Cara Membuat Foto Panning. Nomer 3 Mungkin agak Sulit

“Pan” dalam bahasa fotografi adalah istilah ketika kita menggerakkan kamera pada satu poros dari kanan ke kiri, atau sebaliknya. Terlalu teknis ya bahasanya? Hmm, kalau bahasa yang gampang, pan ini gerakannya sama seperti saat kita menoleh. Masih bingung? Itu lho, kalau misal ada cewek cantik atau cowok ganteng (tergantung referensi seksual masing-masing), lewat di depan… Read More Cara Membuat Foto Panning. Nomer 3 Mungkin agak Sulit

KINGSMAN THE GOLDEN CIRCLE : AKSI KONYOL DAN HEBOH SANG AGEN RAHASIA REMAJA

Eggsy Unwin (Taron Egerton), sang agen rahasia remaja asal Inggris beraksi kembali.  Setelah sukses dengan Kingsman : The Secret Service (2015), pada edisi kedua kali ini, Eggsy berhadapan dengan musuh yang berbeda dengan episode sebelumnya.

Adegan langsung dibuka dengan tampilan kejar-kejaran mobil yang seketika memacu adrenalin penonton–seakan sebuah “janji” adegan berikutnya tak kalah serunya. Dan “janji” itu ditepati.

Markas besar Kingsman, tempat agen Eggsy bernaung bahkan rumahnya sendiri diledakkan hingga hancur berkeping-keping oleh Poppy Adams (Julianne Moore) pemimpin kartel narkoba dan obat-obatan terlarang yang psikopat dan bersembunyi di tempat terpencil.

Melalui protokol keadaan darurat, bersama sang mentor, Merlin (Mark Strong), Eggsy terbang ke Kentucky, Amerika Serikat untuk meminta bantuan pada Statesman, kolega mereka yang juga menjadi agen rahasia independen yang menyamarkan diri sebagai perusahaan produsen Minuman Keras. Pemimpin Statesman (Jeff Bridges) bergerak cepat dengan mengerahkan agen andalannya Ginger Ale (Halle Berry), Whiskey (Pedro Pascal), dan Tequila (Channing Tatum). Melalui penyelidikan intensif, lewat petunjuk lingkaran emas (golden circle), Eggsy memperoleh fakta mengejutkan bahwa Poppy memiliki rencana yang jauh lebih besar dan berbahaya. Eggsy dan kawan-kawan tentu tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Sejak awal dibuka, film ini memang memiliki “tempo” cepat, pergantian antar adegan berlalu sekejap sehingga dalam beberapa presentasi nyaris kehilangan esensi. Latar belakang Poppy sang penjahat psikopat, misalnya, tak dieksplore lebih jauh, padahal dengan kemampuan akting seorang Julianne Moore  yang mumpuni, bukan tidak mungkin ini menjadi salah satu daya tarik film ini. Termasuk pula aksi Channing Tatum sebagai sang Cowboy Tequilla serta Halle Berry sebagai agen Ginger Ale mendapatkan porsi kurang optimal.

Elemen humor dalam film ini begitu kental, namun saya sedikit kurang nyaman dengan humor bernuansa “dewasa” ketika Eggsy bermaksud mencari informasi terkait Golden Circle pada sebuah festival musik. Pun ada adegan sadis yang meski dikemas dalam bentuk joke ringan khususnya pada awal dan akhir film di markas Poppy, cukup membuat saya merinding ngeri. Dalam beberapa adegan terlihat humor yang dilontarkan terasa klise, namun ada pula yang membuat kita bisa tertawa terpingkal-pingkal. Ya, kehadiran, Elton John menjadi salah satu “daya betot” film berdurasi 141 menit ini. Gaya Elton John yang ekspresif dan narsis menjadi elemen “penyegar” dan membuat film ini menjadi lebih menarik.

Sebagai pemeran utama, Taron Egerton berhasil membangun chemistry yang bagus dengan jajaran pemeran lainnya seperti Colin Firth dan Mark Strong. “Dikepung” dengan artis-artis film Hollywood papan atas, Taron berhasil tampil gemilang sebagai sosok agen rahasia remaja yang nekad dan labil. Adegan-adegan aksi yang spektakuler yang mengalir sepanjang film ini juga patut diapresiasi. Matthew Vaughn, sebagai sutradara terlihat memang ingin menambah porsi adegan aksi tersebut lebih banyak dibanding film Kingsman sebelumnya.

 

Bunga Bangkai dan Rafflesia Arnoldi, Sebuah Perjumpaan Pertama Di Bengkulu


Saya belum pernah berjumpa dengan Rafflesia ataupun Bunga Bangkai. Sambil selalu melihat-lihat foto dan video kiriman dari teman yang telah menyaksikan secara langsung Puspa Langka yang habitatnya tersebar di Sumatera terutama Bengkulu. Dan, tak terpikir oleh saya bahwa saya akan menyaksikan bukan hanya satu melainkan dua puspa sekaligus yaitu Bunga Bangkai dan Bunga Rafflesia Arnoldi. 

