September 2017

  • 25/09 – Mengenang Yun Hap – Sebuah feature radio dari 18 tahun lalu yang mengulas tentang gugurnya seorang mahasiswa UI dalam Tragedi Semanggi II tanggal 24 September 2017. RIP Yun Hap.
  • 23/09 – UNBUNGKUSIN – Kali ini kita unbungkusin tiga macam cemilan favorit. Episode lainnya ada di playlist YouTube: http://bit.ly/unbungkusin
  • 21/09 – Ngeliat pola gue update blog belakangan ini, kok jadi mikir ya untuk bikin blog ini hanya buat sekedar update-update singkat kayak gini, dan ngelink ke posting-posting media sosial gue yang lainnya. Hmmm… Jadi irit hosting sih.. Hm….
  • 21/09 – “InkTober” – Nggak kerasa sebentar lagi bulan Oktober dan setiap bulan gue ini (yes I’m an October guy) gue selalu ikutan tantangan gambar 30 hari Inktober. Ini official prompt list untuk tahun ini. Ada versi bahasa Indonesianya juga. Hmm.. tahun ini ikut lagi gak ya..
  • 21/09 – “Alone in Bangkok” – Akhirnya kelar juga tantangan 30 hari bikin proyek foto hitam putih “Alone in Bangkok” di Instagram. Hasil lengkapnya bisa dilihat di sini atau di link ini bit.ly/aloneinbangkok. Hmm.. bikin project apalagi ya?
  • 20/09 – Suarane Edisi 7 – Udah lama pengen bikin podcast bareng Om Hertoto Eko, sesama mantan penyiar yang tinggal di Singapura. Baru kesempatan sekarang. Kita ngobrolin soal rekomendasi podcast keren dari dia. Check it out!
  • 16/09 – “Un-Bungkusin” – Udah dua minggu ini setiap wiken gue sama Neng Mput bikin video yang kita sebut “Un-Bungkusin” yang intinya adalah unboxing bungkusan macam-macam makanan. hehehe.. Hasilnya bisa dilihat di sini.
  • 15/09 – Rumah Susun Bu Presiden Negeri Tetangga – Sebuah cerita yang tercecer dari pelantikan Halimah Yacob sebagai presiden ke 8 Singapura dan bagaimana dia tetap ingin tinggal di rumah HDBnya.
  • 12/09 – “Wakil Rakyat Yang Terhormat” – Kadang gue mikir kenapa ya akhir-akhir ini makin banyak hal absurd yang muncul dari gedung rakyat di Senayan sana? Kali ini dalam rapat dengan KPK, tiba-tiba ada salah satu anggota DPR yang menegur pimpinan KPK karena tidak menggunakan panggilan “Yang Terhormat” kepada mereka. What the f***k?
  • 12/09 – Suarane Edisi 6 – Ngasih tugas ke Neng Mput buat belajar wawancara. Hasilnya jadi podcast Suarane edisi 6 ini. 😀 >br>
  • 11/09 – “Jokowi dan Pernikahan Raisa” – Dikirimi foto lucu dari pidato Pakdhe Presiden di UNPAD. Di situ dia cerita bagaimana banyak yang mengadu kepadanya tentang aset negara yang diambil oleh pihak asing hahaha
  • 08/09 – Selfie Dengan Jokowi – Ada yang bikin Facebook Frame yang membuat kita seolah bisa selfie dengan Pak Jokowi. Harusnya istana nih yang bikin Facebook Frame resmi model begini. Kasihan soalnya Pak Jokowi ke mana-mana orang berebut selfie.
  • 06/09 – Ketemu harta karun yang luar biasa berharga. Rekaman suara Bang Nuim Khaiyath di salah satu acara “SAMBA” Radio Australia tahun 2010. Ada beberapa rekaman klasik lainnya di Soundcloud RLC di sini.
  • 04/09 – Suarane Edisi 5 – “Bang Memet,” Sebuah edisi podcast soal media sosial, hoax dan tragedi Rohingya. Jangan diklik kalau nggak suka dengerin orang nggerundel hehe
  • 01/09 – “After the rain, the sun will reappear. There is life. After the pain, the joy will still be here.”- Walt Disney (Gue kutip di foto Facebook Cover  baru bulan September ini)

~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May Jun | Jul Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.

