Parodi Film Dilan 1990 Terlucu


Dilan 1990 menuai prestasi tersendiri di 2018 ini dengan menjadi salah satu film terlaris. Prestasi ini memang sangat membanggakan karena ditengah serbuan film asing, Dilan 1990 mampu membuktikan bahwa film Indonesia pun tak bisa di pandang sebelah mata. 

Berkat kesuksesan filmnya ini, maka banyak bermunculan parody dan meme yang membuat semarak di media sosial baik Youtube maupun Instagram. Namun sebelum berbicara parody-parody terlucu yang layak ditonton, maka ada baiknya kita menyaksikan trailer film yang sudah ditonton lebih dari 10 juta penonton di youtube ini.


Nah ini dia parody-parody terlucu oleh youtuber di Indonesia. 

Kery Astina



Kery Astina adalah youtuber asli Bandung yang dengan kreatif memparodikan trailer Dilan 1990 dengan mix antara Dilan dan Milea dengan peristiwa yang tren sekarang seperti komentator sepakbola dan ngopi-ngopi.

Edho Zell



Edho Zell memang sangat kece dan kretif dengan memparodykan Dilan 1990 versi dari masing-masing penggemarnya. Salah satunya Ngopi apa Ngopi, Moba, Mobile Legend, dan masih banyak lainnya.

Gracecika Marthgareth



Parody satu ini memang agak berbeda dengan pemeran Milea yang berjenis kelamin Laki-laki. Memang alurnya agak terpotong-potong, namun parodinya sangat lucu dan menghibur.

Social Bros Indonesia



Social Bross Indonesia membuat Parody Dilan 1990 menjadi Dolan 1998, beda sekitar 8 tahun dari Dilan hehehe. Parodynya sangat lucu dan menghibur banget, apalagi per scene sangat lucu sekali.

Jani Master



Parody ini merupakan kompilasi dari beberapa parodi yang beredar di social media. Sangat kreatif ya bisa parodiin Dilan 1990.


GORGAR Rungi, Sambal Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Kalau Googling "Goreng Garam" maka kita akan banyak temukan tawaran produk Goreng Garam Betawi di berbagai market place dll. Ini berarti secara umum tidak perlu lagi susah-susah memperkenalkan apa itu Goreng Garam yang konon adalah makanan legendaris orang Betawi belah wetan alias Bekasi. Goreng Garem sendiri punya banyak nama, menurut teman di Jakarta namanya "Sambel Terbang", ada juga yang menyebutnya Sambel Siwang alias Terasi Bawang dan lain sebagainya.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Sabtu tanggal 24 Februari 2018 sore saya berkunjung ke TBM Rumah Pelangi Bekasi (Rungi), salah satu produsen GorGar atau Goreng Garam kemasan yang dipasarkan secara retail sebagai salah satu usaha penunjang kegiatan literasi dan operasional perpustakaan di pelosok Kampung Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi Jawa Barat ini.

Lauk atau sambal yang berbahan utama bawang merah dan cabai ini saat pembuatannya juga melibatkan terasi, bawang putih, kemiri, garam dan gula untuk rasa Original, sedangkan untuk varian Jengkol dan Teri masing-masing ditambahkan jengkol dan teri goreng pada saat finishing sebagai penguat rasa. GorGar Rungi, atau Goreng Garam Rumah Pelangi saat ini dijual dengan 3 rasa varian tersebut, GorGar Rasa Original (bawang pedas), Rasa Jengkol dan Rasa Teri.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Muhaidin Darma (25), salah satu penggiat Rumah Pelangi bersama teman-temannya yang sedang mengemas GorGar Rungi menjelaskan bahwa GorGar ini adalah makanan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Satu-persatu rekan-rekan yang membantunya juga menjelaskan hal yang sama.

