Selamat Datang Di Kerajaan Kera Hutan Nepa, Madura


Bukan manusia yang menyambut saya dan rombongan blogger dari seluruh penjuru Indonesia, ketika memasuki Hutan Nepa. Beberapa ekor keralah yang menyambut sore ini. Cuaca sedikit mendung tak menyurutkan niat mengelilingi Hutan Nepa. Mungkin karena tak panas inilah, puluhan kera berkeliaran mengikuti langkah kami ke dalam hutan.

Nepa disebut demikian karena di daerah ini banyak tumbuh tumbuhan 'Nipah'. Penyebutan masyarakat di Kabupaten Sampang ini membuatnya bergeser menjadi Nepa. Sebelum masuk ke Hutan, terlebih dahulu melewati bibir pantai yang disebut pantai Nepa sesuai dengan nama Hutan. Kegunaan pohon Nipah ini sangat banyak, Salah satunya bisa digunakan sebagai atap rumah pada dahulu sebelum mengunakan genting. Selain itu, Nipah berfungsi sama dengan bakau, menahan pengikisan tanah dari gelombang air laut.     


Kera-kera ini bukanlah perwujudan dari hewan sesungguhnya. Masyarakat percaya bahwa kera-kera ini adalah prajurit-prajurit Raden Segoro. Raden Segoro adalah putra dari Putri Kerajaan Gilingwesi. Prajurit ini melawan Prajurit dari negeri asing hingga sekarang, kera-kera ini pun terbagi dalam dua kubu besar. Peraturan dalam kerajaan kera ini adalah barang siapa yang memasuki wilayah kerajaan kera lain, maka tak ada jalan lain kecuali harus mati, kecuali pada saat kedua kerajaan diserang oleh pihak-pihak luar. 

Peraturan tidak tertulis inilah yang membuat saya cukup terperangah dan penasaran dengan kehidupan kera secara lebih dekat. Namun, semakin kaki melangkah, kera-kera tidak mau menampakan diri, hanya beberapa kera saja yang antusias dengan kami. 

    

Sore ini nampak sepi, sepertinya hanya rombongan kami saja yang melintas sampai ke tengah Hutan dan melihat petilasan Kyai Poleng. Kyai Polong merupakan penjaga Puteri kerajaan Gilingwesi dan Raden Segoro. Merekalah yang dipercaya sebagai nenek moyang di Pulau Madura ini.


Melihat tingkah polah kera seperti mereka memiliki dunia mereka sendiri dan sangat kocak. Beruntung kera yang kami temui tidak agresif dan cenderung kooperatif dengan manusia. Ini juga yang masyarakat percaya bahwa kera-kera ini masih memiliki sifat manusia yang dibawa pada saat menjadi prajurit Raden Segoro. 

Kisah nenek moyang Pulau Madura memang sangat menarik, dari mulut ke mulut dan turun temurun cerita ini digaungkan sehingga telah tertanam di alam bawah sadar. 




Terima kasih kepada #BPWS dan Plat-M yang telah mengundang saya dan blogger-blogger nusantara dalam acara #MenduniakanMadura

Warga Karanglo Klaten Menyulap Sampah Menjadi Rupiah


Karanglo, sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah, menjadi perbincangan publik beberapa waktu lalu ketika program bank sampahnya menjadi role model. Berbagai masalah yang melanda kini berangsur-angsur membaik bahkan dengan ide-idenya, warga Karanglo siap membuat trobosan baru.

Awan putih menutupi teriknya matahari ketika rombongan Explore Indonesia Jogja 2016 (#EIJogja16) sampai di sebuah lapangan. Saya turun dari bus bersama rombongan. Ternyata kami telah disambut para pengurus program yang dilaksanakan di Karanglo. Di pendopo, kami diberikan penjelasan program apa saja yang telah dilaksanakan. Kami terpana, ternyata desa ini bukanlah desa sembarang, desa ini merupakan percontohan bagi desa lain. Lihat saja padi yang telah menguning disandingkan dengan bunga. Banyak tidak menyangka bahwa desa ini pernah mengalami kegagalan panen karena hama tikus yang merajalela. 



Berkat program dari Aqua Lestari, warga tak lagi mengalami gagal panen, malah mengalami surplus pangan. Metode apa yang dipakai untuk menuntaskan hama tikus? Jawabannya adalah burung hantu. Iya, Burung hantu inilah yang memangsa tikus. Secara umum siklus alami inilah yang digunakan oleh warga untuk menghambat pertambahan tikus. Benar-benar program yang cerdas dan luar biasa.

Sampah = Rupiah 


Belum genap 2 tahun, Bank Sampah Rukun Santoso ini diresmikan, namun manfaatnya bagi warga sekitar telah terbukti. Bahkan, warga selalu dikunjungi warga daerah lain yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai program ini. Kini warga bisa menambah penghasilan tanpa kehilangan pekerjaan utama. 

