe, sopir mobil travel langganan Atha, ingar-bingar menganiaya kuping.
Tak lama beristirahat di Detusoko, Hepe kembali melanjutkan perjalanan.
OPPO R1011 Atha berbunyi. Dia mengeluarkan gadget-nya dari dalam tas. Panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum,” sapa Atha. “Ada apa, Dib?”
Wa’alaikumsalam. Masih lama kau di Maumere?” tanya Diba dari seberang.
On the way home.”
“Bagus. Kau ditungguin tamu dari Jakarta.”
“Ha?”
“Sudah, jangan nganga begitu!” hardik Diba.
“Tamu ... siapa, Dib?”
“Hati-hati di jalan!”
~ KLIK ~
“Dasar,” umpat Atha. Dia menyimpan kembali gadget-nya ke dalam tas.
Siapa yang menunggu saya?
Tamu? Tamu siapa?
Ndoriwoi? Ah, Ndoriwoi kan dari Pulau Ende.
Atha tersenyum membayangkan Ndoriwoi berani mendatanginya. Pertemuan terakhirnya dengan Embu Rembotu telah menegaskan satu perkara: Ndoriwoi tidak akan pernah muncul di hadapan Atha lagi untuk jangka waktu yang sangat lama.
Hebat juga Ndoriwoi ... bisa membuat Embu keluar dari sarangnya yang nyaman untuk bertemu saya ...
OPPO R1011 kembali berdering. Lagi, panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumsalam. Langsung ke Shadiba’s Corner, Tha.”
“Oke.”
Atha membayangkan Toothless. Seandainya saja dia memelihara naga, mungkin saat ini dia sedang berada di atas naga yang terbang di atas petak-petak sawah, atap rumah penduduk, dan menyisir tebing.