"Dulu kalau ibu saya tidak sempat masak sarapan sebelum berangkat sekolah, ia akan membuat GorGar untuk kami sekeluarga, sebagian di bawa bapak ke sawah sebagai bekal makannya" ungkap Jamaludin menerawang. "Itu (GorGar) dicampur saja dengan nasi putih sudah langsung siap dikonsumsi, rasanya seperti makan nasi goreng saja" sambung Jamal menceritakan masa kecilnya dengan ceria. Seperti bumbu nasi goreng sachet gitu lah.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

GorGar ini masih ada sampai sekarang salah satunya karena penduduk di Desa Sukamekar dan wilayah pertanian lainnya mayoritas adalah petani dan peladang, ada pantangan dalam membawa bekal ke sawah.
"Ada pantangan untuk membawa nasi yang digoreng ke sawah, para orang tua kami tidak berani membawa nasi yang telah di goreng ke sawah sebagai bekal, maka GorGar ini adalah jalan tengahnya karena yang digoreng bukan nasinya tapi bumbunya" Jelas Muhaidin.

Diceritakannya pula tentang kenangannya dahulu saat kakek nenenknya menunaikan ibadah haji yang masih berbulan-bulan perjalanan karena menggunakan kapal laut, GorGar adalah bekal utama masyarakat waktu itu, karena praktis dan awet. Selama disimpan dalam wadah tertutup dan kedap udara, GorGar akan awet berbulan-bulan, tapi kalau dibiarkan terkena angin dalam sehari saja bawang gorengnya jadi melempam, tidak gurih dan lama-lama tengik.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Dipasarkan dengan harga promo Rp. 15.000 per kemasan 200 gr, GorGar bukan jenis cemilan yang murah meriah bagi anak-anak, kecuali diperkecil kemasan dan disesuaikan dengan daya beli anak-anak. Tapi seperti penuturan teman-teman di Rumah Pelangi Bekasi, usaha GorGar lebih kepada membuat oleh-oleh atau sourvenir kuliner khas lokal yang dapat dikonsumsi dan awet, walaupun dapat langsung dikonsumsi menjadi cemilan, GorGar idealnya adalah lauk nasi, untuk cemilan Tim Usaha Rumah Pelangi sudah menggagas produk camilan lain yang masih dalam tahap perencanaan.

Ke depannya GorGar akan dipasarkan dengan harga normal Rp. 20.000 per bungkus, tapi ada diskon kalau beli 3 bungkus menjadi seharga Rp. 50.000. Untuk 1 bungkusnya bisa untuk porsi 6 kali makan (kalau porsi makan saya sih). Untuk saat ini peminat belum banyak, sehari biasanya produk hanya 20-30 bungkus, produksi akan dimulai kembali kalau stok sudah habis. Produksi GorGar rupanya sangat rentan terhadap harga Cabai, Teri dan Jengkol.... padahal jarang ada orang yang memperhatikan harga komoditas itu :) Soal pemasaran juga masih direct selling dan hanya sedikit promosi melalui Facebook. Produksi masih sedikit, masih dipasarkan terbatas sambil mempersiapkan adik-adik Rungi untuk menguasai semua proses hingga penjualannya.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Yang berminat untuk membeli, kerja sama reseller atau dropship dapat langsung menghubungi Tim Usaha TBM Rumah Pelangi Bekasi di WhatsApp 0857 1065 6966 (Muhaidin Darma), atau kontak saya nanti saya hubungkan kepada ybs. Terima kasih.

-----
Buat yang belum tahu tentang TBM Rumah Pelangi Bekasi sila kunjungi blognya di www.pelangibekasi.com atau Sosmednya: Facebook Rumah Pelangi Bekasi dan Instagram Rumah Pelangi Bekasi.


Asyiknya Backpacker ke Semarang dengan Budget Hemat


Terlalu banyak cerita di Semarang, mulai dari sedih sampai bahagia. Tentu saja Semarang sangat berarti bagi saya, saya menghabiskan setidaknya 4 tahun untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di sini. Namun, sayangnya selama 4 tahun saya hanya mengenal Tugu Muda dan Simpang Lima, bahkan saya tidak pernah masuk ke dalam Lawang Sewu yang menjadi ikon kota berjuluk Venesianya Indonesia. Sebuah kota sungai yang indah dengan bangunan kuno yang menawan. 

