Jalan-jalan Nyaman Dengan OB Herbal Ziplong


Selain masuk angin, hal yang menganggu ketika jalan-jalan atau traveling adalah batuk. Belum lagi ketika perjalanan jauh dengan kereta api atau pesawat dan mengharuskan kita untuk istirahat malah harus terganggu dengan hal sepele tersebut. Banyak yang menyepelekan batuk, namun ternyata batuk dapat menjadi peringatan tubuh akan kondisi yang sebenarnya terjadi seperti penyakit lain seperti flu, demam dan lainnya. 

Saya pun memiliki pengalaman buruk dengan batuk terutama pada saat traveling ke luar negeri. Waktu itu musim dingin di Jepang. Saya kira musim dingin bisa ditahan dengan hanya berlapis satu dengan jaket tipis, ternyata saya keliru. Dingin dengan suhu sekitar 9 derajat celcius pun bak ditusuk-tusuk es batu sampai ke tulang. Mulanya saya yang meremehkan udara dingin ini mulai berdamai dan menebalkan pakaian sampai 4 lapis mulai dari heattech t-shirt, kaos, sweater dan winter coat


Hari pertama dan kedua saya masih merasakan kedinginan, setelah itu semuanya berjalan lancar sampai seminggu kemudian saya terserang gejala flu dan demam, bahkan sinus pun menyerang. Tak hanya itu saya terserang batuk. Tentu saja jalan-jalan jadi sangat terganggu bahkan saya memerlukan waktu istirahat yang lebih dan menghilangkan beberapa tempat wisata yang harus saya kunjungi. Bayangkan betapa menyesalnya saya harus merelakan waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Saya harus berbaring di ranjang, untung saja ruangan di hostel yang saya tinggali ini hangat, jadi batuk dan gejala penyakit lain untuk sementara bisa diredam. 

Setelah mengkonsumsi jahe, gejala batuk dan sinus mulai mereda. Ditambah dengan istirahat yang cukup, badan saya sudah sangat nyaman untuk melanjutkan agenda jalan-jalan yang tertunda.

Sebetulnya batuk bukan merupakan penyakit, namun lebih sebagai reflek proteksi tubuh untuk memberikan jalan nafas ketika terpapar oleh lendir atau partikel kecil lain seperti asap atau debu agar proses bernafas berjalan dengan lancar. Nah, dengan mengkonsumsi obat batuk inilah dapat memperlancar dan melegakan proses bernafas ini. Sering kali ketika batuk melanda, bukan hanya obat batuk saja yang dikonsumsi melainkan obat-obatan lain yang tidak terkait dengan batuk seperti antibiotik yang dosisnya tidak sesuai. Kita tidak tahu apa yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi antibiotik dan obat-obat keras lainnya. 


Ada baiknya memahai seperti apakah jenis-jenis batuk yang sering menyerang. Pada dasarnya batuk dibagi menjadi dua jenis yaitu batuk kering dan berdahak. 

Batuk Kering

Batuk kering merupakan batuk yang tidak mengeluarkan dahak atau lendir. Penyebab dari batuk kering antara lain disebabkan oleh penyakit yang disebabkan oleh virus, bronkospasme, alergi, obat darah tinggi, asma, asap, debu dan lainnya.

Batuk Berdahak

Batuk berdahak merupakan batuk yang mengeluarkan dahak baik yang dapat dikeluarkan ataupun sulit dikeluarkan. Dahak biasanya berasal dari hidung atau paru-paru. Peyabab dari batuk berdahak biasanya disebabkan oleh penyakit akibat virus, infeksi, penyakit paru-paru kronis, asam lambung naik, nasal discharge dan merokok atau mengunakan tembakau. 

Kedua batuk tersebut sangat berbeda pengobatannya, bahkan kita sering disuguhkan dengan dua obat batuk berbeda. Memang benar bahwa kedua jenis batuk ini berbeda, namun apakah bisa disembuhkan dengan satu obat saja? Jawabannya bisa. 


