Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar


Waktu dia mengirimkan foto kardus yang sudah di-pack rapi dan berkata hendak mengirimkan kompor gas agar saya lebih rajin masak, karena dia tahu dulu itu saya paling sering membeli lauk-pauk di warung, saya langsung ingat kompor gas Rinai yang dulu dihibahkan pada orang-orang yang membantu membersihkan dan membereskan dapur. Sebut saya kampungan. Tidak mengapa. Asalkan saya tidak memakai kompor gas di rumah. Lain perkara jika ditawari kompor listrik. Haha. Ada sih kompor listrik tapi tidak cukup besar memuat penggorengan (teflon) ukuran normal. Oleh karena itu di dapur Pohon Tua masih berdiri kompor Hock bersumbu yang selalu dirawat oleh Mamasia. 

Siapakah dia? 

Namanya Ilham Himawan. 'Adik' yang saya panggil Epin karena dia acap memanggil saya Kak Ross. Mungkin karena saya galak haha. Sahabat DMBC dan teman jalan yang satu ini dulunya berdomisili di Kota Maumere, lantas pindah ke Kota Ende, dan kemudian kembali ke Makassar. Lucunya, Ilham lebih dulu mengenal kakak saya, Toto Pharmantara, sebagai rekan kerja. Setelah itu baru lah kami berkenalan melalui Forum Blogger Family. Pada tahun 2009, bersama Ilham, Pak Deddy Suhendry, dan Dedy Isnandar, kami mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. 

Nostalgia


Empat belas tahun yang lalu kami berkenalan lewat forum Blogfam (Blogger Family). Siapa sangka, tiga tahun kemudian, bersama dua founder lainnya, kami membentuk Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Tentu berkiblat pada dua komunitas besar yaitu Blogfam dan Angingmammiri. Dia sering memanggil saya Kak Ross, sedangkan saya memanggilnya Epin (kembaran ketiga Upin Ipin) haha.

Momen terbaik pertama kami adalah ketika kami sedang mengobrol berdua karena aturan mengobrol kami adalah tidak boleh ada cerita yang berulang. Coba hitung, sudah berapa banyak cerita kami selama ini? Topik boleh sama tapi cerita harus beda-beda. Mulai dari hidup, hidup di perantuan, hidup anak kos, hidup anak bungsu, dunia sekolah dan pendidikan, komunitas ini itu beserta lika-likunya, makanan (sampai mencoba resep-resep baru), traveling, buku-buku, blog, dunia tulis-menulis, filem, One Day One Juz, dan lain sebagainya.

Momen terbaik kedua adalah ketika dia sedang iseng. Semua omongan akan disambarnya dengan sangat sangat sangat iseng dan konyol. Dan tentu saja saat ramai-ramai di ruang karaoke!

Momen terbaik ketiga adalah ketika tingkahnya mengingatkan saya akan keponakan saya Indra Pharmantara. Gerak-gerik hingga ekspresinya itu loh ha ha ha.


Tapi jangan dikira kami tidak pernah berantem loh. Kami pernah saling diem-dieman begitu lama. Namun justru itu yang semakin mendewasakan dan mendekatkan kami *cieee* haha. 

Tentu saja satu dua paragraf tidak dapat mewakili semua hal yang pernah kami lakukan bersama (juga bersama teman-teman), makan-makan, jalan-jalan, diskusi, karaokean, pelatihan blog, bakti sosial, nongkrong sampai larut malam, tuker-tukeran buku (saya masih ngutang dua buku yang dibelinya hahaha), dia sering berbagi makanan hasil eksperimennya di dapur kos (enak loh soalnya gratis), ngetawain diri sendiri, nganterin dia ke dokter, dan masih buanyaaak lagi!

Tahukah kalian? Istilah WOW a la FC yang kesohor itu, yang dibahas berbulan-bulan kemudian bahkan menular, dicetus oleh dia loh. Dia juga pernah jatuh di tempat yang sama dengan tempat saya jatuh hingga dia harus patuh pada ramuan kunyit panas *ngakak guling-guling*. Bedanya saya jatuh dengan sepeda motor di tempat itu dan bermanuver 180 derajat saat berangkat, tengah malam, menuju Riung. Sedangkan dia jatuh di tempat yang sama saat kami jalan-jalan dari Riung ke bukit-bukit berhampar rumput hijau. Dan, dia selalu punya ide brilian pada last hour ketika acara hendak dimulai. 

