Playlist Lengkap Podcast Suarane Extra

Selama 30 hari di bulan Ramadhan saya membuat podcast singkat hampir setiap hari yang isinya pengalaman saat melakukan “puasa media sosial.” Ini semacam eksperimen pribadi untuk melakukan detox media sosial selama satu bulan. Kebetulan ini juga ini bertepatan dengan kepindahan kerja ke Bangkok, Thailand. Jadi sekaligus juga cerita-cerita tentang proses kepindahan tersebut. Podcast ini murni hanya ocehan spontan yang saya rekam dalam keseharian menggunakan sound recorder di ponsel. Hasilnya saya rangkum dalam playlist di bawah ini (atau bisa langsung akses ke playlistnya di soundcloud):

Film “Surat Kecil Untuk Tuhan” : Meretas Takdir dan Keniscayaan Cinta

Sebelum menonton film “Surat Kecil Untuk Tuhan” (SKUT) bersama keluarga kecil saya di Studio-1 Cinemaxx Mall Lippo Cikarang, Rabu sore (28/6), saya sempat didera kebingungan apakah ini film kelanjutan dari film sebelumnya yang berjudul persis sama dan dirilis pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Harris Nizam, dan dibintangi oleh Alek Komang, Dinda Hauw, Esa Sigit, Ranty Purnamasari?. Tercatat film SKUK versi 2011 ini mampu mendulang sukses dalam meraih jumlah penonton, sekitar 700 ribu penonton.

Ternyata setelah menyimak film SKUK versi 2017 secara utuh, tidak ada relevansinya sama sekali dengan film berjudul yang sama dan dirilis 6 tahun silam yang ceritanya berkisah tentang seorang anak gadis yang menderita kanker dan menulis surat untuk Tuhan. Walau alur kisahnya juga tentang ketangguhan anak-anak dalam menghadapi takdirnya yang tak mudah. Kedua film berjudul sama dan dirilis pada tahun berbeda ini, sama sekali tidak ada hubungannya.

Film SKUK kisahnya diawali tentang romantika kelam dan pilu yang dihadapi oleh 2 kakak beradik cilik yatim piatu Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzati Khanza). Keduanya terjebak dalam sindikat kejam yang dipimpin oleh Pak Rudi (Lukman Sardi) yang memanfaatkan anak-anak terlantar untuk menjadi pengemis jalanan. Pada usia yang masih kecil, Anton bersama bocah-bocah lainnya diperbudak menjadi mesin uang untuk Pak Rudi tanpa kenal waktu. Masa kecil nan indah hanyalah mimpi belaka. Anton bertekad menjaga sang adik dengan baik hingga maut memisahkan mereka.

Peristiwa kecelakaan yang menimpa Angel merubah segalanya. Ketika ia tengah koma di rumah sakit, sang kakak terpaksa meninggalkannya karena diminta Pak Rudi mengikuti orang tua angkat yang akan mengadopsinya.  15 tahun kemudian, Angel dewasa (diperankan oleh Bunga Citra Lestari) yang hidup bahagia dengan keluarga yang mengadopsinya di Sydney Australia berkenalan dan menjalin hubungan dengan dokter muda spesialis jantung yang tampan, Martin (Joe Taslim). Angel masih diliputi bayang-bayang sang kakak Anton. Ia bertekad pulang kembali ke Jakarta dan menguak misteri itu : mencari sang kakak tercinta, hidup atau mati.

Martin tak kuasa untuk menahan kehendak kuat sang kekasih, Angel. Dibantu oleh kawan masa kecilnya, Ningsih (Aura Kasih) dan sang suami Asep (Rifnu Wikana) serta Letnan Joko (Ben Joshua), Angel yang juga berprofesi sebagai Pengacara ini berusaha menguak tabir hilangnya sang kakak kesayangannya. Tak diduga dari hasil penyelidikan secara intensif, Angel menemukan hal yang sangat mengejutkan dan membuatnya nyaris tak percaya atas apa yang sudah terjadi.

Pada film berdurasi 107 menit ini, Bunga Citra Lestari (BCL) dan Joe Taslim beradu peran dengan apik dan natural. Keduanya menunjukkan kelasnya sebagai artis profesional yang secara ekspresif dan dramatis tampil sebagai sosok adik yang mencari keberadaan sang kakak tercinta. Sementara itu, meski lekat citranya sebagai bintang laga, Joe Taslim mampu mengimbangi akting BCL pada adegan-adegan bernuansa melankolis. Tampaknya, pengalaman Joe sebelumnya yang berperan di film drama “La Tahzan” (2013) saat bermain bersama Atikah Hasiloan sangat membantu menghayati perannya sebagai Martin.

Para pemeran pendukung juga tak kalah memukau menampilkan kemampuan akting terbaiknya. Bima Azriel dan Izzati Khanza, dua artis cilik pemeran Anton dan Angel layak diberikan apresiasi dengan menyajikan parade akting nan cemerlang. Demikian pula Lukman Sardi yang tampil prima sebagai Pak Rudi yang dingin, kejam dan licik.

Sebagai sutradara, tak urung, Fajar Bustomi terasa menanggung beban berat menampilkan film SKUT setelah pada 2016, tiga film Komedi yang diproduseri oleh Falcon Pictures meraup untung besar sebagai film Box Office Indonesia (Comic 8, My Stupid Boss dan Warkop DKI-Reborn). Namun, didukung oleh skenario yang ditulis apik oleh Upi Avianto berdasarkan novel karya Agnes Davonar ini, saya meyakini, film SKUK yang bergenre drama mampu meraih sukses.

Dari sisi sinematografi, Yudi Datau begitu piawai menyajikan gambar-gambar indah dan impresif didukung oleh penataan musik dari Khikmawan Santosa dan Mogammad Ikhsan Sungka. Mereka mampu memberikan “nyawa” pada film ini, mulai dari kerasnya kehidupan anak-anak jalanan di ibukota hingga keindahan monumental kota Sydney di Australia. Yang paling meninggalkan kesan mendalam buat saya adalah lagu-lagu anak seperti “Nina Bobo”, “Ambilkan Bulan” dan “Bintang Kecil” ikut hadir di film ini dengan aransemen baru dan sangat memikat.

Salut dan sukses untuk film Surat Kecil Untuk Tuhan.. 

 

June 2017


~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May | Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.