Obat Batuk Ziplong mejawab semua permasalahan obat batuk selama ini. Ziplong dapat mengobati batuk kering dan berdahak sekaligus. Disamping itu, Ziplong mengandung bahan herbal sehingga aman dikonsumsi baik bagi anak-anak, dewasa dan lanjut usia. Kandungan jahe memberikan kehangatan, madu dan kencur menambah stamina tubuh, herba timi membantu mengeluarkan dahak, akar kayu legi mengurangi lendir dan daun melegakan pernafasan. Wah, lengkap sekali Ziplong ini, cukup dengan satu sachet isi 12 mililiter, batuk hilang dan tenggorokan lega. 

lalu apa saja Keunggulan Obat Batuk Herbal Ziplong dibandingkan dengan obat lain? Ini dia beberapa keunggulannya. 

Herbal

Seperti yang sudah diketahui, Ziplong adalah obat batuk herbal yang mengandung banyak bahan alami seperti jahe, madu, kencur, akar kayu legi dan lainnya. 

Dapat Meredakan Dua Batuk Sekaligus

Batuk kering maupun berdahak akan segara menghilang dengan Ziplong. Ziplong mengandung bahan alami sehingga mampu mengobati kedua batik tersebut tanpa efek samping apapun.

Mudah Disimpan dan Dibawa saat Traveling

Kemasan Ziplong hanya berisi sekitar 12 mililiter sehingga sangat kecil sehingga sangat praktis dibawa kemanapun termasuk pada saat traveling. Kalau dibawa di kabin pesawat bagaimana? Jangan khawatir kemasannya sangat kecil, maka bisa dibawa kabin pesawat dengan aman. 


Candil, pelantun lagu Rocker Juga Manusia terpilih menjadi sebagai brand amabssador dari Ziplong. Candil yang memiliki suara khas melengking dan tinggi ini memang pantas menjadi icon dari Ziplong. Suara melengking dan tak putus-putus ini mengindikasikan bahwa batuk tidak akan menganggu aktivitas seorang penyanyi bahkan pada saat sela-sela konser pun Candil masih bisa minum ziplong karena kemasannya yang kecil. 

Kalau saja pada saat di Jepang saya sudah mengenal Ziplong, pasti saya sudah membawa banyak untuk stok selama di sana. Kalau batuk di Ziplong aja ya kan?  





mohon bersabar ini ujian

Konon di sebuah tempat entah berantah, seorang guru memberi ujian mengenai kapan muridnya itu layak lulus dengan metode yang unik. Ia berpesan: "Kamu boleh membaca semua buku yang ada, kecuali buku...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

July 2017

  • 23/07 – Podcast Suarane Episode 4 sudah upload. Laporan utama episode ke 4 ini ngobrol panjang lebar dengan seorang podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi. Simak juga beberapa ulasan peristiwa yang lagi trend di media sosial kita dan satu rekomendasi keren untuk para pecinta podcast.
  • 21/07 – “Nenek Nurlis dan Mas Beno” sebuah kenangan untuk dua teman pendengar yang baru seja mendahului menghadapi yang Maha Kuala. Semoga tenang di sisiNya.
  • 20/07 – Ketemu lagi artikel yang selama ini sumber aslinya tidak bisa lagi diakses. Untung ada yang mengarsip. Sekalian diarsip juga di sini deh: Radio Internasional Masa Lalu dan Masa Kini.
  • 10/07 – Banyak yang tanya apa itu podcast Suarane, gimana cara dengarnya dll. Untuk menjawab itu jadilah page baru ini. Silahkan..
  • 08/07 – Episode ke tiga podcast Suarane. Ada tiga segmen, dengan segmen utama obrolan dengan penulis buku “Bangkok Rasa Lokal”, sebuah buku traveling yang menggunakan sudut pandang yang menarik. Dengar di sini dan cerita behind the scene di sini.
  • 05/07 – Update halaman About di blog ini. Baru sadar sudah sejak tahun lalu belum diperbaharui.
  • 04/07 – Exactly one month ago today I set foot in the Land of Smiles. Ini bukan pengalaman pertama saya ke Thailand, karena beberapa tahun lalu pernah dikirim untuk tugas liputan dan juga untuk tugas lain terkait pekerjaan. Tapi pastinya ini pertama kali saya menetap permanen di sini. Satu bulan saja sudah banyak pengalaman menarik dan semoga akan banyak lagi cerita dan pengalaman yang bisa saya tulis di blog ini.
  • 03/07 – Setelah sebulan saat Ramadhan hadir hampir setiap hari Podcast Suarane kembali ke frekuensi semula yaitu setiap dua minggu. Episode pertama siap hadir hari Sabtu (08/07) nanti, salah satunya hasil ngobrol-ngobrol dengan dua penulis buku “Bangkok Rasa Lokal,” sebuah buku traveling unik yang anti-mainstream 🙂
  • 02/07 – Satu bulan terakhir, tepatnya selama Ramadhan saya bereksperimen “puasa media sosial” dan semua saya laporkan dalam bentuk podcast singkat yang saya sebut “Podcast Extra”. Playlist lengkapnya ada di sini, atau bisa akses langsung di Soundcloud di sini.
  • 01/07 – July pun hadir. Welcome! Looking forward to a great month in a new city. The Family is joining soon, so can’t wait.