Kiriman Itu Tiba


Usai Idul Fitri 2019 kemarin, saya menerima kiriman yang fotonya sudah duluan dikirim Ilham melalui pesan WA. Ketika ditimbang-timbang beratnya ... tidak mungking ini kompor gas! Haha. Sesuai pesannya, ada tiga paket untuk tiga karyawan tempat dia bekerja dulu di Kota Ende. Alhamdulillah amanatnya sudah tersampaikan. Selebihnya dikirimkan untuk saya ... yuhuuuu!






Betul-betul ini namanya rejeki anak solehah dari Makassar. Terima kasih Kakak Ilham, maaf apabila belum sempat membalas apapun, Insha Allah I will. Bagi saya intinya adalah bukan dari benda-benda mati ini, tetapi bagaimana silaturahmi itu tetap terjaga, dan kita tetap saling berkomunikasi melalui dunia internet, terutama WA.

Sepertinya harus 'merapatkan barisan' untuk bisa pergi ke Makassar bareng #5akiKereta!



Cheers.

Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project


HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday merupakan seri Horeday yang saya tulis untuk minggu pertama setelah kembali dari libur nge-blog (libur Idul Fitri). Liburan kali ini sangat bermanfaat karena banyak kegiatan positif yang dilakukan selain beberes rumah dan menyiapkan kudapan. Rugi rasanya kalau tidak ditulis dalam seri/tema khusus Horeday. Oleh karena itu, bagi kalian yang sering main ke blog ini, jangan kaget kalau tema-tema harian seperti #SelasaTekno atau #RabuDIY atau #PDL khas Jum'at belum muncul. Mohon bersabar. Orang sabar disayang Tuteh ... dan dinosaurus! Hehe. 

Sebelumnya, silahkan baca seri Horeday lainnya tentang Eid Raya:

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya 

Atau tentang tamu-tamu spesial berikut ini:

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial

Tulisan ke-enam Horeday adalah tentang satu proyek yang masuk daftar resolusi Tahun 2019 dan sudah tertulis di T-Journal sejak awal Januari 2019. Namanya: Stone Project. Sering melihat video tutorial proyek Do It Your-self (DIY) tentang kaktus hias yang terbuat dari batu, atau tempat lilin, atau hiasan batu berbentuk rumah. Saya sangat terinspirasi olehnya. Seperti biasa, untuk setiap hal yang beraroma DIY, selalu kalimat yang sama terucap: kalau orang lain bisa membikinnya, Insha Allah saya juga bisa bikin!

Menyiapkan Bahan Dasar


Bahan dasar dari stone project ini tentulah batu. Tapi batunya bukan sembarang batu. Batu yang saya pakai adalah batu yang dibeli di Pantai Penggajawa. Harganya cukup murah. Awal Januari 2019 membeli batu itu, saya mendapat dua kantung plastik merah dengan harga Rp 40.000 loh. Batu-batu itu bahkan boleh dipilih; ukuran dan warna. Asyiiiik. Dua kantung plastik berisi batu diletakkan begitu saja di sudut ruang makan, terus dipindah ke area tempat makan kucing, terus ditumpuk, dan saya curiga bakal dibuang sama Mamasia kalau tidak segera ditindaklanjuti. Alhamdulillah liburan pun datang. Stone project pun jalan.

Cement Project ... First


Saya sudah pernah membikin barang-barang DIY berbahan semen. Dua buah pot bunga berbahan semen itu mal-nya adalah botol plastik Coca-Cola yang punya bentuk unik bagian dasarnya. Untuk stone project ini pertama-tama saya harus membikin alas bakal tempat kaktus batu tersebut. Untuk satu kilogram semen saya bisa membikin enam pot unik berbeda bentuk (berbeda mal) dan ukuran.


Ada tiga bentuk yang saya pakai yaitu: botol plastik, kotak bekas teh kotak, dan handscoon atau sarung tangan karet. Ini dia bentuknya ketika sudah jadi.


Sayangnya percobaan pertama pada sarung tangan gagal karena adonan semen terlalu encer sehingga bentuk tangannya cacat begitu. Haha. Tapi tidak mengapa. Bukankah sebelum sukses memang umumnya harus gagal terlebih dahulu? Menyenangkan hati nih. Yang penting percobaan kedua sukses dan bikin happy. Ternyata saya juga bisa membikinnya!