Dahulu, Karanglo hanyalah desa dengan jumlah produksi sampah yang banyak. Pembuangan sampah akhir dilakukan di lapangan terbuka bahkan sungai pun tak luput dari tumpukan sampah. Pemandangan sampah dimana-mana ini sangat kurang elok dipandang mata. Tak tinggal diam, pemuda bersama perangkat desa dibantu Aqua Lestari mendirikan bank sampah Rukun Santoso. 



Pada umumnya program bank sampah adalah menampung sampah daur ulang seperti botol, kaca, kardus dan lainnya dan mendapatkan imbalan berupa uang. Namun bank sampah biasanya terdapat catatan seperti rekening di bank per masing-masing orang. 

Sampah plastik yang tak bisa diurai oleh tanah menjadi masalah besar. Namun, berkat ide-ide luar biasa, plastik bekas kemasan permen, snack dan lain-lain berubah menjadi baju, topi, tas ransel, bunga dan lainnya. 



Luar biasa sekali kreativitas yang diproduksi oleh warga Karanglo. Bukan itu saja, saat ini warga tengah mengembangkan beras organik, yogurt dari sayuran, dan program-program lainnya. Oh iya, Karanglo ingin mengembangkan desanya sebagai tempat kunjungan oleh siapa pun, dan suatu saat nanti semoga saja akan dikembangkan sebagai desa wisata.



Terima kasih kepada airport.id dan Aqua Lestari serta sponsor lain dalam Explore Indonesia Jogja 2016.




SOLUSI HEMAT BERBELANJA ONLINE BERSAMA WEBSITE PROMO CODE INI!

erilaku belanja konsumen beberapa waktu terakhir ini kian bergeser menuju “online shopping” seiring kemudahan serta kecepatan akses internet yang semakin luas daya jangkaunya.  Maraknya promosi di media sosial membuat trend berbelanja online semakin populer dan digemari.Ada banyak pertimbangan seseorang memutuskan berbelanja secara online. Salah satunya adalah Praktis. Dengan berbelanja secara online, lebih banyak waktu dan [...]

Saatnya Memacu Adrenaline Dengan River Tubing Sungai Pusur Klaten


Dalam kamus saya, adrenaline adalah ketakutan. Artinya apapun yang memacu adrenaline adalah menakutkan dan harus dihindari. Namun, sejalan dengan waku saya belajar untuk menaklukan adrenaline dan pelan-pelan bersahabat dengannya. Dahulu, wahana-wahana di Dufan adalah momok, namun sekarang dufan adalah kesenangan yang harus dirayakan. Kini, satu per satu saya mulai bermain dengan adrenaline, walaupun menurut khalayak umum masih dianggap belum begitu memacu adrenaline.

Explore Indonesia Jogja 2016 bersama Aqua Lestari membuka mata saya dan rombongan. Kami diajak untuk liburan sekaligus memacu adrenaline dengan mendatangi tempat water sport yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Sebut saja River Tubing, salah satu water sport yang memacu adrenaline dan tenar di social media. Klaten ternyata memiliki River Tubing salah satunya adalah dikawasan sepanjang Sungai Pusur.


Beberapa tahun lalu, sungai pusur lebih mirip TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah dari hulu sampai hilirnya. Warga berlomba-lomba membuang setiap limbah rumah tangga setiap hari selama puluhan tahun. Akibatnya, Sungai Pusur berubah menjadi tercemar dan tak elok dipandang mata. 

Aqua Lestari bersama pemuda-pemuda dari kecamatan Polan Harjo, Klaten berhasil mendobrak kebiasaan membuang sampah tersebut dengan program bank sampah dan kerajinan dari limbah sampah. Hasilnya, luar biasa, sampah yang tadinya mengunung dan menumpuk ditepian sungai, lenyap dalam sekejap. Sungai kembali bersih dan membuat pemuda-pemuda berinisiatif memanfaatkan sungai menjadi water sport yang memacu adrenaline.


Siap Memacu Adrenaline


Kami berpacu dengan waktu, karena matahari sebentar lagi akan tenggelam. Hampir pukul 4 sore ketika pick up tiba ditempat. Saya tak membawa apapun kecuali tubuh dan baju yang melekat. Beberapa orang menenteng action cam untuk mengabadikan keseruan sore itu. Sehari sebelumnya, kami telah bermain dengan adrenaline di Sungai Oyo, sekitar Yogyakarta. Dan kali ini, kami pun melakukan hal yang sama, namun medannya tentu akan berbeda. Sensasinya juga berbeda.

Sebelum berangkat ke sungai, kami mendapatkan penjelasan singkat mengenai alat dan keamanan yang digunakan saat menyusuri sungai pusur. Terdapat helm dan baju pelampung yang kami gunakan, sedangkan kami mengunakan ban besar selama menyusuri sungai.

Kami harus meneteng sendiri ban besar sampai ke sungai yang tak jauh dari tempat mendapatkan briefing tadi. Hanya saja kami harus melewati rumah-rumah warga sebelum sampai di sungai.