~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.

Tujuan, Peta dan Kompas

Sebenarnya gak tega merusak kesenangan seorang kawan yang sedang begitu bersemangat meningkatkan segala sumber dayanya demi kemajuan. Tapi sebagai sahabat gue tetap wajib memberitahunya... Bro, elo...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

BERKUNJUNG DAN BERDISKUSI DI KANTOR UC WE-MEDIA

uaca di Jakarta terlihat begitu bersahabat saat saya memasuki lobi DBS Bank Tower Ciputra World kawasan Mega Kuningan, Kamis (27/7) siang. Setelah menukar kartu identitas dengan ID Card khusus, saya lalu menuju ke lantai 21 lokasi kantor UC Web We-Media untuk memenuhi undangan berdiskusi bersama tim UC News We-Media mewakili kontributor konten “lifestyle”. Sebagaimana sudah [...]

[Klipping] Sebuah Radio, Kumatikan

Penulis: Wicak Hidayat
Kompas, 10  Mei 2016

Perjalanan panjang, baik di kendaraan pribadi atau umum, memang lebih asik kalau ditemani musik. Di kereta Commuterline Jabodetabek, bukan hal istimewa lagi melihat penumpang dengan kabel terjuntai dari telinga mereka.

Sedangkan mobil pribadi di Jabodetabek mungkin sekarang ini adalah habitat paling subur untuk radio siaran. Pagi dan sore, saat macet menggiring manusia menjadi sakit jiwa, siaran radio jadi pereda dendam.

Begitu juga saya, dalam perjalanan mengantar anak sekolah, siaran radio tadinya adalah hiburan yang cukup menyenangkan. Garisbawahi kata “tadinya”, karena belakangan ini radio kami lebih sering mati.

Radio siaran adalah rezim, ia mendikte pendengarnya untuk mengikuti selera tertentu. Jika penyiarnya tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tak pantas didengar anak-anak? Saya cuma bisa tersedak dan buru-buru beralih ke frekuensi lain.

Maka sudah cukup lama saya merasa, rezim ini perlu digantikan. Sudah bisa diduga, gantinya adalah streaming musik digital.

Layanan streaming menjanjikan pengalaman yang berbeda, karena pendengar bisa memilih sendiri apa yang mau didengarkannya. Ya, dulu itu dilayani CD, kaset atau pemutar musik digital, tapi karena sekarang katalognya ada “di awan” maka pilihannya nyaris tak terbatas.

“Hei, ingat lagu yang kita suka dengar di warnet itu? Dulu, sambil mengerjakan tugas kuliah,” celetuk saya pada pasangan, ceritanya mau nostalgia gila masa-masa pacaran.

Tak perlu lama, aplikasi streaming musik bisa menghadirkan lagu itu langsung di saat itu juga. Harapannya, bersama dengan itu hadir pula kenangan manis kesibukan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama (dan bukan kenangan pahit saat menunggu sendirian di warnet berjam-jam untuk seseorang yang akhirnya tidak jadi datang).

