Menikmati Pesona Tari Guel Kala Senja Di Danau Laut Tawar, Takengon


"Selamat datang di negeri di atas awan, Takengon"
Awan putih dan langit biru menyambut kami siang itu. Matahari engan menyapa dan bersembunyi di balik bukit, namun mendung pun urung datang, jadilah siang itu redup dan terang. Kaki saya terhenti ketika dipersimpangan antara landasan pacu dan jalan menuju terminal kedatangan. Kamera saku kemudian melaksanakan tugasnya mengabadikan pemandagan di sekiling Bandara. Rembele, begitulah masyarakat menyebut bandar udara yang hanya dapat menampung pesawat berkapasitas kurang dari 100 orang. Sebenarnya saya masih mengira kalau Rembele identik dengan Indonesia Timur, namun ternyata Aceh pun memiliki nama Bandara yang cukup unik.

Setelah mengambil bagasi, kami dijemput dengan dua kendaraan, karena memang jumlah kami hampir genap 10 orang. Mata saya masih takjub dengan paduan warna putih dan bitu yang menghias langit. Langit inilah yang saya temukan setahun silam di Pulau Rote. Tidak ada langit yang tidak sempurna di Rote ini, saya menyebutnya berkali-kali pada perjalanan lalu. Dan, kemudian saya menemukan langit yang sama, bahkan saya baru sadar kalau Takegon layak mendapatkan julukan "Negeri Di Atas Awan"


Sejauh mata memandang, pohon hijau menghias di kanan kiri. Roda mobil berderit tanda mengerem. Sebelah kanan kami terdapat kebun kopi dan bangunan seperti saung, rumah makan khas Sunda yang terbuat dari bambu. Setelah melihat ke dalam, ternyata inilah Kafe Kopi. Bentuknya memang sangat tradisional, hampir seluruhnya terbuat bambu dan kayu. 

Di tempat duduk di samping kami, sekitar empat orang sedang menikmati kopi. Sangat lumrah warga Takengon menikmati kopi sebagai sebuah sajian yang wajib setiap harinya. Kedai, kafe atau pun warung kopi dimana pun selalu ramai. 

"Kedai kopi itu tempat melakukan pertemuan bisnis mulai dari uang receh sampai milyaran. Dan biasanya kami membawa bolpoint dan stempel." 

Pemiliki Kafe menjelaskan mengapa tradisi minum kopi dan bersosialisasi di kedai sangat digemari di daerah penghasil kopi Arabica terbaik di Indonesia. Dari kedai kecil ini terciptalah bisnis milyaran. Apabila saya mengidolakan toilet sebagai sumber ide yang tak pernah surut, maka warga Takengon mengatakan kedai adalah sumber ide dan bisnis yang tak pernah padam.


Perbincangan asik kami terhenti ketika sebuah botol disajikan. Eits, botol ini bukanlah minuman memabukan, namun kopi pekat dengan fermentasi. Melihat kopi hitam saja saya sudah tidak berselera, ditambah dengan campuran fermentasi, maka 100 persen saya tidak akan mencoba setetes pun. Beberapa orang kemudian menenguknya dan terlihat baik-baik saja, tanpa ada yang kejang-kejang, pingsan atau bahkan mati mendadak. 

Oke, jadi saya memutuskan untuk mencobanya. Hidung saya menangkap aroma tajam dan asam. Hingga akhirnya lidah saya merasakan kopi pahit dengan asam yang keterlaluan. Ah, apa enaknya kopi ini? Namun, pengemar kopi memang memiliki seleranya sendiri-sendiri. Kopi hitam fermentasi ini pun ternyata sangat digemari, terutama oleh Gondrong, pemilik kafe Seladang. 

Kopi Hitam Fermentasi yang belum diseduh dengan air.
Jalanan aspal sedikit berlubang tak menghentikan laju mobil. Malah kecepatannya semakin bertambah, sementara pepohonan disekitar kami berubah menjadi pemadangan Danau. Inilah Danau Laut Tawar, sebuah rumah bagi suku Gayo, masyarakat menyebutnya Tanoh Gayo atau Dataran Tinggi Gayo. 



Lebih dari 5.000 hektare luas Danau Laut Tawar membuatnya disejajarkan dengan Danau-Danau luas di Sumatra, seperti Danau Toba, Sumatra Utara dan Danau Ranau, Lampung dan Sumatra Selatan. Pantas saja disebut sebagai Negeri Di Atas Awan, yang saya lihat sepanjang perjalanan adalah keindahan Danau disandingkan dengan pepohonan hijau serta langit yang selalu cerah dengan putih birunya. 

