Arsip Bulanan: Februari 2017

The Passport Cafe, The Gate To The World


Tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling Dunia, namun ingin merasakan atmosfir asyiknya traveling menjelajah Dunia? Saya punya penawarnya, mampirlah ke The Passport Cafe, di Tangerang. Namanya juga Passport, tentu saja benda ini merupakan benda terpenting jika kamu ingin ke luar negeri. So, bersiap-siaplah menjelajah Dunia tanpa harus membeli tiket pesawat terbang, tempat menginap apalagi membawa bagasi dengan berat lebih dari 20 kilogram. Cukup dengan mengoyang lidah saja, Negara seperti Jepang, Jerman, Italia dan lainnya sudah kamu kunjungi. Luar biasa.

The Passport ini bisa dijangkau dengan berkendara kurang lebih 1 jam dari Statsiun Rawa Buntu, apabila kamu dari Jakarta. Apabila dari Tangerang, cukup kunjungi saja deretan ruko dalam perumahan Gading Serpong Summarecon. Atau alternatif terakhir, gunakan layanan ojek online atau taksi.

Konsep Cafe



Begitu masuk ke dalam Cafe, suasana klasik dan modern cukup terasa. Warna-warna gelap seperti hitam, cokelat dan abu-abu dipilih untuk mewakili kesan minimalis namun tetap modern. Furniturnya pun tampak menyesuaikan dengan warna dinding yang cenderung gelap. Memang karena letaknya di ruko yang terbatas sehingga suasana terasa agak sempit. Namun, begitu naik ke lantai 2, ruangannya menjadi sangat luas dengan beberapa meja besar dan kecil yang dipadupadankan. 

Saya tertarik dengan walls art dengan beberapa tulisan yang menghias sebagian besar dinding. Orang bilang sih, instagramable banget. Yup, sekitar 3 walls art ini mengangkat kopi sebagai teman terbaik pada saat mampir ke Cafe. Kembali lagi ke lantai satu, persis sebelum anak tangga, terdapat beberapa jenis biji kopi. Biji kopinya sebagian besar dari Sumatera dan Jawa sebagai salah satu penghasil biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia. 

"Coffee is always a good idea", salah satu walls art ini membuat saya ingin memesan sebuah kopi dan merasakan sensasinya, kemudian dari kopi ini timbul ide-ide terbaik. Bohong kalau saya suka kopi, namun lebih bohong lagi kalau saya tidak suka kopi. Memang saya pengemar rahasia kopi, orang lebih sering saya mengkonsumsi teh dari pada kopi. Namun, makin sering menikmati kopi, saya jadi suka. 

Selain Walls Art, terdapat pojok Eropa dengan ruang tamu lengkap dengan tungku perapian layaknya rumah-rumah khas benua biru. 

Aneka Makanan Dunia Di The Passport


Pilihan menu makanan sangat berangam, mulai dari menu Indonesia sampai belahan Dunia seperti Eropa dan Asia. Seperti saya yang mencoba Wagyu dan Panacota. Wagyu dengan eropan style ini memang sangat lezat, apalagi dengan saus dan sayuran membuat Wagyu ini sempurna. Namun, karena saya tak banyak mengetahui tentang Wagyu, saya hanya merasakan kelezatan daging yang dibakar dengan kematangan medium atau setengah matang. 

Panacota sebagai dessert ini memang menarik untuk dinikmati. Apalagi kelembeutan Panacota ini membuat lidah mearasakan sensasi manis yang sangat saya sukai. Mengenai minuman, pilihan kopi, teh, jus dan lainnya sangat beragam. 

Bagi yang berada di daerah Tangerang, sangat rekomen sekali The Passport Cafe. 

Informasi The Passport Cafe 

Alamat Lengkap :
 Jl. Ki Hajar Dewantara No. 39, Pakulonan Baru,
Kelapa Dua, Tangerang, Banten


MENIKMATI KUALITAS ACER ONE 10 DENGAN HARGA TERJANGKAU

Saya selalu percaya, kalau bekerja tangkas dan cerdas itu adalah salah satu jalan terbaik menuju sukses. Target yang kita tetapkan akan tercapai dengan rencana aksi yang efektif dan terukur melalui kerja cerdas yang kita lakukan untuk menggapai tujuan yang bermakna. That’s how success comes to our life! Sebagai Blogger sekaligus Sales Manager di perusahaan trading [...]

FILM JOHN WICK-2 : SANG “BABA YAGA” YANG BRUTAL DAN BERBAHAYA

jw2-1“Consider this a profesional courtesy!”