Maka sekarang, rutinitas pagi di mobil adalah memasang smartphoneke kabel charger, menyalakan bluetooth dan mendengarkan lagu dari Bluetooth speaker. Ah, ya, radio mobil kami memang masih bawaan pabrik, bukan dari jenis yang bisa ditautkan via Bluetooth.

Teringat judul puisi Dorothea Rosa Herliany: Sebuah radio, kumatikan.  Dengan permohonan maaf sebesar-besarnya, judul itu terngiang menjadi: sebuah radio kumatikan, streaming kunyalakan.

Discovery, Serendipity, Friendly

Tapi begini, meski rezim radio mendikte pendengarnya untuk mendengarkan lagu tertentu, ada satu hal dari radio yang diam-diam saya nikmati. Ada perasaan bahwa saya bisa tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang enak, sebuah discovery atau bahkan semacam serendipity ketika lagu tertentu tiba-tiba dimainkan.

Apalagi kalau kebetulan lagu dari playlist  warnet yang dulu itu. Rasanya menyenangkan sekali, seperti tiba-tiba kembali ke masa lalu. Tahu kan? Seperti lagu klasik Yesterday Once More itu lho.

Ternyata oh ternyata, fungsi serendipity dan discovery  itu juga ada di layanan streaming. Walaupun tidak seratus persen sama, tapi cukup mirip-mirip lah, karena mereka juga punya fitur “radio” di dalam layanan streaming. Fitur yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan lagu-lagu tanpa memilih.

Lebih lucu lagi, layanan streaming musik bisa punya kumpulan playlistyang dicocok-cocokkan dengan tema tertentu. Mulai dari mood (galau, semangat, sedih, gembira?) hingga genre (pop, rock, cadas, kenangan?).

Tapi ada satu hal yang tidak dimiliki layanan itu: mereka tidak ada penyiarnya.

Saya sudah menyadarinya, tapi sungguh lebih menohok ketika membacanya sendiri dari “orang radio”. Dalam tulisan di blognya, Rane Hafidz — yang lebih akrab di kepala saya sebagai Rane Jaf — sangat apik menuturkan peran radio yang diambilalih oleh layanan streaming. Baca deh di: http://suarane.org/layanan-streaming-musik-quo-vadis-radio/

Nah, coba simak nasihat Rane untuk radio. Intinya, kalau boleh saya sok menyimpulkan: jika satu-satunya yang tak dimiliki layanan streaming adalah manusia alias penyiar radio, maka penyiar radio harus menjadi relevan dengan pendengarnya dan bisa menjadi teman.

Sampai Paket Data Penghabisan

Satu hal yang cukup memberatkan dari layanan streaming musik adalah biayanya. Bukan biaya langganan bulanannya lho, tapi biaya paket datanya. Mungkin Anda bertanya, “paket data apa, kan bisa disimpan dulu lagunya, saat terhubung ke Wifi?”

Begini, untuk bisa menikmatinya ala radio, saya harus rela mengaksesnya dengan paket data. Lagipula, saya tidak cukup rajin untuk mengunduh playlist untuk esok hari (apalagi untuk seminggu ke depan). Jadi ya, terpaksa lah menggunakan paket data.

Oh la la, pernah satu kali saya benar-benar mendengarkannya sampai paket data penghabisan. Setelah itu tiba-tiba termangu karena saya sadar kalau paket data itu masih dibutuhkan untuk komunikasi di perjalanan. Terpaksa beli “doping” paket data, yang dijamin bakal boros karena sebelum habis kuotanya sudah masuk lagi ke siklus berikutnya dari paket data langganan.

Tapi bicara biaya, sisi lain dari layanan streaming adalah biaya yang dibayarkan layanan streaming itu ke musisi. Entah skemanya seperti apa, tapi ini konon berpotensi jadi sumber dana. Ingat kan ketika ringbacktone merajalela, dan para musisi berpesta?

