– BIDADARIKU – (Bagian 4)

-BIDADARIKU-

Part 4

(Sambungan dari - Bidadariku Bagian 3 -)


- BIDADARIKU - (Bagian 4)


"Laki-laki yang menganggap bahwa dirinya seorang raja maka ia akan menanggap istrinya adalah mahkota yang sangat berharga dan bagian dari pada harga dirinya.
Dan jika ada lelaki yang menganggap istrinya seperti sendal jepit yang dicari saat dibutuhkan saja, yang ketika rusak tinggal cari gantinya. Maka lelaki itu secara tidak langsung telah menganggap bahwa dirinya itu hanya sikil.."

KONTRAKAN


Lanjut cerita, Alhamdulillah kami dapat kontrakan yang tepat, tibalah saat pindahan Alhamdulillah orang tua kami, sanak saudara, Abang guru dan sahabat membantu kami untuk pindahan. Kami makan-makan dan canda tawa bersama saat itu, barakallah..

Di subuh pertama saat kami hidup mandiri masyaallah rasanya. Dia istriku seperti biasa bangun terlebih dahulu dengan ciri khasnya saat bangunkan saya. Dia selalu dalam keadaan cantik yang full, sudah mandi dan berdandan. Di waktu sebelum subuh itu ada sedikit dialog antara kami.

*Khumairahku : Aa.. bangun sayang udah mau subuh.. ( dengan nada lembut sambil cubit hidung dan pipinya ditempel ke pipi saya)
*Saya : Iyah khumairah Aa bangun sebentar lagi yah..
*Khumairahku : Aa.. iih.. Bangun katanya mau masak sarapan bareng..
*Saya : siapp bu bos bangun.. ( sambil cium kening )
*Khumairahku : mandii sana ih bauu..
*Saya : sayang.. Aa mau tanya dong, kenapa sih setiap pagi buta sebelum bangunin Aa kamu selalu berdandan dulu ?
*Khumairahku : A.. aku cuma mau berikan yang terbaik untuk suami aku, karena kecantikan aku hanya untuk suami aku.
*Saya : aahh.. jadii makin sayang... (sambil peluk)

Setelah subuh kami langsung masak berdua dan kami berbagi tugas, saya yang masak istri yang cicipi πŸ˜‚. 

Menu andalan di pagi hari.. Jadilah nasi goreng.. setelah cobain masakan saya dia langsung cemberut dan bilang.. "Sebel ah masa enakan masakan Aa daripada aku ".. 

"Iishh bagi Aa enakan masakan kamu beib, number one pokoknya.. lope-lope ama masakan kamu.." jawabku. Sambil tertawa dia suapi saya dan begitu sebaliknya. 

Selesai sarapan saya bersiap untuk berangkat bekerja yang saat itu saya sudah bekerja di salah satu perusahaan minuman softdrink sebagai seorang merchandiser lapangan. Pakaian saya sudah rapih dan sudah disiapkan olehnya. 

Sebelum berangkat ada ritual yang harus dan wajib saya jalani yaitu cium kening, pipi kanan kiri, dan calon buah hati kami.. dan dia cium tangan saya dengan hangat sambil bilang 
"Jaga diri dan jaga hati yah A.. nanti sore aku masak spesial jadi Aa langsung pulang yah.." 
"Siapp khumairahku." 
Sungguh indah nikmatmu yaa Robb.

Selesai bekerja sesuai janjiku, aku langsung pulang dengan perut lapar. 
"Assalamualaikum de," ucapku.. 
"Wa'alaikumussalam" sambil senyum dan dandanan yang maksimal cantiknya, dengan seketika lelah pun hilang melihat wajahnya. 

Dilanjutkan dengan ritual yang sama saat sebelum berangkat. 

bidadariku cium kening, pipi kanan kiri, dan calon buah hati kami


Ternyata masakan sudah siap dihidangkan. "Makan yuk A.. aku udah siapin sepesial buat Aa, sop ayam dan tempe-teri kecap. 

Saat saya makan dalam hati saya (harus tahan asin bismillah πŸ˜‚) tapii ternyata.. loh ko enak yah.. tapi ada yang aneh yah, ternyata ada beberapa wortel yang irisannya masih besar πŸ˜‚, wkwkwk dengan sengaja saya makan potongan terbesar nya. 
"Yaallah A.. itu apaan..?" sambil tertawa.. "Maaf A.. "
"Ga apa apa sayang Aa suka wortel ko" πŸ˜‚. 

Kami pun makan sepiring berdua sambil canda tawa dan saling cerita yang terjadi seharian. Selesai makan saya pun bersih-bersih dan kami langsung melaksanakan sholat magrib. 

Usai sholat saya simak bacaan Al-Qur'an istri dan dilanjutkan dengan membaca surah Yusuf dan Mariam, Lanjut ke isya. Setelah itu kami bersenda gurau sampai larut malam.

Sebelum tidur seperti biasa dia wudhu terlebih dahulu, dan istriku bilang.
*Khumairahku : A.. aku bahagia banget punya suami aa.
*Saya : begitupun Aa de bahagia banget punya bidadari seperti kmu.
*Khumairahku : A.. ridhoin aku yah, maafin semua kekhilafan aku yah a.. aku ga mau tidur dalam keadaan Aa kesel sama aku.
*Saya : khumairahku sayang.. ada ridho sayang.. i do love you my wife..
*Khumairahku : terimakasih yah Aa.. (sambil peluk)

Seperti biasa sebelum tidur kami mambaca dzikir, sholawat dan doa bersama. Sampai ketika suatu malam saya terbangun di tengah malam, ternyata istriku sedang sholat tahajud. 

"Masyaallah.. istriku.. terima kasih yaallah, telah memberikanku bidadari yang sholehah.."  (dalam hati)

Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 5)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Selasa, 23 Maret 2021


S0608: Ajakan Berbuat Kebaikan Lewat Podcast

Memasuki bulan suci Ramadhan ada satu kegiatan menarik dari Komunitas The Podcasters Indonesia bekerjasama dengan Paberik Soeara Rakjat dan Jaringan Podcast Campus. Kegiatan ini intinya mengajak para podcaster untuk berbuat kebaikan lewat podcast mereka. Ini sekalian juga memberi ide kepada para podcaster yang belum tahu mau mengisi konten seperti apa di bulan Ramadhan nanti, lewat 10 macam konten atau episode. Selengkapnya dengarkan ceritanya langsung dari sang Ketua Panitia, Bang Odi.

β€”

* Music used in this episode: Loopster by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ – Source:Β http://incompetech.com/Β 

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

CERITA HALU 6

Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4) 


demo buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Lastri terkejut bukan main melihat Fatur tiba-tiba ada di depannya. Tangannya masih memegang alat make up seperti biasanya yang ia lakukan jika sedang tak ada pekerjaan.


"Presdir ada?" tanya Fatur, agak geli melihat Lastri yang gelagapan. Memang sudah terkenal di kalangan karyawan jika Lastri sang sekretaris Presiden Direktur ini suka berdandan. Selalu terlihat cantik.


"A--ada ...." jawab Lastri agak gugup. "Mereka sudah menunggu Pak Fatur dari tadi, lho," lanjutnya setelah menenangkan diri.


"Mereka? Mereka siapa?," malah gantian Fatur yang heran.


"Presdir dan para direktur. Lalu ada beberapa orang lagi yang katanya dari serikat FSPGB. Dan ada dua orang tamu yang sepertinya mereka pejabat. Mereka semua menunggu, lho!."


Fatur cuman bengong.


"Lah, kok malah bengong sih, Pak! Buruan masuk aja langsung!" seru Lastri sambil tersenyum, giliran dia yang geli melihat roman muka Fatur yang terbengong-bengong.


"Oh! O--oke! Makasih Lastri." Agak gugup Fatur menjawabnya,  lalu ia langsung menuju pintu ruangan Presdir dan tanpa mengetuk langsung membukanya.


Begitu pintu terbuka, keheranan Fatur malah bertambah. Ia tak sempat berkata apa-apa. Hanya bisa melihat sekeliling ruangan. 


Ada meja besar berbentuk bundar di situ. Nampak presdir, Pak Kurniawan dan jajaran manajemen lain berkumpul di satu sisi. Di sisi lainnya yang membuat ia terkejut, karena ada bung Iqbasevic berdiri paling depan. Di sisi kanan kirinya duduk mendampingi orang-orang yang ia kenal sekali. Itu yang dibilang Lastri tamu pejabat tadi, yang tak lain adalah bung Obiwinanikeke dan bung Nyuysamzchy. Keduanya anggota senator.