xxXXXxx

Pukul 17.00 Hepe menghentikan mobil travel di depan Shadiba’s Corner. Ketika Atha menyebut Shadiba’s Corner saat melewati Pasar Wolowona tadi, Hepe tahu siapa yang akan dia antar paling akhir. Laki-laki yang telah belasan tahun menjadi sopir mobil travel dan kenyang dengan segala medan lintas Pulau Flores ini akan bersantai sejenak; ngopi-ngopi di kafe.
“Om Hepe, kalau mau minum kopi, nanti bilang ke kasir saya yang bayar, ya ...”
“Wah! Terima kasih!”
“Oh ya ... sekalian kalau mau makan ...”
“Iya, Atha. Terima kasih.”
Santai Atha berjalan melintasi galeri, menyapa Laila dan Imar yang sedang merapikan pajangan tenun ikat, menyapa kasir galeri Jenni, lantas membuka pintu ruang kerja Diba.
Assalamu’alaikum.” Selain aroma jeruk menyerang indera penciumannya, Atha juga diserang tatapan dua pasang mata yang seakan-akan hendak meloncat keluar dari rongganya, atau seakan-akan sedang melihat Malaikat Izrail. Melihat salah satu dari dua ‘tamu dari Jakarta’ itu, Atha tercekat.
Seketika suasana berubah hening.
Dejavu.
Wa’alaikumsalam,” jawab Diba dan Pram.
Senyum Atha mengembang. “Kau ...”
“Sharastha ...” bibir Pram bergetar. Bahkan tangannya pun bergetar saat bersalaman dengan Atha. Bertemu Atha, face to face, ternyata tidak berbeda jauh dari mimpinya. Atha: cantik, anggun, dan penuh misteri. Aroma tubuhnya pun seakan menyampaikan sesuatu yang terlampau dalam untuk dipahami oleh logika.
“Ini Pram,” Diba menjelaskan. “Dan ini ... Margaret! Margaret yang saya ceritakan itu, Tha.”
Atha melepas tangan Pram yang, masih, bergetar. Dia menyambut uluran tangan Margaret. “Halo, Margaret ...”
Pusaran menyedot Atha. Dia nyaris limbung jika tidak segera melepas tangan Margaret. Tanpa sadar dia berkata, “cinta bukan permainan. Cinta bukan sekadar kisah perjalanan ke tempat-tempat paling menawan di muka bumi ...”
Margaret tersentak. “... cinta adalah payung ...” ujarnya. “Bagaimana kamu tahu?”
Diba tergelak. “Karena dia dukun beranak, Margaret. Ha ha ha. Coba kau tanya sudah berapa orok yang dia tarik ke luar dari rahim?”
“Ha? Dukun beranak juga?” tanya Margaret.
“Bercanda, Margaret ... bercanda!” bentak Diba.
“Mau minum apa, Kak Atha?” Magda menawarkan minum untuk Atha.
“Air putih,” jawab Atha, lantas duduk di sofa.
Suasana hening sesaat membuat Diba tidak tahan. Bagaimana dia bisa tahan? Pram dan Margaret bertingkah mirip zombie insaf. Yang satu menatap Atha seakan-akan saudari kembar Diba itu baru saja selamat dari kecelakaan pesawat paling mematikan di atas udara Jerman. Yang satu lagi begitu terpana setelah melanjutkan kalimat Atha; cinta adalah payung ...
“Oke!” Diba menepuk tangan sekali, memberi efek ‘sadar’ pada Pram dan Margaret. “Ini dia Sharastha Pua Saleh. Kau sudah tanyakan dia sejak kalian masih di Jakarta,” katanya sambil menunjuk Margaret. “Dan kau,” dia menunjuk Pram “memang mencari dia untuk tujuan-tujuan mistik ... hik hik hik ... horor banget kan?”
“Hush!” Atha mengibas tangan.
Begitu banyak misteri tersebar di dunia ini yang membingungkan para ahli dan belum terungkap. Sebut saja Manuskrip Voynich, Patung Moai di Pulau Paskah, The Taos Hum di New Mexico, Segitiga Bermuda di Kepulauan Bermuda, Kapal SS Ourang Medan, bahkan senyum Monalisa pada lukisan karya Leonardo da Vinci. Semua misteri yang belum terungkap mengindikasi satu perkara dasar yakni keterbatasan manusia.
Begitu banyak misteri yang ditelusuri Atha, kemudian terungkap. Dia yakin hal ini mengindikasi satu perkara dasar pula yakni kekuasaan Allah SWT. Hanya Allah satu-satunya zat paling berkuasa yang menguasai keseluruhan jagad raya hingga sel makhluk hidup.
“Ada yang mau kau tanyakan, Pram?” tanya Atha.
“Kamu pasti sudah tahu apa yang mau aku tanyakan,” balas Pram.
Atha menggeleng. “Kau pikir setiap saat saya bisa melakukannya?”
“Tidak?”
“Tidak.”
“Tidak?” Diba nimbrung. “Bohong ...”
Atha tertawa kecil. “Kau itu, Dib.”
Pram mengusap wajah. “Kalau kamu punya kemampuan psikometri, tentu ada sesuatu yang membawa kamu pada aku, pada mimpiku,” tuduh Pram. Ketika tahu kemampuan Atha, dia memburu semua informasi tentang indigo, yang memperkuat pencariannya adalah cerita Diba soal kemampuan utama Atha. Psikometri.
Atha menghela nafas panjang. “Saya pikir tidak secepat ini karena belum tentu kau mau percaya. Hanya orang gila yang bertindak nekat memenuhi panggilan mimpi.”
Pram mendesah. “Sebenarnya ...”
“Ya, saya sudah tahu,” pangkas Atha.
Margaret cemberut. “Katanya tadi kamu nggak tahu.”