Suarane Episode 7 – Dari Radio, Podcast, ke Night School

Episode ke 7 ini berisikan review terhadap podcast “Night School” dari sebuah radio independen di Malaysia. Kali ini gue ditemani oleh Hertoto Eko Prasetyotomo (Toto), seorang profesional asal Indonesia yang bermukim di Singapura, seorang penggemar podcast dan juga pernah jadi penyiar radio di Indonesia.

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Suarane Episode 6 – Miss Boa on BBM

Ini segment baru podcast Suarane bertajuk BBM (Belajar Bareng Mputtt) yang merupakan bagian dari tugas homeschooling Neng Mput (putri saya) untuk belajar wawancara. Tugas pertamanya adalah mewawancarai guru lesnya yang juga mahasiswi S3 di Thailand. Enjoy

Music used in this episode:
Pixelland by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Suarane Episode 5 – “Bang Memet”


Episode ke 5 ini gue sebut sebagai segmen IMSTO (In My Sok Tau Opinion) di mana gue beropini tentang suatu peristiwa yang sedang hangat jadi pembicaraan. Kali ini gue mau cerita tentang sosok bernama Bang Memet. Siapa dia? Apa pula hubungannya Bang Memet dengan tragedi Rohingya?

Behind the scene: Rekaman episode ini lebih gampang karena gue ngoceh sendiri dan minimal editing. Tapi tantangannya adalah karena direkam secara outdoor, di pinggir kali dekat rumah sehingga beberapa kali harus break karena ada suara perahu lewat dan itu terekam apa adanya.. Enjoy 🙂

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

August 2017

  • 25/08Lenka: Kembali ke Khittah Fotografi – Ulasan tentang Lenka, aplikasi fotografi hitam putih untuk ponsel yang diciptakan seorang fotografer kelas dunia. Ini bukan sembarang aplikasi!
  • 22/08 – So how do you explain the solar eclipse phenomenon -currently happening in the US- to the millenials? How about: WHEN THE MOON PHOTOBOMBS THE SUN! Hahaha!
  • 22/08 – Terinspirasi dari essay foto Lonely in Jakarta” di Stellernya Annisa Nuraida, gue memulai serial street photography dengan tema: “Alone in Bangkok” di Instagram gue.  Sebenarnya ini tantangan karena gue nggak terlalu suka foto hitam putih. Tapi tantangan utamanya adalah memotret suasana Bangkok yang pasti ramai, tapi dengan hanya satu orang di dalam frame. Hasilnya? Ini foto pertama dan ini foto kedua. Selanjutnya bisa dilihat di Instagram gue 🙂  Satu hal positif dari tantangan pribadi ini adalah gue jadi banyak jalan hahaha
  • 2o/08Mulai lagi deh sentimen nasionalisme kebablasan begitu bicara Malaysia. Kali ini gara-gara booklet resmi Sea Games di Malaysia di mana bendera Indonesia dicetak terbalik. Dua menteri Malaysia sudah minta maaf. Tapi tetap aja ramai! Ckckck…
  • 17/08 – Belum pernah saya sebangga ini jadi orang Indonesia. Pakdhe Jokowi kembali bikin sesuatu yang baru dengan membuat Upacara Hari Kemerdekaan di Istana jadi luar biasa ramai dengan tamu berpakaian daerah. Kabar lebih seru lagi adalah karena para mantan presiden akhirnya kumpul semua di Istana. Bonus: Di acara yang biasanya disakralkan itu, Pakdhe Jokowi mengumumkan tamu yang memakai pakaian daerah terbaik dan diberi sepeda hahaha! I love you, Pakdhe!! Merdekaaa!!
  • 15/08 – Setelah pusing mikirin cara promosi Facebook Frame, ternyata mereka diam-diam memperkenalkan fitur shareable link untuk Frame. Ini keren. Cukup klik link itu di HP dan kamera Facebook langsung terbuka dengan frame kita.  Sementara kalau kita klik di komputer, akan muncul tombol untuk mengirim link ke HP. Keren lah. Dari dulu keeek. Sejak promosi dengan shareable link ini, pengguna Frame buatan saya melonjak drastis. Coba deh klik salah satu link ini di HP, dan silahkan bergaya hehe – Versi Aku Indonesia | Versi Gue Indonesia | Versi Indonesia Satu | Versi Polos. Enjoy!
  • 13/08 – Pejabat tidur di kereta jadi viral. Pejabat belanja di pasar viral. Pejabat naik kereta viral. Sekarang ini kenapa ya segala hal yang harusnya biasa aja jadi viral. Lucunya, Buya Syafii Ma’arif naik kereta pun viral dan beliau disebut punya kesederhanaan yang ekstrim. Apa kita sekarang udah manja ya?
  • 07/08 – Facebook Frame: Jajal bikin Facebook Frame dengan tema HUT RI ke 27. Bisa dilihat di sini dan di sini. Kalau mau pakai bisa ke sini dan search keyword: “Indonesia Satu Suarane” 😀
  • 02/08 – Klipping: Lagi browsing arsip berita lama dan ketemu banyak sekali  artikel online tentang radio siaran yang saya kumpulkan dari berbagai media dan blog. Saya simpan di sini pelan-pelan sesuai tanggal terbitnya dan bisa dilihat di kategori baru: KLIPPING ARTIKEL RADIO.
  • 01/08 – And so another August.. Bulan keramat 🙂