Di belakang mereka ia mengenali sebagai para perangkat FSPGB yang sering berdiskusi perihal kasusnya.


Namun, suasana di situ malah mencekam. Presdir dan jajaran manajemen terlihat pucat. Sementara bung Iqbasevic menatap presdir dengan tajam. Wajahnya menegang, terlhat jelas dari guratan urat di sekitar pelipisnya.


Salah seorang perangkat FSPGB memberikan isyarat padanya untuk mendekat dan menaruh telunjuk di mulutnya. Fatur paham isyarat itu. Ia berjalan mendekat ke rombongan serikat tanpa berkata apapun.


"Saya ulangi!" Seru bang Iqbasevic dengan suara khasnya yang menggelegar.


"Kalian ini membuat peraturan sendiri! Seenaknya saja mempermainkan nasib orang! Pengecut dan cemen sekali! Saya tanya, mana ada aturan PHK sebrengsek itu? Siapa yang berpikir cara-cara kotor seperti itu?? Hahh!?"


Ruangan itu hening. Pak Kurniawan tampak semakin pucat. Butiran keringat tampak muncul di dahinya.


Presdir pun hanya termangu. Tak menjawab juga. Wajahnya menghadap ke atas, entah mengharapkan apa.


Yang santai hanya kedua senator. Mereka berdua kenal betul dengan dedengkot FSPGB ini. Tapi mereka juga memasang tampang angker. Fatur belum pernah melihat tampang keduanya semarah itu.


BRAAK!!


Hampir semua orang di ruangan itu terlompat kaget mendengar meja yang di pukul oleh Iqbasevic dengan keras. Fatur sendiri jantungnya sedetik terhenti yang membuat tubuhnya kesemutan.


"Jawab! Jangan cuman beraninya dengan buruh kecil! Bangsat kalian!" pekik Iqbasevic dengan suara bariton yang menggelegar.


Fatur melihat betapa wajah-wajah management semakin pias. Bahkan dilihatnya Ranto memegang perut dan pantat belakangnya. Mungkin mules dan ingin buang air. Hati Ranto tersenyum. 'Rasakan kau!' pikirnya.


Nyuysamzchy yang berada di samping Iqbasevic ikut berkata, "Kalian ini gagu semua atau bagaimana? Dari tadi ditanya malah planga-plongo! Gentle saja, jawab dengan jujur!,"" katanya lugas.


Mereka masih tak menjawab. Kurniawan mulai menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Narsih masih memilin ujung bajunya hingga koyak tak berbentuk.


"Sialan kalian! Ok! Kalau begitu, saya kasih waktu tiga puluh menit untuk memikirkan hal ini. Dan kalian harus punya alasan yang kongkrit! Jika tidak, saya bawa kasus ini ke ranah PIDANA! Biar kalian semua dipenjara!" Tegas suara Iqbasevic.


"Wah, Pidana?? Keren nih! Tapi gimana caranya?" pikir Fatur dalam hati. Ia menengok ke arah kedua senator yang mengangguk-angguk dengan pasti.  Ia jadi yakin jika para pengacara di serikatnya pasti punya cara dan celah untuk itu, apapun pasalnya.


Kemudian Iqbasenovic mengajak rombongan serikat keluar ruangan. Termasuk Fatur yang mengikuti paling belakang. Sekilas ia melihat presdir mengeluarkan saputangan dan mengelap wajahnya yang berkeringat.


Tiba di luar, Fatur dikejutkan oleh lautan manusia yang sudah berada di depan pabrik. Nampak bendera besar FSPGB dikibarkan dengan gagah. Terlihat juga banyak bendera serikat lain di situ. Semua orang menyambut yang keluar dari pabrik dengan yel yel gegap gempita.


"Hidup Buruuuuhhh!"

"Hidup Pekerja!"


Dan berbagai yel-yel yang bersahut-sahutan. Ramai sekali. Fatur melihat berkeliling, dan ia melihat lautan manusia itu tak terbatas. Ke mana matanya memandang, hanya manusia yang ia lihat. Luar biasa! Pikirnya.


Fatur jadi terharu. Ia tahu, bahwa mereka datang untuk dirinya. Solidaritas yang digaungkan selama ini ternyata dipraktekkan dengan patuh. Matanya berkaca-kaca, saat hampir semua kawan buruh memeluknya, bersalaman dengan hangat dan ikhlas. 


"Semangat, bung!" teriak Ozonolic, salah seorang orator ulung di FSPGB. "Kami semua bersama anda!"


"Hidup Fatur!!" teriaknya lagi yang disambut teriakan membahana dari segala penjuru.


"Hiduuup!"


"Hidup buruh!"


"Hiduuup!"


"Hidup  pekerja yang melawan!!"


"Hiduuup!"


Mata Fatur semakin basah. Ia sangat tersanjung dengan perlakuan mereka semua. Tak menyangka sama sekali.


Lalu di lihatnya Iqbasevic menaiki podium di mobil komando yang memang sudah diatur sedemikian rupa agar menghadap persis pintu masuk pabrik.


"Hidup buruuuh!" teriaknya memulai dengan suara khasnya yang membangkitkan semangat. Tangan kirinya mengepal ke atas.


"Hiduuup!" Jawaban membahana kembali terdengar, kali ini lebih keras. Ribuan tangan kiri meninju udara dengan semangat.


Tiga kali Iqbasevic berteriak. Tiga kali juga gema membahana terdengar. Sejenak, matahari terlihat bersembunyi di kumpulan awan. Sehingga teriakan-teriakan itu lebih terdengar bergemuruh.


Setelah semua diam. Hening. Iqbasevic melanjutkan. 


"Kawan-kawan buruh sekalian. Kita disini bukan hanya untuk bung Fatur! Tapi untuk keadilan! Perusahaan ini sangat jelas terindikasi melakukan union busting! Pemberangusan serikat pekerja!"


"Huuuuuuuu!" Teriak semua massa yang ada.


"Dan perusahaan ini telah melakukan PHK dengan cara biadab! Cara yang tak seharusnya dilakukan oleh bangsa sendiri! Mereka yang melakukan itu tak lebih hanya penjilat-penjilat kotor di perusahaan!."


Kali ini terdengar teriakan 'huuuu' yang panjang.


"Dan jika cara-cara biadab ini berhasil mereka terapkan pada saudara Fatur. Maka semua perusahaan di negara ini akan menerapkan cara biadab yang sama terhadap buruhnya!."


"Maka akan lahir penjilat-penjilat baru dari buruh yang takut melawan! Yang pengecut! Takut miskin! Tak peduli akan ketidak adilan! Tak peduli jika ada perlakuan sewenang-wenang! Banyak buruh yang hanya jadi pecundang! Bahkan tak peduli lagi dengan harga dirinya!."


"Maka jangan aneh, jika nanti ada kawan-kawan buruh yang mau saja meminum air kencing dari atasannya sendiri! Asal mereka tak di-PHK, mereka bersedia meminum air kotor itu!.  Itu maunya manajemen perusahaan ini! Sialan!"


"Huuuu!! Sialaaaaannnn!" sahut seluruh massa yang ada.


"Dan brengseknya, itu dilakukan oleh orang-orang bangsa sendiri!. Dasar penghianat!!. Jika begini kita diam atau lawan??" 


"Lawaaan!!"


"Diam atau lawan??"


"Lawaaan!!"


"Yang mau melawan angkat tangan kirinya!"


Ribuan tinju kembali mengepal ke udara.


"Hidup Buruuh!!" teriak Iqbasevic sepenuh hati.


"Hiduuuuup!!!"


Yel-yel terdengar kembali bersahut-sahutan. Mereka bertepuk tangan dengan gelora semangat yang menyala-nyala.


Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara helikopter yang entah kapan sudah ada di udara. Banyak sekali. Suara teriakan tadi berganti dengan gemuruh suara baling-baling yang memekakkan telinga.


"Atas nama undang-undang Protokol kesehatan, anda semua kami bubarkan!." Terdengar suara dari salah satu helikopter yang mempunyai pengeras suara.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Tembaak!!"


DHUARRR! DHUERRR! DHOORR!