Demikian tegas John Wick (diperankan oleh Keanu Reeves) pada Cassian, sang lawan tangguh dan juga mantan koleganya sesama “hitman”, yang terduduk kaku diatas kursi kereta sembari meregang nyawa dengan belati tertancap di dada. John, lelaki yang dijuluki musuh-musuhnya sebagai “Baba Yaga” sang hantu mengerikan legenda negeri Slavia itu, berjalan tenang, keluar dari kabin kereta tanpa senyum sedikitpun. Dingin. Brutal. Taktis.

Itu adalah salah satu petikan adegan film John Wick-2 yang mengisahkan kelanjutan cerita sebelumnya yang berjudul sama dan ditayangkan 3 tahun lalu. Pada sekuel ini, John Wick kembali beraksi menghabisi musuh-musuhnya dengan cara yang cepat dan efiesien. Tembakan jitu ke arah kepala lawan menjadi ciri utama John dalam setiap pertempuran bersenjata.

Film ini diawali dengan aksi John mengambil kembali mobilnya, setelah pada film perdana, seorang anak muda putra mafia Rusia mencuri mobil sang “Baba Yaga” tersebut dari rumahnya.  Tak lama setelah itu, datang seorang mafia Italia, Santino D’Antonio (Ricardo Scamarcio) memintanya bantuan untuk menjalankan misi pembunuhan dengan mengeksekusi adik perempuannya sendiri, Gianna (Claudia Gerini), agar bisa meraih tampuk kepemimpinan bergengsi di wilayah kekuasaan mafia. John mencoba mengelak dan menyatakan telah pensiun dari dunia hitam pembunuh bayaran. Santino berdalih John memiliki utang jasa darinya. Atas nama kesepakatan masa lalu, John akhirnya setuju melaksanakan tugas tersebut. Seusai tugas dilaksanakan, kondisi justru menjadi kian runyam karena melibatkan berbagai pihak dengan beragam konspirasi pelik. Termasuk ambisi Santino yang juga ingin menghabisi nyawa sang “Baba Yaga”.

jw2-6

jw2-4

Sejak film dibuka, adrenalin penonton langsung dipacu dengan adegan laga ciamik yang dihadirkan John Wick melumpuhkan lawan-lawannya. Sebagai pemeran John, Keanu Reeves tampil memukau dan natural. Berbeda saat aksinya di serial film fenomenal “The Matrix” dulu yang terkesan flamboyan dan serius, di film ini karakter Keanu terlihat begitu kuat, tangguh dan temperamental. Berbeda dengan episode pertama, pada episode kedua ini kadar kekerasannya jauh lebih “tebal”, bertempo cepat dan sensasional. Bersiaplah menerima berbagai kejutan, kebut-kebutan mobil, aksi perkelahian mematikan jarak dekat,  termasuk cipratan-cipratan darah ke tembok yang berasal dari kepala yang tertembus peluru John.

jw2-5Tak sekedar melanjutkan bagian pertama serta menambahkan kadar kekerasannya saja, pada film kedua ini muncul karakter-karakter baru yang ikut mewarnai aksi John.  Salah satunya yang mencuri perhatian adalah sosok Ares (diperankan oleh Ruby Rose) pengawal perempuan bergaya tomboi Santino. Atau ada juga Laurence Fishburne yang memerankan sosok Bowery King. Film John Wick-2 ini seakan menjadi reuni bagi keduanya yang telah menjadi ikon fenomenal di film The Matrix.

Sutradara film ini , Chad Stahelski, yang juga pernah menjadi stunt double Keanu dalam  film The Matrix, mengeksplorasi peran dan karakter John sebagai daya tarik utama dengan menampilkan koreografi aksi laga yang memukau serta adegan tembak menembak yang seru dan menegangkan dengan tingkat akselerasi tinggi.  Semua diramu secara baik dan logis dalam alur kisah yang mengalir. Saya terpukau pada gaya Keanu yang dengan lincah dan tangkas mengganti senjatanya dari pistol ke senapan serbu atau sebaliknya–sesuai kebutuhan, saat menghadapi rombongan musuh didepan mata. Pun ketika aktor berusia 52 tahun ini berkelahi gesit dengan jurus beladiri gun-fu andalannya.

jw2-3Film berdurasi 122 menit ini memang menampilkan sosok jagoan yang humanis dan membumi. Ekspresi letih John Wick nampak begitu meyakinkan namun tetap penuh kewaspadaan mengantisipasi bahaya yang mengancam. Saya cukup puas menonton film dan tak sabar menanti hadirnya bagian ketiga aksi sang Jagoan“Baba Yaga”.