Rafflesia, nama ini tidak asing ditelinga, bahkan seantero Indonesia dahulu pun sangat mengenal beliau. Dialah Sir Thomas Stamford Raffles yang menemukan bunga unik dan besar seperti bokor atau cawan penampung air. Sebetulnya seorang pemandu dari Indonesialah yang menemukan dalam rombongan ekspedisi bersama Dr. Joseph Arnold. Perpaduan dari dua Tokoh tersebut sehingga  salah satu puspa langka ini dijuluki Rafflesia Arnoldi. Bunga berdiameter sampai 100 cm ini dapat ditemukan di semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan dan Filipina.

Indonesia patut berbangga. Setidaknya 27 jenis Rafflesia, Sumatera memiliki 11 jenis dan 4 diantaranya terdapat di Bengkulu. Tak heran jika Bengkulu menasbihkan sebagai "Bumi Rafflesia" di Indonesia bahkan di Dunia. Bak cendawan di musim hujan, Rafflesia pun masih sering ditemukan tak jauh dari jalan raya diantara hutan. Bahkan jika masuk ke dalam hutan yang berjarak beberapa kilometer, sering ditemukan Rafflesia berdampingan antara jantan dan betina. What a wonderful Rafflesia.

Antri Melihat Rafflesia Arnoldi
Selain Rafflesia Arnoldi, Bengkulu memiliki 3 jenis lainnya yaitu Rafflesia Gatutensis Meijer, Rafflesia Hasseltii Suringar dan Rafflesia Bengkuluensis. Gatutensis Meijer dapat ditemukan di Bengkulu Utara dengan diameter 40-60 cm dan ditemukan oleh Meijer pada tahun 1984. Hasseltii Suringar merupakan Rafflesia paling cantik seperti cendawan merah-putih atau cendawan harimau. Spesies ini ditemukan oleh Suringar pada tahun 1979 dan dapat ditemukan di Kabupaten Lebong. Sedangkan Bengkuluensis, sesuai dengan namanya merupakan spesies yang ditemukan di tanah Bengkulu dengan diameter 50-55 cm. Bengkuluensis dapat ditemukan di daerah Taman Nasional Bukit Barisan, Bengkulu.

Bibit Rafflesia Arnoldi
Seperti mendapat durian runtuh, pada saat bus melaju dan kantuk yang mendera, sayup-sayup terdengar bahwa kami mendapatkan 2 bunga bangkai mekar sekaligus. Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus Titanum adalah nama latin kedua Bunga Bangkai tersebut. Masyarakat sering salah kaprah dengan kedua jenis bunga bangkai, bahkan sering menyamakan keduanya sebagai satu jenis. Kenyataannya sangat berbeda dan bahkan bentuknya pun berbeda. Rafflesia cenderung seperti bentuk bunga dengan 5 putiknya sedangkan bunga bangkai sangat tinggi sekitar 3 meter lebih. 

Saat laju bis makin pelan, saya menyiapkan kamera di dalam tas. Sementara teman-teman lain masih terlelap dalam mimpi masing-masing. Bis berhenti tepat di tengah hutan sekitar 2 jam dari kota Bengkulu. Kawasan ini masih termasuk dalam Taman Nasional Bukit Barisan sehingga untuk mencapai hutan ini pun mesti berkelok-kelok mengikuti bentuk jalan dan kontur tanahnya.


Kami turun dar Bis menuju hutan yang tak jauh sekitar 10 meter. Pada saat berada jalan menuju hutan, saya mendengar bahwa kami harus melewati 30 meter untuk sampai dan melihat Rafflesia. Wajah saya dan teman-teman berubah mengerut, tanda tidak percaya 100 persen apa yang dikatakan oleh pemandu kami. Namun, anggap saja betul bahwa jalan yang kami lewati nanti berjarak 30 meter.

Hutan tidak terlalu basah. Dan matahari memang dari tadi bersinar tak henti-hentinya. Cuaca memang mendukung kami untuk menyusuri hutan tanpa terkena lumpur yang basah akibat hujan. Berbeda dengan beberapa hari lalu yang sempat diguyur hujan dan membasahi permukaan tanah.

Bagai antri beras dan sembako, kami berbaris rapi berbanjar mengikuti jalur yang telah dibuat dua hari lalu ketika pertama kali Rafflesia mekar. Bunga ini hanya bertahan paling lama 5-7 hari saja. Semakin hari bunga akan layu dan kecantikannya pun turut lenyap. Beruntung, ini masih hari ketiga, bunga masih dalam keadaan segar.