Tanpa menunggu lagi, lusinan granat dilemparkan ke arah massa. Granat berisi gas air mata. Massa berhamburan! Berlarian ke sana ke mari.


Suasana bergelora namun tertib tadi berubah menjadi kepanikan luar biasa. Semua orang menyelamatkan diri masing-masing dari serangan gas yang memerihkan mata itu. Semua kalang kabut. Teriakan panik massa perempuan terdengar di mana-mana.


Brutal! 


Fatur sendiri mencoba ikut menghindar. Sekilas ia sempat melihat ke arah pabrik. Nampak rombongan manajemen perusahaan berkumpul di depan lobby. Ia melihat si presdir tersenyum-senyum puas. Beda sekali sikapnya dengan terakhir kali ia lihat di ruangan tadi.


Pak Kurniawan terlihat bertolak pinggang dengan pongah, mulutnya tertawa. Ranto dan Narsih bertepuk tangan dengan gembira. Bahkan Narsih malah memperagakan tarian Tiktok saking senangnya.


Ia lihat juga seseorang dengan jenggot panjang melambai hingga perut. Sedang bersedekap, mulutnya menyeringai licik.


Dasar bangke! Fatur hanya bisa mengutuk dalam hati dan tak sempat memperhatikan lebih lanjut karena ia terkena asap tepat saat sebutir granat meledak di depannya. Asap langsung menyerang panca inderanya. Mata, hidung mulutnya dimasuki asap yang terpaksa ia hirup.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Sesak dadanya. Nafasnya timbul tenggelam. Fatur terjatuh, ia tersandung entah apa karena matanya tak bisa ia buka saking perihnya. Tangannya menggapai siapa saja yang lewat di depannya. Namun tak mengenai seorangpun. Semakin lama, ia semakin tak bisa bernafas. Paru-parunya terkunci. Ia megap-megap!


Lalu seseorang menepuk pundaknya. Fatur masih tak mampu sadar. Orang itu mulai mengguncang tubuhnya dengan keras.


"Mas ..! Mas ...! Bangun! Istighfar, Mas!"


Sayup ia mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Semangatnya kembali muncul. Sekuat tenaga ia membuka matanya. Dan pertama yang ia lihat adalah Nikita! Istri yang dicintainya! Lalu ia memperhatikan sekeliling.Ternyata Ia berada di kamarnya sendiri!


Ya ampun! Ternyata itu semua hanya mimpi!

Mimpi indah yang berakhir buruk!


Fatur mengucapkan Istighfar berkali-kali. Badannya basah oleh peluh. Nikita memeluknya dengan kasih sayang mendalam terhadap suaminya.


Fatur hanya termangu.


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 6)

Judul asli: CERITA HALU 6. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 Maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi #StopPHKsepihak 


– BIDADARIKU – (Bagian 3)

-BIDADARIKU-

Part 3

(Sambungan dari - Bidadariku Bagian 2 - )


"Istriku penyejuk di mata dan penawar di hati"

"Jalan hidup yang terjal akan terasa mudah jika bersama teman hidup yang tepat. Khumairahku yang tak pernah menuntut tentang dunia.."

 


"Istriku penyejuk di mata dan penawar di hati"

Khumairahku, begitulah panggilan saya untuk istri, panggilan yang ternyata sangat dia sukai. Memang benar menikah adalah obat untuk hati karena di setiap saatnya mampu menenangkan hati, ibadah pun terasa lebih nikmat, bekerja lebih semangat dan hari-hari pun terasa lebih menyenangkan. 

Pantaslah rosululloh bilang menikah akan menyempurnakan separuh dari agama dan setengahnya lagi digapai bersama. Tidak tanggung-tanggung separuh dari agama guys.. cuma dengan catatan pasangan yang tepat adalah kuncinya.

Usai menikah kami sementara tinggal di rumah orang tua saya. Keunikan Khumairaku itu salah satunya ia mampu membuat orang sekitarnya itu menaruh kasih sayang dan care kepadanya. 

Seketika orang rumah dibuatnya menjadi lebih sayang kepadanya terutama bapak dan ibu yang begitu sayang kepada menantu pertamanya. Bukan hanya orang rumah, bahkan satu kampung emak-emaknya bilang "Resep bangat ama bininya si Umam, ajer ama cakep orangah." 

Sebagai suami ada rasa bangga karena tepat memilih istri seperti Khumairah yang tak hanya cantik rupa namun juga cantik akhlak.

Kami mulai merancang masa depan bersama, mulai dari rencana khumairahku yang akan melanjutkan kuliahnya dan sambil bekerja. 

Sebagai suami apapun rencananya akan saya dukung asalkan tidak bertentangan dengan syariat dan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi kami memutuskan untuk menunda sementara untuk memiliki momongan. 

Seminggu setelah pernikahan kami pergi berlibur bersama ke salah satu daerah di Bogor selama 2 hari bersama teman-teman kerja saya dan keluarganya. 

Khumairahku begitu bahagia terlihat jelas di matanya karena ini kali pertama kita berlibur bersama setelah halal (sebelum nikah boro-boro  jalan-jalan, bisa ketemu aja syukur bangat πŸ˜‚). 


ISTRI BEKERJA

2 Minggu menikah Alhamdulilah khumairahku diterima untuk bekerja di salah satu rumah sakit sebagai admin di sana. Dia begitu bahagia dan sangat semangat karena salah satu rencananya tercapai. " A, walaupun aku kerja aku ngga akan lepas tanggung jawab aku sebagai istri, aa ridho yah sama aku.." begitu lah ucapnya, bidadariku yang selalu berharap dan meminta suaminya ridho terhadapnya. 

Hari pertama dia mulai masuk bekerja, seperti biasa saat sebelum subuh ia bangunkan saya, hanya saja kali ini saat dia bangunkan saya utk sholat subuh ternyata dia sudah selesai menyuci pakaian dan sudah menyiapkan sarapan. 

Masyaallah.. Sholehahku.. sambil kecup keningnya dan pipinya. "Bangun jam berapa kamu sayang?," tanya ku.. "Sekitar jam 03.20 A, hehe," sambil senyum manis. 

Dalam hati bicara (barakallah gadis manja mampu berubah seperti ini) setelah sholat kita sama-sama untuk sarapan. Istriku membuatkan nasi goreng spesial katanya.. " A, nasi goreng spesial buatan aku, cuma kalo ga enak maafin aku yah a, perdana soalnya.." dan saat ku makan.. masyaallah.. Alhamdulillah saya ngga punya darah tinggi hehe.. gapapalah bukan soal rasa menurutku tapi soal menghargai, dengan melihat dia buatkan makan saja sudah luar biasa. 

Masakan yang enak bisa kita beli namun kasih sayang itu tak ternilai, karena bagi saya istri itu bukan tukang masak apalagi pembantu.  Suap demi suap saya makan dengan senyuman, "Gimana A rasanya..?" Tanya nya.. "Lah emang kamu ngga cobain khumairahku?" sambil tawa.. "Hehe ngga A.." yassalam.. pantesan aja.. dia ngga tau betapa nikmatnya nasi goreng cinta ini.. πŸ˜‚

"Yauddah sini aa suapin yaah.." hap.. seketika raut wajahnya berubah sedih dan air matanya jatuh.. ga kaget sih emang cetek air mata kalo kata orang muara mah hehe. 

*Saya : Loh kenapa de..  

*Khumairahku : "Aa.. maafin aku.. ga belum bisa jadi yang terbaik"

*Saya : iishh.. kamu udah jadi istri terbaik khumairahku. Karena kalo masakan kamu enak kamu bukan istri yang terbaik de.

*Khumairahku : loh.. ko gitu A..?

*Saya : Iyah.. kalo masakan kamu enak jadinya master chef.. πŸ˜‚

*Khumairahku : iih.. ga lucu.. (tapi sambil tawa)

*Saya : yauddah aa abisin dulu ini nasi goreng cintanya.

*Khumairahku : jangan a.. nanti suami aku kena darah tinggi..

*Saya : tinggal pendekin de.. 

*Khumairahku : iiisssshhh..

Selesai makan sebelum berangkat saya pergi ke kamar mandi, dan saya dapati pakaian yang telah dicuci istri. Ternyata belum bersih πŸ˜…  Sambil senyum dalam hati bilang "Melihat kamu sudah berusaha aja udah seneng aa de.." cuma demi menjaga perasaannya saya ngga komentar untuk ini.