 

~~~

Previous months:

2017 | Jan | Feb | Mar | Apr | May | Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr | May | Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec  |

Contact me here.

Lenka: Kembali ke Khittah Fotografi

Motret hitam putih? Ah gampang. Tinggal ambil foto biasa, terus pakai efek hitam putih. Ini jawaban yang khas sekali di era di mana kita dimanja dengan segala macam filter di aplikasi ponsel.

Tapi memotret hitam putih tidak semudah itu. Perlu mindset yang berbeda. Memotret dengan hitam putih menuntut kita untuk melihat dengan cara yang berbeda entah itu dari sisi angle, frame, kontras pencahayaan dan lain sebagainya. Konon begitulah cara berpikir para penggila foto hitam putih.

Inilah yang agaknya ingin dicapai oleh Lenka, sebuah aplikasi foto hitam putih yang tersedia buat iOS dan Android. Aplikasi ini benar-benar tidak neko-neko. Tidak ada flash (yang ada hanya pilihan lampu yang terus menyala), tidak ada fungsi post-processing (filter ini itu) bahkan fungsi editingnya hanya untuk cropping saja, dan tidak bisa pakai kamera depan yang kualitasnya lebih rendah (maaf ya penggemar selfie cari aplikasi lain deh).

Lenka sepertinya ingin mengembalikan kegiatan memotret (hitam putih) ke khittahnya yaitu: memotret saja, titik!

Namun justru karena kesederhanaan itu, Lenka mengembalikan khittah memotret ini pada soal kualitas dan tidak berlebihan kalau dikatakan ini adalah aplikasi foto hitam putih terbaik.

Tidak tanggung-tanggung, Lenka ini dikembangkan oleh salah seorang fotografer kelas dunia, Kevin Abosch yang terkenal dengan karya potret orang-orang terkenal dunia mulai dari Yoko Ono, Aung San Suu kyi, Steven Spielberg, sampai Malala Yousafzai. Kabarnya saat mengembangkan aplikasi ini Pak Abosch dan timnya sampai mempelajari karakterisik sensor kamera ponsel untuk sebisa mungkin menyamai karakteristik foto hitam putih yang dibuat dengan kamera profesional.

Enough said! Silahkan coba saja sendiri dan lihat hasilnya. Ada ulasan yang menyebut kontras warna yang dihasilkan Lenka sangat berbeda dibandingkan aplikasi hitam putih lainnya atau bahkan jauh lebih beda lagi dibandingkan memotret dengan warna dan diberi filter hitam putih.

Silahkan coba sendiri aplikasi Lenka yang tersedia (masih) gratis di Playstore (Android) atau App Store (iOS).

Saya sendiri sudah menggunakan beberapa aplikasi foto hitam putih seperti Hypocam dan Hueless yang juga mengklaim sebagai aplikasi hitam putih sejati! Tapi di mata saya yang bukan fotografer profesional ini, hasil memotret dengan Lenka itu terasa berbeda dan yang lebih penting lagi, pemakaiannya sederhana. Tinggal jepret! Cocok untuk street photography.

Saat ini saya sedang menggunakan Lenka untuk sebuah tantangan pribadi memotret setiap hari selama satu bulan dengan tema “Alone in Bangkok“. Tantangan ini lebih ke bagaimana memotret suasana kota Bangkok dengan hanya memasukkan satu orang saja dalam frame dan sebisa mungkin tidak melakukan editing. Kalau pun harus saya edit dengan aplikasi lain, saya menggunakan Snapseed untuk mengatur kontras atau pencahayaan pada bagian-bagian tertentu dari foto khususnya obyek manusianya untuk menonjolkan sisi “alone” sesuai dengan tema foto saya. Di bawah ini adalah beberapa hasilnya (klik untuk memperbesar), sementara selengkapnya bisa diikuti di Instagram saya.