Saya sering merencanakan dengan matang sebuah perjalanan kemana pun meskipun ke kota yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Karena menurut saya, sebuah perjalanan mesti dipersiapkan dengan detail sehingga pada saat perjalanan akan nyaman tanpa perlu terjadi permasalahan yang berarti. 

Salah satu persiapan pada saat backpacker adalah merencanakan budget agar sesuai dengan rencana. Selain itu dipersiapakan transportasi, akomodasi, itinerary dan konsumsi. Semarang menawarkan harga yang lumayan terjangkau mulai dari hostel atau hotel, makanan dan tempat wisatanya. 


Saya menyarankan untuk memesan tiket pesawat dan hotel atau hostel jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga yang lumayan murah. Cari tiket dan hotel membutuhkan waktu yang cukup ribet ternyata. Dibutuhkan effort 2 kali untuk memesan pesawat dan hotel secara terpisah. Apalagi kadang harga yang tertera tidak sesuai budget yang diharapkan, alias lebih mahal. Lalu, apa tidak ada solusi? 

Setelah cek sana sini di berbagai website dan aplikasi, saya menemukan cara terpraktis dengan harga yang lebih murah. Ternyata ada paket pesawat hotel Traveloka sehingga menghemat waktu dan budget. Bagaimana cara memesan pesawat plus hotel di aplikasi atau website ?  Ini dia cara memesan keduanya di aplikasi. 



Yakin harganya murah ? Yes, saya mendapatkan harga hemat sekitar 800 ribu untuk pesawat dan hostel (hotel) yang berada di Kota Lama. Kenapa lebih murah ya pesan hotel dan pesawat di Traveloka? Karena termasuk diskon 20 persen dari harga biasanya. Setelah pesan bisa dibayar melalui banyak metode pembayaran sehingga lebih aman dan nyaman bertransaksi.

Untuk lama perjalanan sekitar 3 hari 2 malam, pesawat dan hotel telah dipesan maka tinggal memikirkan transportasi dan biaya makan selama di Semarang. Oke kita misalkan transportasi selama di semarang 150 ribu dengan ojek online dan makan sekitar 400 ribu. Untuk wisatanya, banyak sekali wisata yang free seperti Kota Lama, Pasar Barang Antik, Klenteng dan lainnya. Jika masuk pun harganya tidak lebih dari 50 ribu. Total pengeluaran selama 3 hari adalah 1,5 juta (All in). So, sangat murah bukan dengan perjalanan sekitar 3 hari namun sudah tercover seluruh pengeluaran. 


Selama ini saya hanya mengenal Lawang Sewu, Tugu Muda, Simpang Lima dan lainnya. Semarang ternyata memiliki tempat wisata yang tidak biasa alias anti - mainstream. Sebut saja Old City 3D Trick Art Museum, Pasar Semawis, Kampung Seni Padang Rani dan Kampung Warna-Warni. 

Old City 3D Trick Art Museum


Terinspirasi dengan berbagai kota lain seperti Yogya, Denpasar dan lainnya yang memiliki 3D Trick Art, Semarang pun kini memiliki museum yang sangat menarik karena menyajikan banyak tipu muslihat seolah-olah nyata. Harga tiketnya 50 ribu sehingga sangat menarik jika berkunjung bersama keluarga dan teman-teman. 



Banyak sekali trick art yang tersedia mulai dari belahan Amerika, Eropa, Asia dan lain-lainnya. Tips pada saat memotret, biasanya disediakan suatu tempat khusus untuk spot terbaik mengambil foto. Sehingga foto yang dihasilkan akan sangat nyata dan kelihatan sangat asli.



Pasar Semawis

Pasar Semawis sebetulnya merupakan bagian dari Pecinan Semarang setiap akhir pekan, Jumat sampai Minggu. Banyak sekali yang ditawarkan dari barang-barang kebutuhan seperti pakaian, perhiasan, alat rumah tangga sampai kuliner yang sangat terkenal dengan kelezatannya.