Stone Project


Setelah pot-pot semen jadi, saatnya membikin kaktus batunya. Caranya cukup mudah. Batu-batu pilihan kemudian di-cat: hijau tua dan hijau muda. Setelah kering satu sisi, di-cat lagi sisi lainnya. Lantas, jika semua sudah kering, diberi bunga menggunakan tip-ex. Kalau sudah selesai, letakkan kaktus batu pada pot-pot semen. Hasilnya ... tradaaaaaa!




Tiga pot kaktus batu menghiasi tiga meja di ruang tamu sedangkan satunya lagi di meja ruang keluarga (di belakang). Sangat sedap dilihat bukan? Kaktus batu dari my stone project ini unik memang. Terlihat sangat manis di meja ruang tamu. Saya pikir kalian juga bilang manis kan? Makasih, saya memang manis *dikeplak*. Haha.

⇜⇝

Jadi demikian Horeday kali ini ... sangat menyenangkan. Pada akhirnya stone project, salah satu resolusi di tahun 2019 well done! Kalau saya yang tidak terlalu telaten ini bisa membikinnya, saya yakin kalian juga pasti bisa. Lagian, mudah ini kok. Siapa tahu tahun depan kalian pengen mengubah suasana ruang tamu. Silahkan dicoba stone project begini.

Sampai ketemu di Horeday berikutnya!



Cheers.

Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba’i


Hari kedua Idul Fitri masih diiringi lagu-lagu sendu dari email gigi yang rusak hingga ke pusat syarafnya (kata dokter Bambang setelah saya pergi ke tempat prakteknya di samping Apotik Gatsu). Kataflam serbuk yang dicampur air itu hanya mampu bertahan sekitar enam hingga tujuh jam. Setelah itu pilihan hanya dua: berusaha tidur dengan gigi yang konser non-stop atau kembali makan dan menegak pain killer itu lagi. Sumpah, apabila kalian mengalami sakit gigi, segeralah ke dokter dan mengobatinya. Waktu itu tempat-tempat praktek dokter gigi masih pada libur sehingga saya harus menunggu. Sangat menyiksa dan membosankan karena Idul Fitri tahun ini pun saya memilih untuk berdiam diri di rumah, tidak ke rumah teman-teman, apalagi traveling.

Hari kedua Idul Fitri. Duduk di sofa setelah makan bubur dan menegak Kataflam berharap keajaiban datang. Saya juga sedang menunggu pesan WA dari Stanis karena hari kedua Idul Fitri kita punya jadwal mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Mereka hendak bertolak ke Kota Bajawa. Tepatnya, kembali ke Manulalu, penginapan kece milik Jane Kambey dan suaminya yang letaknya berdekatan dengan Kampung Adat Bena. Lantas, mendadak pesan masuk di WAG Encim and The Gank. Ajakan piknik dari Kakak Nani Pharmantara! Ikan bakal dibakar sudah tersedia. Hwah. Saya tidak bisa menolak kalau piknik. Ajakan berubah menjadi ajakan. Saya lantas mengajak Stanis, Harry, dan Rojer untuk piknik bersama sambil, nanti, mencari mobil travel arah Kota Bajawa.

Tim Pemakaran. Hahaha.

Segera, Thika dan Enu meracik sambal, menyiapkan kotak-kotak berisi kudapan, dan mengeluarkan beberapa botol Coca Cola dari kulkas. Tak lupa baliho bekas bakal alas duduk. Pick up milik pacarnya Kiki, Solihin, tiba. Barang-barang dimuat duluan. Kloter pertama berangkat duluan ke Pantai Aeba'i. Dua puluh menit kemudian Thika dan Enu berangkat. Hampir satu jam kemudian baru lah saya berangkat setelah dijemput Stanis, Harry, dan Rojer. Saya sampaikan pada Harry bahwa 6 Juni merupakan hari ulangtahunnya Indah Abdullah yang saat ini masih duduk di bangku SMA (SMAK Syuradikara).

Feliz Cumpleaños


Maaf kalau salah. Intinya ya happy birthday. Begitu kami berempat tiba di pantai yang sudah ramai itu, termasuk Ka'e Dul dan Solihin yang sedang bakar ikan, langsung saja kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Indah. Hwah, Rojer dan Harry lantas lanjut menyanyikannya dalam bahasa Spanyol. O-le! Haha. Betapa senangnya Indah. Kapan lagi coba ... untung dia video-kan, kalau tidak ... bisa-bisa dia minta Harry dan Rojer mengulangnya itu *ngakak tebanting*.

Cieee yang ultah (pegang piring) happy tuh!

Selamat ulang tahun ya, Indah. Semoga cita-citanya menyusul Kak Ical (jadi Polwan, bukan Polki, haha) tercapai, Amin. Yang penting latihan fisiknya pelan-pelan dari sekarang *petuah nih*.

Lepet dan Ikan Bakar


Menu utama piknik kali ini adalah ikan bakar. Teman menu utama ada beberapa sih seperti lepet (semacam ketupat), nasi, dan pisang bakar. Ada juga ubi bakar tetapi si ubi datangnya setelah Harry dan Rojer bertolak ke Kota Bajawa. Mungkin pisang bakar dan ikan bakar merupakan perpaduan yang baru pertama kali dirasakan Harry dan Rojer. Mungkin. Namanya juga bergabung dengan keluarga kocak, ya harus siap-siap kocak juga, termasuk lidah. Hehe.

Mari makan!

Usai makan kami mengobrol tentang banyak hal. Didominasi tentang Kabupaten Ende. Salah satunya adalah tentang legenda cinta antara Gunung Ia, Gunung Meja, dan Gunung Wongge. Kenapa jadi bercerita tentang legenda itu, ya karena Harry bertanya tentang perbukitan di samping Gunung Meja (berpuncak datar). Itu Gunung Ia, masih aktif, dan menurut legenda, Ia adalah perempuan yang terus menangis karena leher kekasihnya yang bernama Meja ditebas oleh Wongge. Sayangnya dari Pantai Aeba'i tidak kelihatan Gunung Wonggenya.

"Jadi ... kepala Meja terpelanting ke arah Timur dan jadilah Pulau Koa, dan parang yang dipakai Wongge dibuang ke arah Barat dan jadilah Pulau Ende."

Wow kan.

Lumayanlah masih bisa cerita-cerita disela-sela gigi yang nyut-nyutan.

Acara selanjutnya ya foto-foto donk. Soalnya jarum jam terus bergerak dan saya kuatir Harry dan Rojer ketinggalan mobil travel.

Ini dia Harry Kawanda yang saya sebut sebagai traveler of the century. Soalnya kerjanya keliling dunia teruuuuus. Huhu jadi iri.

Ini dia Rojer, teman Harry asal Chile. Sampai jumpa, Roj!

Three of us.

Saya dan Thika mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Alhamdulillah, mobilnya siap berangkat karena tinggal menunggu dua penumpang lagi. Pas mantap kan. Dadagh Harry dan Rojer. Selamat bergabung bersama keluarga Pharmantara. Ditunggu kunjungan berikutnya di Kota Ende. Sekalian tinggal di sini juga boleh. Asalkan lidah kalian dapat terbiasa dengan nasi dan garam *LOL!*. Terima kasih, ya, sudah menjadi tamu spesial keluarga kami.

Terima kasih, Harry. Candid saat bibir mencong haha.

Piknik hari itu masih berlanjut hingga sore, dimana saya tertidur cukup nyenyak di pantai, dengan kepala beralas helem milik Angga. Saatnya pulang ke rumahnya Ka'e Dul dan Kakak Nani. Loh? Iya, soalnya mau dikasih ramuan buat berkumur untuk mengurangi ngilunya gigi ini. Haha. Dan lagu-lagu sendu dari email gigi kembali terdengar. Dudududu ...

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian, kawan? Liburannya di rumah saja atau sempat piknik/wisata bareng keluarga? Bagi tahu yuk di papan komentar. Dan nantikan saya bertamu ke blog kalian hahaha. Siapkan kudapan dan air hangat buat minum obat!



Cheers.

Kepo Buku #14: Berbagi Bacaan Selama Break Rekaman

WE’RE BACK!! Setelah break rekaman selama bulan puasa kemarin, para host Kepo Buku (Steven, Opat, Toto dan Rane) kembali bertemu, bermaaf-maafan dan berbagi cerita setelah sebulan nggak ketemu. Apalagi yang jadi bahan obrolan kepo kalau bukan soal buku, khususnya yang kami baca selama sebulan break rekaman. Tentu saja dibawakan khas Kepo Buku yang mengajak siapapun untuk ngobrolin buku dengan santai dan tidak bikin kening berkerut.
Selamat mendengarkan.


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Terima kasih buat Hasta di Surabaya yang sudah berpartisipasi dan memicu obrolan untuk tema ini.

 

 

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Terima kasih buat Hasta di Surabaya yang sudah berpartisipasi dan memicu obrolan untuk tema ini.

 

 

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial


Saya jadi kuatir ... menulis HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday bakal membikin saya keasyikan dan lupa sama tema harian blog ini. Haha. Terlalu banyak cerita liburan yang ingin saya tulis dan bagi dengan kalian semua. It's personal, mungkin pun tidak memberi manfaat pada kalian, tapi saya suka melakukannya. Ijinkan seminggu ini Horeday memenuhi hari-hari kalian nge-blog. Setelahnya, #SeninCerita hingga #SabtuReview akan kembali hadir. Insha Allah. Silahkan baca kisah Horeday lainnya di bawah ini:


⇜⇝

Menjelang Idul Fitri kemarin, saya mendapat banyak rejeki, yaitu tamu-tamu spesial. Sungguh luar biasa Idul Fitri kali ini. Tamu yang pertama adalah seorang sastrawan NTT yang salah satu bukunya pernah saya ulas di blog ini. Namanya Bara Patty Radja. Tamu kedua, dua orang, yang salah satunya saya sebut sebagai traveler of the century. Nama traveler of the century ini adalah Harry Kawanda asal Makassar, dan Rojer asal Chile.

Bara Patty Radja


Mengenal Bara sudah lama sekali. Waktu itu duluan kenal namanya, kemudian bertemu orangnya di Kantin Uniflor, lalu bergelung bersama puisi-puisinya dalam buku Samudera Cinta Ikan Paus yang dihadiahkan oleh dosen Arsitektur Muklis A. Mukhtar saat pulang dari kegiatan kampus di Pulau Adonara. Buku itu memberikan energi positif yang dahsyat pada saya pribadi. Puisi-puisi di dalamnya tidak akan pernah bosan dibaca, bahkan jika kau membacanya setiap hari, dan terus menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini?


Maka, beberapa hari sebelum Idul Fitri kemarin, Mukhlis datang ke rumah, kabarnya Bara sedang liburan di Ende dan mungkinkah kita bisa kumpul-kumpul di rumah sebelum Idul Fitri. Tentu saya meng-iya-kan. Inilah saatnya untuk bisa berlama-lama mengobrol dengan seorang Bara! Tidak lupa saya mengirimkan pesan kepada teman-teman lain yang ingin mengobrol dan menggali lebih dalam dunia sastra, khususnya puisi, untuk datang. Beberapa teman memang datang, seperti Cahyadi, Deni, dan Habibi, sebagian lagi masih sibuk mengecat rumah.


Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Malam itu Bara membawakan buku terbarunya, dua buah, yang kemudian menjadi milik Cahyadi dan milik saya. Haha. Judulnya Geser Dikit Halaman Hatimu. Ini bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu saya membacanya ... saya larut ... lalu membacanya lagi dan lagi. Tidak bosan? Tidak!!! Ini keren!


Terima kasih, Bara ... sudah berbagi banyak cerita dengan kami, termasuk tentang 'mengundang' Najwa Sihab datang ke Pulau Lembata! Semoga suatu saat nanti bisa terwujud di Uniflor, ya. Insha Allah. Tamu saya memang spesial kan? Hehe.

Harry Kawanda dan Rojer


Tahun 2010 waktu saya lolos menjadi salah satu Petualang ACI Detik Com, masuk kloter 2, saya tidak bertemu Harry Kawanda. Karena dia masuk ke pemberangkatan kloter 4. Tapi kami yang rata-rata tidak bertemu antar kloter ini disatukan melalui milis, kemudian WAG, dan tentu kopdar-kopdar. Yang di Ende diam-diam saja deh ... kopdarnya rata-rata di Jakarta dan Denpasar. Yang saya tahu, Harry adalah petualang yang paling rajin keliling dunia, oleh karena itu saya menyebutnya sebagai traveler of the century. To Harry: kalau kau ngobrol sama Mamatua, bisa dicap Mamatua sebagai Jarum Super ⇻ jarang di rumah suka pergi-pergi. Haha.

Bertemu Harry sebelum dia dan Rojer berangkat ke Moni dan Danau Kelimutu.

Malam itu, saat sedang ada kegiatan sharing materi public speaking dan dunia SUC di Pohon Tua, saya ditelepon Harry. Intinya Harry sedang ada di Pulau Flores, hendak mengunjungi sahabat kami pemilik Manulalu di dekat Kampung Adat Bena yaitu Jane Kambey, lalu bakal ke Kelimutu, dan kalau bisa stay semalam di Kota Ende. Saya nyaris histeris tapi harus jaga image sebagai emak-emak rempong baik dan sopan hahaha. 

Malam perayaan Idul Fitri (hari pertama), setelah menegak Kataflam yang disarankan Stanis, Harry mengirim pesan WA bahwa dirinya dan Rojer sudah tiba di Kota Ende, diturunkan tepat di cabang menuju Ponpes Walisanga. Karena gigi ini sudah rada mendingan, berangkatlah saya, Stanis, Thika, dan Ical menjemput mereka untuk diantar ke rumah Stanis. Iya, karena rumah saya tidak ada kamar yang ready untuk tamu jadi Harry dan Rojer menginap di rumah Stanis si anak bujang yang rumahnya baru saja kelar dikerjakan *ngikik*.


Tamu-tamu spesial ini memberi warna baru dalam kehidupan kami hahaha. Terutama Harry dan Rojer yang kemudian saya ajak piknik bersama keluarga besar Pharmantara dan Abdullah di Pantai Aebai, pantai langganan kami piknik! Ceritanya ... besok! Hehe.

⇜⇝

Demikian Horeday #4. Tentang mereka, tamu-tamu spesial di hari super spesial, Idul Fitri, yang mau bergabung dengan keluarga kami yang ada apanya. Eh ... yang apa adanya. Hehe. Semoga mereka tidak jera ya bergabung dengan keluarga kami yang kocak ini.

Liburan saya memang istimewa. Bagaimana dengan liburan kalian, kawan?



Cheers.

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.

Horeday #2: Sharing Public Speaking dan Dunia SUC


Masih minggu ini bercerita tentang my Horeday: Kisah-Kisah Saat Horeday. Hari ini saya mau bercerita tentang Stand Up Comedy Endenesia (SUCE), sebuah komunitas usia belia yang mulai menggeliat di Kota Ende. Boleh dibilang SUCE merupakan komunitas pertama yang saya turut bangun (bersama Andi Ginta dan Udo Petruz) dan terus ikuti setelah lama meninggalkan dunia komunitas. Alasannya cuma satu; SUCE adalah komunitas dengan nuansa yang benar-benar baru bagi saya. Seperti embusan angin super segar. Orang-orang yang ada di dalamnya pun jauh dari 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Sungguh *angkat dua jarinya dinosaurus*.

Kamis, 30 Mei 2019, karena kegiatan open mic libur, kami menjadwalkan kegiatan bermanfaat yaitu sharing tentang public speaking dan dunia SUC. 

Public Speaking by Uncle Tono.
Dunia SUC by Willy Maiyende dan Habibi Salim Djohar.

Sayangnya Habibi belum bisa merapat karena masih berada di Pulau Sumba. 

Sampai terpikirkan tentang public speaking ini, saya melihat beberapa komika belum mampu menguasai diri dan belum mampu berbicara dengan lancar di panggung, padahal materi untuk stand up comedy-nya cukup bagus. Akan jadi lain bila komika bersangkutan memanfaatkan kurangnya kemampuan berbicara ini menjadi satu bit sendiri. Tapi sejauh yang saya lihat ... belum. Tidak ada salahnya jika teman-teman SUCE belajar atau tahu tentang public speaking. Kebetulan ada Uncle Tono, sahabat saya yang menghabiskan masa liburan Idul Fitri dengan pulang ke Ende. Psssttt, waktu liburannya dia perpanjang sendiri karena pengen bisa lebih lama ngumpul-ngumpul sama komunitas Alumni Spendu 94 Ende loh. Hahaha.

Uncle Tono, nama aslinya Sumartono, adalah sahabat masa SMP saya di SMP Negeri 2 Ende. Sejak SMP Tono sudah menunjukkan pada dunia tentang ketertarikan dan kecintaannya pada bahasa Inggris. Tidak heran jika nilai ujian bahasa Inggrisnya pernah mencapai angka 100! Saya, Tono, dan seorang lagi bernama Melly Lobo Pa, pernah sama-sama meraih juara umum saat kenaikan kelas (kelas 1 ke kelas 2). Saat ini Tono berdomisili di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang, dan membuka kelas bahasa Inggris di sana. Selain itu, kalian juga bisa mengikuti channel Youtube-nya jika ingin belajar bahasa Inggris dari NOL. Keren lah.


Apa hubungannya Uncle Tono yang fasih berbahasa Inggris itu dengan public speaking? Sangat erat dooonk hubungannya. Uncle Tono ini competent comicator di Toastmaster International. It's great!

Malam itu, usai makan malam, kegiatan langsung dimulai dengan materi public speaking. Sebagai tuan rumah yang cukup sibuk, halah, saya yang multi-tasking malam itu masih sanggup menampung beberapa hal penting yang disampaikan oleh Uncle Tono. Dua teratas yang betul-betul tertancap di benak saya adalah ice breaker dan be different. Ice breaker, itu penting ketika kita yang berada di panggung, dan sendirian, ingin mendapatkan perhatian orang-orang di luar panggung. Misalnya, sapalah penonton dengan kata-kata yang bisa bikin penonton syok. Dan itu tentu sangat berkaitan dengan menjadi berbeda dari orang lain. Rasa percaya diri untuk berbicara di depan umum/panggung pun tidak terlepas dari latihan yang terus-menerus dilakukan.

Well done, Uncle! Terima kasih ilmu-ilmunya malam itu yang disampaikan dengan gaya bercirikhas; kocak. Hehe.

Setelah materi public speaking, kegiatan dilanjutkan dengan materi tentang dunia SUC oleh Willy. Teman-teman SUCE banyak belajar tentang istilah-istilah serta lika-liku dunia SUC. Dari sini tanya-jawab tercipta. Saya suka ketika di suatu kegiatan banyak yang bertanya, artinya mereka menyimak dan ingin tahu lebih detail tentang apa yang disampaikan. Termasuk, bagaimana caranya setiap komika menemukan 'jalan' mereka. Jalan di sini maksudnya adalah gaya mereka termasuk sapaan pertama ke penonton.


Well done, Willy!

SUCE yang masih sangat belia ini memang perlu banyak belajar dan berbenah baik dari segi komunitas/organisasi maupun dari segi personal/komika. Karena masih dalam proses belajar, kami tidak pernah malu dengan semua komentar di video-video yang sudah diunggah di Youtube. Kami ingin menunjukkan, inilah kami yang masih baru, termasuk baru belajar. Alangkah baiknya sebagai manusia kita belajar ketimbang merasa diri sudah 'tinggi'. Itu yang terus kami tanamkan pada diri masing-masing dan pada kesatuan SUCE. Ena diaaaa! Hehe.

Ini betul-betul liburan yang menyenangkan dan bermanfaat. Setidaknya, meskipun saya tidak dapat memanfaatkan liburan dengan #KakiKereta ke sana-sini tapi banyak kegiatan positif yang dilakukan baik bersama keluarga maupun teman-teman. Tentu, masih banyak cerita seru Horeday lainnya yang wajib kalian baca. Termasuk ... kunjungan sastrawan NTT dan traveler of the century ke Pohon Tua!

Bagaimana dengan liburan kalian, kawan?



Cheers.

Mengakhiri Liburan Lebaran di Sungai Rindu Bekasi

Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Berbeda dengan libur sebelum lebaran yang panjang, liburan sesudah lebaran memang lebih pendek untuk para kelas pekerja seperti saya. Karena hari Senin besok sudah kembali masuk bekerja, maka menikmati sisa akhir liburan lebaran dengan berwisata sepertinya menjadi kebutuhan yang perlu pertimbangan.

Saya memilih rekreasi ke destinasi wisata alam yang murah meriah, dekat, dan santai untuk refreshing... Apalagi kalau bukan Ekowisata Mangrove Sungai Rindu di Kampung Sembilangan Desa Huripjaya Kecamatan Babelan, Bekasi. Yang belum tahu Sungai Rindu baca tulisan saya sebelumnya: Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi.

Bersama dengan teman-teman sehobi di komunitas Tukang Tripod Keliling, kami mengagendakan hunting foto sekalian halal bihalal kecil-kecilan di Sungai Rindu. Hanya sekitar 2 hari sudah terkumpul 11 orang yang ikut berakhir pekan di Sungai Rindu Bekasi.

Manusia hanya bisa merencanakan dan Allah SWT yang akan menentukan. Pagi hari tanggal 9 Juni saat saya siap-siap berangkat ke Sungai Rindu datanglah kabar duka istri teman yang meninggal. Agenda kemudian menyesuaikan, setidaknya agar saya dapat ikut mengantar jenazah ybs ke persemayaman terakhirnya.

Alhamdulillah semua berjalan lancar, sehingga selepas Zuhur saya sudah dalam perjalanan menuju Sungai Rindu untuk memenuhi janji bertemu teman-teman Komunitas Tukang Tripod Keliling di Sembilangan.

Masih sempat rehat kopi sejenak di Cabang Empat Huripjaya, kemudian selepas Zuhur berangkat, dilanjutkan dengan jalan kaki melintasi tambak dan Sungai Gentong akhirnya kami tiba di Sungai Rindu sekitar pukul 1 siang. Pengunjung sangat ramai, berdesakan berjalan menyusuri titian menuju saung pengelola, tempat dimana perahu berpenumpang mengambil karcis seharga 2000 rupiah per orang.
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Gapura Ekowisata Sungai Rindu Sembilangan Babelan Bekasi
Ada beberapa hal yang baru di Sungai Rindu, yang paling menonjol adalah gapura bambu berisi ucapan selamat datang dan selamat jalan di jalur keluar masuk Sungai Kaloran di mana Sungai Rindu berada. 

Menurut Kang Mus (pengelola Sungai Rindu) gapura bambu tersebut dibangun sekitar bulan April dengan menggunakan dana sumbangan CSR dari PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang terletak di Tarumajaya Kabupaten Bekasi. PT PJB memberikan bantuan dana CSR tersebut dalam rangka mendukung pengembangan ekowisata mangrove di Sungai Rindu.

Selain berlebaran dengan para pengelola Sungai Rindu, beberapa kali saya juga bertemu dengan teman-teman dan akhirnya lebaran di lokasi. Ngobrol santai dan memotret sepuasnya memang menjadi agenda pamungkas untuk mengakhiri masa liburan lebaran 2019.

Belajar Motret

Komunitas Tukang Tripod Keliling adalah sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan penyuka atau pecinta fotografi yang beberapa saya kenal melalui Facebook. Saya yang kebetulan sedang dipinjami kamera Nikon D5500 dengan lensa fix benar-benar memanfaatkan moment liburan akhir ini untuk learning by doing alias praktek memakai kamera.
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Dari sekitar 400 foto hanya 300 yang saya simpan, selebihnya saya hapus karena terlalu parah dan tidak layak dikoleksi. Selebihnya untuk belajar lebih jauh cara penggunaan kamera, komposisi, arah cahaya, shadow, WB dan banyak hal tetek bengek yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari para fotografer.

Saya sendiri suka memotret moment spontan sehingga lebih sering candid, itupun saya lakukan dengan menggunakan kamera handphone, masih jarang sekali saya menggunakan kamera DSLR atau pun mirrorless, jadi sering ketinggalan moment karena harus melakukan pengaturan setting kamera. Yah di situ seninya :)

Kalau pakai kamera smartphone yang serba digital dan otomatis, segalanya menjadi mudah, beda hal dengan kamera-kamera DLSR /SLR yang ribet. Bersyukurlah di kamera mirrorless Canon M3 ada menu auto yang semudah mengoperasikan kamera smartphone. Setidaknya mode auto ini berhasil menangkap moment-moment yang saya ingin abadikan.
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Gerbang Tiket Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Bekasi
Terima kasih kepada Komunitas Tukang Tripod Keliling, Pengelola Ekowisata Sungai Rindu, teman-teman IRTRA, dll.

Alhamdulillah, Sungai Rindu sebagai pilihan rekreasi santai murah meriah ini sudah membuat akhir liburan menjadi bermakna, bermanfaat dan banyak memberi inspirasi.

Salam



Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.