Mau lihat hasil yang lebih profesional? Silahkan saja tengok hasil kurasi foto-foto yang dijepret dengan aplikasi Lenka dari berbagai belahan dunia di Lenka Grid.

Bangkok, 25 Agustus 2017

Alone in Bangkok #1 Alone in Bangkok #2 Alone in Bangkok #3 Alone in Bangkok #4 Alone in Bangkok #5

 

July 2017

  • 23/07 – Podcast Suarane Episode 4 sudah upload. Laporan utama episode ke 4 ini ngobrol panjang lebar dengan seorang podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi. Simak juga beberapa ulasan peristiwa yang lagi trend di media sosial kita dan satu rekomendasi keren untuk para pecinta podcast.
  • 21/07 – “Nenek Nurlis dan Mas Beno” sebuah kenangan untuk dua teman pendengar yang baru seja mendahului menghadapi yang Maha Kuala. Semoga tenang di sisiNya.
  • 20/07 – Ketemu lagi artikel yang selama ini sumber aslinya tidak bisa lagi diakses. Untung ada yang mengarsip. Sekalian diarsip juga di sini deh: Radio Internasional Masa Lalu dan Masa Kini.
  • 10/07 – Banyak yang tanya apa itu podcast Suarane, gimana cara dengarnya dll. Untuk menjawab itu jadilah page baru ini. Silahkan..
  • 08/07 – Episode ke tiga podcast Suarane. Ada tiga segmen, dengan segmen utama obrolan dengan penulis buku “Bangkok Rasa Lokal”, sebuah buku traveling yang menggunakan sudut pandang yang menarik. Dengar di sini dan cerita behind the scene di sini.
  • 05/07 – Update halaman About di blog ini. Baru sadar sudah sejak tahun lalu belum diperbaharui.
  • 04/07 – Exactly one month ago today I set foot in the Land of Smiles. Ini bukan pengalaman pertama saya ke Thailand, karena beberapa tahun lalu pernah dikirim untuk tugas liputan dan juga untuk tugas lain terkait pekerjaan. Tapi pastinya ini pertama kali saya menetap permanen di sini. Satu bulan saja sudah banyak pengalaman menarik dan semoga akan banyak lagi cerita dan pengalaman yang bisa saya tulis di blog ini.
  • 03/07 – Setelah sebulan saat Ramadhan hadir hampir setiap hari Podcast Suarane kembali ke frekuensi semula yaitu setiap dua minggu. Episode pertama siap hadir hari Sabtu (08/07) nanti, salah satunya hasil ngobrol-ngobrol dengan dua penulis buku “Bangkok Rasa Lokal,” sebuah buku traveling unik yang anti-mainstream 🙂
  • 02/07 – Satu bulan terakhir, tepatnya selama Ramadhan saya bereksperimen “puasa media sosial” dan semua saya laporkan dalam bentuk podcast singkat yang saya sebut “Podcast Extra”. Playlist lengkapnya ada di sini, atau bisa akses langsung di Soundcloud di sini.
  • 01/07 – July pun hadir. Welcome! Looking forward to a great month in a new city. The Family is joining soon, so can’t wait.

~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.

[Klipping] Sebuah Radio, Kumatikan

Penulis: Wicak Hidayat
Kompas, 10  Mei 2016

Perjalanan panjang, baik di kendaraan pribadi atau umum, memang lebih asik kalau ditemani musik. Di kereta Commuterline Jabodetabek, bukan hal istimewa lagi melihat penumpang dengan kabel terjuntai dari telinga mereka.

Sedangkan mobil pribadi di Jabodetabek mungkin sekarang ini adalah habitat paling subur untuk radio siaran. Pagi dan sore, saat macet menggiring manusia menjadi sakit jiwa, siaran radio jadi pereda dendam.

Begitu juga saya, dalam perjalanan mengantar anak sekolah, siaran radio tadinya adalah hiburan yang cukup menyenangkan. Garisbawahi kata “tadinya”, karena belakangan ini radio kami lebih sering mati.