Bunga Rafflesia sebetulnya tanaman parasit yang sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Dan tumbuhan inang Rafflesia adalah tumbuhan Liana yang digunakan untuk tempat membelit. Setelah itu kemudian dari tanah akan tumbuh tunas dan berubah menjadi bunga Rafflesia.


Setelah saya berjalan menurun mengikuti jalurnya, akhirnya terlihat juga bunga Rafflesia. Dan, ini pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri Bunga Rafflesia yang selama ini saya idamkan. Diameter perut saya yang lebar ternyata masih lebih lebar diameter Bunganya, dan ini yang membuat saya merasa bahagia. Rafflesia ternyata masih lebih gemuk dibandingkan saya ya. Mohon diabaikan saja ya, hahaha.


What a lucky day for me. Sangat beruntung sekali karena dalam satu hari, saya bisa melihat langsung Bunga Bangkai atau Amorphophallus Titanum. Sebelumnya rombongan kami berhenti terlebih dahulu di danau Mas Harun Bestari sebelum mengunjungi habitat bunga bangkai.

Sama dengan Rafflesia Arnoldi, Bunga Bangkai termasuk Puspa Langka dan sangat dilindungi, bahkan telah masuk dalam konservasi sehingga keberlangsungan bunga bangkai ini bisa di jaga. Berbeda dengan Rafflesia yang harus melewati beberapa puluh meter, saya hanya turun beberapa anak tangga dan bunga bangkai terlihat dengan jelas.


Dari atas tunas bunga sudah terlihat dengan jelas dan terlihat tidak begitu besar. Namun, ketika saya berdampingan dengan bunga, saya tak dapat menandingi tinggi yang mencapai sekitar 3 meter lebih. Bunga Bangkai selain di Sumatra, juga terdapat di Istana Bogor, namun saya belum pernah menemukan Bunga Bangkainya secara langsung.

   
Setelah layu, Bunga Bangkai akan tumbuh tunas-tunas atau bibit kecil sebagai cikal bakal tumbuh bunga bangkai kembali. Secara detail bisa dilihat di bagan berikut ini.

Siklus hidup Bunga Bangkai memang sangat lambat bahkan bisa ber tahun-tahun untuk mendapatkan bunga kembali. Oleh karenanya, kita wajib bersyukur dapat melihat bunga langka dalam waktu satu hari. Orang lain pun belum tentu seberuntung dengan yang saya lihat. Dan, kita patut berbangga dan melestarikan puspa langka yang menjadi identitas sebuah bangsa.


Bak seorang artis, Puspa ini menjadi serbuan blogger dan influencer dari beberapa daerah di Indonesia. Inilah Bengkulu, Inilah kebanggaan kita semua sebagai "Bumi Rafflesia".

Suarane Episode 7 – Dari Radio, Podcast, ke Night School

Episode ke 7 ini berisikan review terhadap podcast “Night School” dari sebuah radio independen di Malaysia. Kali ini gue ditemani oleh Hertoto Eko Prasetyotomo (Toto), seorang profesional asal Indonesia yang bermukim di Singapura, seorang penggemar podcast dan juga pernah jadi penyiar radio di Indonesia.

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Yousuf Karsh, Pengungsi yang Menjadi Fotografer Ternama

Beberapa hari yang lalu saya sempat melihat video dari Al Jazeera tentang Halima Aden, seorang model yang dulunya pernah hidup di penampungan pengungsi. Lalu saya teringat dengan Yousuf Karsh, seorang portrait photographer terkenal yang saya sukai hasil karyanya. Dia adalah penyintas (survivor) dari peristiwa Armenian Genocide yang dilakukan oleh Kerajaan Ottoman atau yang sekarang dikenal… Read More Yousuf Karsh, Pengungsi yang Menjadi Fotografer Ternama

Menjadi Warganet yang Baik, yuk!

Teman-teman yang usianya 30 tahun ke atas, dalam suatu masa pasti ada yang pernah ‘diancam’ pakai kalimat, “Maemnya dihabisin, kalau gak dihabisin nanti ayamnya mati!” Saya mendengar kalimat itu dulu waktu di rumah eyang, di Karanganyar, Solo. Entah siapa yang mengucapkan, tapi yang jelas ucapan itu ditujukan ke kami, anak-anak kecil setengah tak berdosa yang… Read More Menjadi Warganet yang Baik, yuk!

Suarane Episode 6 – Miss Boa on BBM

Ini segment baru podcast Suarane bertajuk BBM (Belajar Bareng Mputtt) yang merupakan bagian dari tugas homeschooling Neng Mput (putri saya) untuk belajar wawancara. Tugas pertamanya adalah mewawancarai guru lesnya yang juga mahasiswi S3 di Thailand. Enjoy

Music used in this episode:
Pixelland by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License