Dan kami pun berangkat bersama. Sesampainya di tempat kerjanya ia cium tangan dan saya cium kening dia. Setiap ada waktu dia selalu memberi kabar. Dan ternyata hari itu saya pulang lebih cepat dari khumairah, langsung saya bergegas pulang ke rumah untuk mencuci lagi pakaian yang tadi pagi dia cuci dan langsung menjemurnya.

Alhamdulillah semua orang rumah mengertiin istriku dan semua tetap mencintai istriku. Selesai mencuci saya istirahat sebentar dan berangkat menjemput bidadari yang sudah menunggu. 

Di perjalanan pulang saya tanyakan bagaimana hari ini dan dia ceritain semua dari baru sampai sampai dengan pulangnya. 

*Khumairahku : Tadi aku benci banget sama laki-laki a, masa godain aku terus padahal aku jutek dan ga percaya aku udah nikah.. 

*Saya : terus kamu apain de..?

*Khumairahku : yauddah aku diemin A, ngapain aku jelaskan mendetail.

*Saya :Tampol de tadi mah.. (sambil bercanda)

*khumairahku : Iish aa mah..

Sesampainya di rumah setelah salim dengan ibu bapak dan seperti biasa dia juga cerita sama ibu bapak kejadian dia hari ini πŸ˜‚. Setelah selesai khumairahku langsung ambil pakaian yang ia jemur. Daaan dia kaget ko jemuran seharian ngga kering πŸ˜‚ orang rumah kompak bilang kalo tadi siang mendung dan dia percaya

Keesokan harinya berjalan seperti biasanya. Sampai ketika kita dia naik motor sendiri. Dan seperti biasa saya sampai rumah duluan. Dan tiba-tiba almarhumah pulang dan liat saya sedang mencuci pakaian. Seketika dia minta maaf dan menangis.. langsung saya peluk dan bilang ke dia, " 

Khumairahku.. Aa cari istri untuk sempurnakan separuh agama aa. Bukan mencari pembantu rumah tangga yang harus bisa masak dan mencuci, dengan liat kamu sudah berusaha saja sudah bahagia khumairahku.. " dia langsung tambah nangis dong.. πŸ˜‚ aduh ya udahlah peluk aja sampai diam. Sehabis puas menangis dia katakan.. "Ada ridho kan sama aku.. aku akan terus berbenah diri demi keluarga kecil kita A.. ". 

Terima kasih banyak yah sayang.. 

simak bacaan Al-Qur'an khumairahku sambil jelaskan makhroj dan tajwidnya


NGIDAM

Malam harinya seperti biasa saya simak bacaan Al-Qur'an khumairahku sambil jelaskan makhroj dan tajwidnya. 

*Saya : pakai 'ain de bukan alif.

*Khumairahku : ..an am ta..

*Saya : an 'am ta de.. (dengan nada sedikit menekan huruf 'ain )

*Khumairahku : ko aa gentak aku 😭😭

*Saya : yassalam πŸ˜‚ ngga gentak de.. (sambil peluk )

Keesokan harinya khumairahku bertingkah aneh, seperti sering muntah padahal ngga masuk angin dan sering enek liat orang makan mie instan, pas curiga hamil dia langsung tespek. Tabarokalloh.. 

Alhamdulillah.. ternyata Allah berkata lain, khumairahku hamil. Dan saat itu juga saya meminta dengan lembut untuk dia berhenti bekerja. Ternyata dia mengerti dan paham akhirnya dia berhenti demi sang calon buah hati.

Fase Masa-masa ngidam yang kudu diturutin πŸ˜‚

Mulai dari minta seblak yang buat harus suaminya sampe minta telur gulung dan cilor yang lagi dimakan adenya. 

"A, kita ngontrak yuk.. aku ga enak sama ibu bapak, manjain aku banget jadi rasanya aku ga bisa Mandiri.." walaupun sedikit berat karena keadaan dia sedang hamil karena liat dia bersikeras merayu akhirnya keinginannya saya turuti. 

Kita pun mulai mencari kontrakan, dan Alhamdulillah ketemu di daerah Babelan yang notabene dekat dengan guru-guru saya dan sahabat-sahabat saya. Dan itupun rekomendasi dari salah satu sahabat saya yang kebetulan istrinya kakak kelas khumairah. Jadi makin yakin dia untuk mengontrak.

Bersambung ... 

(Cila bangun ajak main, ribet ngetiknya πŸ˜‚)


Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 4)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Sabtu, 20 Maret 2021



Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

CERITA HALU 5

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3) 


Malam belum larut saat Fathur tiba di rumahnya. Seharian ini ia sudah menghadiri berbagai pertemuan dari beberapa komunitas. Sejak ia diskorsing, tak ada rutinitas yang menyita waktunya seperti yang biasa ia lakukan sehari-sehari sebelumnya. Namun akibat kasus yang ia alami malah banyak komunitas yang mengajaknya berdiskusi tentang seputaran kasusnya.

Pintu sudah terbuka sejak ia datang tadi. Sang Istri ternyata yang membukakan dan menunggu di depan pintu. 

Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu gerbang, ia masuk rumah diiringi sang istri yang seperti biasa mencium punggung tangannya terlebih dahulu.

"Anak-anak?" tanyanya singkat.

"Baru lelap mereka, Dion tadi nungguin lho, Pah. Mo nanyain pelajaran matematika katanya. Soal dari belajar online ada yang belum ia ngerti. Udah makan?" jawab Nikita, nama istri kesayangannya.

"Iya ya, aku telat pulang, abis tadi banyak diskusi ama kawan-kawan lain." jawab Fatur, ada nada penyesalan.

"Ini bawa nasi goreng, tadi sengaja kubeli untuk makan di rumah, makan bareng yuk!" ajaknya pada sang istri yang langsung mengiyakan dan segera mempersiapkan alat makan.

"Gimana, Mas? Kasusmu ada perkembangan?" tanya Nikita saat mereka duduk berhadapan sambil makan sepiring nasi goreng.

"Yah, masih tahap negosiasi antara perangkat organisasi dan pihak manajemen."

"Oh, belum ketahuan kapan selesainya ya, Mas?'

"Belum ...." 

Lalu keduanya asyik menyantap penganan khas dari negara Indonesia itu dalam diam. Dalam pikirannya masing-masing.

"Mah, aku mau tanya sesuatu," kata Fatur setelah menelan sebiji cabe rawit yang tadi tercampur di acar.
Istrinya hanya menatapnya, namun dari gerakan alis matanya, ia mengiyakan.

"Apa pendapatmu tentang kasus ku? Dengan kasus ini, kecenderungan di-PHK besar sekali, dengan pesangon tentunya."

"Terus?"

"Ya, aku minta pendapat, aku lawan atau terima begitu saja pesangonnya?"

Istrinya berpikir sejenak.

"Lawan!" sahutnya mantap.

"Lawan?"

"Iya, lawan! Kalo bisa sampai dipekerjakan kembali! Jangan mau di-PHK begitu saja. Mereka jahat sekali, Mas! Kasus kecil masa konsekuensinya harus di-PHK?!" Istrinya menjawab menggebu-gebu.

Fatur malah terkesima dengan jawaban dan sikap istrinya. Tak ia sangka, ternyata istrinya itu punya sikap perlawanan juga. "Apa mungkin ketularan aku?' pikirnya bangga.

Fatur mengangguk-angguk puas. Semangatnya bertambah dengan dukungan belahan jiwanya itu.

"Ya, itu juga yang aku pikirkan. Soale, jika aku terima tawaran mereka tentang pesangon, aku malah khawatir dengan kawan-kawan lain."

"Khawatir kenapa?"

"Begini, kau kan tau, apa jabatanku di organisasi, baik di dalam pabrik atau di luar pabrik. Posisiku cukup signifikan. Cukup berpengaruh lah  di organisasi. Nah, jika aku saja yang sudah di posisi ini, dengan mudah mereka PHK tanpa perlawanan, bagaimana dengan kawan lain yang tak punya pengaruh?"

Nikita tak menjawab.

"Begini-begini, ada rasa sayangku terhadap organisasi. Terutama di perusahaan yang pernah aku ikut besarkan dari awal. Sayang sekali jika harus dibubarkan karena anggota-anggotanya dengan mudah di-PHK seperti aku."