Radio siaran adalah rezim, ia mendikte pendengarnya untuk mengikuti selera tertentu. Jika penyiarnya tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tak pantas didengar anak-anak? Saya cuma bisa tersedak dan buru-buru beralih ke frekuensi lain.

Maka sudah cukup lama saya merasa, rezim ini perlu digantikan. Sudah bisa diduga, gantinya adalah streaming musik digital.

Layanan streaming menjanjikan pengalaman yang berbeda, karena pendengar bisa memilih sendiri apa yang mau didengarkannya. Ya, dulu itu dilayani CD, kaset atau pemutar musik digital, tapi karena sekarang katalognya ada “di awan” maka pilihannya nyaris tak terbatas.

“Hei, ingat lagu yang kita suka dengar di warnet itu? Dulu, sambil mengerjakan tugas kuliah,” celetuk saya pada pasangan, ceritanya mau nostalgia gila masa-masa pacaran.

Tak perlu lama, aplikasi streaming musik bisa menghadirkan lagu itu langsung di saat itu juga. Harapannya, bersama dengan itu hadir pula kenangan manis kesibukan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama (dan bukan kenangan pahit saat menunggu sendirian di warnet berjam-jam untuk seseorang yang akhirnya tidak jadi datang).

Maka sekarang, rutinitas pagi di mobil adalah memasang smartphoneke kabel charger, menyalakan bluetooth dan mendengarkan lagu dari Bluetooth speaker. Ah, ya, radio mobil kami memang masih bawaan pabrik, bukan dari jenis yang bisa ditautkan via Bluetooth.

Teringat judul puisi Dorothea Rosa Herliany: Sebuah radio, kumatikan.  Dengan permohonan maaf sebesar-besarnya, judul itu terngiang menjadi: sebuah radio kumatikan, streaming kunyalakan.

Discovery, Serendipity, Friendly

Tapi begini, meski rezim radio mendikte pendengarnya untuk mendengarkan lagu tertentu, ada satu hal dari radio yang diam-diam saya nikmati. Ada perasaan bahwa saya bisa tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang enak, sebuah discovery atau bahkan semacam serendipity ketika lagu tertentu tiba-tiba dimainkan.

Apalagi kalau kebetulan lagu dari playlist  warnet yang dulu itu. Rasanya menyenangkan sekali, seperti tiba-tiba kembali ke masa lalu. Tahu kan? Seperti lagu klasik Yesterday Once More itu lho.

Ternyata oh ternyata, fungsi serendipity dan discovery  itu juga ada di layanan streaming. Walaupun tidak seratus persen sama, tapi cukup mirip-mirip lah, karena mereka juga punya fitur “radio” di dalam layanan streaming. Fitur yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan lagu-lagu tanpa memilih.

Lebih lucu lagi, layanan streaming musik bisa punya kumpulan playlistyang dicocok-cocokkan dengan tema tertentu. Mulai dari mood (galau, semangat, sedih, gembira?) hingga genre (pop, rock, cadas, kenangan?).

Tapi ada satu hal yang tidak dimiliki layanan itu: mereka tidak ada penyiarnya.

Saya sudah menyadarinya, tapi sungguh lebih menohok ketika membacanya sendiri dari “orang radio”. Dalam tulisan di blognya, Rane Hafidz — yang lebih akrab di kepala saya sebagai Rane Jaf — sangat apik menuturkan peran radio yang diambilalih oleh layanan streaming. Baca deh di: http://suarane.org/layanan-streaming-musik-quo-vadis-radio/

Nah, coba simak nasihat Rane untuk radio. Intinya, kalau boleh saya sok menyimpulkan: jika satu-satunya yang tak dimiliki layanan streaming adalah manusia alias penyiar radio, maka penyiar radio harus menjadi relevan dengan pendengarnya dan bisa menjadi teman.

Sampai Paket Data Penghabisan