“Saya tahu ... bukan karena saya tahu. Saya juga bisa menggunakan kemampuan menganalisa, kok. Antara benda, mimpi, dan kenyataan,” balas Atha. “Tapi saya tidak yakin apakah kita harus membahasnya sekarang atau nanti. Apakah waktu bisa menunggu? Atau ... Apakah alam mampu men ...
“Jangan baca puisi, Tha,” pangkas Diba.
Refleks Atha mengeluarkan saputangan warna biru dari dalam tas. Benda ini selalu dia bawa ke mana pun dirinya pergi. “Kau kenal sapu tangan ini?”
Bagi Diba dan Margaret, saputangan yang dilambaikan Atha di depan Pram hanyalah secarik kain, tersedia hampir di semua toko pakaian, dan bukan benda penting. Setidaknya Situs Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Ende, jauh lebih penting dari saputangan ini.
Bagi Pram, secarik kain yang dilambaikan Atha bermakna dalam. Paru-paru Pram sedang menuju ledakan paling dahsyat. “Itu sapu tanganku!”
Diba dan Margaret terjungkal.
“Yang kau berikan pada ...?” tanya Atha.
“Prita!” Pram menerima saputangan dari Atha. “Prita pasti ...” nafasnya memburu.
“Mas Wawan,” ujar Atha seakan dua kata itu merupakan kata ‘Amin’ dari semua do’a yang didaraskan manusia kepada Tuhan.
“Mas ... Wawan?” tanya Pram.
“Mas Wawan?” Diba mengerut kening.
“Aku kok nggak tahu siapa Mas Wawan ini ...” desis Margaret.
Semerta-merta Diba bangkit dari kursi di hadapan meja kerjanya. “Saya tahu! Saya tahu sekarang! Itu saputangan Pram yang dikasih pada Prita ... dan Prita memberinya pada Mas Wawan! Lantas ... hei, Tha, untuk apa Mas Wawan kasih kau saputangan itu?”
“Jatuh di ruang makan,” jawab Atha.
Diba menggaruk kepala. “Lantas, apa hubungan Prita dengan Mas Wawan?”
Astaghfirullah,” gumam Pram. Dia terbangun dari mimpi—nampaknya. “Wira itu ... Wawan?”
“Wirawan Susanto,” ujar Atha.
“Wirawan Siswanto,” ujar Pram.
“Dia membaptis dirinya sendiri!” seru Margaret. “Dia ganti identitas.”
Pram menutup mulut seakan hendak menahan arus darah hasil ledakan di dalam paru-parunya. “Kita tinggal selangkah lagi. Kita hanya tinggal mencari di mana si Wawan ini ...”
“Kok mencari?” tanya Diba.
Pram menoleh. “Kenapa kamu nanya begitu, Diba? Tujuan aku mengajak Margaret ke Ende memang itu. Mencari laki-laki yang udah bikin hidup Prita menderita! Ya, selain memenuhi panggilan mimpi.”
Diba terkekeh. Atha tergelak.
“Wawan itu calon IPAR kami!” balas Diba dengan volume suara dua tingkat lebih tinggi dari teriakan Ahmad Albar.
Pram dan Margaret saling pandang. “Maksud kamu, dia calon suami dari mantan istrinya Bang Elf?” tanya Margaret.
“Sayangnya ... kau benar.” Diba mengaminkan.
Perjalanan hidup manusia benar-benar misteri. Pram tahu apa yang diajarkan Tuhan padanya dalam pencariannya ini. Bahwa kata ‘nyaris’ itu benar-benar ada. Nyaris bertemu Wira—Wawan saat mereka berada di rumah Ibrahim Pua Saleh si Juragan Tigabelas.
Pintu ruang kerja membuka. Magda berdiri di situ. Di belakang Magda nampak seorang perempuan berwajah cantik (namun lusuh).
Laprita Bachtiar.
Margaret buru-buru bangkit, hendak pergi ke kamar mandi. Pram menahan tangan Margaret agar mantan kekasihnya ini tidak menghindari Prita.
“Lepaskan,” bisik Margaret.
Pram pura-pura tidak mendengar. Dia ingin Margaret tidak lari.
Assalamu’alaikum,” sapa Prita. “Maaf, apakah aku mengganggu kalian?” santun, dia bertanya.
Melihat Prita, Atha segera bangkit. “Hai, Prita. Maaf kalau kalimat yang bisa saya katakan pada kau hanya tigabelas Maret duaribu tigabelas,” katanya, seakan mereka adalah kawan lama.
Prita limbung. Dia menarik tangan Atha. “Kamu  perempuan yang datang dalam ...” nafasnya terengah.
“Dalam mimpi. Ya. Itu saya,” jawab Atha. Belum sempat dia melanjutkan omongannya, dirinya tersedot. Darah dan kegelapan bak dwi tunggal. Dia melepaskan tangan Prita. “Maaf ... saya tahu itu menyakitkan.”
Oleh Pram, Prita diajak duduk diantara dirinya dan Margaret. Jelas, perbuatan ini kembali membangkitkan kemarahan singa yang sedang tidur.
“Halo, Margaret. Apa kabar?” sapa Prita. Lembut.
Margaret melongo. Baru kali ini Prita kembali menyapanya dengan normal, dan ... lembut ... setelah Paman Igi memutuskan hubungan mereka. Ke mana kah si pretty high class woman yang angkuh itu?
“Eh ... kabar baik,” jawab Margaret canggung.
Dari balik punggung Prita, Pram menatap Margaret. Tatapannya seolah berkata: lihat, apa aku bilang? Prita nggak sejahat yang kamu sangka kan?
Diba, sekali lagi, menepuk tangan. “Karena kalian semua sudah berkumpul, dan kita sudah tahu siapa yang harus diburu ... sudah saatnya kita susun rencana.”
“...”
“...”