"Iya juga sih, Mas. Tapi, mungkin pabrik juga gak semudah itu mem-PHK pekerja, kali Mas? Mungkin berlaku hanya pada dirimu saja. Karena mereka lihat kamu sangat aktif, Mas," kata Nikita sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

"Dengan kondisi sekarang, apalagi dengan adanya undang-undang sialan, hal itu sangat mungkin terjadi."

"Undang-undang yang baru itu?"

"Iya, undang-undang SPOTAKER, berikut turunannya. Semakin mudah mereka ngerjainnya. Gak suka ama karyawan, tinggal cari kesalahan kecil saja, langsung eksekusi."

"Duh! Jahat banget, ya?"

"Yup! Memang jahat sekali. Makanya aku butuh dukunganmu menghadapi penjahat-penjahat itu."

Nikita memandang Fatur. Mata mereka saling bertautan. Nikita paham benar dengan perangai suaminya yang sudah belasan tahun ia dampingi.

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


"Aku, mendukung apapun langkah yang kamu ambil, Mas. Apa yang baik menurutmu, tentu baik untukku. Untuk keluarga kita. Lawan mereka, Mas!" Nikita menatap suaminya dengan tatapan penuh pengertian.

Mendengar kalimat itu. Fatur meraih tangan istrinya, ia kecup perlahan dengan bibirnya. 

Diperlakukan seperti itu, Nikita menggeser duduknya ke samping, dan menyandarkan kepala ke dada Fatur. Reflek, Fatur merengkuh kepala Nikita, dan mengecup lembut dahinya. Mata Fatur berkaca-kaca. Ia terharu dengan sikap istri yang sudah mengaruniai dua orang anak itu padanya.

Agak lama mereka berpelukan seperti itu. Sibuk dengan lamunan masing-masing. Namun yang jelas, jiwa mereka seperti kembali menyatu. 

"Mas." Nikita yang lebih dulu berkata.

"Hmm ...." Agak enggan Fatur menjawab, karena masih terbuai dengan perasaanya.

"Sebaiknya, kamu kabari orang tuamu, terutama ibumu. Minta pendapatnya, minta ridhonya," kata Nikita yang masih bersandar di dada Fatur.

"Sudah."

"Hah? Sudah? Kapan?" tanya Nikita sambil bangun dari sandarannya.

"Tadi sore. Dan kamu tau gak?"

"Apa? Kenapa?"

"Jawaban ibuku kurang lebih sama denganmu. Malah lebih tegas!" jawab Fatur sambil tersenyum.

"Tegas bagaimana?" Nikita semakin penasaran.

"Ibuku bilang, 'Lawan terus! Jangan sampe terima pesangon! Lawan sampai kau diterima kerja kembali! Berjuanglah hingga penghabisan!', begitu katanya."

"Wah, malah parahan ibu mertuaku ya!" 

"Hi hi ...." Fatur tertawa lirih.

Mereka berdua masih mengobrol hingga larut malam. Hingga akhirnya Fatur menyerah dengan kantuk yang menyerangnya. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk istirahat, karena esok pagi Fatur harus bertemu dengan perangkat organisasi untuk menyusun langkah berikutnya.

Fatur sempat menengok kedua anaknya yang sudah lelap. Mengecup dahi keduanya masing-masing, sebelum menyusul istrinya masuk ke peraduan.


++++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

Judul asli: CERITA HALU 5. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

S0607: Sekali Merengkuh Dayung, 26 Podcast Terlampaui | #BajakPodcast

Jika sendiri, maka tak ada teman berbagi. Jika berdua saja, takut ada sesuatu di antara kita. Jika bertiga, sepertinya oke juga. Tapi untuk apa bertiga jika puluhan orang bisa diajak kerja sama?

Captain Rhapsody Maryana, Peni Astiti the Navigator, Qonita Aliya the Explorer, mereka yang tergabung dalam Haengbog Team berhasil membajak sebuah kapal besar untuk satu episode penuh.

Tak ingin merayakan kebahagiaan ini sendirian, Haengbog team mengundang 26 podcaster dalam pesta kemenangan yang mereka adakan. Apa yang akan mereka lakukan di kapal besar bernama Suarane Podcast di #BajakPodcast?

Catatan dari Rane: Episode ini adalah bagian dari kegiatan #BajakPodcast oleh Komunitas The Podcasters Indonesia yang menantang para anggota komunitas untuk mengambil alih tiga podcast (salah satunya podcast ini). Mereka terdiri dari sejumlah kelompok yang harus mengajukan ide untuk “membajak” podcast dan dipilih salah satu untuk mewujudkannya. Tim Haengbog ini gue pilih karena ide mereka untuk juga memperkenalkan para podcaster lain. TIdak tanggung-tanggung 26 podcast yang susah payah mereka kumpulkan dari hasilnya bisa dinikmati di sini. Jangan lupa kunjungi podcast-podcast yang direkomendasikan di sini! Salam podcast!

Hmm.. gimana kalau tiga pembajak ini gantian gue bajak ya podcastnya *evil grin* Setuju, nggak? πŸ™‚

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

– BIDADARIKU – (Bagian 2)

- BIDADARIKU - Part 2


(Sambungan dari - Bidadariku - )

"Bangun cinta, bukan jatuh cinta, membangun cinta dalam bahtera rumah tangga, bukan jatuh cinta dalam fatamorgana"

BIDADARIKU kecup di kening


Sedikit mengulang saat sebelum pernikahan, tepatnya Hari Sabtu, tanggal 18 Agustus 2018. 


PALANG PINTU

Sehari sebelum acara, saya masih ingat betul saat itu acara sudah saya rencanakan dengan sedemikian rupa, seperti palang pintu (adat tradisi Betawi) yang seminggu sebelum acara sudah saya setting dengan Abang seperguruan supaya berjalan lancar, karena rencananya saya sendiri yang akan maju dan tampil untuk ujuk gigi bermain pencak silat melawan Abang seperguruan saya. πŸ˜‚

Kalo udah di-setting kan enak jadinya, saya kelihatan menang telak. Ya secara di depan calon mertua sendiri biar terlihat gagah wkwkwk. 

Namun apalah daya saat malam harinya sebelum acara, Abang tiba-tiba bilang tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan.. ambyar.. dalam hati bilang dahlah ga usah tampil.. ( karena kalo ngga di-setting terlebih dahulu bisa fatal, ya kali masa manten kepukul beneran πŸ˜‚ malu lah.. ) dah lah tidur aja buat acara besok biar ijab kabulnya lancar. 

Tiba-tiba pasukan dari perguruan yang dipimpin langsung sama ketua Abang guru, nyampe ke rumah buat pastikan acara besok aman dan terkendali. "Gimana acara besok udah siap semua kan mam?" Tanya Abang guru. "πŸ˜“

Bang Ucok ngga bisa hadir bang, mana udah saya setting sama dia, udah lah saya ngga usah tampil. Spontan Abang guru tanya, "Emang settingan-nya bagaimana..? Coba sini peragain.." Langsunglah saya peragakan.

Setelah selesai dan Abang guru mau pamit dia bilang, "Besok Abang piket Mam, kalo sempet Abang usahakan abis absen dateng ya cuma ngga janji.." 

hemmmm.. ambyar bener dah niat mau terlihat beda dari nganten lain malah nihil. Udah pasrah sama Allah yang penting acara ijab besok lancar cuma itu harapan di hati saat itu.



Hari yang dinanti pun tiba. Setelah sholat subuh langsung bersiap-siap dengan penuh semangat. Maklum calon nganten πŸ˜‚. 

Sebelum berangkat bang Rusli sampai di rumah dan bertanya. "Lu naik mobil yang mana mam..?". "yang mana ajalah bang, naek motor sendiri juga gak masalah.." jawab saya. Dia langsung jawab "Lah jangan.. masa nganten naek motor, ya udah bentar.." Masyaallah saat itu juga mobilnya dihias buat bawa saya πŸ˜‚. 

Nah pas berangkat setau saya nganten paling depan, dan iringan rombongan di belakang. Kalo saya beda, ngantennya ketinggalan paling belakang sementara rombongan sampe duluan. Kocak lah, gak apa-apa yang penting nikah.