Tunggu dulu. Benarkah dananya mengalir ke musisi?

Taylor Swift kalau tidak salah pernah mengajukan keberatan atas aliran dana royalti dari layanan streaming tertentu. Ia merasa diperlakukan tidak adil, dan ujung-ujungnya mencabut seluruh lagunya dari layanan itu.

Ada juga Thom Yorke, vokalis Radiohead, yang pernah menganalogikan layanan streaming tertentu sebagai: this is like the last fart, the last desperate fart of a dying corpse. Lalu, entah ada hubungannya atau tidak, album terbaru Radiohead masih belum tersedia di layanan streaming itu.

Tentu saja ada teori konspirasi (tak terbukti, entah benar atau tidak) bahwa kedua musisi tadi sebenarnya mendukung layanan pesaing. Karena Swift, misalnya, masih memiliki katalog lengkap di layanan streaming lain. Album terbaru Radiohead juga disebut tersedia di layanan itu.

Ah, sudahlah, mungkin ada unsur persaingan bisnis di situ, mungkin ada idealisme atau mungkin juga tidak ada apa-apa. Apapun itu, layanan musik streaming memang pelan-pelan mulai merasuki keseharian kita.

Di mobil, setiap pagi, sebuah radio saya biarkan mati. Musik streamingdinyalakan, dan diam-diam sepertinya saya perlu buat playlist berisi lagu-lagu kenangan dari sebuah warnet. Siapa tahu, salah satu lagu dari playlist itu bisa membangkitkan senyuman. []

Suarane Episode 4 – Iqbal Hariadi

Laporan utama episode ke 4 ini ngobrol panjang lebar dengan seorang podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi. Simak juga beberapa ulasan peristiwa yang lagi trend di media sosial kita dan satu rekomendasi keren untuk para pecinta podcast. Enjoy!

Music used in this episode:
Digital Lemonade, Pixelland, Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
creativecommons.org/licenses/by/3.0/

___

Nenek Nurlis dan Mas Beno

Seminggu terakhir ini saya kehilangan dua orang yang sudah bertahun-tahun berteman walau belum pernah bertemu muka. Kenapa bisa begitu? Keduanya adalah teman baik yang sering mendengarkan siaran saya semasa masih bekerja di radio. Pekan ini, hanya berselang beberapa hari, keduanya berpulang menghadap yang Maha Kuasa. Tulisan ini akan sangat bersifat pribadi, sekadar ingin mengabadikan kenangan tentang mereka, mewakili kenangan saya tentang teman-teman lain yang juga sudah mendahului kita.

~~~

Nenek Nurlis

Nenek Nurlis sudah cukup sepuh. Menurut sang cucu, usia beliau 90 tahun saat tutup usia di Payakumbuh, Sumatera Barat hari Selasa, 18 Juli 2017. Mungkin sejak awal 2000-an dia sudah setia di depan radio menemani saya siaran semasa masih di Radio Singapura Internasional (RSI).

Menurut cerita sang cucu dalam pesan Facebooknya beberapa tahun lalu, Nenek Nurlis tinggal sendirian karena anak cucunya menetap di kota lain. Sebelum cucunya datang menemani, sang nenek tinggal di rumah yang belum teraliri listrik, dan temannya saban malam adalah radio SW kecil bertenaga baterai ABC. Beliau juga hafal sekali nama-nama penyiar RSI dulu. Saya sangat senang dan terharu ketika suatu hari sang cucu mengirimkan video pendek di Instagram saat Nenek Nurlis sedang bercerita tentang penyiar-penyiar radio kesayangannya.

Senang sekali melihat video ini. Saya paling senang membayangkan sosok-sosok teman yang sedang mendengarkan kami siaran. Saya selalu membayangkan seperti apa mereka, sedang apa mereka, di mana mereka saat sedang mendengarkan. Nenek Nurlis adalah salah satunya. Rasanya senang sekali karena ada yang menemani di ujung gelombang radio nun jauh di sana. Sebuah perasaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Terima kasih kepada Cucu Nek Nurlis, Melissa Letyzia karena akhirnya mempertemukan kami di Facebook dan Instagram.