Pilihan saya jatuh kepada nasi ayam bumbu betutu yang berada tak jauh dari gerbang utama Pecinan, selain kulinernya sangat banyak juga sangat murah sehingga membuat selera makan jadi terpuaskan.



Kampung Seni Padang Rani 

Saya selalu suka melihat benda-benda antik meskipun tidak pernah mengoleksinya secara khusus. Namun mengenang masa kecil dengan melihat benda-benda ini sangatlah menyenangkan. Apalagi pada saat sore menjelang malam dan melintas di sepanjang jalan di kota lama menuju gereja bleduk. Kampung Seni ini menawarkan banyak barang yang sangat jarang di temui saat ini dipasaran.



Yang menarik lagi adalah kampung seni ini menyatu dengan kawasan kota lama sehingga sayang kalau dilewatkan terutama pada saat memiliki waktu yang lebih. Terlebih lagi tidak ada tiket masuk alias gratis. So, jangan lupa main kesini ya.



So, 3 hari backpackeran bisa menjadi momen istimewa dengan budget yang hemat dan terjangkau tanpa membuat kantong kempes seperti yang sudah-sudah. Selamat berlibur di semarang. 

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker Ke Malang

Ketika film 5CM ngehits, nggak cuma Gunung Semeru yang mendadak ramai dikunjungi para pendaki. Kereta Api Matarmaja juga kena imbasnya, ikut mendadak populer tepatnya dan tiketnya  menjadi ramai diburu oleh para backpacker yang akan liburan ke Kota Malang, Jawa Timur.

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:flickr.com/lukmanamukti
Dengan harga tiket yang terjangkau, naik transportasi Kereta Api Matarmaja adalah solusi terbaik buat menghemat pengeluaran untuk liburan ke Malang. Sekali jalan, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp 110 ribu saja untuk rute Jakarta – Malang. Risikonya hanya satu, waktu tempuh yang cukup panjang, sekitar 16 jam 36 menit, dengan jarak tempuh sekitar 881 kilometer. 

Tapi, lamanya perjalanan pada jalur ini, nggak akan terasa kok, karena transportasi ini berangkat pada pukul 15.15 petang dari Jakarta. Kita bisa tidur lelap sepanjang perjalanan, begitu bangun kita sudah sampai di Malang, sekitar pukul 07.51 pagi.

Asal nama Matarmaja

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rail-traveller.blogspot.co.id
Nama kereta ini merupakan satu dari sedikit nama-nama kereta yang tidak diambil dari nama sungai, gunung dan tokoh tertentu di pewayangan atau sejarah lokal. Nama ini adalah singkatan, dari Malang – Blitar – Madiun – Jakarta, yang menunjukkan rute dari rangkaian jalur yang dilaluinya.

Sejarah Matarmaja


Dulunya, kereta ini meyediakan rangkaian kereta dengan rute Madiun – Jakarta dengan nama Senja Maja. Kemudian PT KAI menambah jalur ke Blitar dan Malang, yang kemudian membuat namanya berubah menjadi Matarmaja yang secara resmi mulai beroperasi pada 28 September 1983.

Perubahan Rute


Ketika awal beroperasi, Kereta Api Matarmaja melalui rute selatan dengan melewati Yogyakarta dan Purwokerto. Namun beberapa tahun lalu, PT KAI memutuskan untuk mengubah rute menjadi jalur utara melewati Kota Solo – Semarang. 

Inilah yang kemudian membuat waktu tempuh Matarmaja menjadi lebih singkat daripada sebelumnya. Namun membuat rangkaian kereta api ekonomi ke Yogyakarta juga ikut menghilang. Akhirnya membuat PT KAI ‘melahirkan’ Kereta Api Malioboro Express untuk rute Malang – Yogyakarta.

Khusus Ekonomi

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:beritadaerah.co.id
Dulunya, kereta api Matarmaja adalah rangkaian kelas bisnis dan ekonomi. Namun sejak beberapa tahun lalu, kereta ini berubah sepenuhnya menjadi kelas ekonomi AC dengan gerbong terbaru buatan PT KAI yang terdiri dari 8 rangkaian gerbong penumpang, satu lokomotif, satu kereta makan pembangkit dan satu kereta bagasi.

Jadwal Matarmaja

Kereta ini berangkat pada pukul 15.15 WIB dari Jakarta dan tiba pada pukul 07.51WIB di Malang. Sementara untuk jalur sebaliknya, Matarmaja berangkat pada pukul 17.30 WIB dari Malang dan sampai di Jakarta pada pukul 09.20 WIB pagi.

Titik keberangkatan dan kedatangan di Jakarta adalah Stasiun Pasar Senen. Kemudian titik keberangkatan serta kedatangan di Malang adalah Stasiun Malang atau yang juga dikenal dengan nama Stasiun Kotabaru Malang.

Sensasi Seru Lewat Terowongan

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rebanas.com
Ketika berada di kawasan perbatasan Malang – Blitar, sebaiknya jangan pejamkan mata. Di kawasan ini, kamu akan merasakan sensasi kereta api melewati terowongan yang cukup panjang. Sensasi gelap gulita ketika berada di terowongan akan tetap terasa walaupun kamu melewatinya pada malam hari. Seru banget!

Dengan harga tiket yang murah, Matarmaja selalu jadi favorit para penumpang kereta api di jalur Malang – Jakarta. Biar nggak kehabisan, pesanlah tiket Matarmaja sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Kamu bisa memesan tiketnya secara online di Traveloka dengan mudah, lengkap dengan jumlah kursi yang tersedia buat perjalanan backpacker kamu ke Malang nanti. 

Happy backpacking guys!



Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpusjal Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena insteraksi adalah kewajiban di sini.

Perpusjal Bekasi

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya nara sumber).

Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Perpusjal Bekasi

Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Episode 08 – Dari Intoleransi Sampai Ngaduk Bubur: Ngobrol Bareng Alissa Wahid

Suarane Podcast kedatangan satu lagi tamu keren: Alissa Wahid, putri sulung dari KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Alissa diundang oleh SEA-Junction, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan untuk mendorong saling kesepahaman dan juga sebagai salah satu pusat informasi dan kajian kawasan Asia Tenggara.

Di sela-sela kegiatannya, Alissa bercerita tentang Jaringan Gusdurian yang dipimpinnya, bagaimana Gus Dur mendidik anak-anaknya untuk menghargai perbedaan, nilai-nilai Gus Dur sampai ke urusan mengaduk bubur sekalipun 🙂

Cerita selengkapnya bisa didengarkan di Soundcloud atau langsung di player di bawah ini:



Indeks: 
Catatan: Podcast ini berdurasi 40 menit. Silahkan klik pada timecode di bawah untuk langsung menuju ke bagian-bagian tertentu dari podcast ini (saat klik akan membuka ke Soundcloud):

00:00 – Pembukaan
06:28 – Kegiatran jaringan GusDurian di Indonesia
09:21 – Indikasi berkembangnya sikap intoleran di kalangan generasi muda.
12:13 – Bagaimana sih anak-anak Gus Dur diajari untuk punya sikap toleran?
17:30 – Dari soal buku, perusakan tempat ibadah, sampai bubur yang diaduk 🙂
31:59 – Mau gabung jadi geng Gusdurian?
36:20 – Penutup (Ayo jangan lupa subscribe ke Suarane podcast)

 

Tautan Terkait:

Ucapan Terima Kasih:

  • Alissa Wahid yang sudah mau ngobrol
  • Bu Lia Sciortino dari Sea Junction, Bangkok (Nantikan episode ngobrol dengan Bu Lia dua minggu lagi)
  • Teman-teman komunitas Podcaster Indonesia, khususnya Daru aka Buluk dari Podcast Pojokan, Ilham dari #TetepMekenyemPodcast, Adit dari Podcast Buku Kutu, dan DW aka Dimas Wahyu dari DWPodcast dan tidak ketinggalan Yeni dari YenInPodcast (sorry gue nggak punya alamat podcast lo nih)

Catatan Teknis Buat Teman-teman Podcaster:

  • Wawancara dilakukan dengan alat rekam digital Tascam-DR07, produk gagal nih dan sudah tidak lagi diproduksi karena bahan untuk alatnya yang terbuat dari plastik dan menimbulkan bunyi yang mengganggu hasil rekaman!
  • Untuk mengakali bunyi dari bodi alat recordernya saya memadukan alat rekam Tascam di atas dengan lapel microphone custom yang bercabang dua. Tujuannya juga agar rekaman suara lebih jelas baik dari penanya maupun nara sumber. Namun kesalahan saya adalah tidak memasangkan lapel micnya di baju nara sumber. Akibatnya suara “njomplang”. Gagal lagi deh hehe
  • Backup recorder. Percaya atau tidak pada akhirnya saya mengandalkan hasil rekaman back-up dari smartphone Xiaomi Redmi Note 4 saya. Suaranya memang agak kecil, tapi bisa diatasi dengan poin berikutnya di bawah ini
  • Levelator! Yes, pada akhirnya software sederhana Levelator kembali menjadi penyelamat. Suara rekaman yang kecil dan tidak imbang akhirnya diselamatkan oleh software gratisan ini. Sayang banget software ini sudah berhenti pengembangannya. Semoga saat upgrade OS komputer nanti dia tetap kompatibel
  • LESSON LEARNED: 1. Saat wawancara/ ngobrol langsung, selalu sedia back-up! 2. Levelator kembali terbukti berhasil dalam levelling suara yang sangat njomplang. 3. Melibatkan teman-teman kadang memunculkan pertanyaan-pertanyaan menarik dan di luar dugaan.

 

Lain-lain:

Musik yang digunakan di episode ini adalah Carpe Diem oleh Kevin MacLeod (incompetech.com) – Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0
Creative Commons Licence
Suarane.org  is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar Sukawangi

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Rumah Pohon, Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Bekasi
Menguasai teori grafting atau menyambung pohon cukup mudah, dengan memanfaatkan mesin pencari Google maka ribuan artikel di internet dengan kata kunci "sambung pucuk" atau "sambung samping" siap untuk kita baca.

Membaca artikel-artikel itu ingatan saya melayang kembali ke pelajaran biologi saat SMA mengenai reproduksi vegetatif buatan, dan juga saat mencoba hasil enten jeruk besar dan manis yang dilakukan transmigran dari Pulau Bali di sekitaran wilayah Tobadak Mamuju Sulawesi Barat. 

Menguasai teori dengan mempraktekkannya itu jauh berbeda, memahami hanya dengan membaca jauh berbeda dengan tahu karena mengalami atau mempraktekkannya. Dengan melihat sendiri bagaimana adik-adik penggiat Rumah Pohon sedang melakukan praktek menyambung beberapa pohon, saya rasa gak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Saat ditawarkan untuk mencoba saya pun menolak, saya belum cukup berpengetahuan untuk langsung mencoba menyambung pohon. Sayang kalau sampai batang pohon dan pucuk yang ada menjadi sia-sia di tangan saya :)

Menurut Marjuki Lahimsyah, S.Pd, MM. (55) yang akrab dipanggil Guru Marjuki, praktek pembelajaran menyambung pohon ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pengenalan filosofi hukum alam.

"Manusia dan tumbuhan memiliki banyak kesamaan, karenanya praktek menyambung pohon ini juga adalah salah satu cara sederhana untuk pembangunan karakter (character building) para peserta" ungkapnya.

"Selain itu, semoga para peserta pelatihan juga dapat memiliki keterampilan yang akan memperluas wawasan sehingga mampu menghargai alam serta menjaga kelestariannya, minimal lebih menghargai pepohonan yang ada di lingkungannya" sambung pendiri dan pembina Rumah Pohon ini. 
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Proses penyambungan pucuk. Foto: Imron Maulana
Beberapa pohon hias yang mengisi Rumah Pohon ini antara lain dari jenis Puring, Anting Putri, Jalitri, Melati Korea, Batavia (Jatropha pandurifolia), Dolar (Zamioculcas Zamiifolia), beberapa jenis palem dan lain-lain yang telah berhasil disambung dengan berbagai jenis batang pohon kayu. Sedangkan untuk pohon buah seperti ubi, cabai, tomat, terong dan lain sebagainya masih dalam tahap pengembangan.
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Saung Perubahan Rumah Pohon Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi
Bagi penggiat dan peserta pelatihan, Rumah Pohon juga disebut sebagai Saung Perubahan. Di antara rimbun pepohonan terdapat saung berkonstruksi baja ringan yang cukup untuk menampung hingga 30-40 orang sebagai tempat penyampaian berbagai macam materi pelatihan. Di saung ini saya duduk bersama dengan para peserta pelatihan dan sesekali terlibat dalam diskusi mengenai berbagai hal terkait agenda Rumah Pohon.

"Saung ini adalah tempat kita bertukar pikiran dan berdialog melakukan musyawarah berbagai hal terkait kegiatan di Rumah Pohon, konsultasi, pelaporan perkembangan tanaman dari proyek yang sedang dilakukan peserta pelatihan dan macam-macam" jelas Imron Maulana (22) salah seorang penggiat Rumah Pohon yang juga sedang belajar menyambung beberapa jenis tanaman.

Ke depannya Guru Marjuki ingin Rumah Pohon bukan hanya sebagai tempat belajar reproduksi vegetatif, tetapi juga bisa menjadi tempat budidaya, penghasil tanaman hias, produksi jamur kamboja, buah-buahan, kompos dan ragam produk organik lain yang nantinya akan dipasarkan secara online. Selain itu semua, Guru Marjuki juga berharap Rumah Pohon  ke depannya menjadi layak sebagai  salah satu destinasi wisata alam di Bekasi.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Guru Marjuki menjelaskan penyambungan pucuk
Sayangnya, menurut penglihatan saya, areal yang dijadikan laboraturium hidup untuk mencoba berbagai kombinasi tanaman ini tidak memiliki lahan yang cukup luas. Dengan dibatasi jalan utama desa dan bibir Kali Bekasi, Rumah Pohon kurang lebih hanya seluas 6 sampai 7 meter dan memanjang mengikuti bibir kali Bekasi sekitar 10-15 meter. Semoga kelak areal laboratorium hidup Rumah Pohon dapat meluas hingga layak menjadi destinasi wisata alam seperti yang diharapkan.

Gak terlalu lama singgah sudah cukup untuk menyegarkan mata melihat berbagai pohon hias dan tunas-tunas pohon yang hijau merekah. Setelah dari Senin hingga Jumat hanya bertemu mesin dan beton, setidaknya hari ini saya merasakan sensasi kembali menyatu dengan alam. Selain menyegarkan mata, menikmati kopi dan berbincang-bincang membuat long weekend menjadi lebih bermakna. Yah, bahagia itu sederhana kok. :)

Tersembunyi di balik rimbun pepohonan, keberadaan Rumah Pohon tidak mencolok sekalipun terletak di pinggir jalan utama, sehingga mudah terlewati bagi yang baru pertama kali ingin berkunjung. Kalau mau berkunjung, info-info saja, nanti saya pandu :). 

Rumah Pohon berada di Kampung Pangkalan Nurul Iman RT. 02/03 Desa Sukamekar, Kec. Sukawangi, Kab. Bekasi 17655. Nurul Iman adalah nama masjid yang namanya digunakan oleh warga sebagai patokan lokasi, kebetulan masjid tersebut berjarak cukup dekat dengan Rumah Pohon. Sila kunjungi Halaman Facebook Rumah Pohon untuk informasi lebih lanjut di Facebook Rumah Pohon Bekasi atau Instagram  Rumah Pohon Bekasi.

Semoga masih ada kesempatan buat saya untuk mampir dan mencoba sendiri menyambung pohon :)

Salam.