Setibanya di tempat acara, eng ing eng.. Abang guru bang Jamal yang katanya ga bisa nyampe, tiba-tiba udah stand by di depan pintu masuk bersama paket lengkap palang pintu dan golok di pinggang. Di sini saya bingung harus seneng atau was-was pasti ini lawan dia. 

tradisi palang pintu pengantin betawi cinong bekasi
Tradisi Palang Pintu - PS Cinong Bekasi

Dimulailah acara palang pintu, sampe di tengah acara tiba-tiba bang Jamal maju samperin saya .. "Plakk..." πŸ˜‚ Tamparan cinta melayang di pipi saya. Wkwkwk belum pernah liat nganten ditabok kan?. Saya juga belum, cuma rasain doang. Tamparan cinta saya sebutnya udah jadi makanan selama pelatihan jadi ngga kaget πŸ˜‚.

"Lu yang nikah orang yang berantem, enak amat.. sini lu maju, pokoknya ngantennya yang kudu maju.." dengan nada khas Betawi bang Jamal lontarkan kata-kata ke saya. 

"Dari pada ngga jadi nikah, biarin dah lebah ini mah lawan guru ge" jawab saya. πŸ˜‚

Siat.. plak.. pluk.. sampe saya kodein biar dia ngalah.. tapi ga mau ngalah-ngalah juga.. πŸ˜‚ 

Cuma liat posisi napas yang sudah mulai Senin-Kamis, akhirnya saya menang dengan cara sang guru mengalah. Mana baju nganten putih, mana mau ijab Qabul, posisi napas masih ngos-ngosan. Tapi Alhamdulillah ijab qobul lancar dan tabarokalloh kami sah sebagai suami istri. 


Pengantin Baru

Setelah ijab qobul untuk yang pertama kalinya kami menunaikan sholat juhur untuk pertama kalinya berdua. Setelah salam dan dzikir Khumairahku langsung mencium tanganku dan saat itu juga saya ucapkan doa yang diajarkan Rosululloh sambil tangan kiri memegang kepalanya. 

"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa β€˜alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha β€˜alaih."

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya

Setelah baca doa, kukecup keningnya untuk yang pertama kali, masyaallah rasanya dunia milik saya berdua, yang laen ngontrak lah pokoknya. 

Ba'da ashar kami kembali duduk di pelaminan untuk menyambut semua tamu undangan. Rasa bahagia dan haru berkumpul menjadi satu. 

Doa-doa dan ucapan selamat datang silih berganti dari kerabat dan sahabat. 

tabarakallah.. yaallah sungguh indah nikmat-Mu.. sampai acara selesai. 

Tibalah saat subuh pertama yang biasanya saya terbangun seorang diri kini malah dibangunkan oleh bidadari. Dengan nada lembut sambil cubit hidung dengan manja, " Aa.. bangun.. udah mau subuh.. kita siap-siap sholat yuk.." Saya pun langsung bangun dan menuju kamar mandi, cuma Khumairahku langsung tahan tangan saya sambil kode tunjuk ke dahinya dengan raut wajah penuh manja.. 

"Subhanallah.. Aa lupa.. ya udah sini cium dulu dahinya.." πŸ˜‚ 

Please Kalimat ini mendingan di-skip buat yang masih jomblo. Karena menyebabkan halu yang berkepanjangan. 

Setelah sholat subuh dia aminkan setiap doa yang saya ucapkan.. masyaallah ini rasanya indah betul, biasanya amin kita tak serentak karena sujud di tempat yang berbeda dan pembatasan yang hak. Tapi kali ini kita sujud di ruangan yang sama dan dia ikuti gerakan saya serta aminkan doa saya. 

Ya Allah sungguh indah ketentuan Mu.. bersatu dengan bidadariku dalam ikatan halal setelah sekian lama saling menjaga iman adalah sesuatu yang indah yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Bersambung lagi  πŸ˜‚

Bersambung ke  BIDADARIKU - (part 3)

_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Kamis, 18 Maret 2021

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

PHK Sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

 CERITA HALU 3 


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2) 


Ketiganya melihat layar hape, dan mendapati foto Fatur di situ. Narsih kemudian memainkan layar, menekan sana sini, menggeser atas bawah, membuka semua media sosial yang ia punya. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, semua bergambar dan bertuliskan sama.


Inti dari gambar itu adalah mereka semua  mendukung  Fatur! 


"Apa ini? Apa maksudnya?" tanya Kurniawan tak sabar.


"Itu lho, Pak, semua medsos dan berita online penuh dengan berita tentang pemecatan Fatur di perusahaan kita! Mereka semua mendukungnya!," jawab Narsih cemas.


"Terus?"


"Ya, itu bisa menurunkan kredibilitas perusahaan kita lho, Pak! Perusahaan ini bakalan dianggap sebagai penjahatnya!."


Kurniawan terdiam. Ranto ikut diam. Hanya si Pengacara yang senyum-senyum. Bahkan ia mulai tertawa lirih.


"Hi....hi...hi..."


"Lah, kok anda malah tertawa?," tanya Ranto penasaran. Kurniawan dan Narsih ikut memandang si Pengacara, heran.


"No ... No ... No! Gak usah cemas!" kata si Pengacara sambil menggerakkan telunjuknya kanan kiri. Persis seperti guru yang melarang muridnya bandel.


"Itu memang cara mereka. Dan pasti hanya kuat sesaat saja, paling lama seminggu. Sudah itu, hilang, berganti dengan issue lain. Sudah biasa itu!," lanjutnya santai.


Narsih tertegun, tak disangkanya berita yang ia kira bakal heboh itu ternyata hanya dipandang sebelah mata.


"Lalu, a--apa yang harus kita lakukan?," tanya Narsih agak gugup.


Sebelum Benarudinawisata menjawab, tiba-tiba interkom di mejanya berbunyi.


"Ya?" Ranto yang menjawab karena ia lebih dekat dengan alat itu.


"Pak Kurniawan diharap ke ruangan Presdir, sekarang!," jawab suara wanita di seberang. Suara Lastri, sekretaris Presiden Direktur.


"Baik!" kata Kurniawan sambil berdiri, ia tahu jika Presdir yang memanggilnya, berarti ada yang penting dan ia harus segera menemuinya. Bos tertinggi perusahaan itu tak terima penundaan!.


"Saya menghadap Presdir dulu. Kalian tunggu di sini. Narsih, sediakan makanan dan minuman ringan di sini. Kita belum selesai diskusi." 


Setelah memberikan instruksi singkat, ia segera keluar ruangan menuju ruangan Presdir yang terletak di lantai 6, lantai paling atas.


Narsih segera menyiapkan makanan dan minuman ringan seperti yang diperintahkan. Lalu ia duduk di sebelah Ranto. Ikut menunggu pak Kurniawan kembali.


Sambil menunggu, ketiganya berkutat dengan gawai masing-masing. Ranto dan Narsih membuka medsos yang mereka miliki, dan mendapati bahwa trend di media sosial masih tentang Fatur.


"Huh!" keluh Ranto, ia geram sekali melihat wajah yang ia benci itu terpampang di hapenya.


Hanya si Pengacara yang santai, ia juga memainkan gawainya. Asyik bermain Mobile Legend.

----------------


Tak lama, Kurniawan kembali masuk ruangan. Wajahnya agak kemerahan. Nampaknya sangat gusar. Bibirnya yang terkatup rapat menandakan ia menahan amarah.


Ketiga orang itu memperhatikan perubahan sikap Kurniawan. Mereka serentak berhenti memainkan hape. Bersikap menunggu.


"Sialan! Presdir ternyata monitor kondisi di medsos dan berita online!," kata Kurniawan setelah duduk kembali di kursinya.


"Dan beliau marah karena itu, dianggapnya kita tak becus mengurus masalah ini. Dia tak mau masalah sepele ini sampai ke media. Dan ia ultimatum untuk segera menyelesaikan kasus ini."


Ketiga orang di depannya masih diam. Kurniawan pun diam, tampak berpikir keras.


"Baik, begini saja. Pak Benarudin, nanti atur pertemuan dengan perangkat organisasi serikat itu. Lalu ancam mereka. Katakan bahwa perusahaan tak akan bernegosiasi untuk masalah Fatur. Dia akan tetap kita buang. Apapun caranya!," lanjut Kurniawan dengan geram.


Benarudinawisata si Pengacara mengangguk-angguk, wajahnya biasa saja. 