~~~

Mas Beno

Mas BenoLain cerita Nenek Nurlis, lain pula cerita Mas Beno. Kalau Nek Nurlis lebih mendengarkan radio secara pasif, sesekali titip salam lewat cucunya yang juga mendengarkan radio, maka Mas Beno ini sangat aktif. Nama lengkap beliau Harsubeno Lesmana. Saya memanggilnya Mas Beno. Di radio siaran internasional namanya cukup dikenal karena beliau sangat aktif mendengarkan dan berkorespondensi dengan berbagai siaran radio internasional, termasuk radio saya dulu.

Mas Beno ini DX-ers sejati (istilah untuk para pendengar radio siaran SW). Korespondensi dengan beliau yang masih saya simpan saya adalah dari pertengahan tahun 2009 ketika beliau tahu saya pindah ke Radio Jepang, NHK World. Tapi sebelumnya, sejak di Radio Singapura Internasional, kami sudah rajin berkomunikasi, entah untuk request lagu, berkirim salam, berkomentar tentang acara radio kami atau sekedar bertegur sapa.

Satu hal yang berkesan buat saya adalah beliau sering memberikan komentar dan masukan untuk acara-acara yang saya dan teman-teman bawakan. Beliau hafal sekali setiap detil acara yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuat kami benar-benar merasa diapresiasi. Rasanya penyiar radio manapun akan tahu seperti apa rasanya jika pendengar tahu detil acara-acara yang kita udarakan.

Tapi yang lebih berkesan buat saya pribadi adalah karena beliau rajin sekali berkirim ucapan di hari ulang tahun saya, sementara saya sering sekali terlewati menyapa di hari jadinya. Beliau juga beberapa kali mengecek kondisi kami saat Jepang dilanda gempa besar di bulan Maret 2011 nun jauh dari kawasan Petojo, Jakarta sana.

Mas Beno berpulang dengan tenang pada hari Minggu, 16 Juli 2017.

~~~

Teman

Ada yang menyebut sosok-sosok seperti Nek Nurlis dan Mas beno ini sebagai pendengar. Saya lebih suka memakai istilah teman. Sejak dulu saya selalu diajari oleh para senior bahwa seorang penyiar radio harus dan wajib menjadi teman pagi pendengarnya. Itu salah satu teori radio paling penting. Dengan selalu menanamkan pemikiran seperti itu, setiap pesan yang disampaikan lewat corong mikrofon akan lebih terasa akrab dan tidak terkesan dibuat-buat. Pemikiran seperti itu membuat kita lebih mudah memvisualkan siapa yang kita ajak bicara di udara dan tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari siapapun.

Saya ingat sekali seorang penyiar senior pernah bilang: “Kalau lu udah merasa jadi artis, mendingan sana jadi pemain sinetron aja sekalian. Jangan jadi penyiar radio!” Saya yang ketika itu kedatangan seorang pendengar yang ingin minta foto dan tanda tangan, hanya terdiam malu.

Nah, lebih dari sekedar teori, saking seringnya kita berinteraksi, pada akhirnya hubungan kami dengan para pendengar berkembang menjadi teman yang sebenarnya. Nama-nama merekapun sangat akrab dengan keseharian kami.

Dan rasanya tidak ada pertemanan yang lebih erat lagi daripada pertemanan di kalangan penyiar dan pendengar radio SW. Meski kini jumlah stasiun radio internasional semakin berkurang, begitu juga dengan pendengarnya, namun semoga saja semakin guyub pertemanan kita.

Selamat jalan Nenek Nurlis, selamat jalan Mas Beno…

Selamat jalan juga untuk teman-teman radio lainnya yang juga sudah mendahului kita. Diantara yang saya ingat ada Mas Dick Himawan, Mas Nano Sukirno, Mas Mariadi Purnomo, Mas Rajab Pinem.

Semoga kalian tenang di sisiNya.

Terima kasih sudah menemani saya di udara.

.
Bangkok, 21 Juli 2017