“Andai saya diijinkan memelihara naga, rasanya semua masalah boleh teratasi.” – Sharastha Pua Saleh.
 


***
Bersambung

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai



Menjadi penulis bukan perkara mengedip mata atau melempar Thika dan Ocha ke kolong tempat tidur. Butuh proses yaitu berlatih terus-menerus tanpa henti. Menjadi penulis memang tidak mudah, apalagi menjadi penulis yang 'nyastra' seperti penulis-penulis favorit kalian. Saya masih belajar menuju.

Baca Juga:

Hari ini saya mengajak kalian mengenal sebuah buku, sekaligus penulisnya, yang mengangkat nama-nama sastrawan di Provinsi NTT, yang berjudul: Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai. Kalau boleh saya bilang, ini adalah buku kedua setelah buku sebelumnya Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Siapakah yang telah begitu gigih menulis tentang sastrawan dari NTT ini?

Beliau adalah Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. atau lebih akrab disapa Pak Yan. Nama Pak Yan bukanlah nama yang terkenal se-lingkup Universitas Flores. Sebagai dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Yan terkenal dalam skala nasional terutama di dunia literasi. Sudah banyak tulisan beliau yang dibukukan, telah banyak pula artikel tentang sastra yang beliau pos di blog pribadinya. Bagi saya beliau adalah mentor dalam dunia tulis-menulis dan berita. Beliau langganan kegiatan-kegiatan sastra dan literasi baik di NTT maupun di luar NTT.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai diterbitkan pada tahun 2017. Pengantar buku ini adalah Maman S. Mahayana dengan pembuka yang super menarik:

Kritikus yang besar ialah kritikus yang berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan seorang terhadap seorang. Ada pula kritikus yang suara dasarnya: "Aku lebih tahu!" memukul, menerjang kiri-kanan lalu datang dengan: "Mestinya begini, begini, begini" dan ia menjadi badut apabila pembaca yang kritis dan teliti pula mendapatkan bahwa yang "begini, begini, begini" itu tidak tepat, kurang benar atau sama sekali tidak benar. (H. B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, 1952, halaman 44-45).
[Yohanes Sehandi, 2017: vii]

Apabila kalian membaca daftar isi-nya, kalian akan tahu bahwa buku ini disusun dengan sangat terstruktur dan hati-hati agar pembaca mudah memahami 'apa' dan 'bagaimana' yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Bagian Pertama: Sastra Indonesia di NTT, Sejarah Sastra Indonesia di NTT, Kiprah dan Karya Sastrawan ~ NTT, hingga Perempuan NTT di Panggung Sastra. Pada Bagian Pertama ini, terkhusus judul terakhir, saya boleh sedikit sombong kan yaaaa ...


(Yohanes Sehandi, 2017 : 39)

(Yohanes Sehandi, 2017 : 40)


Disusul Bagian Kedua dengan tema umum Kritik dan Esai Sastra, serta Bagian Ketiga dengan tema umum Sastra NTT dalam Kritik dan Esai. Pada Bagian Ketiga ini muncul judul-judul seperti Menyelamatkan Tradisi Lisan Flores, 3 Juli Hari Sastra Indonesia, hingga G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer.

Membaca buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai menjadikan saya tahu dunia sastra di NTT sejak awal hingga sekarang. Bahkan, membaca bagian tentang perempuan NTT di panggung sastra, saya terkenang akan semua buku-buku yang pernah memuat tulisan saya baik buku sendiri maupun antologi bersama penulis lain. Bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Proses, proses, dan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.

Buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai dapat menjadi buku pilihan kalian di akhir pekan ini, apalagi bagi kalian para sastrawan NTT. Karena, meskipun kita tidak 'nyastra' dalam menulis tetapi setidaknya menulis dan hasil tulisan dibaca banyak orang merupakan pencapaian tersendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.