"Bilang mereka, percuma melawan perusahaan besar ini. Kita tetap mengeluarkan Fatur, apapun caranya dan berapapun ongkosnya! Jika ia melawan terus, kita pastikan hidupnya akan sengsara!."


Ranto dan Narsih tersenyum puas. Mereka gembira dengan instruksi itu.


"Mampus kamu Fatur! Berani-beraninya lawan kami!" gumam Ranto nyaris tak terdengar.


"Tapi, Pak. Bagaimana dengan anggota FSPGB di daerah ini? Mereka pasti akan melakukan aksi besar-besaran di depan pabrik, seperti yang biasa mereka lakukan di pabrik lain," tanya Ranto bingung.


PHK sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)


"Gak usah takut, nanti saya akan menghubungi preman kawasan sini, agar mengawal pabrik, asal ada bayaran mereka akan bergerak, juga aparat, saya bisa bayar mereka untuk menjaga pabrik." Narsih menjawab dengan senyum sumringah, senang sekali dia nampaknya.


"Ha...ha...ha.... Hal itu pasti gak akan terjadi," kata si Pengacara sambil tertawa riang.


"Kenapa, Pak? Bukankan itu pasti yang akan mereka lakukan jika aksi demo?" tanya Narsih, senyumnya meredup.


"Iya, jika pun ada aksi, tak akan sebanyak dulu. Mereka, serikat-serikat itu sudah pada lemah semua. Panggilan aksi pasti akan banyak yang mengabaikan. Sudah tak ada lagi kekompakan di antara mereka. Ha ... Ha ....!" jawab si Pengacara.


"Lah, itu di medsos? Mereka ramai berteriak akan bersolidaritas ke sini!" sanggah Narti.


"Itu cuman di medsos, kenyataannya gak akan seperti itu!" 


"Tapi mereka kan terkenal dengan satu komandonya?"


"Itu dulu! Dulu sekali! Sekarang mereka gak akan pernah satu komando lagi! Apa lagi yang memberi komandonya sekarang sudah tak bernyali lagi!"


"Kok bisa begitu? Pak Benarudin tau dari mana?" Narsih penasaran.


"Hi..hi... Saya kenal dengan para petinggi serikat itu. Mereka sekarang itu pecah, hanya ribut sendiri. Bertengkar sendiri. Saling curiga. Apalagi kita bisa kondisikan para pimpinan perangkat. Ha...ha.... Mudah sekali!"


"Betul! Betul! Betul! kata Ranto menirukan gaya Upin Ipin sambil nyengir.Tapi ia segera menghentikan cengiran saat melihat Kurniawan melotot padanya.


"Tapi mereka militan sekali, lho pak!" Narsih masih keukeuh dengan asumsinya.


"Di tingkatan bawah, anggota, mungkin iya, mereka bisa militan, agresif, bahkan bisa anarkis. Tapi itu kalo ada instruksinya. Nah, kalo instruksi gak ada? Mereka hanya bisa koar-koar saja," jawab Benarudinawisata kalem.


"Kok bisa gak ada instruksi? Bagaimana caranya? Kan Fatur anggota mereka juga?"


"Mudah sekali. Instruksi turun dari para pimpinan di cabang organisasi. Nah jika para pimpinan itu bisa kita rayu, kita iming-imingi imbalan, kita intimidasi, kalo perlu kita ancam, bisa apa mereka? Mereka pasti pada ketakutan!" 


"Betul, Pak. Lagipula adanya undang-undang yang baru yaitu UU SPOTAKER, kita bisa melakukan apapun terhadap mereka," kata Ranto ikut nimbrung.


"Benar sekali! Undang-undang baru itu memihak kita. Bahkan turunannya semakin memudahkan kita jika ingin membuang pekerja model Fatur ini, yang susah kita atur." Pengacara itu mengiyakan.


Narsih mulai manggut-manggut. Tapi ia lalu berkata, "Lalu, bagaimana dengan kawan Fatur yang lain, yang orang penting bahkan?"


"Siapa?" tanya Kurniawan menyela.


"Kabarnya, Fatur ini didukung hingga para senator, di pusat atau daerah, lho Pak!" jawab Narsih, wajahnya kembali cemas.


"Senator? Ha...ha... Jangan khawatir! Mereka tak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka kan harus ikut regulasi di senat. Kalo mereka aneh-aneh kan sayang jabatannya itu lho! Hi hi ...!" Geli sekali si pengacara saat mengatakan itu.


"Tapi kalo mereka mengadakan sidak ke perusahaan? Kan dibolehkan?" Narsih masih penasaran.


"Gak akan berani mereka sidak! Orang-orang di pusat organisasinya juga pasti melarang itu! Bisa hilang setoran kalo sampai orang mereka hilang jabatan!"


"Oh, begitu ya, Pak?"


"Iya pasti begitu, mereka pasti berpikir buat apa susah-susah pikirin kasus Fatur? Toh, kehilangan seorang anggota tak masalah bagi mereka yang masih punya ribuan anggota lagi di seluruh negeri!"


"Tapi, kalo mereka nekad? Tetap aksi besar-besaran?" kata Narsih pelan seperti berkata pada dirinya sendiri.


"Jika itu terjadi, gampang saja, kita bisa pake aturan kesehatan, kan lagi pandemi! Hubungi saja aparat untuk mengancam mereka akan ditangkap! Pasti langsung ciut nyalinya. Ha ha ha....!" 


Kali ini mereka semua tertawa terbahak-bahak. Saking geli, Ranto hampir terjungkal dari kursinya. Hanya Kurniawan yang hanya tersenyum mendengar diskusi barusan. 


Hanya pikirannya saja yang melayang. Pikirnya, rasakan kau sekarang Fatur! Berani melawan saya, saya bikin sengsara hidupmu!


Lalu ia mulai tertawa. Semakin lama semakin keras. Matanya berkilat. Semakin lama tawanya semakin mengerikan. 


Iblis menari-nari di ruangan itu 


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan

Kuburan, makam, atau kober kalau bahasa Betawinya, dulu bisa jadi memiliki status menakutkan, angker atau menyeramkan. Tapi kini status itu sudah ex-comunicado, yang ngak paham ex-comunicado berarti belum pernah nonton John Wick wkwkwk.


Mengapa status hantu dan kuburan tidak menyeramkan lagi? 


Karena sejak negara api menyerang, dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, sehingga membuat generasi milenials, zilenials mulai suka bermain TikTok, Youtube, dan layanan video semacamnya. Banyak konten-konten yang dapat dikatakan telah merendahkan status hantu, setan, atau memedi ke level "tidak seram lagi". 

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan
 Hantu di Kota Tua Jakarta 
 Foto: jalanbarengriky.blogspot.com 


Kalau kita ke Kota Tua (Kotu) Jakarta, tidak sedikit kita temukan orang-orang yang berprofesi menjadi "hantu" untuk menghasilkan uang, tidak sedikit penduduk setempat yang menjadikan profesi itu sebagai mata pencaharian. 

Para wisatawan atau pengunjung KOTU sudah merasa tidak aneh dan takut lagi dengan berbagaia karakter hantu yang ada di Indonesia berkeliaran di Kotu, bahkan para pengunjung bisa berswafoto dengan tokoh-tokoh hantu yang ada di Kota Tua tersebut.

Di tempat lain, jangan heran jika ada TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang disulap menjadi wisata digital alias menjadi taman rekreasi instagramable hingga hilang unsur menyeramkannya, seperti yang terjadi di propinsi Jawa timur baru-baru ini, TPU yang dicat warna-warni macam taman kanak-kanak menjadi spot yang cukup mengundang para jiwa muda untuk berpose. 

Kuburan Yang Tidak Lagi menyeramkan
 TPU Nguwot Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Madiun 
Foto: pawartanusantara.com


TPU Nguwot di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun yang menghabiskan 50 liter cat ini banyak menarik perhatian pengunjung untuk melihat serta menikmati pemandangan kuburan yang dulunya itu menyeramkan tapi sekarang berubah menjadi tempat yang menyegarkan mata dan unik

Bahkan tidak sedikit pengunjung yang berswafoto di makam tersebut yang akan mereka upload ke kanal media sosial mereka untuk menambah konten foto yang ciamik agar menambah "like" dan follow dari pengunjung media sosial yang melihat foto tersebut.