Dan, akhirnya sungai pusur pun terlihat dengan jelas didepan mata. Airnya nampak bening cendrung cokelat karena tanah yang berada disekitar sungainya berwarna cokelat gelap. Struktur sungai pusur ini cenderung berbatu dan arusnya lumayan deras. Bisa dibayangkan betapa tertantangnya kami menjelajah sungai pusur ini.

Ban dilemparkan ke sungai, kemudian kami harus melawati bendungan ter;ebih dahulu sebelum berpacu dengan arus. Dan yup, kemudian setelah sampai bawah ban dinaiki dan akhirnya kami siap berpacu dengan adrenaline.


Awalnya saya sempat terjatuh beberapa kali, namun akhirnya saya bisa mengendalikan ban dengan baik dan melaju. Karena bebatuan dan sungainya tak terlalu lebar, sempat membuat ban saya tersangkut kembali, namun beruntung saya lolos kembali.

Sungguh petualangan yang sangat menyenangkan sekali. Apalagi Sungai Pusur ini menjadi salah satu River Tubing yang dikelola sendiri oleh pemuda desa di Klaten, Jawa Tengah .Apabila berminat untuk memacu adrenaline, informasi selengkapnya bisa ke fanpage River Tubing Sungai Pusur.


Terima kasih Airport.id dan Aqua lestari serta sponspor lain dalam acara Explore Indonesia Jogja 2016.



SENSASI INTERAKSI VIRTUAL PENJUAL & PEMBELI LEWAT FITUR LIFE CHAT PADA APLIKASI MOBIL123

ebuah gebrakan anyar baru saja ditampilkan oleh iCar Asia Limited (ASX: ICQ), pemilik jaringan portal otomotif nomor 1 di ASEAN, dengan memperkenalkan fitur komunikasi life chat pada platform aplikasi salah satu jaringannya di Indonesia, Mobil 123. Lihat saja, hanya dalam seminggu sejak diluncurkan, platform tersebut telah mendapatkan tingkat adopsi yang kuat dari penjual dan pembeli, [...]

Rooftop Garden Sensation Di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta


Langit itu terlukis jelas awan putih berarak memanjakan mata yang memandang saat matahari begitu terang bersinar. Saya memperhatikan sekeliling lantai paling atas itu dengan seksama. Angin turut hadir dan membelai-belai tubuh saya yang tak terasa sudah dibanjiri keringat. Cuaca seperti inilah yang memanjakan saya untuk bermain bebas di rooftop. Tanaman yang umumnya sayuran ini tumbuh di selang-selang putih membuat mata saya kembali bersinar. Inilah senasinya memiliki kebun walau tak sebesar yang dibayangkan, namun jika berada di Jakarta, kebun kecil ini bisa saya sebut sebagai "Paradise".

Selang-selang putih itulah yang memberikan kehidupan pada tanaman. Sistem pemberian air ini dikenal sebagai Hidroponik yang sangat ramah lingkungan. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun mendatang, sistem tanam ini akan booming dan menjadi primadona di Jakarta. Selain alasan lahan yang terbatas, efektivitas dan keparktisan adalah poin utama melaksanakan hidroponik. 



Rombongan Explore Indonesia Jogja 2016 tak menunggu lama untuk mengabadikan rooftop. Mulai memotret tanaman dan lingkungan sekitar rooftop. Tiba-tiba secara tak sengaja, model dadakan berpose untuk kami. Jepret sana, jepret sini, kami seperti melakukan sesi foto dengan model profesional. Dan hasilnya memang mengagumkan, kami puas dan tertawa bersama melihat keseruan kami melakukan foto-foto di rooftop milik Greenhost Hotel. Tak heran hotel ini menjadi favorite tamu yang menginap karena konsep rooftopnya pun sangat keren.


Boutique Hotel Ramah Lingkungan 

Air sedikitpun sangat dimanfaatkan oleh Greenhost

Menyatu dengan alam dan mengerti lingkungan, Greenhost menyampaikan pesan ini melalui bangunan hotel yang sangat hijau. Atap bangunan dibiarkan menantang langit dan hanya kaca yang menghalanginya dari hujan. Sistem pengairan pun dibuat sangat efektif dan tidak ada satupun yang terbuang percuma dan akan berputar dan disaring kembali menjadi air yang bersih atau digunakan untuk keperluan tanaman dan flush toilet. 

Sedikit banyak, saya belajar untuk mengerti bahwa air yang kita gunakan harus dihemat demi menjaga lingkungan tetap seimbang. Selama ini, saya hanya memandang bahwa air adalah sumber daya yang tak terbatas, namun berkaca dengan belahan bumi lain yang mengalami kekeringan, inilah saatnya untuk lebih memahami pentingnya menghemat air di mana pun berada.


Selain sistem pengairan, konsep hotel sedikit berbeda, bisa dilihat dari perpaduan antara modern dan ramah lingkungan membuat hotel ini seperti rumah kebun. Konsep ini memang sangat cocok bagi wisatawan asing dan wisatawan dalam negeri yang kerap melakukan rutinitas dan berhadapan dengan gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan. 

Prawirotaman, sebuah kawasan yang kerap disebut sebagai kampung turis adalah lokasi hotel ini berada. Grafiti menghias sepanjang jalan sebelum memasuki area hotel. Di ujung jalan, aktivitas pasar pun tak boleh dilewatkan begitu saja. Pedagang yang menjajakan dagangnya pun merupakan potret keseharian yang sangat instagramable. So, what are you waiting for? Segera ambil kamera dan jalan-jalanlah di sekeliling dan temukan gambar terbaikmu kemudian share. Sungguh menyenangkan melakukan aktivitas seru ini pada saat sore.


Meet The Room 


Ornamen kayu dan dinding tanpa dicat bagi saya adalah konsep kamar yang memukau. Hotel lain menciptakan kamar dengan cat atau wallpaper sehingga menambah kesan flat, namun Greenhost justru membiar tembok alamiah dan menyatu dengan konsep ramah lingkungan yang telah diusung sebelumnya. 

Kasur cukup lebar dengan selimut tebal dan disampingnya terpasang colokan listrik. Yup, untuk saya, colokan sudah menjadi nyawa kedua, apalagi kamera dan smartphone pun membutuhkan banyak colokan listrik untuk mengisi daya baterai setelah seharian telah digunakan. 



Kamar mandi sangat lengkap dengan perlengkapan mandi dan handuk. Sedangkan lemari pakaian pun tersedia dengan ukuran sedang dan cukup luas untuk menampung beberapa koper atau tas ransel ukuran besar. TV layar datar dengan berbagai channel luar dan dalam negeri siap menemani istirahat saya malam ini. Begitu pula dengan koneksi internet yang lumayan kencang dan membantu aktivitas online beberapa malam di hotel ini.

Tipe-tipe kamar terdiri dari Erick Room, Futura, Rempah 1, Rempah 2, Studio Kita 1-3 dengan arrange harga mulai dari 300 ribu  sampai 1 juta-an. 


Fasilitas Hotel 



Rooftop menjadi salah satu daya tarik Greenhost Hotel, namun fasilitas yang mendukungnya pun tak kalah. Sebut saja Souvenir Shop, Co-working space, Art Kitchen, Greenhost Creative Farming, Meeting Space, Tea Spa, Swimming Pool, Mezzanine Tea Shop, Attic Bar & Lounge, Parkir dan lain-lainnya. 

Fasilitas ini menunjang apapun keperluan saya selama menginap di Greenhost, apalagi konsep hotelnya sangat eco-friendly dan sangat disukai oleh wisatawan asing. Saya beberapa kali bertemu dengan bule-bule yang berseliweran di area lobi ataupun art kitchen. 



Terima kasih kepada airport.id yang telah menyelengarakan event Explore Indonesia Jogja 2016 bersama sponsor salah satunya adalah Greenhost Hotel ini.  

Informasi Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta 

Alamat 
Jalan Prawirotaman II No. 629
Brontokusuman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 389 777

Email 
info@greenhosthotel.com

Website 

Maps 


Menyusuri Lorong Waktu Jawa Kuno Di Museum Ullen Sentalu


Di lereng Gunung Merapi yang terkenal dengan wedus gembel saat mengeluarkan lava panasnya, terdapat satu harta karun. Bukan karena kekayaan atau berlian emas semata, namun lebih berharga untuk dikenalkan pada anak cucu kita nanti, supaya mereka bangga akan salah satu identitas budaya yang memgalir dalam darah kita. Ullen Sentalu, satu kawasan seluas hampir dua hektare dan menyimpan seluruh identitas Mataram kuno atau lahirnya budaya Jawa yang melahirkan Solo dan Yogyakarta sebagai dua kerajaan Jawa yang tersohor.

Trip Advisory menempatkan Museum Ullen Sentalu sebagai museum terbaik dan harus di kunjungi pada saat mengunjungi Yogyakarta. Beruntung, airport.id dalam Explore Indonesia Jogja 2016 memasukan museum ini dalam listnya. Sebagai orang yang lahir dan besar bersama budaya Jawa, tentunya tempat ini mengingatkan memori masa lampau. Dahulu, di sekolah secara tak langsung, saya mengenal dan belajar bahasa serta budaya Jawa, namun sejalan dengan waktu, hanya sebagai kecil yang masih melekat di ingatan. Dan mengujungi museum ini, mengusik saya untuk lebih mendalami lagi sejarah dan kejayaan kerajaan Jawa tempo dulu.

Tempat Menyepi Dan Mendekatkan Diri Dengan Alam



Masa lampau, begitu masuk ke bangunan kedua setelah bangunan utama penyambut tamu, sangat terasa sekali. Gaya bangunan indies dengan mengacu arsitektur Eropa yang cenderung kokoh dan berkelas. Pepohonan menghias disekitar bangunan membuat museum ini terasa seperti rumah surga atau nDalem Kaswargan. Seperti labirin, kaki-kaki kami melangkah melewati sekat-sekat bangunan demi bangunan hingga akhirnya disajikan peninggalan budaya Jawa. Raut wajah kami yang semula lelah berubah menjadi serius mendengarkan guide kami menceritkan dibalik lukisan dan benda peninggalan seperti batik, keris dan beragam lainnya.

Baru kali ini saya merasakan aura museum yang sangat menarik dan misterius. Bahkan, tempat ini sangat cocok untuk menyembuhkan luka-luka hati karena kegalauan dan menemukan kebahagian dengan bersemedi. Pecinta yoga pun tak akan melewatkan lokasi seperti ini untuk bermeditasi dan melakukan yoga bersama teman-teman. Hawa sejuk pun turut mendukung tempat dengan luas sekitar hampir 2 hektare ini.


Tentu saja, museum ini menjadi favorite karena lokasinya yang menyatu sekali dengan alam dan akan menjadi tempat pelarian dari rutinitas yang sangat ampuh.

Lorong Waktu Jawa Kuno



Sebelum memasuki Labirin dan berakhir di gedung bergaya indies, sebuah gedung utama menyambut kami. Untuk semetara tidak ada yang istimewa karena hanya menyajikan kebudayaan seni topeng Jawa dan beberapa bongkahan peninggalan dari Candi di sekitar Yogyakarta. Namun, begitu masuk kedalam lorong, suasana berubah drastis.

"Tidak boleh mengambil gambar atau merekam dengan alat apapun," Mba pemandu kemudian melarang kami mengabadikan koleksi Museum.

Mba pemandu secara tegas melarang kami mengambil gambar atau merekam suara. Selain menganggu konsentrasi pemandu dalam menjelaskan, flash dari kamera tentunya akan merusak keaslian koleksi dan ada kepercayaan bahwa setiap koleksi memiliki nyawanya sendiri. Antara nyata dan khayalan, kami dibawa menyusuti lorong waktu menuju masa-masa kejayaan Jawa kuno.


Tidak adanya aktivitas lain membuat kami mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Mba Pemandu. Bahkan, menariknya kami menjadi sangat antusias dan menanyakan hal-hal menarik saat melihat beberapa lukisan Raja, Ratu, Putri atau Pangeran beberapa kerajaan Yogyakarta dan Solo. Saya memang belajar sejarah dari buku di bangku sekolah, namun belum pernah begitu tertarik dengan cerita yang disampaikan Mba Pamandu.

Vorstenlanden, begitulah julukan kawasan yang berada dibawah otoritas Dinasti Matarm Islam yaitu Kasunan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualam. Dahulu sebelum Perang Diponegoro, kawasan Vorstenlanden mencakup wilayah Gunung Slamet sampai ke Gunung Kelud, namun setelah perang terjadi, wilayahnya semakin menciut dan hanya menyisakan wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang ini.


Dan yang paling terkenal dari sejarah Jawa Kuno adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Dinasti Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Momentum inilah yang membuat Mataram tidak memiliki kekuasaan yang tunggal dan terpecah belah. Semenjak Giyanti, Mataram tidak memiliki wewenang yang strategis dan cenderung lemah.

Meninggalkan bayang-bayang kejayaan Mataram, lorong lain pun menanti dengan cerita yang lain. Kali ini, koleksi batik dan pakaian adat terpampang nyata dihadapan kami. Kain batik yang sering kami gunakan ternyata memiliki makna yang berbeda. Parang melambangkan senjata yang siap untuk berperang. Kain batik lainnya pun memiliki makna kesucian dan keanggunan yang biasa digunakan dalam adat pernikahan. Selama ini, saya hanya mengenakan saja baju batik tanpa tahu arti dan makna yang terkandung didalam motifnya.


Gusti Nurul Dan Julia Perez 


Salah satu yang paling menarik dalam lorong selanjutnya adalah ruang Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegoro VII dengan permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Gusti Nurul muda sangatlah mirip dengan artis Indonesia, Julia Perez. Paras mereka sangatlah mirip dengan struktur dan karakter wajah yang hampir sama. Apakah mungkin Julia Perez adalah keturunan dari salah satu raja-raja Jawa ? Atau ini hanya kebetulan belaka? Hanya Tuhan yang dapat menjawab misteri ini.

Pagelaran Seni Budaya Di Ullen Sentalu


Selain menyajikan koleksi unik budaya Jawa, Ullen Sentalu pun mengelar pertunjukan seni dan budaya. Pada Oktober lalu, International Mask Festival telah sukses digelar di museum ini. Pagelaran ini menyajikan sajian tari-tarian topeng khas Jawa. Bukan hanya tarian, namun Magic Mask dan Masterpiece Mask pun turut memeriahkan acara tersebut.

Bagi yang belum mengunjungi Museum Ullen Sentalu ada baiknya untuk melihat videonya terlebih dahulu.


Terima kasih airport.id dan para sponsor yang telah menyelengarakan Explore Indonesia Jogja 2016.


Informasi Museum Ullen Sentalu

Alamat 
Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat
Sleman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 895161 

Website 

Jam Buka
Selasa- Jumat : 08.30 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.30 - 17.00 WIB
Senin Tutup

Harga Tiket Masuk 
Pengunjung Domestik 
Dewasa : Rp 30.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 15.000
Pengunjung Mancanegara
Dewasa : Rp 50.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 30.000

Email 
ullensentalu@gmail.com

Social Media 
Facebook : Museum Ullen Sentalu
Twitter : @ullensentalu 

Petunjuk Jalan 
Sekitar dua kilometer setelah Gerbang Kaliurang tiba di pertigaan Patung Udang, silahkan mengambil jalan lurus ke Utara dan 500 meter kemudian akan tiba di pertigaan berikutnya, silahkan mengambil jalan kekanan dan 700 meter kemudian akan tiba di lokasi museum.

Maps 



Yuk Bermain Air Di JogjaBay Pirates Adventure Waterpark


Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani berangkat sekarang
Ke laut kita ramai-ramai

Sejenak lagu masa kecil tentang seorang pelaut terngiang di kepala ketika bus rombongan kami melaju menuju salah satu waterpark ternama di Yogyakarta. Saya bersama rombongan Explore Indonesia 2016, berencana mengunjungi JogjaBay. Lokasinya berada di daerah Sleman, Yogyakarta. Tepat setahun lalu, waterpark ini diresmikan di area sekitar 7,7 hektare. Tak heran apabila JogjaBay merupakan salah satu water theme park terbesar, tercanggih dan terlengkap di Indonesia.

Bagaimana dengan wahana permainannya? 19 wahana permainan sangat ready untuk menjamu tamu yang haus memacu adrenalinenya. Saya adalah salah satunya. Walau bukan penyuka hal extreme, namun tak salahnya mencoba beberapa permainan seperti how to survive in tsunami and earthquake, bekti adventure, volcano coaster dan masih banyak lainnya.


Ayo Main Air 



Suasana kapal dan bajak laut sangat kental ketika saya masuk di area depan sebelum pintu masuk. Kapal besar dengan menara mercusuar diujung sebelah kanan seakan menujukan bahwa inilah saat yang tepat untuk bermain air dan memacu adrenaline kita. Setelah memasuki pintu utama, kami disambut petugas tiket dengan beberapa loket yang buka. Harga tiket masuk saat weekdays sekitar Rp 90.000 (Dewasa) dan Rp 60.000 (Anak-anak), sedangkan Weekend harga tiket Rp 100.000 (Dewasa) dan Rp 75.000 (Anak-anak). Untuk anak-anak dibawah 2 tahun, tidak dikenakan tiket masuk atau free, sedangkan batas antara anak-anak dan dewasa ditentukan dengan tinggi 110 cm. So, bagi anak-anak yang telah melewati papan pengukur akan dikenakan biaya yang sama dengan orang dewasa.

Dan here we go, mari kita bermain air. Welcome to pirates and water world ya. Hal pertama yang dilakukan untuk bermain air adalah melihat-lihat wahana mana yang paling cocok untuk saya mainkan, dan pilihan saya jatuh pada how to survive in tsunami and earthquake dan bekti adventure. Mood untuk mencoba wahana lain memang tak muncul pada saat itu, tapi yang terpenting adalah menikmati setiap permainannya kan. Trust me, it is more enjoyable than you play alot things


Kami menuju tempat menaruh semua barang-barang. Untung saja hanya satu tas yang saya bawa. Memang sebaiknya tidak membawa banyak barang untuk masuk ke wahana permainan. Apalagi barang-barang elektronik yang mudah rusak jika terkena air seperti laptop, kamera dan smartphone tanpa case anti air. Yuk saatnya bermain air.

Tip Bermain Air Di JogjaBay


Tentu sangat menyenangkan bermain wahana di JogjaBay, namun ada baiknya mengetahui beberapa tipnya. Mau tahu?

Waktu Berkunjung 

Waktu yang pas untuk berkunjung ke JogjaBay adalah Weekdays dan bukan musim liburan. Sudah menjadi rahasia umum kalau pada musim liburan, waterpark akan sangat ramai dengan pengunjung, maka hindarilah mengajak keluarga pada saat musim seperti ini.

Bawalah Perlengkapan Seperlunya

Saat bermain air, tentunya sangat repot apabila membawa seluruh perlengkapan yang ada. Cukup membawa barang perlengkapan seperlunya, seperti action cam dan perlengkapan berenang. Dengan bawaan ringkas, maka kita akan sangat menikmati permainan air tanpa memikirkan barang bawaan kita.


Pakai Lotion atau Sunblock

Jangan sampai lupa satu barang ini karena sangatlah penting untuk menjaga kulit kita. Tak mau kan kalau kulit menjadi hitam dan terbakar gara-gara terkena sinar matahari yang menyengat, maka bawalah sunblock pada saat sebelum bermain air.

Isi Perut Terlebih Dahulu

Bermain air sangat rawan terhadap masuk angin dan demam, maka sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. JogjaBay menyedikan beragam makanan seperti bakso, siomay, nasi goreng dan macam-macam lainnya. Kalau lapar atau perut kosong, bisa mengisinya di area makanan dan minuman.


Pilih Wahana Yang Pas 

Nah, ini yang paling penting. Pilihlah wahana yang pas buat kamu. Kalau punya masalah dengan jantung atau memiliki jantung lemah hindari wahana yang memacu adrenaline dan pilihlah wahana yang aman bagimu. Kalau misalnya tidak punya riwayat penyakit, kamu bebas memilih wahana apapun, tapi lagi-lagi perhatikan safetynya sebelum bermain di wahana tersebut.

Wahana dan Fasilitas JogjaBay



Drama Musikal

JogjaBay memiliki pertunjukan Drama Musikal yang tentunya sangat menarik untuk ditonton. Drama Musikal menyuguhkan Icon Karakter diantaranya Lawana, putri cantik, Jose, pemuda tampan, Mimi, kucing sang putri Lawana dan masih banyak karakter lainnya. Pertunjukan ini dapat dilihat setiap hari sabtu dan minggu pukul 15.00-16.00 WIB.

Wahana

JogjaBay memiliki 19 wahana yang menunjang pengunjung bermain seharian dari jam buka sampai jam tutup. Wahana tersebut antara lain Memo Racer, Bekti Adventure, Volcano Coaster, Timo-timo rider, Jolie Raft River, Brando Boomerang, Ziggy Giant Barrel, Mimi Family, Hip Playground, South Beach, dan masih banyak lainnya.


Fasilitas 

Nah, setelah lelah bermain beberapa wahana air, saatnya menikmati fasilitas lainnya yang ada di JogjaBay. Kawasan ini memiliki Restoran seperti Pirate Palace, Gili-gili BBQ, Dapur Lawana, Pool Bar, Mimi Gemi, Timo Memo dan lainnya. Sedangkan yang mau belanja oleh-oleh, JogjaBay Store memiliki banyak koleksi pernak-pernik dan oleh-oleh.

Fasilitas lainnya adalah Spa, Gazebo, Penyewaan loker, penyewaan handuk, layanan foto, Musholla, area parkir, kamar mandi dan lain-lain.


Sore hari waktunya kami pulang meninggalkan wahana dan berganti pakaian kering. Kami melewati beberapa toko souvenir sebelum akhirnya keluar dari wahana. Sangat menyenangkan bermain air bersama rombongan Explore Indonesia 2016 di Jogja yang diselengarakan oleh airport.id. Terima kasih kepada JogjaBay yang sudah menerima kami dengan tangan terbuka.


Informasi JogjaBay

Alamat 
Jalan Maguwoharjo, Depok
Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Jam buka 
Senin - Jumat : 09.00 - 18.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 18.00 WIB

Harga Tiket 
Weekdays
Dewasa : Rp 90.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 60.000
Weekend 
Dewasa : Rp 100.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 75.000
Tinggi badan diatas 110 cm dikategorikan sebagai dewasa.

Website 
www.jogjabay.com

Maps 

TABUNGAN EMAS DI PEGADAIAN, INISIATIF CERDAS MENITI MASA DEPAN

etelah mengikuti Road Blog Makassar tanggal 30 April 2016 silam yang diadakan oleh Excite Indonesia dimana saya bertindak sebagai moderator dan salah satu pembicaranya adalah Pak Nuril Islamiyah Kepala Pegadaian Kanwil XI Makassar, membuat saya terinspirasi untuk “beraksi”. Ya, “aksi” saya adalah segera membuka tabungan emas di wilayah tempat saya bermukim. Di keluarga kami sebenarnya, [...]

Film “Moana” : Gadis Tegar Dari Kepulauan Pasifik

flex_moana_header_ddaba7deMalam minggu terlihat begitu semarak di Bioskop Cinemaxx Orange County Cikarang. Malam itu Sabtu (26/11) dalam rangka memperingati ulang tahun anak sulung saya Rizky ke empat belas, saya bersama keluarga menonton film “Moana” di studio 2 yang dipadati penonton yang rata-rata berusia sebaya dengan kedua anak saya. Sejak melihat trailer film dan soundtracknya yang memukau, Alya sudah menunjukkan minatnya untuk menonton film animasi anyar dari Walt Disney Animation Studio ini.

Film dibuka dengan perkenalan sosok Moana masa kecil, yang mendengarkan cerita dari sang nenek tentang legenda Maui (Dwayne Johnson) , sang manusia setengah dewa yang berhasil mencuri jantung Te Fiti sang “ibu bumi”.  Maui menghadapi tantangan Te Ka monster yang juga punya hasrat untuk merebut jantung Te Fiti agar memiliki kesaktian Te Fiti mencipta dan menguasai dunia. Maui tak dapat mempertahankan jantung tersebut yang kemudian hilang di dasar samudera bersama senjata kailnya.  Akibat pencurian tersebut, pulau-pulau dibawah kekuasaan Te Fiti menjadi pulau terkutuk, termasuk pulau yang dihuni Moana dan keluarganya.

moana

Moana (suaranya diisi oleh Auli’i Cravalho) Gadis cantik di salah satu pulau di kepulauan Pasifik digambarkan sebagai sosok cerdas, berani, mandiri dan punya rasa keingintahuan yang tinggi. Oleh sang ayah yang menjadi kepala suku di kawasan tersebut, Moana memang telah disiapkan sebagai penggantinya kelak.

Terinspirasi oleh cerita sang nenek dan melihat kondisi sukunya yang mengalami masa paceklik, Moana bertekad untuk mengungkap misteri jantung Te Fiti termasuk mencari Maui agar mengembalikan jantung tersebut ke tangan pemilik aslinya. Ia berharap jika jantung itu dimiliki kembali oleh Te Fiti, kutukan akan sirna dan rakyatnya dapat hidup lebih sejahtera.

Tapi itu tak mudah. Sang ayah melarang putri kesayangannya itu mengarungi samudera dan melewati batas karang di pulaunya. Moana tidak menyerah. Dibimbing oleh sang nenek, ia menemukan sebuah gua raksasa dimana tersimpan perahu-perahu besar dari nenek moyangnya di masa lalu. Moana terkejut dan menyadari fakta bahwa sesungguhnya suku mereka adalah penjelajah laut yang tangguh dan berani. Sang nenek yang menemukan jantung Te Fiti lalu menyimpannya didalam kalung dan memberikannya kepada Moana. Ia harus mengembalikan jantung itu segera dengan bantuan Maui. Moana menyanggupi amanah sang nenek dan ia nekad mengarungi samudera luas sendirian tanpa sepengetahuan ayah dan bundanya.

moana-disney

Ditemani sang ayam blo’on, HeiHei, Moana memulai petualangannya. Sepanjang perjalanan ia mengingat pesan sang nenek,” Carilah Maui, jewer telinganya lalu ajak dia mengembalikan jantung Te Fiti yang sudah ia curi dan sudah mengakibatkan kutukan pada suku kita”. Setelah melalui berbagai rintangan termasuk badai dashyat dan ombak raksasa, Moana akhirnya berjumpa dengan Maui yang mendadak kehilangan kesaktian karena senjata kailnya lenyap entah kemana. Akhirnya, Maui dan Moana bahu membahu menyelesaikan misi mereka dengan beragam tantangan yang tak mudah.

102818_s3

Seperti biasa, Animasi Disney menghasilkan tampilan yang sangat memukau pada film berdurasi 103 menit ini. Gambar-gambar yang muncul begitu natural, tajam dan detail. Terbersit kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia karena salah satu animatornya adalah Giselda Sastrawinata yang bertindak sebagai visual development artist film ini.  Alumni  Art Center College of Design, Pasadena Amerika Serikat ini banyak terlibat dalam film animasi fenomenal seperti Shrek, Kungfu Panda, Madagascar dan lain-lain.

Pada tahun 1982, gadis yang lahir pada tahun 1982 ini memutuskan pindah ke negeri paman Sam saat kelas dua dari SMA Pelita Harapan Jakarta. Dengan sentuhan imajinatif, Griselda memberikan aksen kebudayaan Polinesia di awal part film Moana, khususnya pada tapa (semacam kain tradisional yang berisi informasi leluhur). Seperti dikutip disini, Sebelum memberikan sentuhan unsur Polinesia, Griselda dan tim melakukan riset dan observasi di kepulauan Fiji dan sekitarnya untuk mencari informasi valid peninggalan Polinesia, agar sentuhan gambar yang diberikan Griselda dan tim Disney teruji kebenarannya.

Tak hanya tata visual dan sinematografi, dari sisi audio, film ini menampilkan latar musik yang indah dan megah. Salah satunya adalah soundtrack “How Far I’ll Go” yang saya yakin kelak akan sefenomenal “Let it go” soundtrack film “Frozen”. Artis Indonesia, Maudy Ayunda, menyanyikan lagu tersebut dalam versi bahasa Indonesia dengan memikat. Film ini memang kaya musik yang mempesona dengan nuansa Hawaii yang kental.

Sebagai debut baru di dunia film, walau hanya mengisi suara, Auli’i –penyanyi Amerika kelahiran  22 November 2000 di Oahu, Hawaii–secara ekspresif berhasil menampilkan karakter Moana, remaja tegar dari pulau Motunui. Tak hanya itu, Dwayne Johnson juga berhasil menghidupkan tokoh Maui yang kuat namun terkadang galau tak percaya diri karena senjata kailnya menghilang. Dwayne juga berhasil mendendangkan lagu dengan karakter suaranya yang khas dan “macho” dalam film ini. Sutradara  Ron Clements dan John Musker (The Princess and the Frog, 2009) secara gemilang berhasil menampilkan tontonan ciamik lewat film ke 56 film animasi Disney ini.

Yuuk..tonton bersama keluarga!