Satu hal yang cukup memberatkan dari layanan streaming musik adalah biayanya. Bukan biaya langganan bulanannya lho, tapi biaya paket datanya. Mungkin Anda bertanya, “paket data apa, kan bisa disimpan dulu lagunya, saat terhubung ke Wifi?”

Begini, untuk bisa menikmatinya ala radio, saya harus rela mengaksesnya dengan paket data. Lagipula, saya tidak cukup rajin untuk mengunduh playlist untuk esok hari (apalagi untuk seminggu ke depan). Jadi ya, terpaksa lah menggunakan paket data.

Oh la la, pernah satu kali saya benar-benar mendengarkannya sampai paket data penghabisan. Setelah itu tiba-tiba termangu karena saya sadar kalau paket data itu masih dibutuhkan untuk komunikasi di perjalanan. Terpaksa beli “doping” paket data, yang dijamin bakal boros karena sebelum habis kuotanya sudah masuk lagi ke siklus berikutnya dari paket data langganan.

Tapi bicara biaya, sisi lain dari layanan streaming adalah biaya yang dibayarkan layanan streaming itu ke musisi. Entah skemanya seperti apa, tapi ini konon berpotensi jadi sumber dana. Ingat kan ketika ringbacktone merajalela, dan para musisi berpesta?

Tunggu dulu. Benarkah dananya mengalir ke musisi?

Taylor Swift kalau tidak salah pernah mengajukan keberatan atas aliran dana royalti dari layanan streaming tertentu. Ia merasa diperlakukan tidak adil, dan ujung-ujungnya mencabut seluruh lagunya dari layanan itu.

Ada juga Thom Yorke, vokalis Radiohead, yang pernah menganalogikan layanan streaming tertentu sebagai: this is like the last fart, the last desperate fart of a dying corpse. Lalu, entah ada hubungannya atau tidak, album terbaru Radiohead masih belum tersedia di layanan streaming itu.

Tentu saja ada teori konspirasi (tak terbukti, entah benar atau tidak) bahwa kedua musisi tadi sebenarnya mendukung layanan pesaing. Karena Swift, misalnya, masih memiliki katalog lengkap di layanan streaming lain. Album terbaru Radiohead juga disebut tersedia di layanan itu.

Ah, sudahlah, mungkin ada unsur persaingan bisnis di situ, mungkin ada idealisme atau mungkin juga tidak ada apa-apa. Apapun itu, layanan musik streaming memang pelan-pelan mulai merasuki keseharian kita.

Di mobil, setiap pagi, sebuah radio saya biarkan mati. Musik streamingdinyalakan, dan diam-diam sepertinya saya perlu buat playlist berisi lagu-lagu kenangan dari sebuah warnet. Siapa tahu, salah satu lagu dari playlist itu bisa membangkitkan senyuman. []

Suarane Episode 4 – Iqbal Hariadi

Laporan utama episode ke 4 ini ngobrol panjang lebar dengan seorang podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi. Simak juga beberapa ulasan peristiwa yang lagi trend di media sosial kita dan satu rekomendasi keren untuk para pecinta podcast. Enjoy!

Music used in this episode:
Digital Lemonade, Pixelland, Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
creativecommons.org/licenses/by/3.0/

___

Nenek Nurlis dan Mas Beno

Seminggu terakhir ini saya kehilangan dua orang yang sudah bertahun-tahun berteman walau belum pernah bertemu muka. Kenapa bisa begitu? Keduanya adalah teman baik yang sering mendengarkan siaran saya semasa masih bekerja di radio. Pekan ini, hanya berselang beberapa hari, keduanya berpulang menghadap yang Maha Kuasa. Tulisan ini akan sangat bersifat pribadi, sekadar ingin mengabadikan kenangan tentang mereka, mewakili kenangan saya tentang teman-teman lain yang juga sudah mendahului kita.