Kita pikir saja, jika itu sebuah role model untuk masa yang akan datang, maka sosok hantu bisa saja jadi bahan perundungan (bullying) para manusia yang kurang membaca sejarah tentang perhantuan nantinya. Akan sangat mungkin terjadi, jika anak kecil keluar malam-malam dan melihat hantu bisa saja, ia akan mengintimidasi si hantu tersebut yang berpotensi banyak hantu akan merasa insecure dengan eksistensinya. 

Hal-hal seperti itu akan mengakibatkan banyak hantu yang mengalami gangguan jiwa, maka dibutuhkan peran praktisi psikiater dan psikolog untuk meredam gangguan psikologi tersebut, dan saya pun sebagai calon psikolog insyaallah wkwkwkwk, akan  bertambah kerjaan, jobs desc yang tadinya hanya menangani pasien dari jenis manusia, kemungkinan besar akan menangani pasien dari jenis hantu yang mulai mengalami gangguan kejiwaan, atau mental illness

Wah wah wah ngak kebayang yaa rasanya jadi seorang psikiater atau psikolog bagi mahluk halus, pasti melelahkan karena harus buka jam operasional menjadi 24 jam. 

Dan bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, banyak undang-undang yang mengatur hak asasi hantu (HAH), kelak akan ada tokoh hantu yang menyuarakan keadilan atas eksistensinya di dunia ini, hantu juga memiliki hak sebagai penduduk bumi yang memiliki peranan dalam meramaikan ragam budaya multikultural yang ada di Indonesia, wkwkwk apesih?.

Yahhh begitulah sedikit bentuk empati saya terhadap nasib para hantu dan kuburan pada saat ini, yang mulai tidak di perhitungkan lagi eksistensinya dan sudah tidak seram lagi. 


-------------------

Semoga tulisan saya ini  bisa menjadi tulisan yang revolusioner serta visioner dan bisa menyadarkan manusia agar saling menghormati dan menghargai, bukan hanya pada sesama manusia, tapi melainkan juga kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa khususnya mahluk halus yang bersemayam di antara kita. 

Agar kita bisa hidup damai didunia ini, dengan menjalin hubungan erat antar sesama makhluk, sehingga tercapainya nilai nilai keluhuran yang ada di Indonesia bahkan dunia. 

Sekian terima kasih atas perhatian bapak ibu sanak saudara dan teman teman yang berkenan memberi jempol atas tulisan gabut saya ini. Tulisan saat menunggu antrian bank yang cukup panjang, yang membuat saya lelah karena menunggu, bapak ibu tahukan bagaimana lelahnya menunggu hal yang tidak pasti?, yaah saat ini saya sedang mengalami hal tersebut, karena saya tahu kepastian hanya ada di tangan Tuhan.

Saya akhir tanpa basa basi, semoga kita selalu diberikan kesehatan yang sempurna oleh Allah SWT, agar kita bisa melakukan aktivitas dengan baik, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan hidup sekitar kita, dan ikut andil dalam meningkatkan kualitas hidup di masyarakat. Aamiin Allahuma aamiin.

#makamunik #indonesiaku #viral #milenials #duniahiburan #duniatiputipu

Penulis: Zhukie Chand
Rabu, 17 Maret 2021


____________________

Catatan:

Di satu sisi, mewarnai kuburan semacam ini dilakukan dalam rangka lomba kebersihan. Itu bagus, setidaknya menjaga areal kuburan bersih dan menghilangkan aura klenik, seram dan angker namun di sisi lain kuburan akan kehilangan maknanya sebagai pengingat kematian.

Karena, kuburan yang dicat warna-warni seperti itu akan menghilangkan tujuan dan esensi ziarah kubur. Makam atau kuburan adalah tempat yang mengingatkan kita pada kematian dan kefanaan hidup manusia di dunia. Karena itu Nabi Muhammad S.A.W. menganjurkan umatnya untuk ziarah kubur untuk mengingat mati..

Jangan sampai tujuan untuk mengingat kematian ini hilang dan berganti dengan hitung-hitungan ekonomi  keduniawian.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1) 


Kurniawan, sang direktur, dengan agak kikuk mempersilahkan pengacara itu duduk di depannya. Dari sikapnya, terlihat ia agak segan, karena ia tahu kepiawaian orang di depannya ini.

Sang Pengacara duduk perlahan, terlihat bersahaja dan percaya diri. Wajahnya datar saja, namun sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pandai bersiasat.

Beberapa saat ruangan kantor itu hening, seakan terbius oleh keberadaan pengacara itu. 

"Pak ...." Ranto memecahkan keheningan ruangan, memanggil atasannya yang malah terdiam.

Kurniawan sedikit terhenyak. Namun ia segera memulihkan kesadarannya. Sikapnya menjadi biasa lagi, sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan besar multinasional.

"Bagaimana perkembangan kasusnya, Pak? Apa hasil pertemuan kemaren dengan perangkat organisasi FSPGB?," tanyanya sopan.

"Ya, kemaren sudah saya sampaikan keberatan kita dengan sikap mereka." Pengacara itu menjawab santai.

"Lalu, bagaimana dengan somasi yang mereka berikan?."

"Ha ... Ha ... Somasi receh itu mudah saja. Kita somasi balik dengan isu pembohongan publik."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana sikap perangkat organisasinya?. Bisakah mereka kita ajak kerjasama?."

"Sangat bisa!," jawab Pengacara itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak berbeda, ada kelicikan di sana.

"Bisa bagaimana?. Mereka kan serikat yang sangat militan!. Mana mungkin mereka bisa diajak kongkalikong dengan kita."

"Dah, itu urusan saya nanti. Yang penting adalah kondisi di dalam. Bagaimana sikap anggota mereka?. Bisakah dikondisikan?"

"Itu malah lebih gampang, Pak!," jawab Kurniawan sambil tersenyum lebar.

"Gampang bagaimana?." Pak Benarudinawisata, si Pengacara penasaran.

Kurniawan memandang  Ranto sambil mengisyaratkan dengan kepalanya agar Ranto yang berbicara.

"Begini, Pak Benarudin, kami sudah punya beberapa orang yang sudah kami brainwash, dan mempunyai pengaruh besar di kalangan karyawan. Kita bisa memanfaatkan mereka, untuk mempengaruhi anggota serikat itu," kata Ranto dengan lancar.

Benarudinawisata manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang panjang hingga mencapai perut dengan tangannya yang besar-besar. 

Ranto yang memperhatikan sikap Pengacara itu dan tak berkata apapun melanjutkan.

"Kami gak begitu khawatir kondisi dalam perusahaan, yang kami khawatirkan hanya kawan-kawan mereka diluar. Serikat FSPGB ini kan salah satu serikat besar yang radikal!. Mereka militan, beberapa tahun lalu mereka sering menggempur pabrik-pabrik sekitar sini dengan massanya yang banyak." Ranto berhenti sebentar, mengambil nafas panjang, terlihat sekali ia sangat geram.

"Ha ... Ha ... Ha ...!." Pengacara itu tertawa terbahak-bahak. Saking gelinya, seluruh tubuhnya yang besar itu berguncang, jenggotnya ikut meliuk kanan kiri mengikuti guncangan tubuhnya.

Kurniawan dan Ranto yang sekarang heran dengan sikap si Pengacara. Benarudin malah semakin geli, suara tawanya semakin keras, memenuhi ruangan itu, mungkin mengalahkan suara musik ajep-ajep di diskotik.

Setelah puas tertawa, Pengacara itu kembali biasa lagi. Wajahnya kembali datar, hanya senyumnya yang berubah menjadi senyum mengejek.

"Itu dulu!. Dulu sekali. Sekarang mereka sudah gak ada apa-apanya, ha ... ha ....!" 

Kurniawan dan Ranto saling berpandangan. "Gak ada apa-apanya bagaimana?." Hampir serempak mereka berkata itu.

Pengacara itu tersenyum. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan kompak itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Narsih tergopoh-gopoh memasuki ruangan.

"Pak, maaf Pak, ini gawat!," serunya dengan nafas tersengal. Ia menghampiri meja pak Kurniawan, di mana ketiga orang tadi berkumpul.

"Ada apa Narsih?. Panik amat?," tanya Kurniawan heran dengan sikap bawahannya yang biasa santai.

"Ini, Boss! Lihat ini!." Narsih menyodorkan hapenya ke meja pak Kurniawan.

Kurniawan, Ranto dan si Pengacara serempak melihat ke arah layar hape.

++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi