Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Iksan Skuter "Kukira Jakarta"

Karena ada yang meminta dituliskan lirik, chord atau kunci gitar lagunya Iksan Skuter yang berjudul "Kukira Jakarta", berikut chord gitar berdasarkan yang saya dengar :) Ya  berikut Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Iksan Skuter "Kukira Jakarta". Kukira Jakarta - Iksan Skuter Intro:   G     Em/G#m#5  Am  C         D             G G     Em/G#m#5  Am Hening       di      desaku C

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu


5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu. Apa saja ranah hukum di Indonesia yang kalian ketahui? Kalau kalian hanya tahu tentang Hukum Pidana, Hukum Perdata, dan Hukum Adat, sudah sangat bagus! Karena itu merupakan ranah hukum yang paling sering berhubungan dengan masyarakat Indonesia setiap harinya. Tetapi tentu masih banyak ranah hukum yang patut kalian ketahui seperti Hukum Agraria karena berhubungan dengan tanah dan/atau kepemilikan tanah, sampai tata cara mengurus sertifikat di Kantor Pertanahan. Masih ada yang lain? Banyak! Ada Kompilasi Hukum Islam, ada Hukum Lingkungan, dan lain sebagainya. Itu pun belum termasuk hukum beracara (di pengadilan). Semua ada aturannya, semua ada tata caranya. 

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang

Setelah melihat, memikirkan, dan menimbang, pada akhirnya saya harus menulis ini. Orang bilang: akhirnya tidak tahan juga. Bukan, bukan karena saya adalah pakar hukum. Tetapi sebagai orang yang pernah belajar hukum ada keinginan untuk menulis tentang dunia hukum juga, meskipun hanya materi seringan ini. Saya berpikir teman-teman yang tidak belajar hukum pun membutuhkan sedikit pengetahuan agar tidak salah kaprah. Dalam skala yang lebih luas, masyarakat umum pun sudah seharusnya tahu semua ranah hukum yang ada termasuk peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena, faktanya masih ada masyarakat yang belum tahu tentang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Atau, masih ada yang belum tahu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Makanya masyarakat pasrah saja setiap kali kolektor menyita kendaraan yang merupakan barang fidusia. Byuuuuh. Enggak boleh segampang itu barang fidusia disita. Huhu.

Sekarang, mari kita coba lihat lima ranah hukum yang menurut saya wajib diketahui oleh kalian semua. Cekidot!

1. Hukum Pidana


Hukum Pidana termasuk dalam hukum publik dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ringkasnya Hukum Pidana mengatur hubungan antara masyarakat dengan pemerintah agar terwujud tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Oleh karena itu kita sering mendengar kata pelanggaran dan/atau melanggar. Memaki teman di media sosial, apalagi sampai menyebut nama, melanggar apa yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dan itu ranahnya Hukum Pidana. Mencuri, membunuh, memperkosa, memanfaatkan anak di bawah umur untuk mencari nafkah, hingga menipu, semuanya berada dalam ranah Hukum Pidana. Dan ada undang-undang yang mengaturnya. Saya menyebutkan undang-undang turunan karena undang-undang tersebut disusun secara khusus dari apa yang sudah diatur di dalam KUHP.

2. Hukum Perdata


Disebut juga hukum privat dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt). Ringkasnya Hukum Perdata mengatur hubungan antara sesama manusia. Haha. Apa saja yang diatur di dalam Hukum Perdata? Banyak! Antara lain waris, anak, dan perjanjian/perikatan. Banyak pula undang-undang turunan dari KUHPdt ini. Ada saudara kalian yang ingin menguasai semua harta warisan orangtua? Larinya tentu ke Hukum Perdata. 

3. Hukum Adat


Saya paling suka berdiskusi tentang Hukum Adat. Apabila kalian tinggal di Kabupaten Ende, maka pasti sering mendengar istilah wale. Wale semacam pengembalian harkat dan martabat manusia setelah dilecehkan. Ambil contoh, ketika Fulan memperkosa Fulana, maka kasusnya dapat diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Tetapi rembug kedua keluarga dapat saja menghasilkan: diselesaikan secara kekeluargaan. Disebut wale. Ada jumlah harta/benda tertentu yang harus diserahkan Fulan kepada Fulana sebagai wujud wale. Kalau wale sudah dilakukan maka kasus pemerkosaan tersebut tidak diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Hukum Adat masih sangat kuat dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia terutama Masyarakat Hukum Adat. Apa saja yang diatur oleh Hukum Adat? Banyak! Selain tentang wale, ada tentang waris, ada tentang perkawinan, dan lain sebagainya.

4. Hukum Agraria


Ini dia hukum yang mengatur segala urusan tentang tanah. Kalian pasti akan berurusan dengan Kantor Pertanahan sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikat tanah. Apabila ada tanah kalian yang belum bersertifikat, segera diurus, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tapi kalau tanahnya merupakan tanah kerukan bakal bangun rumah, jangan coba-coba. Hahaha. Sebelum menerbitkan/mengeluarkan sertifikat tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Tapi jangan kuatir, semua syaratnya itu adalah perkara-perkara dasar seperti KTP, rekomendasi ini itu, sampai dengan sertifikat asli dan/atau surat jual-belinya, sampai pada pengukuran ulang.

5. Hukum Lingkungan


Andai saja hukum lingkungan juga mengatur tentang sanksi terhadap masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat, saya bakal setuju sekali. Hehe. Hukum lingkungan mengatur banyak hal, salah satunya tentang lokasi tambang hingga jarak antara lokasi tambang dengan rumah penduduk. 


Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat pasti berhubungan dengan lima ranah hukum di atas, apabila dibandingkan dengan Hukum Tata Negara. Setiap hari pasti terjadi pencurian, penipuan, pelanggaran lalu lintas, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, sampai emosi meledak-ledak di media sosial. Setiap hari pasti terjadi perjanjian/perikatan antara orang per orang atau orang dengan kelompok tertentu, perkawinan, sampai perebutan harta warisan. Setiap hari pasti terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Masyarakat Hukum Adat, seperti menggunakan tanah hak ulayat untuk membangun rumah pribadi. Setiap hari pasti terjadi kerusakan lingkungan oleh Bahan Berbahaya dan Beracun (3B).

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Menjadi warga negara yang baik, tentu merupakan harapan setiap orang. Tapi bagaimana bisa terwujud apabila masih ada masyarakat yang tidak tahu tentang hukum, serta peraturan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara? Memang bukan tugas saya, tetapi setidaknya saya juga tergelitik untuk bisa membagi informasi kepada masyarakat umum/awam tentang dunia hukum. Alhamdulillah, meskipun bukan advokat (ngimpi) tapi saya masih bisa menyarankan ini itu kepada orang-orang yang dimulai dari anggota keluarga sendiri. Dan saya pikir, dengan mengetahui hukum yang mengatur kehidupan kita, setidaknya kita jadi lebih tahu diri dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.