~~~

Nenek Nurlis

Nenek Nurlis sudah cukup sepuh. Menurut sang cucu, usia beliau 90 tahun saat tutup usia di Payakumbuh, Sumatera Barat hari Selasa, 18 Juli 2017. Mungkin sejak awal 2000-an dia sudah setia di depan radio menemani saya siaran semasa masih di Radio Singapura Internasional (RSI).

Menurut cerita sang cucu dalam pesan Facebooknya beberapa tahun lalu, Nenek Nurlis tinggal sendirian karena anak cucunya menetap di kota lain. Sebelum cucunya datang menemani, sang nenek tinggal di rumah yang belum teraliri listrik, dan temannya saban malam adalah radio SW kecil bertenaga baterai ABC. Beliau juga hafal sekali nama-nama penyiar RSI dulu. Saya sangat senang dan terharu ketika suatu hari sang cucu mengirimkan video pendek di Instagram saat Nenek Nurlis sedang bercerita tentang penyiar-penyiar radio kesayangannya.

Senang sekali melihat video ini. Saya paling senang membayangkan sosok-sosok teman yang sedang mendengarkan kami siaran. Saya selalu membayangkan seperti apa mereka, sedang apa mereka, di mana mereka saat sedang mendengarkan. Nenek Nurlis adalah salah satunya. Rasanya senang sekali karena ada yang menemani di ujung gelombang radio nun jauh di sana. Sebuah perasaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Terima kasih kepada Cucu Nek Nurlis, Melissa Letyzia karena akhirnya mempertemukan kami di Facebook dan Instagram.

~~~

Mas Beno

Mas BenoLain cerita Nenek Nurlis, lain pula cerita Mas Beno. Kalau Nek Nurlis lebih mendengarkan radio secara pasif, sesekali titip salam lewat cucunya yang juga mendengarkan radio, maka Mas Beno ini sangat aktif. Nama lengkap beliau Harsubeno Lesmana. Saya memanggilnya Mas Beno. Di radio siaran internasional namanya cukup dikenal karena beliau sangat aktif mendengarkan dan berkorespondensi dengan berbagai siaran radio internasional, termasuk radio saya dulu.

Mas Beno ini DX-ers sejati (istilah untuk para pendengar radio siaran SW). Korespondensi dengan beliau yang masih saya simpan saya adalah dari pertengahan tahun 2009 ketika beliau tahu saya pindah ke Radio Jepang, NHK World. Tapi sebelumnya, sejak di Radio Singapura Internasional, kami sudah rajin berkomunikasi, entah untuk request lagu, berkirim salam, berkomentar tentang acara radio kami atau sekedar bertegur sapa.

Satu hal yang berkesan buat saya adalah beliau sering memberikan komentar dan masukan untuk acara-acara yang saya dan teman-teman bawakan. Beliau hafal sekali setiap detil acara yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuat kami benar-benar merasa diapresiasi. Rasanya penyiar radio manapun akan tahu seperti apa rasanya jika pendengar tahu detil acara-acara yang kita udarakan.

Tapi yang lebih berkesan buat saya pribadi adalah karena beliau rajin sekali berkirim ucapan di hari ulang tahun saya, sementara saya sering sekali terlewati menyapa di hari jadinya. Beliau juga beberapa kali mengecek kondisi kami saat Jepang dilanda gempa besar di bulan Maret 2011 nun jauh dari kawasan Petojo, Jakarta sana.

Mas Beno berpulang dengan tenang pada hari Minggu, 16 Juli 2017.

~~~

Teman

Ada yang menyebut sosok-sosok seperti Nek Nurlis dan Mas beno ini sebagai pendengar. Saya lebih suka memakai istilah teman. Sejak dulu saya selalu diajari oleh para senior bahwa seorang penyiar radio harus dan wajib menjadi teman pagi pendengarnya. Itu salah satu teori radio paling penting. Dengan selalu menanamkan pemikiran seperti itu, setiap pesan yang disampaikan lewat corong mikrofon akan lebih terasa akrab dan tidak terkesan dibuat-buat. Pemikiran seperti itu membuat kita lebih mudah memvisualkan siapa yang kita ajak bicara di udara dan tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari siapapun.

Saya ingat sekali seorang penyiar senior pernah bilang: “Kalau lu udah merasa jadi artis, mendingan sana jadi pemain sinetron aja sekalian. Jangan jadi penyiar radio!” Saya yang ketika itu kedatangan seorang pendengar yang ingin minta foto dan tanda tangan, hanya terdiam malu.

Nah, lebih dari sekedar teori, saking seringnya kita berinteraksi, pada akhirnya hubungan kami dengan para pendengar berkembang menjadi teman yang sebenarnya. Nama-nama merekapun sangat akrab dengan keseharian kami.

Dan rasanya tidak ada pertemanan yang lebih erat lagi daripada pertemanan di kalangan penyiar dan pendengar radio SW. Meski kini jumlah stasiun radio internasional semakin berkurang, begitu juga dengan pendengarnya, namun semoga saja semakin guyub pertemanan kita.

Selamat jalan Nenek Nurlis, selamat jalan Mas Beno…

Selamat jalan juga untuk teman-teman radio lainnya yang juga sudah mendahului kita. Diantara yang saya ingat ada Mas Dick Himawan, Mas Nano Sukirno, Mas Mariadi Purnomo, Mas Rajab Pinem.

Semoga kalian tenang di sisiNya.

Terima kasih sudah menemani saya di udara.

.
Bangkok, 21 Juli 2017