Dalamnya Danau Laut Tawar pun siapa yang tahu dan menjadi misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Banyak sekali misteri dan legenda yang melekat dan sudah turun temurun diceritakan oleh masyarakatnya. Dan, inilah salah satu legenda yang tersohor dari Takengon, Aceh Tengah. 

Dahulu kala, seorang Putri Raja yang mendiami wilayah ini disukai oleh Pangeran dari Kerajaan lain. Putri tersebut akhirnya dioersunting oleh Pangeran. Namun malang, Sang Putri tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Namun kemudian orang tuanya hanya berpesan saat melakukan pelarian jangan sekali-kali menoleh dan teruslah menghadap ke depan. 

Sang Putri tidak tega meninggalkan orang tua. Saat pergi meninggalkan daerahnya, sang Putri pun menoleh ke belakang untuk melihat orang tuanya. Karena pesan orang tuanya dilangar, Langit pun murka dan petir pun menyambar serta menurunkan hujan deras. Sang Putri pun menangis disertai dengan air hujan. Lama kelamaan terciptalah sebuah Danau laut Tawar. Inilah legenda yang beredar di masyarakat. 


Asam Jing Khas Gayo.
Tak lengkap menikmati Danau Laut Tawar tanpa menikmati sajian kulinernya. Kami berhenti disebuah restoran. One-One Cafe tepatnya (Baca On ne - On ne Ka fe, bukan one-one kafe). Restoran ini terletak di Kampung One-One dekat dengan Teluk One-One. Restoran yang menyajikan santap siang ikan air tawar seperti Mujahir dan Bawal. Selain ikan, sajian lainnya adalah Udang, namun jenisnya bukan udang laut melaikan udang air tawar.Tak lengkap rasanya tidak menikmati sayuran dan sambal. Sayurnya terbuat dari sayur dau labu sementara sambalnya racikan antara terong belanda dan cabai. 

Sajian lain yang terbuat dari ikan air tawar adalah Masam Jing khas Gayo (Dikenal juga sebagai Asam Jing). Sepintas Asam Jing seperti pindang ikan patin dengan kuah kuning. Rahasianya terdapat pada kacang-kacangan dan kunyit sebagai bumbu-bumbu. Dari segi taste memang sangat kaya rempah dan sudah menjadi ciri khas masakan Dataran Tinggi Gayo ini.


Hari berganti, Danau Laut Tawar masih menampakan keanggunanya. Awan putih kini agak berubah keabuan, sementara langit biru agak tertutup hari ini. Saya dan rombongan melanjutkan separuh hari menyaksikan sebuah pertunjukan Tari Guel. Kami hampir menyusuri kawasan Danau dari sebelah timur. Selain menyaksikan tari, tujuan lainnya adalah berburu sunset di Danau Laut Tawar. 

Taufik dan Alma tengah bersiap mengenakan baju adat khas Gayo. Baju didominasi warna hitam dengan warna lain seperti merah, kuning, hijau dan putih sebagai motifnya. Baju adat disebut Kerawang. Setiap warna memiliki artinya sendiri dan berhubungan erat dengan alam. 

Tari Guel dahulunya dilakukan untuk mendapatkan Gajah Putih sebagai salah satu hadiah untuk Putri Sultan Aceh. Sengada, Putra Raja Linge XII, bermimpi dan bertemu dengan seseorang bernama Bener Meria. Dalam mimpinya, ia diharuskan menangkap seekor Gajah Putih untuk dipersembahkan kepada Sultan Aceh. 



Sesuai dengan petunjuk, Ia mengadakan kenduri dan melakukan tarian dengan gerakan-gerakan serta diiringi oleh musik. Tak hanya Sengada saja yang melakukan tarian, namun kemudian warga sekitar pun melakukannya. Berkat tarian tersebut, muncullah Gajah Putih ditengah pesta. Sesuai petunjuk Bener Meria, Gajah Putih kemudian dijinakan dan ditangkap untuk dipersembahkan kepada Putri Kesultanan Aceh. 

Tari Guel memiliki gerakan yang cukup mudah seperti gerakan-gerakan hewan dipadukan dengan musik dan suara nyanyian khas Gayo. Baju Kerawang yang warnanya mencolok mampu menyihir penonton untuk mengikuti gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan kemagisan Tari Guel. 

Matahari kemudian mulai tengelam di balik bukit. Kami pun masih sempat berbincang-bincang di bibir Danau. Kamera kami pun masih sempat mengabadikan sunset. Walaupun tak seindah yang dibayangkan, namun keindahan dan pesona Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Gayo ini cukup kami nikmati degan senda gurau yang tak ada habis-habisnya.